Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 57 Berbalik Haluan


__ADS_3

Diana dan pengacara Nizam bertemu di Restoran, Nizam memesan tempat VVIP untuk mereka, agar tidak ada yang mengabadikan pertemuan mereka, pastinya agar Diana mau berbicara, kalau di tempat umum, dia hanya mendapat jawaban berupa text dari Diana. Tidak berselang lama Diana pun datang, dan dalam ruangan itu hanya ada pengacara Nizam dan Diana.


“Ada apa?” tanya Diana.


“Ini laporan medis milik Qiara.” Nizam memberikan salah satu dokumen pada Diana.


Diana pun begitu cermat membaca laporan medis Qiara, gangguan trakea yang Qiara alami karena efek dari racun yang Qiara minum.


"Siapa yang berusaha meracuni Qiara?"


"Aku juga belum tahu, Diana. Mengingat kamera Qiara selalu mengabadikan momen di sekitarnya, tentunya pelakunya sangat waspada."


"Dari tangkapan kameramu?"


Nizam menggelengkan kepalanya. Diana kembali fokus pada catatan medis Qiara.


“Tapi semua operasi berjalan lancar, Qiara juga baik-baik saja. Tapi, entah kenapa aku menyesal menolongnya, kenapa tidak kita biarkan dia mati saja. Kamu sudah lihat apa yang dia posting?”


Diana menganggukkan kepalanya, karena dalam perjalanan ke sini, dia menonton Video yang Qiara edit, juga membaca semua komentar hinaan yang tertuju padanya, juga komentar hinaan pada Fakultas Bina Jaya. “Hujatan dan hinaan yang tertuju padaku sudah biasa aku terima, tapi aku tidak rela Fakultas Bina Jaya juga dihina karena kejadian ini.” Diana menghempas kasar napasnya.


"Aku punya video lengkap kejadian kemaren."


"Bagaimana bisa?"


"Di tempat acara, aku mengamati orang-orang yang ada di sekitar Veronica, aku coba cari tahu mereka semua yang selalu mengabadikan momen di sana, ternyata mereka adalah tim crew Qiara yang bertugas mengabadikan setiap momen Qiara, melihat semua itu tiba-tiba ideku muncul, lalu aku membagi kamera mini pada beberapa pelayan, hingga aku punya rekaman kejadian kemaren dari berbagai sudut.” Nizam mengambil handphonenya, lalu mengirim file video itu ke handphone Diana. "Bersihkan namamu, Diana"


Diana pun segera memposting video lengkap kejadian tadi malam, dia sengaja menulis caption ….


*Yang salah adalah individunya, bukan tempatnya, bukan kelompoknya, atau organisansinya. Aku memang tidak baik, tapi Fakultas tempatku menimba ilmu adalah Fakultas terbaik. Silakan hina dan hujat aku sepuas hati kalian, tapi jangan sekali-kali menghina Fakultas Bina Jaya.


Diana selesai memposting video lengkapnya ke internet, dia pun meletakkan handphonenya kembali.


“Ada satu lagi, Diana.”


Diana pun menoleh pada pengacara Nizam. “Apa?”


“Anak buah Wilda menculik Saras, maaf sampai sekarang aku tidak bisa menemukan Saras.”


Diana langsung berdiri, dia sangat kaget mengetahui Wilda juga menculik Saras. Tanpa permisi pada Nizam, dia pergi begitu saja dari Restoran itu. Saat dia sampai di depan pintu utama Restoran, ada sebuah taksi yang baru menurunkan penumpangnya, Diana pun langsung masuk ke dalam taksi tersebut.


“Mau ke mana Nona?”

__ADS_1


Diana mengetik begitu cepat.


*Rumah Sakit Healthy And Spirit. Tapi cepat ya Pak.


“Siap Nona.”


Supir taksi pun melajukan taksinya dengan cepat, tidak butuh waktu lama Diana sampai di Rumah Sakit tujuannya. Saat Taksi berhenti di salah satu tempat pemberhentian, Diana melihat Wilda tengah berbincang dengan seseorang di depan pintu utama Rumah Sakit. Diana mengetik pada handphonenya.


*Pak, bisa tunggu saya?


“Bisa Nona, tapi Argonya tetap jalan, giamana?”


Diana mengetik lagi.


*Tidak apa-apa Pak, saya juga hanya sebentar.


Diana memberikan uang lebih dari nominal yang ada pada Argo. Supir taksi pun dengan senang hati menunggu Diana.


Diana segera turun dan berjalan kearah Wilda. Dari sana Wilda menyadari kehadiran Diana, dia meminta izin utuk pergi pada rekan bicarannya, dia pun melangkah mendekati Diana.


Menyadari Wilda mendekatinya, Diana pun berhenti, dia mulai mengetik kata di handphonenya, saat dia selesai mengetik, Wilda sudah berdiri di depannya. Diana langsung memperlihatkan layar handphonenya.


