Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 29 Bersahabat


__ADS_3

Jarum panjang yang ada di pergelangan tangannya terasa berputar lebih cepat. Kini sudah pukul 8 pagi, Yudha merasa arlojinya rusak, dia berulang kali memukul-mukul jam tanganya, kemudian dia menoleh kearah jam digital yang menempel di dinding Rumah Sakit, namun sama saja, jam memang pukul sudah pukul 8. Artinya, operasi neneknya sudah berjalan 13 jam.


Pak Abi bisa merasakan kekhawatiran Yudha. Dia mendekati Yudha. "Nenekmu pasti selamat."


"Kenapa selama ini, Pak?" ucap Yudha lemas.


"Kenapa selama ini? Tanyakan pada Veronica, kenapa operasinya berjalan selama ini." Tatapan tajam dari Pak Abi tertuju pada Veronica.


"Veronica lebih tau, kenapa operasi nenekmu menjadi sangat lama."


Veronica bingung harus menjawab apa, saat yang sama 9 orang berjas putih keluar dari lift, dari tatapan mata mereka, terlihat mereka sangat marah. Tanpa menyapa siapa pun, mereka langsung melabrak Veronica.


"Ini dia dokter itu!" Salah satu dokter menarik Veronica, hingga Veronica berada di tengah-tengah mereka.


"Kamu tahu apa itu dokter Internship?"


"Kalau kamu tidak tahu, saya ingatkan garis besarnya!"


"Internship adalah pendidikan profesi untuk pemahiran dan pemandirian dokter setelah lulus pendidikan dokter untuk penyelarasan hasil pendidikan dengan kondisi di lapangan. Untuk kepentingan para dokter agar kedepannya sudah siap dan mahir ketika praktik mandiri!"


Yudha sangat marah mendengar ucapan para dokter itu, dia ingin meluapkan kemarahannya, karena Veronica melakukan malpraktek, pada neneknya. Tapi, Ivan menahannya.


"Operasi darurat ini harusnya dilakukan oleh dokter yang mahir, dan Rumah Sakit ini sudah menunjuk dokter bedah yang sudah mahir untuk mengambil tindakkan pada Nyonya Zunea. Kamu malah mengambil alih tugas dokter hebat. Melakukan operasi diluar tugas kamu! Ingat kamu di sini dokter internship!"


"Ini operasi yang sangat serius, dokter bedah handal saja memperhitungkan segalanya sebelum bertindak. Kamu malah bertindak sembarangan!"


"Kejadian ini tidak boleh terulang lagi, penanganan operasi seserius ini, atau operasi lainnya harus ditangani oleh ahlinya yang berpengalaman!"


"Tugas kamu sebagai dokter Internship, melakukan layanan primer dengan pendekatan pada keluarga pada pasien secara profesional! Tugas kamu pada pasien hanya mengobati pasien dan mengecek pasien yang sakit! Bukan mengoperasinya!"


"Dan lebih keterlaluan lagi! Kamu melakukan operasi tanpa pemberitahuan sebelumnya!"


"Seorang dokter yang mahir saja, selalu memberitahu kami, tindakan apa saja yang akan dia ambil, dan kamu melakukan operasi sekehendak dirimu!"


Veronica sangat malu, dimarahi kelompok dokter yang melabraknya. Veronica berusaha menyelamatkan harga dirinya. Dia mendekati Ivan, berusaha mendapat sedikit pembelaan dari Ivan.


"Aku bukan tidak sadar posisiku, karena aku merasa yakin dengan kemampuanku, aku melakukan operasi ini demi menyelamatkan nenek Zunea, agar dia bisa bertahan, melihat keadaanya sebelumnya, rasanya sangat kecil untuk nenek Zunea bisa bertahan!"

__ADS_1


"Aku hanya melakukan tugas kemanusiaanku sebagai dokter! Karena aku mampu, aku melakukannya! Aku tidak peduli dengan peraturan! Asal nyawa bisa ku selamatkan!"


Ivan sama sekali tidak mempercayai ucapan Veronica, dia sangat cuek dengan pembelaan diri Veronica.


"Semua ini karena Diana! Kalau Diana tidak berusaha mencelakai nenek Zunea, aku juga tidak akan melakukan hal yang diluar batasanku! Aku tau kalau aku dokter Intern!"


"Apapun tindakanmu! Tidak ada pembenarannya, tindakkanmu juga tidak menolong Nyonya Zunea! Tapi seperti ingin membunuhnya!" Pak Abi mendekati Veronica. "Dokter saja sangat shock melihat keadaan ruang operasi setelahmu. Dia merasa dokter yang melakukan operasi pada nenek Zunea bukan dokter bedah! Tapi seorang tukang jagal!"


"Apa?! Dia menjadikan nenekku boneka percobaan?" Yudha ingin sekali memberi Veronica pelajaran, namun dirinya lagi-lagi di tahan Ivan.


Ngukkk!


Veronica panik, dia hanya bisa menelan salivanya.


