
Kakek Agung tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya baru menyadari kalau Diana bisa berbicara. Wilda terus berusaha membujuk agar kakek Agung memutuskan pertunangan antara Diana dan Ivan.
“Selain masalah ini, apakah kami pernah menentang keputusan Ayah?” tanya Rani. "Apa saja keputusan Ayah, walau bertentangan dengan keinginan kami, kami selalu mendukung Ayah, tapi untuk perjodohan Ivan dengan Diana, aku tidak bisa setuju, hati seorang ibu berkata, ada yang tidak beres dengan wanita pilihan Ayah itu."
"Rani, kamu hanya tidak menyukai Diana karena dia terlihat sangat sederhana, selain itu Diana anak yang baik, buka sedikit mata hatimu sebagai perempuan, lihat dengan baik bukan dengan rasa benci, Diana wanita terbaik yang Ayah pilih buat Ivan." bujuk Sofian.
Rani terlihat sangat sedih, saat ini Ayahnya, suaminya, dan putranya sudah menyayangi Diana. "Dia bisa menipu kalian, tapi tidak bisa menipuku!"
"Biasanya orang-orang yang membenci Diana, adalah orang-orang serakah dan tidak punya hati!" sela Monti.
"Monti ...." tegur Pak Abi.
Monti kesal mendengar hinaan anak-anak Agung Jaya pada Diana, namun dirinya juga sadar, berbicara pada waktu yang salah. "Maaf Pak."
"Seistimewa apapun Diana di mata kalian, aku tidak peduli! Bagiku dia hanyalah seorang penipu yang memasang wajah polos dan lugu!" Sesaat pandangan Wilda tertuju pada kakek agung. “Diana tidak pantas menjadi istri Ivan,” ucap Wilda.
“Terus yang pantas menjadi istri Ivan Hadi Dwipangga, siapa?”
Pertanyaan itu seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan.
Ivan? Kenapa dia harus ada di sini? Siallan! bisa-bisa rencanaku untuk membujuk Ayah, agar Ayah memutuskan pertunangan Diana dan Ivan bisa gagal.
Wilda sangat kesal melihat Ivan, juga tebersit rasa takut.
Bagaimana pun caranya, aku harus berhasil menyingkiran Diana dari posisi Ivan, hanya Veronica yang mau memberi kompensasi padaku kalau dia jadi Nona muda Agung Hadi Jaya.
Gadis desa itu tidak akan memberi keluargaku keuntunga apapun.
Wilda terus berpikir, melihat Ivan semakin dekat dengannya membuat dentuman irama jantung Wilda seketika semakin cepat. Ivan terus masuk mendekati keluarganya.
“Bukan kah sudah ku katakan pada tante, urusan pendampingku adalah urusanku!"
Wilda tetap memasang wajah angkuhnya.
__ADS_1
"Perjodohan aku dan Diana walau dari kakek, tapi semua ini terjadi atas izinku, kakek tidak asal main jodohkan, sebelum Diana datang ke kota ini, aku sudah menyetujui tawaran kakek, jadi pilihan kakek adalah pilihanku! Tante tidak berhak ikut campur!"
"Owh, begini caramu berbicara pada tantemu." Wilda berusaha mengalihkan masalah.
"Ini bukan pelajaran hormat menghormati! Tapi ini tentang pilihanku! Pantas atau tidak pantasnya seseorang mendampingiku hanya aku yang berhak menentukan!” tegas Ivan.
“Diana itu penipu! Dia menipumu, menipu kakek, menipu kita semua, seorang penipu yang terus memperdayai kamu dan kakek, Van!” Wilda tidak mau kalah. “Kakek saja dia tipu, hal apa yang membuatnya pantas untuk menjadi menantu keluarga Agung Jaya?”
Rani mendekati kakek Agung, dia mendaratkan tangannya di pergelangan kakek Agung. “Ayah, terlalu banyak masalah yang timbul karena Diana, bahkan dia telah menipu kita semua dengan berpura-pura bisu, alasan apa lagi yang membuat Ayah kukuh mempertahankan pertunangan Ivan dan Diana?”
Ivan terlihat begitu santai, dia ingin melihat bagaimana usaha ibunya dan bibinya merobohkan pendirian kakek.
Wilda memasang wajah sendu medekati kakek Agung. “Ayah, saat ini publik tahu kalau Diana dan Ivan sudah tidak memiliki ikatan, biarkan kabar itu Ayah. Apa Ayah tidak peka? Semenjak kedatangan Diana kehidupan kita tidak lagi tenang.”
