Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 64 Jangan Banyak Tanya


__ADS_3

Ivan masih memandangi foto-foto yang sangat menggores perasaanya begitu dalam. Di mana di dalam foto itu terlihat Diana dan Fredy terlihat begitu dekat, bahkan ada beberapa foto yang memperlihatkan Diana duduk dalam pangkuan Fredy. “Darimana kamu dapat foto-foto ini, Amanda?”


Amanda sangat bahagia melihat gurat kekecewaan dari wajah Ivan, yang berusaha laki-laki itu sembunyikan. “Dari Lucas, dia salah satu Mahasiswa di Universitas Bina Jaya."


Wajah Ivan semakin suram. Ivan tidak bisa mengambil Tindakan apapun atau berkomentar untuk melindungi Diana, dirinya sendiri saja belum mengetahui latar belakang Diana sepenuhnya. Informasi tentang Diana sangat sulit ditembus dan ditutupi begitu rapat. Dia hanya tau sedikit sekali tentang Diana, itu pun dari penyelidikan dari orangnya sendiri.


“Ini sangat jelas Tuan, Diana adalah orang dari Edge Group, pastinya dia mendekati Tuan salah satu tujuannya adalah ingin menghancurkan perusahaan Anda dari dalam.”


“Kalau Anda tidak percaya dengan keakuratan foto-foto itu, silakan Anda periksa keasliannya, dan ini adalah salah satu bukti lain.” Amanda memberikan handphonenya yang berisi rekaman cctv saat Fredy datang ke Fakultas Bina Jaya dan menitipkan parcel di sana.


“Kita kehilangan dokumen juga saat Anda meninggalkan Diana seorang diri di ruangan Anda, setelah paginya salah satu dokumen penting hilang, dan saat ini data-data perusahaan terhapus. Saya sangat yakin itu ulah Nona Diana.”


“Kalian berdua.” Ivan mengisyarat pada Amanda dan Yudha. “Tolong kalian berdua keluar dari ruanganku, aku hanya ingin berdua saja dengan kakakku.”


Amanda dan Yudha pun segera keluar dari ruangan Ivan.


Angga memandangi adiknya yang terlihat begitu tertekan. “Ivan, apakah aku bisa menolongmu?”


“Oh ya kak, dokter hebat itu bersedia melakukan operasi untuk kakak, apa kakak siap?” Ivan berusaha mengubah topik pembicaraan Angga. “Katanya tinggkat kesembuhan kakak pasca operasi cukup besar, 99%.”


Ivan dan Angga pun membahas tentang kehebatan dokter bedah yang sangat jenius itu.


****


Mahasiswa kembali memasuki kelas mereka, karena waktu istirahat mereka habis. Diana menoleh kearah Saras, dia merasa ada yang tidak beres pada Saras. Wanita itu membungkuk sambil memegangi perutnya. Diana langsung mendekati Saras, dan menatap Wanita itu dengan tatapan pertanyaan.


“Perutku kram, ini haid hari pertamaku.”


Diana segera mengambil kertas dan menulis cepat di sana, dia langsung berjalan mendekati professor dan memberikan catatannya.

__ADS_1


*Prof, teman saya sakit. Apa saya boleh membawanya ke asrama?


Profesor menatap Diana, dan Diana menunjuk kearah Saras. Melihat Saras yang kesakitan, professor pun mengizinkan Diana dan Saras meninggalkan kelas. Dengan bantuan Diana, akhirnya Saras bisa kembali ke kamar asramanya. Diana memberikan sesuatu untuk Saras. Saras pun mulai terlihat tidak terlalu menganduh.


Diana duduk di samping Saras, memastikan keadaan temannya itu.


Tink!


Sebuah pesan masuk ke handphonenya.


*Diana, apa kau sibuk? Kalau tidak sibuk bisakah kau datang ke kantorku?


*Kalau kau sibuk, katakan siapa dosen yang mengisi mata kuliahmu? Aku akan mengutus orang untuk meminta izin untukmu sekalian menjemputmu.


Pandangan Diana tertuju pada Saras. Rasanya tidak rela meninggalkan Saras dalam keadaan seperti ini. Ternyata Saras memahami sorot mata Diana.


“Kamu ada urusan?”


“Pergilah.”


Diana menggeleng, lalu menuliskan kata.


*Aku tidak bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini.


Saras tersenyum membaca jawaban Diana. “Aku Cuma nyeri haid, setelah istirahat nanti juga hilang. Pergilah, aku tidak apa-apa.”


*Yakin?


“Sangat yakin.”

__ADS_1


Saras terus meyakinkan Diana, hingga Wanita itu pun percaya.


*Aku pergi, jaga dirimu baik-baik.


“Iya, kamu hati-hati.”


Diana kembali memainkan handphonenya, dia memesan taksi online untuk menuju perusahan Ivan. Saat dirinya sampai di gebang utama kampus, taksi orderannya pun tiba. Perjalanan Diana menuju perusahaan Agung Jaya pun lancar.


Diana sudah sering datang ke Gedung Agung Jaya, hingga setelah dia turun dari taksi dia langsung menuju ruangan Ivan. Saat Diana keluar dari lift, tatapan mata Amanda terus tertuju padanya, bahkan Amanda tersenyum sinis padanya. Diana mengabaikan Amanda, dia langsung masuk kedalam ruangan Ivan.


Diana langsung mendekati Ivan dan memperlihatkan layar handphonenya.


*Ada apa memanggilku?


Ivan menoleh pada kakaknya. “Apa kakak mau ikut?”


“Pergilah, Van. Nanti aku menyusul. Tapi, jika saat kalian kembali dan aku sudah pergi dari sini kamu tidak usah mencariku, rasanya aku ingin berkeliling."


"Baiklah kak, aku tinggal ya."


Angga menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan adiknya.


Ivan kembali menatap Diana. “Ikut aku.”


Diana pun segera mengikuti Ivan. Saat mereka berdua keluar dari ruangan, Ivan menoleh kearah Amanda. “Amanda, kau juga ikut aku!”


“Kenapa aku juga harus ikut, Tuan?”


“Jangan banyak tanya, ikuti kami!”

__ADS_1


Amanda terperanjat, dia pun segera mengikuti Ivan dan Diana.


__ADS_2