Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
bab 263


__ADS_3

Di tempat yang akan diadakan acara seminar, Arli tersenyum dalam hati, di tempat acara yang menurut denah itu lokasi yang akan ditrmpati Diana, area itu di kelilingi bunga-bunga, Arli menyelipkan bom di bawah meja kecil itu. Sudah 3 bom yang dia simpan, kini dia memantau keadaan untuk menyelipkan bom keempat. Saat Arli baru mengeluarkan bom keempat, seketika kecerdasannya kembali.


Ada yang tidak beres, mengapa semudah ini?


Arli belum tersadar dari pemikirannya, tiba-tiba banyak orang yang mengenakan jas lengkap dan senjata mengelilinginya. Arli mematung melihat pemandangan di depan matanya.


“Lempar tas Anda ke samping, dan angkat tangan Anda ke udara!” perintah salah satu pasukan.


Arli menuruti perintah mereka, melawan pun percuma. Saat Arli mengangkat tangannya ke udara, salah satu wanita yang berpenampilan seperti laki-laki langsung menggeledah tubuh Arli, sedang yang lain memeriksa tas Arli, hingga mereka menemukan sebuah buku kecil yang menentukan tanggal dan jam ledakan. Mereka juga menemukan detonator di sana.


Arli sangat terkejut dengan barang-barang yang ada dalam tasnya, dia sangat ingat, dia tidak membawa apa-apa yang berkaitan dengan kejahatannya, untuk berjaga-jaga kalau tertangkap. Pikiran Arli terus memikirkan siapa yang menyelipkan benda yang bukan miliknya itu.


Di kejauhan, melihat Arli di tangkap pasukan keamanan Universitas Bina Jaya, Ketiga Bramantyo bersaudara itu berpencar, mereka meninggalkan area Universitas, dan menentukan titik pertemuan, yaitu di mobil Van milik Arli yang terparkir di luar Universitas, di sana mereka bisa memantau keadaan Universitas dari layar monitor.


Di area Universitas, para Wartawan langsung memburu berita penangkapan yang terduga ******* itu, Kepala keamanan menerangkan apa saja bukti yang mereka dapat. 4 bom yang mereka temukan juga sudah mereka amankan. Saat penyamaran Arli terbuka, semua orang sangat terkejut. Banyak pihak yang ingin menghakimi Arli, karena semua sudah tahu Arli seorang pengkhianat di Organisasi IMO. Beruntung pihak Keamanan masih bisa melindungi Arli dari amukan para Mahasiswa dan orang tua Mahasiswa yang ikut menyimak gladi bersih di sana.


Arli langsung mereka bawa ke markas besar keamanan, untuk diintrogasi. Keamanan di sana pun di perluas, beberapa blok dari Universitas dijaga sangat ketat, setiap mobil yang melintasi area yang lewat, harus melewati pemeriksaan yang ketat.


Ketiga bersaudara Bramantyo merasa lega, saat mereka sudah berkumpul di mobil. Rafardhan. Alizan, dan Marawi, memantau keadaan di Universita, semua kembali lengang, saat Arli meninggalkan Universitas itu.


“Sebaiknya kita bersiap dari sekarang, kita tidak tahu apakah Arli bisa menutup mulutnya, atau dia menyebut kita semua,” ucap Rafardhan.


“Kita harus bagaimana, bang?” tanya Marawawi.


“Pulang, dan bersiap meninggalkan Negara ini,” sahut Rafardhan.


Alizan segera menghidupkan mesin mobil, saat mereka melewati satu blok dari Universitas Bina Jaya, terlihat sangat banyak Kepolisian menjaga jalanan yang di tutup di depan sana.

__ADS_1


“Bagaimana ini Bang?” tanta Alizan.


“Tetap maju, kalau kita putar balik malah mencurigakan,” sahut Rafardhan.


“Aman bang?” Marawi ragu dengan keputusan Rafardhan. “Apa sebaiknya kita kembali ke Universitas saja?”


“Marawi benar bang, tempat itu sepertinya aman.” Alizan menambahi.


