Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 216 Mencariku?


__ADS_3

2 hari bekerja keras, akhirnya rencana awal Diana selesai, tinggal beberapa klik, semua berita hoax itu akan menghiasi jagad maya pada waktu yang akan di tentukan. Diana meraih handphonenya dan mengetik pesan begitu cepat.


*Pekerjaan kita semua sudah selesai, kalian pulang dengan penerbangan nanti malam, aku akan pulang dengan penerbangan yang akan berangkat 1 jam lagi.


Diana mulai membereskan barang-barangnya dan mengunci semua labnya.


“Bagaimana Diana?” tanya kakek Hong.


“Semua berjalan lancar kek, T779 juga sudah kembali ke rumahnya, temanku yang mengantar semua obat itu ke Cina, semoga obat itu bermanfaat untuk banyak orang.”


“Pekerjaanmu di sini memang sudah selesai, kalau ada waktu luang, bermainlah ke sini.”


“Akan aku usahakan kek.” Diana berpamitan pada Kakek Hong. Dia segera menuju bandara.


Saat sampai di ruang tunggu bandara, handphone Diana bergetar, Diana segera memeriksa handphonenya. Melihat pesan baru, Diana segera membukanya.


*Diana, ini aku Anton. Mungkin besok aku akan mendarat di Negara kita, seperti ceritaku kemaren, aku ingin bertemu Agung Jaya.


Diana memperkirakan waktu kedatangannya, perhitungan Diana saat pesawatnya mendarat di tanah air, saat itu Anton juga sampai di negaranya. Diana langsung membalas pesan Anton.


\= Nanti tunggu aku, aku akan menjemputmu.


Saat Diana menyimpan handphonenya, terdengar panggilan penerbangan tujuan negaranya, Diana segera menyimpan handphonenya dan menarik kopernya menuju pesawat.


**


Di tanah air.


Dillah mempersiapkan satu unit Apartemen di dekat Apartemen Ivan, dia menyediakan itu untuk tamu Ivan.


Dillah menunjuk kearah pelayan yang akan bekerja di Apartemen itu selama 24jam nanti. “Hei kamu, layani tamu Tuan Ivan nanti dengan baik!”


“Baik, Tuan.”


Di kantor Ivan.


Ivan baru memeriksa handphonenya, saat dia memeriksanya, dia sangat terkejut melihat sangat banyak panggilan tidak terjawab dan pesan dari Agis.


“Nanti saja mengurus Agis kalau Diana sudah kembali.” Ivan mengabaikan pesan Agis, dia lebih fokus pada pekerjaan yang lama dia tinggalkan.


**


Keesokan harinya.


Pekerjaan Dillah mengurus Apartemen untuk tamu Ivan sudah selesai, kini laki-laki itu kembali bekerja di perusahaan Ivan. Saat Dillah masuk ke ruangan Ivan, di sana hanya terlihat sosok Yudha.


“Hai tampan, kamu merindukanku?” goda Dillah.


“Andai membunuh bukan suatu dosa, saat ini juga kamu ku habisi!” maki Yudha.


Ceklak!

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka membuyarkan perhatian Dillah dan Yudha. Terlihat Ivan yang muncul diantara pintu.


“Kalian seperti saudara yang lama terpisah lalu di pertemukan, akur banget, aku merasa bersalah karena memisahkan kalian,” ledek Ivan.


Yudha membuang napasnya kasar, dia malas meladeni Ivan.


“Dill, ada kabar kapan tamuku akan datang?”


“Belum ada Tuan.”


Ceklak!


Pintu ruangan Ivan kembali terbuka, dan menampakan sosok Narendra. “Maaf aku buru-buru. Aku lupa mengetuk pintu,” sesal Narendra.


“Ada apa Narendra?” tanya Ivan.


“Menurut daftar penerbangan dari dubai ke sini, ada penumpang yang Bernama Anton Permana, bukankah itu tamu Tuan?” ucap Narendra.


Dillah terkejut mendengar laporan Narendra. “Tapi sumpah demi apapun. Tuan Anton tidak memberi kabar pada saya.”


“Mungkin dia ingin memberi kejutan pada Agung Jaya,” sela Narendra.


“Perkiraan Narendra mungkin benar, secara Anton pribadi yang sangat sederhana.” Ivan menoleh pada Narendra. “Menurut jadwal, kapan pesawat yang dia tumpangi akan mendarat?”


“Kalau sesuai jadwal, kemungkinan 1 jam lagi, Tuan.” Sahut Narendra.


“Ayo selesaikan pekerjaanmu Dillah, setelah ini kita ke Bandara untuk menyambut tamuku.”


"Diana sangat sibuk, dia butuh banyak waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaannya," sahut Ivan.


