Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 137 Tidak Ada Rahasia


__ADS_3

Tatapan Ivan masih tertuju pada Diana, menunggu wanita itu menyetujui permintaanya.


“Laporan keuangan itu sangat rahasia, aku tidak mau ikut campur,” tolak Diana halus.


Ivan masih menatap Diana begitu dalam. "Tidak ada rahasia diantara kita."


Dugggg!


Lidah Diana seketika kelu.


Tapi aku merahasiakan banyak hal darimu. Batinnya.


Mulut Dillah terbuka lebar, dia sangat terkejut dengan permintaan Ivan pada Diana, dia memandang Ivan dengan tatapan tidak percaya, baginya ini seperti mimpi, laporan keuangan ini sangat rahasia, Ivan malah menyerahkan pada orang lain.


Ivan menatap Diana dengan sorot mata yang penuh harap. “Tolong Diana, bantu Dillah. Laporan ini harus cepat selesai, sedang laporannya begitu rumit dan banyak.”


Diana mengambil salah satu dokumen, memastikan Ivan tidak melebih-lebihkan ucapannya. Kedua mata Diana begitu fokus menelaah setiap rincian yang tertera. Ternyata Ivan tidak berbohong, yang Dillah hitung saat ini adalah keuntungan perusahaan tambang Ivan yang ada di luar negri. Dari data tertulis itu laporan keuangan selama 6 bulan terakhir.


Diana kembali menegakkan pandangannya, dia menatap Ivan, berusaha mencari jawaban dari raut wajah tampan itu.


"Tolong ...." ucap Ivan lirih.


Diana menghempaskan napasnya kasar. Ivan benar-benar serius. “Aku pinjam laptop,” ucap Diana.


Ivan segera memberikan laptop Yudha pada Diana. Diana segera menghitung keuntungan yang Ivan dapat.


Dillah menatap sendu kearah Diana.


Apa Nona benar-benar bisa melakukan pekerjaan ini? Batinnya.


Sedang di sana, jemari Diana begitu lihai menari diatas keaboard laptop. Sesekali dia melirik pada dokumen yang ada di dekatnya. 30 menit berlalu, Diana selesai menghitung semua keuntungan Perusahaan Ivan. Dia segera mencetak laporan yang dia buat.


“Keuntunganmu sangat besar, silakan cek ulang, siapa tahu perhitunganku ada yang keliru.” Diana melirik cetakannya sudah selesai, dia segera mengambil lembaran kertas itu dan memberikannya pada Ivan.


Ivan memeriksa hasil laporan Diana.


Deggggg!


Hati Ivan bagai diapit diantara dua batu besar melihat hasil kerja Diana.


Ya Tuhan, bagaimana aku menepis dugaanku kalau dia bukan Ketua IMO?


Perasaannya Ivan seketika campur aduk melihat laporan yang ditulis Diana begitu sempurna.


“Bagaimana, Van?” tanya Yudha.


Ivan berusaha memasang wajah santainya, dan menyembunyikan kekacauan perasaannya. “Yang Diana buat luar biasa, semuanya bagus, rapi, dan sangat akurat.” Ivan memberikan lembaran kertas yang dia pegang pada Yudha.


Yudha segera memeriksa laporan yang Diana buat, Dillah langsung mendekati Yudha, dia ikut melihat detail laporan yang Diana buat. 10 menit berlalu, keduanya masih sangat fokus memeriksa setiap detailnya.

__ADS_1


“Benar-benar sempurna,” puji Yudha. Dia tidak tahu harus mengungkapkan kata apa lagi untuk mengutarakan kekagumannya.


“Ini lebih rapi dan lebih jelas dari yang aku buat. Aku membuatnya butuh beberapa hari, sedang Nona membuatnya hanya 30 menit.” Dillah menggelengkan kepalanya penuh kekaguman.


Ivan tenggelam dengan segala pemikirannya yang timbul karena kecerdasan yang dimiliki Diana.


Diana begitu luar biasa, ku mohon semoga ini hanya pemikiran sesatku saja, aku tidak tahu harus bagaimana kalau benar adanya Diana Ketua IMO.


Otakmu terlalu kotor Van, di dunia ini banyak hal yang hanya kebetulan. Mungkin kebetulan di dunia ini sering terjadi. Mungkin kebetulan Diana dan Ketua IMO memiliki postur tubuh yang sama, kebetulan juga mereka memiliki kecerdasan yang sama.


Ivan terus larut dalam semua pemikirannya.


Diana bingung dengan reaksi Ivan, pemuda itu menumpukan dagunya pada tangannya. “Ada lagi?” tanyanya pada Ivan.


“Amm ….” Ivan kaget, dia berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. “Tidak ada lagi.”


“Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu,” pamit Diana.


Ivan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih banyak atas semua bantuanmu, dan laporan ini sangat membantuku,” ucap Ivan.


Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia segera meninggalkan Apartemen Yudha. Ivan masih berdiri di tempatnya, dia menatap Diana dengan tatapan yang sulit di artikan, walau punggung Diana sudah menghilang dibalik pintu.


Setelah Diana kembali Ivan juga kembali ke kamarnya, dia mengurung diri di sana, segala pemikiran yang muncul sampai detik ini membuatnya bingung, dia ingin mencaritahu lebih dalam lagi, atau berhenti mencari tahu semua ini agar tidak melihat sisi buruk yang dia pikirkan, dia belum siap kecewa dengan fakta yang akan terungkap setelah mengetahui semuanya nanti.


**


Hawa dingin masih sangat terasa, namun Ivan tetap memilih menenangkan diri di taman yang ada di area Gedung itu, di sampingnya ada Dillah yang setia berdiri. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok cantik yang berjalan begitu cepat meninggalkan Gedung Apartemen itu.


“Mau kemana kamu sepagi ini Diana?”


Pertanyaan Ivan seketika membuat langkah cepat Diana terhenti. Dia melangkah mendekat kearah Ivan dan Dillah.


“Ada tugas dan mata kuliah pagi, aku harus ke kampus lebih awal,” sahut Diana.


“Berikan itu padaku.” Ivan meminta thumbler yang Dillah pegang. Ivan memberikan thumbler itu pada Diana. “Ini susu hangat, minum di kampus nanti, dan jangan lupa sarapan.”


Diana menganggukkan kepalanya, dan menerima thumbler yang Ivan berikan. “Terima kasih, aku pergi dulu.”


“Diana, tunggu.”


“Iya, ada apa?”


“Nenek Zunea, dia ingin bertemu langsung denganmu.”


Diana mencoba mengingat nama nenek Zunea.


“Dia nenek Yudha yang sakit tempo hari, dan mendapat pertolongan Nizam.”


“Owh, maaf aku lupa nama nenek Yudha,” kilah Diana.

__ADS_1


“Bisa kamu memenuhi keinginanya untuk bertemu denganmu?”


“Tentu saja, nanti atur waktunya,” sahut Diana.


“Setelah menemukan waktu yang tepat, aku akan membawamu menemui nenek Zunea.”


“Oke, nanti kabari aku.” Diana merasa tatapan mata Ivan ada perubahan, tapi dia masa bodoh dengan hal itu.


“Terima kasih, untuk kesekian kalinya kamu membantuku lagi,” ucap Ivan begitu lembut.


“Ada lagi?”


“Tidak ada.”


“Aku boleh pergi?” tanya Diana halus.


Ivan hanya mengangguk pelan merespon ucapan Diana. Sedang Diana kembali memacu langkah cepatnya menuju Universitas Bina Jaya. Mata Ivan masih memandang kearah Diana, walau sosok itu semakin jauh dan di luar batas pandangannya.


Dillah merasa ada yang berbeda dari Ivan. “Tuan baik-baik saja?”


“Kau lihat sendiri bagaimana aku.” Ivan berjalan meninggalkan taman dan kembali ke Gedung Apartemen.


**


Di desa Nenek Diana.


Tony merasa sangat nyaman berada di desa Diana, pemandangan yang begitu indah, juga komunikasi antar warga yang begitu santun. Tony mengambil handphonenya, dia mulai mengirim pesan pada Diana, dengan sambutan neneknya, juga keindahan desanya.


Sedang di kota Diana mulai ilfeel pada Tony, laki-laki ini terus mengiriminya banyak pesan dan mengganggu konsentrasinya, Diana sengaja mematikan notifikasi handphonenya, agar pesan Tony tidak membuyarkan konsentrasinya.


Saat mata kuliahnya selesai, Diana kembali memeriksa handphonenya, Diana berusaha menahan emosinya, dia langsung menuju toilet dan menelepon Archer di sana.


“Ada masalah lagi Diana?”


“Tidak ada Tuan, tapi apakah tepat mengirim Tony ke desaku untuk bersembunyi?”


“Ku rasa sangat tepat, Diana. Apalagi Tony sangat menyukai desamu, dia sempat meminta izin padaku untuk jalan-jalan di desamu.”


Diana hanya bisa menghela napasnya mendengar jawaban Archer.


“Aku hanya mulai tidak nyaman, Tony selalu mengirimiku pesan.”


“Itu wajar, Tony kalau mengagumi dan menyukai sesuatu, dia terus memuji hal itu, saat ini dia sangat menyukai desamu, dan temannya berbagi rasa senangnya saat ini, ya dirimu.”


“Kalau menurut Tuan aman, aku percaya. Maafkan aku karena mengganggu Anda.”


“Tidak apa-apa Diana, aku sama sekali tidak terganggu.”


Sambungan telepon mereka sudah terputus. Diana berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya di sana. Dia menatap pantulan dirinya yang ada di cermin. “Tidak apa-apa Diana, untuk sementara Tony sembunyi di sana, selama Ivan belum menemukan Tony, selama itu identitasmu tidak terbongkar.”

__ADS_1


__ADS_2