Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 250


__ADS_3

Aridya tidak tahu kemana sekelompok orang berseragam keamanan ini membawa mereka. Hingga dia merasakan mobil berhenti, saat Aridya keluar dari mobil ambulan, dia sudah berada di suatu ruangan, saat Aridya menoleh ke kanan, tepat di ruangan sebelahnya ada Agis yang masih tidak sadarkan diri.


"Hei, kenapa kalian malah mengurung kami di ruang kaca seperti ini!"


"Kalian sakit, jadi kalian kami isolasi," ucap salah seorang yang ada di sana.


"Kami tidak sakit! Kami hanya diracun!" teriak Aridya.


"Ya, kalian memang tidak sakit, tapi di mata masyarakat kalian sakit."


"Lepaskan kami!" teriak Aridya. Aridya berusaha melihat sisi yang lain, saat dia menoleh ke kiri, dia melihat Nazif juga terbaring tidak berdaya di ruangan sebelahnya. Aridya hanya bisa menjerit melihat kedua anaknya yang tidak sadarkan diri.


"Aku mohon, tolong kedua anakku ...." jerit Aridya


"Bagaimana perasaan Anda, Nyonya Aridya Helmina?"


Pertanyaan itu menyita perhatian Aridya, Aridya sangat ketakutan melihat kedatangan Fredy.


"Aku sudah menawarkan kebahagiaan untukmu, asal kau jangan mengusik hidup Diana, tapi kamu malah meremehkan acamanku!" Ferdy sangat marah mengingat pengkhianatan Aridya.


"Aku tidak mengganggu Diana!" Aridya membela diri.


"Tidak mengganggu? Kamu telah bekerjasama dengan musuh Diana, untuk melenyapkan dia, kau kira aku selama ini diam saja? Selama ini aku selalu mengawasimu, Aridya!"


Aridya menjerit, berteriak sebisa yang dia mampu tidak akan merubah keadaan. Dirinya tidak berdaya dan terkurung dalam ruang kaca.


"Silakan siksa aku, Fredy, tapi selamatkan kedua anakku, dan bebaskan mereka."


"Owh, tidak ... justru aku akan membiarkanmu tersiksa, melihat orang yang kamu sayangi mati pelan-pelan di depan matamu."


"Jangan Fredy! Kedua anakku tidak bersalah!"


"Mereka juga bersalah, kamu lupa kalau kedua anakmu sering menganiaya Diana kecil?"


Fredy mengisyaratkan agar anak buahnya menyadarkan dua anak Aridya. Sepersekian detik kemudian, kabut memenui ruangan Agis dan Nazif. Hal itu membuat Nazif dan Agis tersadar. Hingga mereka merasakan rasa sakit yang teramat.


"Mama ..., tolong ..., sakit maa!" Agis meringkuk di tempat tidur, dia sangat tersiksa oleh rasa sakit itu.


"Mama .... sakit maaa!" Keadaan Nazif juga tidak berbeda dengan Agis.


"Aaaaa, Fredy ... kamu apakan kedua anakku?" Aridya sangat tersiksa melihat kedua anaknya kesakitan.

__ADS_1


"Apa yang Agis dan Nazif rasa, itulah yang dirasa Alinka Yolanda dulu, aku memasukan racun kedalam makanan yang kalian santap tadi malam." Fredy tersenyum smirk.


"Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu sayangi tersiksa? Itulah yang dirasakan Diana kecil, Tuan Charlie dan dokter Zelin."


"Berikan aku penawarnya, Fredy ... atau kembali tidurkan kedua anakku, aku tidak kuat ...." Aridya tersungkur di lantai membayangkan penderitaan kedua anaknya.


"Aku bukan tidak mau menolongmu, racun yang aku berikan tidak cukup dengan penawar dari Agung Jaya, atau T779, aku telah memodivikasi racun itu khusus untukmu."


"Aku akan melakukan apa saja demi keselamatan kedua anakku."


"Kalau begitu, silakan mulai perjuanganmu." Fredy menyemprotkan uap di ruangan Nazif dan Agis, pintu ruangan juga terbuka.


"Untuk sekarang aku memberi kalian kesempatan, tapi maaf, aku hanya memberi kesempatan, tidak memberi penawar." Fredy pergi begitu saja meninggalkan ruang penyiksaan.


Satelah keluar dari ruangan itu, Fredy menitahkan anak buahnya agar mengantar Aridya dan kedua putrinya ke Rumah Sakit milik Ivan.


***


Dalam perjalanan Ivan, Yudha, Dillah, dan Anton.


Melihat Ivan sangat tidak tertarik Yudha merasa sangat curiga. “Kamu sudah tahu siapa no name, Van?”


“Aku tidak tahu,” sahut Ivan datar.


