
Wilda sangat terkejut dengan keputusan Qiara. “Apa kamu yakin dengan keputusan kamu, Qiara?”
“Aku sangat yakin, mama.”
“Kamu tahu, sejak kejadian itu Veronica tidak pernah keluar lagi dari rumahnya, kasus kemaren semakin membuatnya kehilangan muka.”
“Apa yang Diana lakukan padaku dan Veronica, aku akan membalasnya mama, tenang saja aku akan membayar perbuatannya dengan cara yang halus.”
Wilda tidak yakin dengan rencana Qiara, tapi mengakui kesalahan dan meminta maaf pada Diana dirinya juga tidak mau. Wilda mendukung penuh rencana Qiara. Dia ingin berjuang menyingkirkan Diana dari sisi Ivan.
Di kediaman Veronica.
Seorang laki-laki datang ke kediaman Danu. Setelah memberikan berkas dia segera pergi dari kediaman keluarga Kesuma. Danu fokus membaca isi surat yang dia terima. Dia memijat pelipisnya, diantara surat yang dia terima ada dari pengacara Nizam, yang berisi kecaman untuk aparat hukum yang sengaja menunda-nunda persidangan ini. Surat yang lain berisi permintaan agar Danu bersiap menghadapi tuntutan yang sulit untuk dia menangkan.
“Hendrick!” Danu memanggil Asisten pribadinya.
“Iya Tuan.”
“Kerahkan semua kemampuan kita, dan lakukan apa saja untuk menunda persidangan Veronica, selama kasus ini belum diputuskan hakim, Veronica masih aman. Lakukan apa saja agar persidangan di tunda selama mungkin!”
“Saya sudah melakukan ini Tuan.”
“Lebih giat lagi! Aku tidak mau anggota keluarga Kesuma memiliki catatan seorang narapidana!”
Mendengar perintah Ayahnya pada sang Asisten, seketika Veronica mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah, dia kembali lagi ke kamarnya. Keadaan kamarnya kini bersih, tidak ada lagi hal yang bisa dia gunakan untuk melampiaskan kemarahannya.
“Diana!” Veronica sangat geram mengingat nama itu.
“Andai aku diberi kesempatan! Aku akan membalas semuanya Diana!”
Drtttt! Drtttt! Drtttt!
Getaran handphone memecah pemikiran Veronica, dengan malas dia meraih benda pipih persegi Panjang itu, namun saat melihat nama Qiara tertera di layar, Veronica segera menggeser icon berwarna hijau. “Qiara … bagaimana keadaanmu?”
“Aku baik, Ve. Kamu?”
Veronica menghempas kasar napasnya, mencoba mengurangi beban yang bertumpu pada hatinya. “Aku sangat buruk! Gelar dokterku, statusku, nama baikku, semua hancur! Aku tidak punya masa depan lagi Qi …, bahkan aku tidak punya keberanian untuk muncul di depan umum.”
“Kita kerjasmaa untuk membalas perbuatan Diana pada kita!”
Veronica seakan mendapat tenaga jutaan megavolt saat mendengar ucapan Qiara. “Ma—maksdumu?”
“Kita berdua saling bantu untuk membalas semua perbuatan Diana pada kita, kita atur strategi yang lebih hati-hati. Bagaimana?”
“Yah … itu pun kalau kamu berani, kalau kamu sudah kehilangan keberanianmu, peluk kedua lututmu dan tangisi semua kehancuranmu.”
“Aku mau!” jawab Veronica begitu semangat.
**
Saat sampai di Universitas Bina Jaya, Diana segera ke kamarnya. Dia segera menelepon professor Hadju, Diana menjelaskan semuanya pada professor Hadju.
“Bagaimana kalau minggu depan? Aku akan persiapkan tim terbaikku untuk membantumu melakukan operasi di Rumah Sakit milikku, suatu kebanggaan bagiku, kamu memilih Rumah Sakitku untuk mengoperasi pasien.”
“Anda selalu berlebihan Prof.”
