Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 136 Genting


__ADS_3

Kekesalan Ivan semakin bertambah, rasanya ingin sekali memaki seseorang untuk meluapkannya. “Kita harus cari tahu siapa pengkhianat ini!” Ivan menatap Yudha dan Dillah dengan tatapan kemarahan.


Yudha mengingat sesuatu, dia ingat lampiran dalam laporan yang dia terima, Anggota IMO memiliki keahlian khusus yang berbeda di setiap anggotanya, bisa dikategorikan seperti tokoh film fantastic four, yang memiliki keajaiban masing-masing dan saling melengkapi. “Sebaiknya kita cek komputerku dulu,” usul Yudha.


Dillah meraih sepotong sosis bakar dan membawanya bersamanya.


“Saat genting ini, kamu masih sempat saja makan!” omel Yudha.


“Aku lapar!” Dillah masih menggigit sosis bakar yang dia pegang.


Yudha menggeleng mendengar jawaban Dillah, ketiganya segera masuk kedalam Apartemen, hanya tinggal Diana di balkon.


Diana memasang wajah keheranan, walau dia tahu sebab kekesalan Ivan dan Yudha. “Kenapa kalian semua malah masuk kedalam?" tanyanya, polos.


Pertanyaan Diana membuat langkah Ivan yang ingin menyusul Yudha dan Dillah terhenti. Dia mendekati Diana.


"Ada hal penting yang harus kami pastikan." Ivan berusaha tersenyum.


"Tidak makan malam?” wajah Diana terlihat begitu lugu, seolah tidak mengerti kepanikan Ivan yang tersembunyi di balik senyuman manisnya.


“Ada pekerjaan darurat, jadi kami ingin menyelesaikannya dulu.” Ivan mengusap lembut pucuk kepala Diana. “Kamu lanjut makan dulu, setelah pekerjaan kami selesai, kami akan menemanimu. Kamu keberatan kami tinggal?”


Diana menggelengkan kepalanya


"Ya sudah, teruskan makanmu, tidak usah menunggu kami." Ivan segera masuk kedalam menyusul Yudha.


Diana kembali meneruskan menikmati makananya. Saat berada di pintu, Ivan menoleh lagi kearah Diana. Melihat Diana sepolos dan selugu ini, Ivan dengan tenang meninggalkan Diana.


***


Di dalam ruangan, Yudha, Dillah, dan Ivan menatap layar laptop Yudha bersama-sama. Di sana Yudha berusaha mengotak-atik laptopnya. Hingga wajahnya kembali hancur saat dia menemukan data-data dalam laptopnya telah di lacak. Yudha kembali memeriksa handphonenya, ternyata semua data yang dia simpan pada handphonenya juga di lacak. Yudha membuang napasnya begitu kasar.


“Hampir saja kita ceroboh mencurigai Diana.” Yudha terlihat sangat tertekan. “Wakil Ketua IMO bisa melarikan diri, karena mereka semua sudah tau rencana kita."


"Bagaimana mungkin?" Ivan sulit percaya dengan kata-kata Yudha.

__ADS_1


"Karena data-dataku diretas.” Yudha mengisyarat ke layar komputer dan memperlihatkan handphonenya pada Ivan.


Ivan memijat dagunya, matanya terus memandang layar laptop Yudha, pikirannya terbang entah kemana, memikirkan beberapa sosok yang dia ketahui ahli dalam meretas. “IMO punya anggota yang memiliki kejeniusan tinggi, bahkan kejeniusan anggotanya diatas Profesor Russel.”


Dillah dan Yudha menoleh kepada Ivan, mereka tidak mengerti apa maksud Ivan.


“Urusan retas meretas sangat mudah bagi Profesor Russel, dia hacker yang hebat, selain dia seorang dokter, dosen, dia juga ahli dalam rakit merakit. Kemampuan Profesor Russel sangat luar biasa bukan?" Ivan memandang Dillah dan Yudha bergantian.


"Tapi kemampuan Russel belum sebanding dengan salah satu Anggota IMO.” Wajah Ivan terlihat begitu serius.


Yudha menghempaskan napasnya begitu kasar. "Maafkan aku Van, aku melupakan kehebatan mereka," sesal Yudha.


"Kamu tidak salah Yudha." Ivan berusaha membuat Yudha tidak menyalahkan diri sendiri.


"Tetap semangat Tuan, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda," sela Dillah.


Yudha menatap Ivan. "Ini salahku Van."


Ivan ingin menjawab, tapi Yudha mengisyaratnya untuk diam.


