
Kakek Agung menghela napasnya begitu dalam, namun dia tidak mengambil kesimpulan apapun. Karena sudah 2 kali dia salah karena menyalahkan Diana pada setiap keputusannya sebelumnya, hingga terbukti dirinya keliru, karena Diana tidak bersalah sama sekali. Kakek Agung tidak ingin mengulangi kesalahan lagi.
“Aku tidak bisa mengambil Tindakan apapun saat ini, Wilda.”
“Ow, rupanya Ayah lebih menyayangi si bisu daripada cucu Ayah sendiri. Ayah pilih kasih!”
“Bukan begitu Wilda, aku perlu waktu untuk menangani kasus ini.” Sejenak tatapan mata kakek Agung tertuju pada Wilda. “Aku pasti menangani semuanya Wilda, untuk menangani semua ini, aku butuh pikiran yang tenang. Jadi aku minta padamu, tolong lepaskan Diana.”
“Aku tidak akan melepaskannya sebelum aku memberinya pelajaran!”
“Tante! Di sini Diana tidak salah!” sela Ivan.
“Aku tetap memberinya hukuman karena telah menyakiti Qiara ku.”
“Wilda, kita pasti beri perhitungan siapa saja yang terbukti menyakiti Qiara, tapi dengan menangkap Diana, semua masalah tidak akan selesai,” sela Sofian.
“Semua masalah yang menyeret Diana, semua itu karena ada yang mengusiknya,” sela Ivan lagi. Dia memandang kearah kakek Agung. “Lagian Qiara bukan anak kecil kek.” tambah Ivan.
Rani sangat geram, dia memandangi Ivan dan suaminya bergantian, dua laki-laki itu terus membela Diana.
Kakek Agung telihat murka, dia terbayang Diana yang lebih muda dari Qiara. “Kamu tidak pernah berubah Wilda! Ingat Qiara bukan anak kecil lagi, berhenti membelanya dan melindunginya segala kesalahannya!”
Kemarahan Wilda pada Diana semakin besar, salama ini Ayahnya selalu melindungi Qiara, hanya karena si bisu, Ayahnya menyalahkannya dan menyalahkan Qiara.
Awas kau Diana, aku akan memberi ganjaran padamu.
“Permisi semua.”
Seketika ketengangan mereda, saat ada seseorang yang datang.
Ivan langsung berdiri saat melihat Asistennya yang datang. “Ada apa Dillah?”
“Operasi Nona Qiara berjalan lancar, dan saat ini Nona Qiara sudah sadar, dia juga baik-baik saja.”
Ivan tersenyum sinis pada bibinya. “Lihat tante, Anak kesayangan tante tidak kenapa-napa.”
__ADS_1
“Kakek, sebaiknya kakek istirahat dulu,” sela Angga.
"Bagaimana dengan Diana?" sela kakek Agung.
"Tante Wilda tidak akan menyakitinya, kek. Tenanglah," sahut Angga.
“Iya Ayah, Ayah pasti Lelah seharian, sebaiknya Ayah istirahat.” Rani menambahi.
Kakek Agung hanya diam, dia segera berjalan menuju kamarnya tanpa bicara sepatah kata jua pun.
Sofian pun berdiri. “Lebih baik kita istirahat semuanya, untuk menyelesaikan masalah ini, kita lanjutkan besok.”
Semua orang pun beranjak menuju kamar mereka masing-masing, sedang Ivan dia pergi bersama Dillah. Selama dalam perjalanan Dillah sesekali menoleh pada Ivan, laki-laki itu terlihat sibuk dengan berkas yang ada di tangannya.
“Dillah, kita langsung ke hotel Pusparana, ada pertemuan penting di sana 30 menit lagi.”
“Rapat tidak Anda batalkan, Tuan?”
“Tidak?”
Ivan hanya diam, dia fokus pada dokumennya, saat sampai di hotel Ivan segera turun dan melakukan rapat dengan klien-kliennya. Saat rapat berlangsung Ivan terus memikirkan Diana.
