Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 243


__ADS_3

Setelah meninggalkan rumah istrinya, Archer segera kembali ke rumahnya sendiri. Archer menelepon Nenek Zelin, dan menceritakan prahara rumah tangganya yang telah kandas.


"Aku sangat kecewa, karena istriku sendiri yang menjadi pengkhianat di Organisasi yang aku jaga dengan nyawaku."


"Aku sedih dengan keputusanmu, tapi aku juga tidak tega melihatmu bersama dengan orang yang merupakan musuh dalam selimut. Apapun keputusanmu, aku mendukungmu."


"Terima kasih dokter."


"Kamu bertemu Diana di sana?"


"Beberapa jam yang lalu aku bertemu dengannya, mengantar undangan dari Mentri Kesehatan."


"Bagaimana, dia mau?"


"Belum tahu dok, katanya dia minta waktu untuk mempertimbangkannya. Dokter tidak mau menanyakan bagaimana keadaannya?"


"Selama aku merasa bahagia, aku yakin Dianaku bahagia, kalau aku resah, aku langsung menanyakan kabarnya pada mata-mataku yang selalu berada di dekatnya."


Setelah berbicara dengan dokter Zelin, Archer merasa lega, mereka menyudahi telepon mereka.


***


Di kantor Ivan.


Saat Diana tengah membantu Ivan memeriksa laporan, tiba-tiba terdengar suara ketukan.


"Masuk!" ucap Ivan.


Sesaat kemudian Terlihat wajah Yudha diantara pintu. "Apa aku bisa minta waktu?"


"Tentu saja, Yudh. Ayo masuk," sahut Diana.


Yudha segera masuk dan memberikan dokumen yang dia bawa pada Ivan. Ivan masih memeriksa Dokumen yang Yudha berikan.


"Yudh, bagaimana keadaan Nenekmu?"


"Semakin membaik, beliau tidak sabar menantikan saat bisa bertemu dengan sahabatnya."


"Ini yang aku bahas, apa boleh aku ke rumahmu untuk memeriksa Nenekmu?"


"Kenapa bertanya? Datang saja kapan pun kamu mau."


"Baiklah, sebelum aku kembali ke kampus, aku akan mampir di rumahmu dan memeriksa Nenekmu, untuk memastikan apakah dia bisa melakukan perjalanan jauh dengan hellychopter."


"Kita akan ke desamu dengan Helly?" tanya Yudha.


"Bukan kita, tapi hanya Nenekmu dan perawat yang akan mendampinginya."


"Kita ke desaku jalur darat, di sana kita lihat apakah kalian bisa sampai ke desaku, atau aku harus mengangkut kalian dengan tandu," ledek Diana.

__ADS_1


"Sejauh itu?" tanya Yudha.


"Kalau dekat aku tidak meminta Nenekmu nIk Hellychopter!" gerutu Diana.


Ivan sangat ingin menertawakan Yudha, tapi dia berusaha keras untuk menahannya.


Diana menoleh pada Ivan. "Ivan ...."


"Iya sayang?"


"Aku boleh pergi? Setelah dari sini, aku akan ke rumah Yudha, selesai di sana, aku akan kembali ke kampus," ucap Diana.


Yudha sangat kaget mendengar Diana ingin ke rumahnya sekarang. "Sekarang? Kalau sekarang aku tidak bisa menyambutmu, banyak pekerjaan di kantor, sisanya aku menyelesksi calon kepala bagian."


"Katamu aku boleh datang kapan pun aku mau bukan?" tanya Diana.


Ivan sangat bahagia Yudha tidak bisa menemani atau menyambut Diana di rumahnya. Dia berusaha menyembunyikan kebahagiaannya. "Sayang, kamu ke sana diantar supir kantor ya, saat ini Dillah juga sibuk."


"Tidak masalah, Van." sahut Diana.


"Pergilah sayangku, selesaikan pekerjaanmu, seteah itu kembali, ada aku yang selalu merindukan kamu."


Diana tersenyum, sebelum dia pergi dia mendaratkan ciumannya di pipi kanan Ivan. Rasanya kebahagiaan Ivan semakin bertambah.


"Aku pergi dulu, sampai jumpa."


