
Di kota.
2 hari setelah pengumuman itu banyak Mahasiswa yang sangat antusias ingin mengikuti kelas Diana. Dari kejauhan Thaby melihat Saras berjalan bersama Lucas menuju gerbang utama, keduanya terlihat membawa ransel besar.
Thaby berlari menyusul dua orang yang menarik perhatiannya itu.
"Lucas! Saras! Mau kemana kalian?" tanya Thaby.
"Mau ke desa Diana," jawab Saras.
Lucas mematung karena tidak sempat meminta Saras untuk merahasiakan tujuan mereka.
"Ha? Ke desa Diana? Memangnya kalian mau apa?" Thaby tidak percaya dengan ucapan Saras.
Saras ingin berkata lagi, Namun Lucas sengaja menarik tali ransel Saras, membuat wanita itu terkejut.
"Aku dan Saras mendapatkan tiket khusus untuk belajar pada Diana. Sudah dulu ya Thaby, mobil kami menunggu kami." Lucas menarik Saras agar pergi bersamanya.
Thaby memandang kosong kearah Saras dan Lucas. Dia cemburu, karena Saras dan Lucas bisa menemui Diana, sedang dirinya tidak bisa.
Untuk memastikan pengakuan Saras, Thaby teringat Ayahnya, dia berjalan cepat menuju ruangan Ayahnya, tanpa mengetuk pintu, dia masuk begitu saja, membuat laki-laki tua dalam ruangan itu terperanjat.
"Ada apa Thaby?" tanya Pak Abi.
"Ayah, apa benar Saras dan Lucas mendapat kesempatan khusus belajar bersama Diana?"
Pak Abi ingat kalau izin Saras mengunjungi Diana ke desanya, sedang Lucas sendiri memang sepupu Diana.
"Ayah ...."
Panggilan Thaby menyadarkan Pak Abi dari lamunannya.
"Kalau benar, memangnya kenapa? Yang menentukan siapa yang beruntung atau tidak bukan aku, tapi Diana."
"Ayah! Aku ingin mengikuti kouta khusus yang diana buka!"
"Kalau kamu mau, buktikan dirimu kalau kamu memang pantas untuk tiket terbatas itu, bukan mendatangiku."
"Ayah ...." Thaby sangat berharap Ayahnya mau membantunya.
__ADS_1
"Jika kamu tidak ada urusan tentang kuliahmu, silakan keluar." Pak Abi malah tidak peduli.
Perjalanan Saras dan Lucas.
Sepanjang jalan handphone Lucas terus berdering, Lucas selalu menerima panggilan itu, terdengar dia berbiara sangat sopan, dan berulang kali menyebut kata 'mama',
Saras memahami kalau penelepon itu adalah ibu Lucas. Selesai berbicara, Lucas menyimpan handphonenya, dia menoleh pada Saras.
"Kamu berteman dengan Diana itu sudah lama bukan? Harusnya kamu tahu dan mengerti bagaimana sikap Diana, jadi pelajaran untukmu, jika kamu ingin bertemu Diana, jangan pernah berkata seperti itu pada orang lain, Diana sangat suka menutupi segala hal tentangnya, sebagai teman, harusnya kamu juga ikut melindungi, dengan menutupi segala hal tentangnya."
Saras bungkam, dia sangat tahu Diana suka merahasiakan. Namun rasa bahagianya akan bertemu Diana membuatnya ingin mengabarkan kabar bahagia yang dia rasa pada semua orang.
***
Di desa.
2 hari ini Ivan dan Diana selalu pergi bersama menyusuri setiap tempat menarik di desa itu. Hari ini, mereka kembali mengunjungi rumah Profesor Hadju. Saat ini Ivan, Nizam, Dillah, dan Yudha terlihat asyik berkuda di sebuah lapangan.
Keisengan Ivan dan Nizam mengerjai Yudha dan Dillah begitu asyik, Dillah dan Yudha masih terlihat takut menaiki kuda, keduanya didampingi pekerja yang bertugas merawat kuda-kuda di sana.
Sedang Profesor Hadju dan Diana memandangi mereka semua dari teras rumah Profesor Hadju.
"Ivan laki-laki yang baik," ucap Profesor Hadju.