Wilda tersenyum ketir. “Kau memang dengan mudah bisa lolos dari anak buahku, tapi ku rasa temanmu tidak seberani kamu.” Wilda menatap Diana dengan tatapan kebencian. “Kamu memang sangat mudah melepaskan diri dari cengkraman anak buahku, tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu. Owh temanmu juga. Aku tidak akan melepaskan kalian berdua!”


Diana mengetik kembali.


*Tante, tolong jangan sakiti Saras.


“Atas dasar apa aku harus mendengari permintaanmu?!”


*Tante, Saras tidak ada masalah dengan semua ini, jadi tolong lepaskan dia.


“Ada! Karena dia temanmu!” Wilda melangkah mengitari Diana. “Oh iya, aku sudah mengirim orang untuk menghabisi temanmu itu.”


Diana menggeleng pada Wida, mengisyarat agar Wanita itu jangan melukai Saras.


“Owh, kamu tidak ingin terjadi sesuatu padanya? Dan ingin aku melepaskannya?”


Diana menganggukkan kepalanya.


“Itu sangat mudah!”

__ADS_1


Wilda berdiri tepat di depan Diana, dia mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Diana. “Kalau kamu dengan senang hati pergi dari lingkup keluarga Agung Jaya, dengan senang hati aku akan melepaskan temanmu.”


Wilda mundur selangkah dari posisinya semula. “So … kalau kamu ingin temanmu selamat. Kamu temui Ayahku, dan memohon padanya agar memutuskan ikatan pertunangan kamu dengan Ivan. Setelah itu, kamu temui Qiara dan minta maaf padanya. Setelah dua perkara itu kamu penuhi, pergi sejauh mungkin dari kami. Maka aku akan melepaskanmu.”


Lebih tepatnya melepaskan roh mu dari jasadmu, setelah kamu memutuskan ikatan pertunangan ini, Diana! Batin Wilda.


*Malam ini aku akan menemui kakek di rumah.


“Sampai jumpa nanti malam!” ucap Wilda. Wilda langsung melangkah menuju pintu utama Rumah Sakit, sedang Diana kembali masuk ke mobil taksi yang sedari tadi menunggunya. Diana pun menuju tempat lain yang dia rasa penting.


Di kantor Ivan.


Dillah berjalan cepat memasuki ruangan Ivan, hingga dia lupa mengetuk pintu dan masuk begitu saja. “Tuan, banyak komentar berbalik haluan, mereka semua menyerang Nona Qiara. Tadi pagi Nona Diana memposting video versi lengkapnya.” Dillah memberikan tabletnya pada Ivan.


Ivan belum tahu apa yang posting Qiara, dia pun segera menggeser layar mencari video seperti apa yang Qiara posting. Hingga mata Ivan disambut bermacam komentar hujatan dan hinaan yang tertuju pada Diana dan Fakultas Bina Jaya di kolom komentar postingan Qiara. Ivan ingin melihat video yang diposting Diana, namun belum sempat dia memindah layar, ada satu komentar terbaru mengomentari postingan Qiara,


*Mahasiswi Universitas Bina Jaya tidak bersalah, lihat video aslinya.


Komentar itu menautkan tautan link video asli yang Diana unggah.


“Dalam Video asli, Mahasiswa itu membela seorang pelayan yang ditampar oleh Qiara, apa yang dia lakukan adalah hal yang hebat, sedang yang Qiara lakukan adalah hal yang sangat hina! Bahkan dia mengedit video untuk mencari perhatian netizen.


Bermacam sumpah serapah dan hinaan pun tertuju pada Qiara. Ivan membaca semua komentar terbaru hanya berisi hujatan untuk Qiara.


“Kalau aku jadi Mahasiswa itu, aku akan biarkan Qiara mati, sudah di tolong bukannya terima kasih, malah menyudutkan dan membunuh image si Mahasiswa.


“Tindakan Mahasiswa ini, mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun lalu di luar negri. Di sini Mahasiswi Bina Jaya menyelamatkan korban dengan sedotan, sedang di luar negri dia menyelamatkan korban dengan menusukkan pena ke dada orang yang dia selamatkan.


Komentar itu disertai dengan link video. Saat Ivan membuka link itu, video yang sama persis dengan apa yang dia tonton tadi pagi, di mana seorang gadis menyelamatkan seseorang dengan pena.


Satu komentar terbaru lagi muncul.


“Hai netizen yang selalu benar, sudah lihat video versi aslinya? Mahasiswa yang ada dalam video itu adalah adik tingkatku, kalian yang sejak semalam menghujatnya sudah meminta maaf padanya?


Semua warganet mengirim emoticon terkejut, setelah mengetahui kalau mahasiswi yang mereka hina adalah orang dekat pengacara kondang.


Ivan mengembalikan tablet itu pada Dillah. “Jangan lupa untuk menghapus video yang ada dalam link komentar itu, dan video yang Qiara juga Diana posting."


“Baik Tuan.”


Dillah dan Ivan pun melanjutkan pekerjaan mereka yang lain.

__ADS_1


__ADS_2