“Aman apanya? Kalau Diana kembali dan menemukan kita, tamatlah kita!”


Alizan mengikuti saran Rafardhan, dia melajukan mobilnya perlahan kearah para petugas itu.


“Jangan tegang, bersikap santai!” perintah Rafardhan.


Saat mendekati pos penjagaan, Alizan menghentikan mobilnya. Dia menurunkan kaca jedela mobilnya.


“Selamat sore bapak-Bapak,” sapa salah satu petugas.


“Maaf mengganggu perjalannya Pak, karena ada terduga ******* yang menjalankan aksi, kami terpaksa meningkatkan keamanan. Kami izin menggeledah mobil Bapak.”


Dugggg!


Marawi, Alizan, dan Rafardhan saling pandang. Mereka lupa memutuskan koneksi mereka yang terhubung dengan CCTV Universitas Bina Jaya.


“Tolong kerjasamanya ya Bapak-Bapak, izinkan anak buah saya melakukan tugas mereka, Bapak tolong bukakan pintu mobil belakang.”


Alizan segera turun, dan membuka pintu mobil bagian belakang. Rasanya dia ingin terkencing di celana karena diselimuti rasa takut yang luar biasa. Saat pintu mobil terbuka, beberapa petugas langsung menggeledah mobil yang Alizan kemudikan.

__ADS_1


Alizan mematung, saat dia baru menyadari ada papan tulis yang berisi rincian perencanaan merka, namun yang terpasang di sana bukan Diana, melainkan foto-foto petinggi kepolisian, Mentri Kesehatan, dan Mentri Pendidikan. Melihat hal itu, salah satu polisi langsung meringkuk Alizan, Sedang yang lain  langsung menangkap rafardhan dan Marawi.


“Apa salah kami!” protes Rafardhan.


“Bukti-bukti yang kami temukan, rasanya sudah cukup menjawab kesalahan apa yang kalian perbuat.”


Jalanan itu seketika ramai dipenuhi warga sekitar, juga para pemburu berita yang ingin update berita terbaru. Wajah Marawi, Alizan, Rafardhan, dan Arli seketika menghiasi layar televisi saat televisi menyiarkan berita dugaan Terorisme. 3 Bramantyo bersaudara itu pun di giring ke kantor polisi.


Di sisi lain.


Nizam, Nazif, Russel, dan Pak Abi sangat bahagia menonton berita viral saat ini, akhirnya rencana mereka menangkap Arli, dan 3 Bramantyo berhasil.


“Kali ini, hukuman mati yang akan mereka dapat, atas bukti-bukti yang ada sangat kuat, tidak ada satupun yang berani membela mereka,” ucap Nizam.


“Apakah perbuatanku kali ini, bisa menebus kejahatan ibuku dan kejahatan kami di masa lalu?” sela Nazif.


“Satu kebaikan, laksana ombak yang menghapus tulisan di sisi pantai,” sela Pak Abi.


“Terima kasih, Nazif. Berkat bantuanmu, kita semua sangat mudah menangkap para sampah-sampah itu,” ucap Russel.


“kamu sudah lulu SMA kan, Nazif?” tanya Pak Abi.


“Sudah Pak, tapi aku memilih bekerja, karena nama Bramantyo yang melekat padaku, aku mudah mendapatkan pekerjaan.”


“Kalau kamu berminat kuliah di sini, aku akan memberikan satu tiket, untukmu,” tawar Pak Abi.


“Tentu saja aku mau, dari aku lulus aku ingin kuliah di sini, tapi kepintaranku tidak mendukungku.”

__ADS_1


“Selamat Nazif, kali ini kamu mendapat tiket khusus untuk kuliah di sini.”


Mereka semua merayakan keberhasilan mereka di ruangan Pak Abimayu. Nazif sangat bahagia, perannya yang berpura-pura menjadi calon Mahasiswa Universitas Bina Jaya, malah membuatnya benarr-benar akan menjadi Mahasiswa di sana.


__ADS_2