Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 153 Di Luar Dugaanku


__ADS_3

Ivan dan Diana berjalan menuju lift. Merasa keadaan sekitar sepi, perlahan Diana berusaha melepaskan tangannya yang digenggam Ivan.


“Ada apa? Apa kamu malu bergandeng tangan denganku?” tanya Ivan.


"Bukan begitu, tapi aku bukan anak kecil yang mau menyeberang jalan, jadi tidak perlu gandengan seperti ini."


"Biarkan saja seperti ini." Ivan berusaha mengabaikan wajah Diana yang terlihat gusar.


Diana tetap berusaha melepaskan tautan tangan mereka, tapi Ivan tidak mau melepaskan tangan Diana. Dia semakin erat memegang tangan ajaib itu.


"Ivan ...." Diana berharap Ivan melepaskan tangan mereka.


"Jangan harap aku melepasnya, kecuali kamu patahkan tanganku."


Tink!


Pintu lift terbuka, mereka berdua memasuki kotak besi tanpa melepaskan tangan.


“Kita mau ke mana?” tanya Diana.


“Restoran, untuk mengisi kembali tenagamu yang terkuras."


"Sebaiknya kita pulang saja, aku ingin tidur," pinta Diana.


"Kita akan pulang, setelah makan."


"Aku mengantuk, bukan lapar," dumel Diana.


"Kamu harus makan dulu baru tidur. Aku hanya ingin dirimu selalu sehat."


"Aku tidak napsu makan dengan keadaan ngantuk begini."


"Napsu atau tidak, paksa dirimu untuk mengisi perutmu." Ivan menatap Diana sendu. "Aku tidak bisa memaafkan diriku kalau kamu sakit lagi seperti saat kamu selesai mengoperasi nenek Zelin waktu itu.”


Dugggg!


Kedua bola mata Diana membulat sempurna menyadari Ivan sudah tahu siapa dokter bedah hebat itu.


Sejak kapan Ivan menyadari kalau aku dokter itu?


“Jangan kaget gitu, seharusnya aku yang kaget.” Ivan menepuk lembut tangan Diana dan kembali menariknya keluar dari lift. Setelah keduanya masuk mobil, Ivan langsung melajukan mobilnya menuju Restoran, dia mengabaikan tatapan mata Diana yang penuh pertanyaan yang selalu tertuju untuknya.


Di depan ruang operasi.

__ADS_1


Nicholas seketika bungkam, Yudha dan Nizam memandanginya dengan sorot mata yang penuh kemarahan.


Dillah mendekati Nicholas dan menyenggol pelan lengan laki-laki itu. “Jika ingin bernapas dengan nyaman di sekitar kami, lain kali tolong jaga sikapmu di depan Nona kami.”


“Memangnya siapa dia? Dia hanya wanita desa!” ucap Nicholas sinis.


“Dengan keajaiban yang kamu lihat, kamu belum menyadari siapa Diana?” Nizam menggelengkan kepalanya melihat kebodohan Nicholas. "Jangan pernah menilai seseorang dari tempat dia berasal, pendidikannya, atau penampilannya. Seperti seorang Rich Man sesungguhnya, mereka tidak pernah memamerkan kekayaannya, justru mereka terlihat sederhana!" ucap Nizam tegas.


"Apalagi Diana, bagaimana dia tidak banyak yang tahu betapa berharganya dia!" sambung Nizam.


“Nizam, aku boleh bertanya padamu?” sela Yudha.


Nizam menoleh pada Yudha dan mengizinkan Yudha bertanya dengan Bahasa isyaratnya.


“Apakah produk otak kotorku benar? Kalau dokter hebat itu adalah Diana bukan kamu?” tanya Yudha.


Nizam menggaruk sisi telinganya. “Kamu tebak saja sendiri.” Dengan santainya Nizam pergi begitu saja meninggalkan Yudha, Dillah, Nicholas, dan Pak Joyga.


Yudha kesal dengan jawaban Nizam, tapi dia berusaha bersikap santai.


"Pikiranmu benar-benar sesat!" maki Nicholas pada Yudha. "Di mana akal sehatmu sehingga kamu berpikir Diana adalah dokter hebat itu?"


"Aku tidak bertanya padamu, dan tidak meminta komentarmu!" balas Yudha.


Yudha menoleh pada Dillah. “Dillah, kamu sudah mengabari tante Rani dan om Sofian?”


Yudha memandangi temannya yang lain. “Nicholas, Pak Jo, kalian pulang saja, setelah tante Rani datang, aku juga segera pulang. Terima kasih banyak kalian menemaniku dan Ivan hingga pagi.”