“Aku yang salah karena terlalu optimis, aku terlalu bahagia dan sangat bresemangat, khayalanku terlalu tinggi bisa menangkap Wakil Ketua IMO. Harusnya aku sadar, dia bisa sampai duduk pada jabatan Wakil Ketua, membuktikan dirinya bukan orang sembarangan, tentunya dia memiliki kemampuan luar biasa yang membuatnya sampai pada jabatan itu.” Yudha menatap Ivan dengan tatapan yang nanar. “Maafkan kecerobohanku, Van.”


"Terima kasih atas semangat darimu, Van."


Ivan teringat akan Diana, dia segera berjalan menuju balkon. Dia mengintip Diana dari balik pintu, di sana Diana sudah selesai makan, bahkan beberapa kaleng bir Nampak kosong. Tapi wanita itu masih belum mabuk. Ivan menoleh lagi kearah Yudha dan Dillah.


“Lupakan masalah itu, biarkan target yang terlanjur lepas berkeliaran bebas, dan berpikir kalau mereka benar-benar lepas, tapi kita tetap berusaha untuk menangkap mereka, sebelum menyusun rencana itu, sebaiknya kita makan dulu.”


Yudha dan Dillah segera menuju meja yang ada di balkon yang dipenuhi bermacam menu barbeque. Mereka bertiga segera menempati kursi mereka masing-masing.


“Maafkan aku, karena aku makan lebih dulu,” sesal Diana.


“Tidak apa-apa, Diana. Justru aku akan merasa bersalah jika kamu kelaparan karena menunggu kami selsesai dengan pekerjaan kami,” sahut Yudha.


"Sudah selesai?" tanya Diana.

__ADS_1


"Sudah, walau ada sedikit kekacauan." Yudha berusaha terlihat baik-baik saja, walau rasa kecewa itu masih menyelimuti batinnya.


Ivan, Dillah, dan Yudha segera memulai makan malam mereka, sedang Diana hanya menonton mereka semua, karena dia sudah sangat kenyang.


Setelah selesai makan malam, Yudha memanggil petugas kebersihan, hanya hitungan menit, balkon Yudha bersih kembali, peralatan Barbeque juga sudah di bawa oleh petugas yang lain. Keadaan terasa sepi. Yudha sengaja menghempaskan bobot tubuhnya di samping Diana. Sontak hal itu memancing kemarahan Ivan.


“Apa tidak ada tempat lain selain di sana?” gertak Ivan.


Yudha tidak menghiraukan kemarahan Ivan, dia mengambil handphonenya. “Diana, ku lihat kamu sangat suka bermain game online, bagaimana kalau kita mabar?”


Diana terlihat begitu semangat, dia segera mengajak Yudha bermain game online bersamanya. Namun hanya beberapa menit semangat Diana terlihat memudar, kini wajahnya terlihat begitu kesal.


“Kenapa wajahmu sangat masam, Diana?” tanya Ivan.


“Ku pikir Yudha biasa main game online, ternyata dia sangat nob!” gerutu Diana.


“Nob?” Ivan tidak mengerti istilah Diana.


“Cupu!” Diana melepaskan handphonenya, dan dia mendekati Dillah yang terlihat begitu sibuk dengan laptop.


“Kamu sedang apa?” tanya Diana pada Dillah.


“Menghitung semua laporan keuangan.” Jemari Dillah masih menari diatas keayboard, kedua matanya pun terus tertuju pada layar laptop.


Ivan mengamati expresi Diana, terlihat Diana begitu tertarik dengan sebuah kerumitan. Rumitnya pekerjaan Dillah menarik perhatian Diana. Ivan menyimpulkan kalau Diana menyukai lawan yang berat, dibanding lawan yang lemah, seperti Yudha, bagi Diana dia lawan yang terlalu mudah dan dianggap cupu saat bermain game.


Diana merasa dirinya dalam keadaan yang salah, laporan keuangan yang Dillah kerjakan adalah hal rahasia. Diana segera berdiri dan menjauh dari Dillah. Melihat Diana menjauh, hal itu menyadarakan Ivan dari segala lamunannya pada sosok Diana.


“Mau kemana kamu?” tanya Ivan.


“Mau kembali ke kamarku.” Diana mengambil kembali handphonenya.


Ivan mengingat jelas bagaimana Diana begitu tertarik dengan pekerjaan Dillah yang rumit.


"Ada tugas kuliah?" tanya Ivan.

__ADS_1


"Ada, tapi bisa ku kerjakan dengan santai," sahut Diana.


“Bagaimana kalau kamu membantu Dillah menyelesaikan semua pekerjaannya? Kasihan Dillah mengerjakan semua itu sendirian, ini sudah hari ketiga, tapi Dillah belum juga selesai.”


__ADS_2