“Selain bakat medismu yang luar biasa, hanya dengan memandang jeli atau menyentuh pasien, kamu bisa menyimpulkan sesuatu, kamu juga sangat cerdas, terbukti kamu bisa melakukan banyak operasi karena kecerdasanmu. Padahal kamu hanya belajar medis dariku juga dari nenekmu, tanpa kuliah resmi. Tapi beberapa Rumah Sakit memperebutkan dirimu."
"Pilihanmu untuk melakukan operasi di luar negri, hal ini juga sangat tepat. Karena saat kamu melakukan operasi pada pasienmu nanti, jangan sampai ada kesalahan sedikit pun! Karena akan sangat fatal akibatnya.”
“Iya, prof. itulah yang menjadi pertimbangan saya.”
“Baiklah Diana, kamu minta pasienmu datang lebih awal, karena dia harus menjalani beberapa hal sebelum operasi.”
“Baik, prof.”
Setelah menyudahi panggilan teleponnya dengan professor Hadju, Diana segera mengirim pesan pada Nizam, meminta Nizam untuk menemui keluarga kakek Agung, mengatakan kalau operasi akan dilakukan di luar negri minggu depan. Juga meminta Angga untuk bersiap.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar suara ketukkan pintu, Diana segara beranjak dari posisinya, dan melangkah menuju pintu. Saat dia membuka pintu, ternyata seorang Wanita yang mengurus Asrama yang berdiri di depan pintu.
“Diana, aku izin masuk, aku harus mempersiapkan tempat.”
Diana mempersilakan ibu asrama itu masuk ke dalam kamarnya.
“Nanti kamu akan berbagi kamar ini dengan mahasiswi yang lain, dia adalah penghuni kamar ini sebelumnya.”
Diana mengetik di handphonenya.
*Veronica?
“Bukan Vero, tapi Arsyela Zavita, katanya dia akan kembali, beberapa bulan ini dia ikut pertukaran pelajar.”
__ADS_1
Tink!
Satu pesan baru masuk di handphone Diana, Diana segera membuka pesan itu, ternyata dari Pak Abimayu.
*Diana, apa bisa menemuiku sekarang di kantorku? Ada hal yang ingin aku bicarakan padamu mengenai presensimu di setiap mata kuliah.
Diana mengetik pesan balasan.
\=Baik Pak, saya akan segera ke sana.
Diana mulai mengetik kata Baru.
*Mama Tera, maaf ya saya harus pergi.
“Silakan Diana.”
Diana segera menuju kantor Rektor Universitas Bina Jaya. Saat menghadap Pak Abi, beliau hanya meminta Diana agar tidak terlalu sering meninggalkan ujian, bahkan beberapa dosen mengadu kalau Diana sering meninggalkan ujian mata kuliah mereka.
"Aku tahu bagaimana kemampuan kamu Diana, tanpa kamu kuliah pun, ilmu medis kamu sudah sangat luar biasa."
Setelah mendengar nasehat dan usulan dari Pak Abi, Diana segera keluar dari ruangan Pak Abi. Baru beberapa langkah Diana keluar dari ruangan Pak Abi, dia bertemu dengan dosen walinya.
“Bagus kalau kita bertemu di sini. Bisa ikut aku sebentar?”
Diana mengikuti dosennya menuju ruangan Febrian.
“Minggu depan adalah ujian mata kuliah yang paling penting. Aku tidak mau tahu Diana, bagaiman pun kamu tidak boleh lagi membolos pada ujian minggu depan.”
Minggu depan?
Dian terbayang rencana operasi pada Angga juga pada waktu yang sama.
“Iya, minggu depan. Kamu tidak boleh bolos lagi! Aku tidak akan memberimu izin. Aku tidak mau tau alasanmu, pokoknya minggu depan kamu harus hadir!”
Setelah dosennya selesai mengatakan semuanya, Diana keluar dari ruangan dosennya. Pikirannya seketika kacau. Ujian dan operasi di waktu yang sama. Diana terus melangkah menuju kelasnya, namun saat matanya melihat kursi taman yang berjejer, Diana menghempas kasar bobot tubuhnya di sana. Pikirannya terus melayang entah kemana.