"Kita semua memiliki kesalahan dan kejelekan masing-masing, Diana. Tapi aku menyukainya, selain dia baik, dia juga berhasil masuk ke bagian hatimu. Aku sangat suka cara kalian saling melindungi. Misal ... Kemaren pastinya kamu memberi Ivan ramuan agar dia tidak mabuk kan?"
"Maafkan aku Prof ...."
"Jangan minta maaf, aku malah mengagumi tindakanmu yang selalu melindungi Ivan, artinya dia sangat berarti bagimu, bukan?"
Melihat Ivan dan teman-temannya berjalan kearahnya, Profesor Hadju menyambut mereka dengan senyuman ramah beliau.
"Sudah selesai?" tanya Diana.
"Sudah cukup dulu, matahari mulai terasa panas," sahut Ivan.
"Diana, bisakah kamu pergi ke pusat desa?" tanya Profesor Hadju.
"Tentu bisa, Profesor mau aku belikan apa?"
__ADS_1
"Belikan apa saja, anggap itu kado kalian untukku, kemaren malam aku bertindak kasar, aku memecahkan semua anggur mewah yang Ivan bawakan untuku, itu untuk menguji emosi Ivan, tapi yang emosi malah dua temannya, jadi kamu beli apa saja atas nama Ivan, dan berikan padaku sebagai hadiah perkenalan kami."
Diana tahu Profesor hanya ingin memintanya pergi. Dia tetap pergi dan meminta pelayannya membeli yang dia inginkan, sedang Diana bersantai di rumah Neneknya.
Kediaman Profesor Hadju.
Merasa tidak ada obrolan, Ivan duduk di dekat Profesor, dia melihat kearah Nizam, Yudha, dan Dillah yang kembali berkuda.
"Kamu tahu, Diana memiliki ingatan yang sangat kuat." Profesor Hadju menarik napasnya begitu dalam.
"Sepanjang hidupnya dia menahan rasa sakit, melihat Ayahnya meninggal dalam kecelakaan yang di sengaja, dan melihat ibunya mati dalam keadaan tersiksa karena racun, padahal saat itu ibunya tengah hamil adiknya."
Ivan membayangkan posisinya berada di saat Diana kecil.
"Yang dia tahu hanyalah Agung Jaya, karena orang-orang dewasa selalu menyebutkan Agung Jaya. Sebelum kamu sakit oleh kenyataan, aku ingin mengatakan, Diana menerima mu mungkin karena ingin balas dendam," ucap Profesor Hadju.
Ivan menunduk, mempersiapkan diri untuk bicara. "Aku tahu Prof, Diana juga sudah mengakui itu, dan Diana mengakui semuanya beberapa menit sebelum kami memutuskan untuk menikah."
Ivan tersenyum pada Profesor Hadju. "Walau Diana menerima perjodohan ini karena ingin membunuhku, aku siap memberikan nyawaku, hidupku sangat indah saat Diana masuk kedalam kehidupanku."
Saat yang sama, Hogu berlari kearah Ivan. Melihat hal itu Yudha turun dari kuda, dan berlari kearah Ivan. Dia sangat tahu Ivan takut pada anjing.
"Ivan!" Yudha menunjuk kearah anjing Diana yang sudah dekat.
Ivan terkejut dengan panggilan Yudha, dia menoleh kearah yang Yudha tunjuk, terlihat Hogu di sana.
"Hai Hogu, duduk sini." Ivan menepuk kursi kosong yang ada di dekatnya.
Guk! Guk!
Hogu naik keatas kursi dan duduk di sana.
"Kau memang sangat pintar." Ivan mengusap lembut kepala Hogu.
"What?" Yudha sangat terkejut melihat Ivan dekat dengan Hogu, bukan takut, tapi Ivan malah mengusap lembut Hogu.
"Wah ... Tebakan Anda benar Tuan Yudha, cinta Tuan Ivan pada Nona Diana, membuat Tuan Ivan juga mencintai hal yang selama ini dia takuti," ucap Dillah.
"Kalau begitu ayo kita berkuda lagi," ucap Yudha.
__ADS_1
"Kuda-kudaan denganku?" goda Dillah.
Yudha sangat geram, dia tidak menghiraukan Dillah, dia langsung berjalan menuju kudanya.