"Dulu aku berusaha memburu sosok misterius seperti itu, namun saat ini aku tidak tertarik lagi, seindah apapun warna yang terlihat di depan mataku, aku tidak peduli, karena aku sendiri telah memiliki Pelangi yang bukan hanya mejikuhibiu, tapi pelangiku memiliki berjuta warna.” Ivan tersenyum membayangkan sosok Diana.


“Dulu, setiap kehebatan seseorang yang aku dengar, bagiku itu adalah warna indah yang membuat Dunia ini indah, aku ingin memburunya, aku ingin mengenalnya, setidaknya berteman dengannya. Saat Diana berada dalam pelukanku, aku tidak tertarik lagi dengan setiap warna yang menghiasi dunia ini.”


Anton tersenyum melihat pancaran cinta yang sangat besar dari Ivan untuk Diana. “Semoga tidak ada penghalang untuk kalian Bersatu selamanya, termasuk peraturan desa kami,” ucap Anton.


**


Markas IMO


Tony sudah selesai dengan hukumannya, dia tetap menjadi bagian IMO, namun hanya staf biasa, dia tidak memiliki jabatan penting lagi di Organisasi IMO. Tapi Tony menjalaninya dengan bahagia. Pekerjaan saat ini lebih lengang, Tony iseng membuka kumputernya, hingga dia menemukan kabar kalau Diana, Ivan, dan Yudha pergi bersama ke pegunungan. Tonny panik, dia segera menghubungi Diana.


“Ada apa Tony? Ada hal penting?”


“Ketua, apa benar Anda, Ivan dan Yudha ke pegunungan?”


“Iya, aku ke desa untuk melihat tambang Ivan di sana. Memangnya kenapa?” tanya Diana.

__ADS_1


“Apa aman ketua?"


"Ivan ada bersamaku, mana mungkin dia membiarkanku masuk kedalam bahaya."


"Ketua lupa kalau Ketua pernah merampok Yudha, dan hampir menghilangkan nyawanya, bagaiamana kalau mereka balas dendam? Hati-hati ketua, secepatnya aku akan menyusul ketua.”


Mendengar suara Tony sangat panik, Diana tertawa. “Hei, sudahlah, mereka semua sudah tahu siapa ketua IMO. Mereka juga sama sekali tidak dendam. Andai Yudha dendam padaku, ku rasa Ivan tidak akan tinggal diam kalau Yudha ingin menusukku sekalipun.”


Mendengar penjelasan Diana, Tony sangat tenang. “Maafkan aku ketua, aku hanya panik.”


“Tidak masalah.”


Diana mencoba meneruskan kegiatanya, namun handphone khusus urusan dokter, berdering, membuat Diana langsung menyambar benda itu.


"Dokter, Rumah Sakit kedatangan 2 pasien kena virus."


"Sudah di Isolasi?"


"Kata petugas kesehatan sebelumnya, virus aman, hanya menular melewati air atau suntikan, walau begitu keduanya sudah kami Isolasi."


"Baiklah aku akan segera ke sana." Panggilan jiwa memanggilnya, Diana berlari cepat menuju Rumah Sakit Healthy and Spirit.


Sesampai di sana, Diana segera berlari ke ruangan Isolasi.


"Mana pasien yang kena virus?" tanya Diana.


Perawat menunjuk kearah ruangan kaca. Melihat 2 orang yang tidak asing terbaring tidak berdaya di sana, Diana mematung, karena itu adalah Agis dan Nazif.


"Bagaimana, Diana? Apa kamu akan menolongnya?" ucap Russel.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Melihat kamu berlari seperti orang gila, bagaimana aku bisa diam saja." Russel memandang lurus ke ruangan di mana Nazif dan Agis tidak sadarkan diri. "Bagaimana, mau menolong mereka atau tidak?"


Diana mematung memandangi 2 sosok yang tidak sadarkan diri itu.


"Kalau tidak kau tolong juga tidak masalah. Mereka pantas menerika siksaan itu. Menurut laporan, virus yang mereka derita, mirip seperti virus yang membuat ibumu kehilangan nyawa, namun yang ada di tubuh Agis dan Nazif adalah Varian terbaru, dan sangat menyakitkan tentunya."


Diana terbayang bagaimana tersiksanya ibunya dulu. Diana menarik napasnya begitu dalam dan melepaskannya perlahan. "Aku akan menolongnya, T779-20 ku, ku rasa mampu menolong mereka."


"Ha?" Russel sangat terkejut dengan keputusan Diana.

__ADS_1


"Mereka berhak mendapatkan kesempatan kedua, jika setelah ini mereka jahat padaku, maka aku sendiri yang akan membunuh mereka."


__ADS_2