**
Di kediaman Agung Jaya.
“Kenapa harus di luar negri nak?” tanya Kakek Agung.
“Saya hanya tidak ingin mengambil reseko, Rumah Sakit pilihan saya memiliki alat-alat canggih, saya tidak ingin melakukan kesalahan dalam operasi nanti.”
“Kapan kami harus ke sana?” sela Rani.
Nizam mulai menjelaskan apa saja persiapan Angga mendekati waktu operasi nanti.
“Permisi Nyonya, di luar ada seorang Wanita Bernama Nyonya Aridya, katanya beliau adalah calon besan Nyonya.” Ucapan seorang pelayan barusan seketika membuat wajah Rani buruk.
“Apa beliau diizinkan untuk mass—”
“Selamat siang semuanya, halo Jeng Rani, calon besanku, selamat pagi kakek Agung.”
Tiba-tiba ada seorang Wanita yang ada diantara mereka.
“Maaf Nyonya, bukankah tadi saya minta Anda menunggu dulu sebentar?” Pelayan itu terlihat takut, karena tamu yang dia pinta menunggu masuk begitu saja.
“Nyonya ini menerobos begitu saja,” adu pelayan yang lain.
Rani menatap sinis pada Aridya, andai tidak ada Nizam, dia ingin sekali mengusir Wanita itu. Karena urusan bersama Nizam lebih penting. Rani fokus pada pengacara Nizam, namun jika Aridya di dekatnya, rasanya ini sangat mengganggunya.
“Silakan masuk Nyonya Aridya, tapi maaf kami masih ada hal pribadi dengan pengacara Nizam, bisa beri kami waktu sebentar?
"Owh tentu saja," sahut Aridya.
"Terima kasih, silakan Anda menunggu di tempat yang Anda inginkan, dan buatlah diri Anda senyaman mungkin Nyonya.” Rani menatap kearah pelayan yang berdiri di dekat Aridya. “Kamu tolong temani Nyonya itu, karena aku harus bicara banyak hal dengan Pengacara Nizam.”
“Baik Nyonya.”
Aridya melenggang bebas memasuki kediaman kakek Agung ke sudut mana pun yang dia mau, dia diikuti oleh pelayan yang ditugaskan Rani untuk mengikutinya.
Setelah selesai menceritakan rencana operasi pada Angga, Nizam berjalan cepat menuju mobilnya. Setelah berada di dalam mobil, dia langsung mengirim pesan pada Diana.
***
Di Universitas Bina Jaya.
Diana berada di taman, dia duduk di salah satu bangku Panjang yang ada di dekat pohon. Rasanya udara segar di taman bisa membuat otaknya bekerja lebih fresh. Diana terus memikirkan cara, bagaimana supaya dia bisa mendapat izin dari dosennya. Sedangkan Dosennya sudah mengatakan tidak akan memberinya izin. Padahal diwaktu yang sama dia harus berada di luar Negri.
__ADS_1
“Ternyata kamu di sini.”
Ucapan itu seketika membuyarkan segala perencanaan yang masih Diana pikirkan, saat dia menoleh ternyata itu Saras.
Saras langsung duduk di samping Diana, dia membawa sesuatu di tangannya. “Diana, bisa tolong aku?”
Diana segera meraih handphonenya.
*Apa?
“Bisakah kamu antarkan ini ke penitipan barang? Aku malu jika harus memberikannya sendiri.” Saras menyerahkan kado itu pada Diana.
*Untuk siapa?
“Lucas.” Wajah Saras seketika bersemu merah kala mengucapkan nama ‘Lucas’.
“Kamu tahu sendiri kalau Lucas adalah Mahasiswa idola, selain dia tampan, dia juga mahasiswa yang cerdas. Banyak orang yang menyukainya. Kalau aku memberikan hadiah ini sendiri, yang ada aku dibully oleh para penggemar Lucas yang lain.”
Diana tersenyum, jemarinya menari mengetik kata baru.
*Iya, aku mengerti. Aku akan mengantarkannya ke penitipan barang untuk Lucas, atas namamu.