Perhatian Pak Abi tertuju pada kumpulan dokter yang masih marah pada Veronica. "Kalian semua pasti sangat lelah, istirahat dulu, urusan Veronica, nanti kita pikirkan. Saat ini istirahat dan pulihkan tenaga kalian, dokter di dalam sana, masih memerlukan tenaga kalian. Selagi ini shift dokter dan perawat yang lain, sebaiknya kalian istirahat."


Para dokter itu segera pergi dari sana.


Veronica masih berusaha mencari celah untuk menyelamatkan dirinya. "Yang mencelaki nenek Zunea, Diana! Sedang aku berusaha untuk menyelamatkannya!"


Desy termakan ucapan Veronica, semua ketegangan ini terjadi karena kehadiran wanita itu di ruangan ibunya. Dia teringat dengan sosok Diana, yang dia lihat dibalik jeruji besi tadi malam. "Aku bersumpah! Tidak akan memaafkan gadis desa itu!"


"Dan aku akan membayar lunas semuanya, dan tidak akan melepaskannya!"


"Tidak akan melepaskan siapa?"


Semua perhatian tertuju pada sumber suara itu berasal. Terlihat kakek Agung berjalan kearah mereka.


"Siapa yang tidak akan kau lepaskan, Desy?" Kakek Agung mengulangi pertanyaannya.


"Diana!" Sahut Desy tegas.


"Kenapa Diana?"


"Dia telah mencelakai ibuku, entah obat apa yang dia berikan pada ibu, sehingga keadaan ibu tiba-tiba sangat memburuk!"


Melihat raut wajah kakek Agung yang tidak percaya dengan ucapannya, Desy melanjutkan kata-katanya. "Aku tidak asal menuduh, Om. Ada bukti yang sangat jelas, Diana masuk keruangan ibu seorang diri."

__ADS_1


"Diana ke ruangan Zunea itu hal wajar, semua itu tidak membuktikan kalau Diana mencelakai ibumu," ucap kakek Agung.


"Wajar? Kenapa wajar?" Tanya Desy.


"Diana adalah cucu dari Salima Zelinica, lebih dikenal dengan nama nenek Zelin."


Duggg!


Jantung Ivan seketika berdegup kencang, kala mendengar nama nenek Zelin, Ivan sangat tidak percaya dengan penuturan kakeknya barusan. Dia mendekati kakeknya. "Bisa kakek ulang, siapa nama nenek Diana?"


"Salima Zelineka."


"Zelin, Zelin ..., Nenek Zelin, apakah dia sosok legenda yang aku kagumi selama ini?"


"Iya, tepat sekali!"


Mendengar nama "nenek Zelin" semua pasti tahu, siapa sosok itu. Dokter bedah hebat pada masanya, tidak ada dokter yang memiliki bakat bedah sepertinya, sehingga nenek Zelin menjadi tokoh legenda dalam dunia kedokteran. Mereka tidak mampu mengucapkan kata-kata lagi, mendengar nama 'Nenek Zelin' maka terbayang segala kehebatan nenek Zelin dan kebaikan wanita itu.


Dokter hebat, yang sangat rendah hati, suka menolong siapa saja. Orang-orang yang pernah mengenalnya merasakan langsung bagaimana kebaikan nenek Zelin.


Rani mematung, saat mengetahui sosok yang sangat dia benci selama ini adalah cucu dari seorang dokter hebat, sosok yang sangat dikagumi oleh putranya.


Veronica heran melihat semua kompak membisu. Dia juga tidak tahu siapa nenek Zeline, apalagi dia tidak pernah mendengar nama itu. "Lalu, semua ini apa hubungannya dengan nenek Zeline? Apakah nenek Zelin yang memerintahkan Diana untuk meracuni nenek Zunea?"


Abimayu tidak bisa lagi menahan kemarahannya mendengar pertanyaan konyol Veronica. "Apa kamu bisa diam!" 


"Kalau kamu tidak mengerti dengan obrolan kami, sebaiknya kamu diam!" Ucap kakek Agung sangat tegas.


Kemarahan Veronica semakin berkobar, dia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh kakek Agung. Sejak kecil, kakek Agung selalu memperlakukan dirinya sangat lembut, hanya karena Diana, kakek Agung malah membentaknya. "Diana dan nenek Zelin sosok yang berbeda, oke nenenknya orang baik, namun tidak menutup kemungkinan Diana tabiatnya suka mencelakai orang!"


Ivan semakin geram, dia berusaha menahan emosinya. "Keluarga nenek Zelin sangat baik!"


"Perlakuan mereka pada orang lain saja sangat bijaksana. Cara mendidik mereka sangat luar biasa! Nenek Zelin adalah panutanku! Tidak akan mungkin cucu dari seorang berhati mulia seperti nenek Zelin menghadirkan sosok yang berhati busuk!"


Yudha masih terbayang dengan sosok nenek Zelin yang sangat dia rindukan. "Nenekku dan nenek Zelin bersahabat sejak lama. Andai nenekku tahu, kalau Diana cucu sahabatnya, pasti dia sangat menyayangi Diana, bahkan nenek akan lebih menyayangi Diana daripada aku."


Wajah Veronica seketika pucat, dia sangat shock mendengar cerita Yudha.

__ADS_1


__ADS_2