*


Hari semakin gelap. Sang Mentari sudah tenggelam di ufuk barat. Namun aktivitas di Bandara terlihat sangat ramai. Diana baru keluar dari pintu kedatangan. Dia segera berlari mencari informasi di pintu kedatangan mana pesawat dari Dubai mendarat. Setelah mendapatkan informasi, Diana berlari menuju pintu kedatangan dari Dubai. Dia terus memperhatikan jam tangannya.


“Semoga aku tidak terlambat,” gumamnya.


Saat Diana sampai di pintu kedatangan dari Dubai, Diana membuang napasnya kasar, terlihat pintu itu sudah di tutup, tanda penumpang sudah turun semua.


“Mencariku?”


Mendengar suara yang sangat familiar, Diana langsung berbalik. “Anton?!” rasanya dia sulit percaya melihat cucu dari profesor kesayangannya ada di depan mata. “Apa kabarmu?” Diana mengulurkan tangannya menjabat tangan Anton.


“Aku sangat baik Diana. Kamu sendiri apa kabar?”


“Aku sangat baik.”


“Banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu Diana, tapi kedatanganku ke negeri ini, utamanya ingin bertemu dengan pimpinan Agung Jaya.”


“Tenang saja An, aku akan mengantarmu menemui pimpinan Agung Jaya,” sahut Diana.


“Anton? Diana? Kalian saling kenal?”

__ADS_1


Mendengar suara itu, Diana dan Anton kompak menoleh kearah suara itu berasal.


“Tuan Ivan? Ternyata Anda mengetahui kedatanganku, padahal aku sengaja merahasiakannya,” ucap Anton.


“Kalian belum menjawab pertanyaanku, apa kalian saling mengenal?” Wajah Ivan terlihat sangat tidak bersahabat.


“Anton Permana, dia adalah cucu dari guru besarku.” Diana mendekati Ivan dan melingkarkan kedua lengannya pada lengan Ivan. “Anton adalah temanku, mendengar dia datang untuk bertemu denganmu dan kurasa dia orang penting, kenapa aku tidak menyambutnya? Apa aku salah jika menyambut temanku yang juga merupakan tamu mu?”


Mulut Anton terbuka lebar saat melihat Diana dengan nyaman menggandeng tangan Ivan. “Apa hubunganmu dengan Pimpinan Agung Jaya, Diana?”


“Ivan Hadi Dwipangga, dia adalah tunanganku.” Diana berkata dengan sangat bangga, bahkan dia menyadarkan wajahnya di bahu Ivan.


Kekesalan Ivan karena Diana pulang tidak memberi kabar seakan sirna. Ivan berusaha memasang wajah dinginnya. “Kalian berdua pasti Lelah, ayo kita pulang.”


“Pulang kemana?” tanya Diana.


“Ke Apartemen kita, di sana aku sudah menyiapkan Apartemen untuk Anton, kita akan tinggal berdekatan, karena aku ingin bicara banyak hal dengannya.”


Mereka berempat segera meninggalkan bandara, Dillah merasa beruntung karena sebelumya dia memilih menyetir sendiri, andai dengan supir, pastinya dia yang akan pulang dengan taksi.


Perjalanan mereka sangat lancar, Ivan mengajak Diana dan Anton ke Apartemen yang akan di tempati Anton.


“Semoga Anda merasa nyaman di tempat ini, maafkan aku hanya bisa menyediakan tempat yang sangat sederhana,” ucap Ivan.


“Kamu salah Van, justru bagi Anton ini terlalu mewah, dia sering tidur hanya beralaskan pelepah kurma, karena semua uang yang dia miliki, dia berikan untuk Rumah Sakit gratis di Dubai,” terang Diana.


“Kamu banyak tahu tentang Anton Permana rupanya.” Ivan merasa sedikit kecewa.


“Bagaimana tidak tahu, guruku adalah kakeknya, dan visi misi kami sama, memberi pelayanan Kesehatan gratis.” Senyuman terukir di wajah Diana.


“Diana, jangan terlalu memujiku. Rumah Sakit yang ku bangun bisa berdiri hingga kini semua berkat bantuanmu.”


"Bantuanku tidak seberapa," sela Diana.


"Membangun Rumah Sakit Gratis tidak mudah, aku sering meminta uang pada Diana, karena aku kehabisan dana," ucap Anton.


Ting Tong!


Suara bel pintu yang terdengar membuat obrolan mereka terhenti. Dillah segera berjalan menuju pintu. “Darwin, kamu dari mana?” Dillah heran melihat pelayan yang akan bertugas melayani Anton baru datang.


“Saya habis belanja Tuan, kan Tuan yang minta saya untuk belanja.”


“Oh, aku lupa.”


“Tamunya sudah datangt, Tuan?”


“Sudah.”


“Mana yang akan saya layani nanti?”


“Itu.” Dillah menujuk kearah Anton.

__ADS_1


Seketika wajah pelayan itu berubah masam. Ya Tuhan, sial banget aku harus melayani orang udik dan jelek seperti dia! batin Darwin.


__ADS_2