“Terima kasih Diana.”
Setelah mengatakan keinginanya Saras izin pergi. Saat Diana hendak beranjak, geraknya tertahan karena ada pesan yang masuk pada handphonenya.
*Diana, aku sudah menemui kakek Agung dan mengatakan semuanya.
*Kamu tahu siapa yang berkunjung ke kediaman kakek Agung saat ini?
Alis Diana tertaut membaca pesan dari Nizam.
Tink!
Tink!
Pesan baru dari Nizam masuk lagi.
*Dia adalah Aridya Helmina.
*Sebelum dia bertindak yang aneh-aneh, cepatlah kemari, aku menunggumu. Jangan sampai Aridya membuat kekacauan dan menyeret namamu lagi.
Diana menghempas kasar napasnya membaca pesan Nizam.
\=Biarkan saja dia melakukan apapun yang dia mau.
\=Nenekku melarangku berurusan dengan Wanita itu.
\=Lagi pula tante Rani tidak menyukaiku, so pasti dia juga tidak menyukai Wanita itu.
Diana kembali menyimpan handphonenya, dan segera menuju tempat penitipan barang. Dia menulis seperti apa yang Saras mau. Selesai urusannya di sana, Diana menuju tempat lain. Saat ini semangatnya untuk belajar benar-benar luntur untuk saat ini. Diana duduk di salah satu kursi yang berjejer. Dia meraih handohonennya dan bermain game online. 30 menit berlalu, Diana masih larut dalam permainan yang dia mainkan saat dia butuh pengalihan.
Brak!
Seseorang melempar barang sembarangan kearah tong sampah yang ada di dekat Diana, namun orang itu tidak menyadari kalau barang yang dia lempar tidak masuk kedalam tong sampah, hanya jatuh di dekat tong sampah. Diana menoleh kearah barang yang teronggok di lantai. Dia sangat familiar dengan bungkus hadiah itu. Itu adalah hadiah yang Saras berikan untuk Lucas. Diana baru menyadari kalau orang yang membuang barang barusan adalah Lucas. Diana memungut hadiah itu, dan memperbaiki kertas pembungkusnya yang sudah dikoyak. Setelah selesai, Diana mengetik pesan untuk Lucas, dia mengambil nomor handphone Lucas dari group kampus mereka.
*Kalau kamu tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Ambil lagi hadiah yang kau buang barusan ke penitipan barang. Hargai seseorang yang mengagumimu!
*Kalau kau membuang hadiah itu lagi, aku pastikan kau akan menyesal!
Diana kembali ke penitipan barang, dan kembali menitipkan barang itu untuk Lucas.
**
Waktu terus berjalan, tidak terasa matahari semakin menyengat. Sebuah mobil taksi berhenti di samping mobil mewah yang parkir di area kampus. Seorang gadis yang turun dari taksi terpana dengan sosok tampan yang berdiri di samping mobilnya.
“Halo Diana, maaf aku meneleponmu. Kau jawab saja nanti dengan pesan. Apakah kamu bisa pergi denganku?
Gadis yang baru saja menurunkan semua barangnya menguping jelas pembicaraan laki-laki itu. Dia sangat ingat, kalau teman sekamarnya Bernama Diana, dia mengambil foto laki-laki itu dengan kamera handphonenya. Sedang laki-laki itu pergi begitu saja meninggalkan Area Fakultas Bina Jaya.
“Hai Syila, kamu kembali.”
Sapaan itu menghentikan aktivitasnya mengumpulkan beberapa barang bawaannya. Dia tesenyum kearah dua orang yang berjalan kearahnya. “Hai Saras.”
“Perkenalkan ini Diana, dia teman sekamar kamu.”
“Hai Diana, aku Arsyila, panggil Syila.”
Diana tersenyum dan menjabat tangan Syila.
“Saras …, aku ingin bertanya padamu.” Syila mencoba mencari foto laki-laki yang dia ambil dengan mata kamera handphonenya barusan. “Apakah dia kekasih Diana?” Syila memperlihatkan layar handphonenya pada Saras.
***
__ADS_1