Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 264


__ADS_3

Luar Negri.


Tonny dan beberapa anggota IMO yang lain menyelinap ke sebuah rumah yang ada di pinggir danau, saat mereka semua berhasil masuk, mereka bersembunyi di dalam rumah itu.


"Aku tidak mengerti tante akan senekat ini."


3 orang yang ada dalam ruangan itu fokus menonton berita dari laptop yang ada di depan mereka.


"Kenapa kalian berdua melawan dokter itu? Andai Arli tidak secemburu ini, kita semua masih nyaman di Negara kita sendiri," gerutu Ayah Arli.


"Sudah, sudah. Saat ini perlu kita bahas, bagaimana kita meneruskan hidup kita. Hidup Arli tidak mungkin kita selamatkan, kalian simak sendiri keterangan dari Kepolisian tadi, kalau Arli akan terancam dengan hukuman penjara seumur hidup juga bisa dihukum mati," sela ibu Arli.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, oma, opa, setelah berpisah dari tante, aku merasa hampa. Tapi aku juga tidak bisa diam begitu saja melihat tante tidak berdaya," ucap Rativa.


"Apa rencanamu?" tanya Ayah Arli.


"Melanjutkan rencana tante, tante ingin mengledakan Universitas Bina Jaya, tante tertangkap, tapi aku belum."


"Jangan nekat kamu, Rativa!" tegur ibu Arli.


"Setidaknya aku puas, tanpa menghancurkan mereka, hidup kita juga sudah hancur."


"Rativa benar, setidaknya kita memperjuangkan keinginan Arli, toh saat ini hidup kita sudah kacau." Ayah Arli menambahi.


Mendengar rencana Rativa, kesempatan kedua untuk keluarga Arli pun di coret dari rencana Tony. Tony mengisyarat pada timnya, kalau mereka harus merencanakan rencana kedua.


Mereka semua langsung mengenakan topeng gas, pada hitungan ketiga, bom asap yang menyebarkan uap bius, memenuhi ruangan itu. Saat asap menghilang, Rativa dan kedua orang tua Arli terlihat tidak sadarkan diri.


Tony dan tim langsung menyabotase pipa gas yang ada di rumah itu, dan meninggalkan bom waktu kecil, setelah selesai, mereka semua meninggalkan rumah kecil tepi danau itu.


Beberapa jam kemudian.

__ADS_1


Deringan handphone yang berulang, membuat Rativa tersadar. Dia menerima panggilan itu.


"Halo, siapa ini?"


"Bukan siapa-siapa, tadinya kami datang ingin memberi kalian kesempatan kedua, mengingat apa rencanamu nanti, kesempatan kedua batal kami berikan, dan keinginan Arli meledakan bangunan, akan kami wujudkan, tapi bukan di Universitas Bina Jaya, tapi bangunan kecil yang ada di tepi danau."


Saat yang sama Rativa mencium bau gas di ruangannya berada.


"Kalian mudah kabur keluar Negri bukan kami tidak tahu, tapi sengaja melepaskan kalian, agar kalian bisa memulai lembaran baru, ternyata kami salah. Jadi ... nikmati hasil dari rencana jahat kalian."


"Oma, opa, bangun ....." Rativa berusaha membangunkan kakek dan Neneknya.


Doarrr!


Suara ledakan itu seketika menghancurkan bangunan tepi danau itu. Dari kejauhan Tony melihat kepulan asap hitam pekat membumbung ke udara. Dia melihat itu tanpa perasaan. Dia mengajak semua timnya meninggalkan negara itu.


**


Di Apartemen Ivan.


Diana mematung melihat berita tentang penangkapan Arli dan ketiga pamannya. Dia menoleh kearah Ivan.


"Kamu terlibat dengan rencana ini?"


"Aku hanya menyiapkan keamanan untuk berjaga. Tuan Muda Archer dan IMO tidak bisa menurunkan keamanan, karena pastinya Arli mengenali mereka." Ivan berjalan mendekati Diana, dan mengusap lembut sisi kepala Diana. "Akhirnya ... mereka yang ingin membunuhmu sudah tidak bebas lagi berkeliaran, kamu tahu? Sejak aku tahu saudara papamu mentargetkan dirimu, aku tidak pernah tenang."


Ivan menarik Diana kedalam pelukannya. "Kali ini, aku bisa bernapas lega, karena mereka tidak akan bisa menepis tuduhan yang tertuju pada mereka."


"Aku tidak mengerti apa isi kepala mereka, hanya demi ambisi menguasai harta papaku, mereka bahkan rela mengorbankan banyak nyawa dengan membom Universitas Bina Jaya."


"Lupakan mereka, mereka sudah mendapat balasan, kalau tidak hukuman mati, ya kurungan penjara seumur hidup."

__ADS_1


Di tempat Arli di kurung.


Tidak ada celah bagi Arli untuk menepis semua tuduhan, semua bukti sangat jelas, kalau dirinya ingin meledakan Unviersitas. Pasal terorisme pun ditujukan padanya dan 3 Bramantyo bersaudara.


Tidak ada pengacara manapun yang mau membela Arli, sebagian besar lapisan malah menginginkan 4 tersangka itu segera di hukum mati.


Seminggu berlalu, berita tentang Arli sudah jarang dibahas, Kepolisian menjamin akan memberi hukuman setimpal pada 4 pelaku itu.


Seminggu ini juga Diana selalu bermalas-malasan di Apartemen Ivan. Dia tidak menemui Neneknya bukan tidak merindukan Neneknya, namun memberi waktu luang untuk dua sahabat itu menghabiskan waktu mereka selama Neneknya tinggal di kota ini.


"Tidak kuliah?" tanya Ivan.


"Kegiatan kuliah diliburkan sampai acara selesai," sahut Diana.


"Tidak ingin ikut gladi bersih di sana?"


"Aku malas ...." Diana kembali menyelimuti dirinya.


"Karena kamu mempercayakan semua Aset Papamu padaku, pengacara keluarga Bramantyo berulang kali menghubungiku. Hari ini kami akan bertemu, mau ikut?"


"Aku percayakan semuanya padamu, dan aku malas mengurusnya. Jangankan harta papaku, hartaku yang paling berharga saja sudah aku berikan padamu."


"Apa itu?" tanya Ivan.


"Hati dan perasaanku."


Ivan seketika kehilangan kata-kata, dia tersenyum dan membelai sisi kepala Diana. "Ya sudah, lakukan apa saja yang kamu mau, aku kerja dulu." Ivan mendaratkan ciuman lembutnya diantara kedua alis Diana.


*


Acara besar di Universitas semakin dekat, persiapan pun semakin dikebut. Kegiatan di sana sangat sibuk, semua orang sangat antusias menyambut acara besar itu.

__ADS_1


Beberapa tamu penting juga sudah mulai berdatangan, mereka menginap di hotel milik Agung Jaya. Rani sangat sibuk menyambut semua tamu penting yang berdatangan. Sesekali Rani menanyakan apakah tamu dengan inisial MG sudah datang, namun daftar masih terlihat kosong.


__ADS_2