“Wilda benar Ayah, sudah cukup masalah yang timbul karena Diana, aku sudah Lelah, Ayah.” Rengek Rani.
"Aku bisa menerima Diana sebagai kerabat dari Agung Hadi Jaya, mengingat jasa neneknya yang begitu besar pada keluarga kita. Tapi untuk menjadikan Diana sebagai menantuku, maaf Ayah, aku tidak bisa," ucap Rani.
Wilda dan Rani tidak menyerah, mereka berdua terus mendesak agar kakek Agung agar mengambil keputusan dengan cepat. Kakek Agung memang terkejut menyadari kalau Diana tidak bisu, tapi dia hanya diam. Kakek Agung menatap Ivan begitu dalam, Ivan juga membalas tatapan mata kakeknya. Kakek Agung masih diam, dia berusaha mencari jawaban lewat sorot mata cucunya.
*Kakek, aku mohon jangan putuskan pertunangan ini, aku mencintai gadis bisu pilihan kakek, batin Ivan. Ivan sangat berharap kakeknya memahami tatapan matanya*.
Kakek ... tolong fahami isi hatiku, fahami bahasa tatapanku, aku ingin bersama Diana selamanya, aku hanya ingin Dianaku.
“Permisi Tuan.”
Sapaan barusan membuyarkan komunikasi antara Ivan dan kakeknya yang terjalin lewat tatap mata, Ivan menoleh kearah suara berasal. “Ada apa Narendra?”
“Semua portal yang membicarakan video viral tadi malam sudah menghapus video itu, bahkan saat ini tidak ada satu pun video tadi malam, bukan hanya itu semua komentar juga sudah di hapus.”
Wilda sangat syok mendengar berita dari Narendra. Dia segera memeriksa handphonenya, benar saja, semua video itu hilang.
“Bagaimana bisa menghapus video itu secepat ini?” tanya Ivan.
__ADS_1
“Silakan Anda lihat sendiri.” Narendra memberikan tabletnya pada Ivan.
Ivan sangat serius, dia terus berusaha mencari video viral Diana.
“Percuma Tuan, semuanya sudah dihapus,” sela Narendra.
Tapi Ivan tetap berusaha keras mencari video pendek kemaren. Benar-benar raib. Sekarang hanya ada pengumuman kalau video itu hanyalah editan.
"Sejak kemaren kerja keras meneliti siapa yang bergerak cepat."
"Sudah tahu dia siapa?" tanya Ivan.
“Belum, ini dokumen yang saya siapkan untuk Anda, di sana ada sedikit info siapa sosok yang melindungi Nona Diana, tapi sayang sekali saya tidak bisa menembus informasi tentang super hero yang melindungi Nona saat ini.”
Mendengar hal barusan Wilda semakin emosi. Siall! Siapa lagi yang melindungi si kampungan ini!
“Walau video itu di hapus dari jagat maya, tapi video itu asli dan aku punya versi lengkapnya.” Wilda langsung memutar video saat Diana membakar tumpukkan mayat.
“Ayah masih ingin mempertahankan gadis kampungan yang barbar ini? Lihat wajahnya seperti tidak berdosa, padahal dia membakar tumpukkan mayat manusia.”
“Ayah ….” Rani sangat syok menonton video yang Wilda putarkan. “Tidak menutup kemungkinan nasib kita akan sama dengan mayat-mayat itu, aku sangat mohon pada Ayah, agar memutuskan pertunangan ini.”
“Apalagi yang membuat Ayah menginginkan pertunangan ini terus berlanjut? Diana gadis yang sangat berbahaya, Ayah." Wilda terus mendesak Ayahnya untuk memutuskan pertunangan Diana dan Ivan.
“Ayah ….” Rani memohon, agar Ayah mertuanya mau memutuskan pertunangan Diana dan Ivan.
“Ayah tidak bisa menaruh curiga pada si kampungan ini?” tanya Wilda. “Kehadirannya di tengah keluarga kita sangat mencurigakan Ayah. Entah siapa sesungguhnya Diana, lihat saja dengan mudah mereka menghapus video viral, bahkan pelindungnya mengatakan kalau video yang beredar adalah rekayasa, padahal semua video ini asli, aku sudah memeriksanya pada ahlinya, bahkan mereka menyalahkan Qiara atas keadaan ini. Yang jelas video itu asli dan Diana seorang pembunuh!” ucap Wilda.
“Permisi Tuan, Nyonya. Di luar ada orang yang ingin betemu kalian semua,” ucap
“Siapa bi?” tanya Sofian.
“Aku.”
__ADS_1