"Saya tetap di sini Tuan, saya tidak tenang sebelum memastikan keadaan Tuan Angga," sahut Pak Jo.


"Ya sudah, kalau kalian tidak mau pulang, silakan hangatkan perut kalian ke kantin Rumah Sakit," usul Yudha.


"Baiklah, Apa Tuan Yudha perlu sesuatu? Nanti saya beli untuk Anda," tawar Pak Jo.


"Tidak perlu Pak Jo, untukku dan Yudha, nanti aku bisa sendiri," sela Dillah.


Mereka semua segera membubarkan diri. Tinggal Yudha dan Dillah yang menunggu di depan ruang perawatan Angga.


"Tuan Yudha ingin sesuatu? Biar aku cari sekalian untukku," tawar Dillah.


"Kopi hitam dan roti," sahut Yudha


"Baiklah, saya izin undur diri dulu." Dillah segera memacu langkahnya mencari yang Yudha inginkan juga yang dia inginkan.

__ADS_1


***


Ivan dan Diana sampai di salah satu Restoran Mewah yang tidak jauh dari Rumah Sakit.


"Selamat datang," sapa pelayan begitu halus.


"Saya ingin ruangan khusus untuk 2 orang, dan apa menu andalan di sini, siapkan semua," pinta Ivan.


"Baik Tuan."


Ivan sengaja memesan ruang VIP agar dia leluasa berbicara dengan Diana, dan menjalankan rencana yang sudah dia susun sejak tadi malam. Ivan merasa rencananya sudah matang untuk menjebak Diana. Walau nantinya Diana mengelak semua tuduhannya, Ivan juga tidak akan memaksa Diana untuk mengakui semuanya.


Semua pesanan Ivan dan Diana sudah memenuhi meja makan mereka, Ivan memberi pesan pada pelayan, agar tidak ada satu pun pelayan yang boleh masuk saat dia menikmati sarapan paginya bersama Diana. Diana dan Ivan mulai menikmati sarapan mereka.


Ivan terus memperhatikan Diana, memperkiraan waktu untuk bicara. Di depannya Diana terlihat begitu menikmati sarapannya.


"Enak?" tanya Ivan.


Diana menganggukan kepalanya dan kembali menyuap sarapannya.


“Diana, aku sudah mendapatkan Informasi terbaru tentang Organisasi IMO,” ucap Ivan.


Mendengar ucapan Ivan, Diana berusaha bersikap santai seoalah tidak tertarik dengan ucapan Ivan. “Owh .…”


“Ada hal yang di luar dugaanku tentang IMO,” ucap Ivan lagi.


Diana hanya mengangguk pelan merespon ucapan Ivan. “ Lalu?” Diana kembali meneruskan sarapannya.


“Hal mengejutkannya adalah, ternyata Tuan Muda Archer adalah Ketua IMO.”


“Artinya, orang yang selama ini kamu cari adalah Tuan Muda Archer?” tanya Diana. "Andai dia, tolong jangan terlalu keras, bicara baik-baik san katakan apa yang kamu mau." Diana kembali melanjutkan makannya.


"Aku memang mencari ketua IMO, tapi bukan Archer yang aku cari."


"Lalu?" Diana balik bertanya.


“Sebelum aku menyelidiki wakil ketua IMO, aku sudah menyelidiki tentang Archer, walau dia Ketua IMO, tapi bukan dia yang berurusan denganku. Ketua IMO yang aku cari adalah yang menjabat seteah Tuan Muda Archer.”


“Ucapanmu membingungkan,” sahut Diana, namun Diana terus menyuap makanannya.


“Sebelumnya aku pernah bersaing dengan ketua IMO yang aku cari secara online, dan aku memiliki beberapa bukti lain tentang ketua IMO yang aku cari, dan ketua IMO yang aku cari selama ini berada tepat di depan mataku, dan saat ini dia tengah menikmati sarapannya.”


Diana langsung melepas sendoknya setelah mendengar ucapan Ivan.

__ADS_1


“ketua IMO yang merampok Yudha saat itu adalah murid Tuan muda Archer, dan Tuan muda Archer tidak memiliki murid lain selain dirimu, dia pernah mengatakan padaku saat kamu di Dubai, kalau kamu adalah muridnya satu-satunya.”


Diana dan Ivan diam, mereka saling tatap. Keadaan yang tadi hangat seketika terasa dingin. Diana terus menatap Ivan, seolah mencari tahu apa yang laki-laki itu inginkan darinya. Sedang Ivan terlihat santai.


__ADS_2