"Anak buah Tuan sampai saat ini belum menemukan Nona."
Semoga benar kalau Diana sudah pulang.
Tapi hatinya tidak bisa tenang, sangat sulit meyakinkan perasaannya kalau Diana pulang ke Apartemennya.
Apa Wanita itu masih di kurung oleh tante Wilda?
Sesekali Ivan terbayang rencana pengacara Nizam saat di halaman rumah kakeknya.
Semoga rencana kamu berhasil menolong Diana, Nizam.
Walau sering kurang fokus, akhirnya rapat berjalan dengan lancar dan hasilnya pun memuaskan. Ivan dan Dillah berjalan ber-iringan menuju mobil.
__ADS_1
“Dillah ….”
“Iya Tuan.”
“Tolong kamu cari tahu semua hal yang berkaitan tentang pengacara Nizam.”
“Baik Tuan.”
Ivan pun melanjutkan perjalannya menuju Apartemennya.
****
Di Rumah Sakit.
Qiara meminta pelayan yang menjaganya membawakan laptop dan handphonenya, beberapa saat kemudian Qiara mendapatkan apa yang dia mau. Dia duduk diatas ranjang Rumah Sakit sambil meng-otak atik laptopnya, terlihat dia sangat sibuk mengedit Video.
Qiara sangat hobi mengabadikan setiap momennya, apa saja dan di mana saja dia selalu membuat vlog tentang dirinya. Edit mengedit hal yang sangat biasa dia lakukan. Setelah memotong beberapa kejadian, mengambil beberapa kejadian yang dia inginkan, lalu dia satukan menjadi sebuah video. Qiara memastikan editannya sempurna, dia menonton ulang kembali video yang sudah dia edit. Senyuman merekah pun menghiasi wajahnya. Dia sangat puas dengan video editannya, dia pun segera memposting video editan tersebut ke media sosialnya.
Seketika jagat maya di ramaikan oleh tayangan video, seorang mahasiswi Universitas Bina Jaya menyerang salah satu cucu seorang Agung Jaya. Di video memperlihatkan, Diana berusaha menyerang Qiara, dan Veronica berusaha melindungi Qiara dari serangan Diana. Kejadian saat Diana menapampar Qiara membuat warga net kasihan dengan Qiara
Postingan Video itu pun dibanjiri komentar yang prihatin atas kejadian yang menimpa Qiara, dan komentar hujatan, cacian, juga hinaan pada Diana. Bahkan banyak komentar yang mengkritik Fakultas Bina Jaya kecolongan, karena memiliki Mahasiswi barbar seperti Diana.
Flash Back Ivan dan pengacara Nizam.
Melihat Nizam terlihat sibuk berbisik dengan para pelayannya, Ivan pun mendekat. “Kau ingin meracuni semua orang yang ada di pesta kakekku?”
Pengacara Nizam terkekeh dengan tuduhan Ivan. “Kau lihat di sini ada siapa?” Pengacara Nizam mengisyarat pada Veronica. “Dia selalu bebas dari tuntutanku, bahkan sampai detik ini polisi tidak punya nyali memenjarakannya, padahal semua kesalahannya sangat banyak!”
Ivan dan Nizam menoleh kearah Veronica, dari kejauhan Wanita itu mulai mendekati Diana. “Kau pikir aku diam saja dan percaya begitu saja dengan senyum perdamaiannya?”
Pengacara Nizam melanjutkan tugasnya, dia memperlihatkan pada Ivan apa yang dia bagi pada para pelayan. Sedang Ivan dipanggil oleh kakek, karena ada rekan bisnis lain yang mencarinya. Ivan sekilas memandang kearah Diana.
Diana, ku mohon kali ini jangan membuat masalah.
Ivan pun masuk ke dalam rumah, menyambut tamu-tamu yang lain.
__ADS_1