Setelah Diana menghilang di balik pintu, Yudha mengamati wajah Ivan.


"Puas kamu Van?"


"Sangat! Yud, aku sangat lega kamu tidak bersama Dianaku, karena jika kamu bersamanya sarafku tegang memikirkan kebersamaan kalian."


"Hilih!" Yudha sudah menduga kalau Ivan sangat bahagia dengan kesibukan yang menahannya.


"Lanjut sana kerja, aku juga mau fokus."


"Eh jangan lupa, kabari orang rumahmu, biar Nenekmu siap menyambut Diana."


"Iya Iya Tuan bawel."


*


Dalam perjalanan, Diana menelepon Rumah Sakit, dia meminta seorang perawat datang ke rumah Nenek Zunea dan membawakan tas medisnya. Perjalanan 20 menit pun berlalu, Diana sampai di sebuah rumah mewah yang sebelumnya pernah dia datangi. Seorang pelayan langsung menyambutnya.


"Selamat datang, Nona. Tadi Tuan Yudha sudah mengabari kedatangan Anda," sambut pelayan.


"Terima kasih bi."


"Nona langsung masuk saja, Nyonya besar menunggu Anda di ruang Tamu, kalau Tuan dan Nyonya sedang ke luar kota.

__ADS_1


"Iya bi. Oh iya, nanti perawat akan datang, kalau dia datang, antar menemui kami ya," pinta Diana.


"Siap."


Diana melangkah begitu semangat masuki rumah itu, saat dia sampai di ruang tamu, dia melihat seorang wanita tua yang menyambutnya dengan senyuman.


"Aku bahagia sekali mendengar kamu akan datang." Nenek Zunea membuka kedua tangannya menyambut Diana.


Diana langsung memeluk wanita tua itu. "Maafkan aku Nek, aku terlalu sibuk dengan tugasku."


Keduanya berpelukan begitu lama. Perlahan Diana melonggarkan pelukan mereka, membuat Nenek Zunea mengerti, dia pun melepaskan pelukan mereka.


"Aku datang ke sini, untuk memeriksa Nenek, apakah Nenek bisa melalukan perjalanan udara yang cukup jauh."


"Ke desa untuk menemuk Nenekmu?"


"Iya, Nek."


"Aku sudah sangat sehat, tidak perlu di periksa, ayo kita ke desa Nenekmu," ucap Nenek Zelin begitu semangat.


"Aku suka semangat Nenek, tapi demi kebaikan bersama, kita harus periksa dulu."


Saat yang sama seorang perawat datang, dan menyerahkan tas yang di bawa pada Diana. Diana segera melakukan tugasnya memeriksa Nenek Zunea.


Melihat bagaimana Diana, Nenek Zunea tersenyum. "Buah tidak jauh dari pohonnya, rasanya aku melihat Zelin muda saat melihatmu memakai stetoskop."


"Kalau begitu, Nenek tidak usah ke gunung, cukup di sini bersamaku, kan kata Nenek serasa melihat Nenekku."


"Nakal kau, aku tetap ingin ke desa menemui sahabatku."


"Secepatnya Nenek akan ke desa, aku membicaraan transportasi dulu ya, untuk pendamping nanti perawat ini yang menemami Nenek."


"Kamu tidak pergi bersamaku?"


"Nenek pergi duluan, supaya Nenek punya waktu lama bersama Nenekku. Aku, Ivan, dan Yudha akan menyusul setelah semua pekerjaan kami selesai."


"Aku semakin suka padamu, selain kamu sangat cerdas, kamu juga sangat pengertian."


"Tapi sekarang aku harus menyakiti perasaan Nenek."


"Kenapa Diana?"


"Aku harus pergi, ada tugas di Universitas."


"Tidak masalah, kamu datang saja aku sangat bahagia."


Dengan berat hati, Diana terpaksa meninggalkan Nenek Zunea. Dia dan perawat meninggalkan rumah itu, perawat kembali ke Rumah Sakit, sedang Diana kembali ke Universitas.


Sesampai di Universitas, Diana mulai disibukan dengan ujian mata kuliah yang lain. Dia mengerjakannya begitu malas. Melihat Diana tidak bersemangat, Saras sangat khawatir dengan nilai Diana.

__ADS_1


__ADS_2