Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 247


__ADS_3

Saat pulang ke rumah, Yudha selalu mendengar cerita Neneknya, kalau Diana akan mempersiapkan keberangkatannya menuju desa di mana dokter Zelin tinggal, Yudha sangat bahagia melihat Neneknya sebahagia itu.


Malam itu dia tidur bersama Neneknya, sampai larut malam Neneknya terus mengenang masa mudanya dengan dokter Zelin. Hingga saat pagi Nenek Yudha masih lelap dalam tidurnya.


Melihat Neneknya masih tidur, Yudha segera keluar dan menelepon Dillah, dia menanyakan keberadaan Ivan. Mendengar kalau Ivan dan Diana ada di Apartemen Ivan, Yudha mengajak Dillah untuk menemui bos mereka di pagi minggu ini.


Sedang di Apartemen itu, Ivan terus memeluk Diana, rasanya dia tidak rela melepaskan pelukan mereka. Apalagi hari ini keduanya sama-sama libur.


“Van ….”


Panggilan Diana mengusik lamunan Ivan. “Ada apa permataku?”


“Aku tidak menginginkan kemewahan, tapi aku hanya bertanya saja, boleh?”


“Tanyakan apa yang kamu mau.” Ivan menghujani wajah Diana dengan ciuman.


“Dari segala sudut pandangku, kamu memiliki segalanya, kenapa kamu malah memillih tinggal di Apartemen? Padahal kamu memiliki rumah besar di mana-mana, dan puluhan pelayan. Kenapa kamu lebih suka menyendiri di sini?”


“Aku suka kesendirian, apalagi setelah kamu hadir dalam hidupku, bagiku Apartemen ini cukup untuk kita berdua.”


“Tapi aku hanya merasa bersalah, kamu sering memasak untukku dan mencuci piring bekas makanku.”


“Tapi aku melakukannya dengan bahagia sayang.” Ivan mendekatkan wajahnya pada Diana untuk menghangatkan pagi mereka yang dingin.


Ting! Tong!


Suara bel pintu yang terdengar membuat Ivan harus menghentikan kegiatannya.


“Argghhh! Siapa yang berani-berani merusak pagi indahku!” Ivan sangat geram dia terpaksa turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu.


Saat pintu terbuka memperlihatkan 3 sosok, Dillah, Yudha, dan Anton.


“Kalian?” Ivan sangat terkejut melihat ketiganya.


“Ini minggu Van, boleh kan kami berkumpul bersama kalian?” goda Yudha.

__ADS_1


“Anton, Yudha? Kenapa hanya berdiri di luar, ayo masuk!”


Mendengar Diana mengajak tamunya masuk, Ivan menepi memberi jalan untuk 3 orang yang telah mengacaukan pagi mereka.


“Hai Diana, bagaimana kalau kita isi waktu libur kita dengan bermain?” Yudha memperlihatkan kartu yang dia bawa.


“Wah asyik kita main kartu, taruhannya apa?” tanya Diana.


“Makanan ringan.” Dillah memperlihatkan dua kantong besar yang berisi makanan ringan “Aku akan membagikan ini rata buat kalian sebagai modal judi kalian.” Dillah mulai membagikan makanan ringan itu.


“Aku sangat syok tadi, aku kalau kalah maka harus lepas satu baju,” omel Ivan.


“Itu permainan kamu berdua dengan Diana saja Van,” sela Anton.


“Iya, kalau main kartu taruhannya begitu. Ivan sudah polos aku tidak lepas satu apapun,” sahut Diana.


“Ilih, sombong sekali dirimu.” Ivan tersenyum melihat kepercayaan diri Diana.


“Percaya diri itu harus!” sahut Diana.


Mereka berlima duduk mengelilingi meja, sedang Dillah bertugas untuk membagikan kartu. Permainan pun di mulai, Diana terus memenangkan taruhan mereka, hingga semua makanan ringan yang ada kini berpindah pada Diana.


“Aku tidak tahu di bidang mana aku bisa mengalahkanmu,” gerutu Ivan.


“Melihat bagaimana Diana, kemungkinan di ranjang pun kamu yang tumbang van,” ledek Anton.


Suara tawa pun memenuhi ruangan itu.


"Sebenarnya aku tidak hebat, hanya saja cerdik," sela Diana.


"Apa maksudmu?" tanya Ivan.


"Selama bermain, saat ku lihat kemungkinan aku kalah, aku mengakalinya." Diana memperlihatkan dari sisi mana permainana curangnya.


"Alah kamu bermain curang Diana!" Yudha sangat kesal.

__ADS_1


"Yang penting aku menang!" Diana merasa tidak bersalah dengan kecurangannya.


Melihat semua sebal, Diana melempar makanan ringan yang dia kuasai pada setiap orang. Mereka mulai menikmati cemilan dalam kebisuan. Hanya bunyi renyahnya keripik kentang yang mereka nikmati memecah kebisuan.


“Oh iya, aku lupa hadiah darimu itu, Anton.” Diana langsung berlari ke kamarnya, saat dia kembali dia membawa kantong kain yang berserut.


Diana kembali ketempat duduknya, dia mulai membuka kantong kecil yang dia buka dan mengeluarkan isinya diatas meja.


Crakkk!


Butiran Berlian yang berukuran sedang membuat mata Yudha dan Dillah terbelalak.


Ivan mengambil satu butir dan mulai mengamatinya. “Berlian?”


“Iya, itu hadiah Anton untukku, kamu tahu Van, Anton tidak beli tapi dia menambang sendiri berlian itu,” ucap Diana.


Yudha dan Dillah semakin terpukau melihat berlian itu.


“Anton telihat sederhana, dan sering mengalami kekurangan, padahal dia dan kakeknya memiliki wilayah yang menyimpan kekayaan ala mini, tapi mereka tidak menambangnya.”


“Berlian ini Anton tambang dari tambang miliknya sendiri?” sela Ivan.


“Ya, hanya dengan peralatan sederhana,” sahut Anton.


"Wah keren, Anton memiliki tambang berlian?" Yudha terpukau dengan butiran berlian itu, dia mengambil satu dan mengamatinya.


"Di desa kami ada tambang berlian, tapi berlian di sana tidak di tambang, kepala suku tidak mau alam rusak karena kegiatan pertambangan," ucap Diana.


"Wah sayang sekali, seharusnya dengan mengikuti persyaratan tambang yang asli, alam pasti tetap terjaga walau tambang di buka, selama ini alam rusak karena cara pertambangan yang keliru," tambah Dillah.


"Kepala suku malas membahas tambang, bagi beliau keadaan desa yang berada di gunung lain itu sudah cukup." Diana menyebutkan nama desa yang dekat dengan desanya, di mana desa itu saat ini membuka tambang berlian.


"Itu tambang berlian milik Agung Jaya," ucap Ivan.


"Iya, aku tahu kalau itu milikmu," sahut Diana.

__ADS_1


__ADS_2