
Ivan tersenyum melihat Diana begitu terkejut mengetahui kalau dirinya bisa menebak kalau itu nomor Tony.
"Sudah, angkat telepon Tony dulu," ucap Ivan.
Diana kembali fokus pada handphonenya. Dia menerima panggilan telepon dari Tony.
"Ada apa Tony?"
"Kamu di mana, Diana?"
"Aku sedang ikut memancing bersama Dillah dan bersama beberapa pelayan hotel," kilah Diana.
Tony diam, hanya helaan napas laki-laki itu di ujung telepon sana.
"Memangnya ada apa Tony?" Tanya Diana.
"Tidak ada apa-apa, kamu bisa santai bagaimana tugasmu untuk mengembangkan T779?"
"Tenang saja, stoknya sudah sangat banyak, untuk expired 3 tahun, sepertinya stok itu cukup."
"Kamu bercanda? Kenapa banyak sekali?"
"Harus banyak, mimpiku menghancurkan mimpi ED Group, lebih dari satu bulan aku tidak tidur malam, hanya menghabiskan waktuku dengan bermacam tabung reaksi," ucap Diana.
"Jaga dirimu, Diana." Ucap Tony.
"Kamu juga jaga diri," balas Diana.
Diana kembali menaruh handphonenya, dia kembali menoleh pada Ivan.
"Jangan terlalu dekat dengan Tony, dia orang yang berbahaya untukmu," ucap Ivan.
"Dari Mana kamu tahu tadi nomor Tony, dan dari mana kamu tahu kalau Tony berbahaya?" tanya Diana.
"Yang menjual informasi siapa ketua IMO adalah nomor itu," ucap Ivan.
"Sudah kuduga, dia tergoda dengan bounty yang kamu tawarkan." Diana tertawa membayangkan pengkhianatan Tony.
"Dari tanah air aku tergesa-gesa kemari, karena aku tahu kamu bersama Tony, aku takut kamu tidak menyadari siapa pengkhianat di IMO," ucap Ivan.
__ADS_1
"Sebelumnya aku memang tidak tahu kalau pengkhianat itu Tony, aku juga baru tahu beberapa waktu yang lalu, bukan hanya membongkar rahasia IMO, dia juga adalah mata-mata ED Group," terang Diana.
"Bukan hanya itu, aku masih punya kejutan lain untukmu," ucap Ivan.
"Hmm, apa itu?"
"Kasih sekarang apa tidak ya?"
Ivan sangat kesal melihat Diana begitu datar. "Kapan kamu bersemangat untuk membujukku?" rengek Ivan.
"Aku bukan tipe orang yang suka memaksa jika itu bukan masalah darurat," jawab Diana.
"Aku memiliki informasi rahasia, ku rasa saat ini hanya aku yang tahu informasi ini."
"Informasi apa?"
"Tentang masa lalumu." Ivan menatap Diana begitu dalam. "Ku rasa kamu juga tidak tahu informasi ini." Tanpa berkata lagi, Ivan langsung mengambil laptopnya, dan membuka video yang dia simpan di sana.
Saat video mulai bermain, Diana melihat sosok Aridya dan Agis. Mereka berdua membahas tentang Diana.
Jangan bahas itu sekarang, sayang. Karena kalau ketahuan Fredy kalau mama masih mengusik Diana, maka tamatlah Riwayat mama dan keluarga kita, ini ancaman yang Fredy beri, ucap Aridya.
Fredy CEO EDGE Group? tanya Agis
Sepasang mata Diana fokus pada layar laptop Ivan, menyaksikan pembicaraan ibu dan anak itu.
Ivan menarik Diana, hingga Diana duduk di pangkuannya, dia membiarkan Diana fokus denga tayangan video itu, namun tangan nakalnya tidak bisa di kondisikan.
Ivan menempelkan bibirnya di daun telinga Diana. "Kenapa Fredy sangat ingin melindungimu?"
"Dia merasa berhutang nyawa padaku, karena aku yang menyelamatkan dia dari penyakit berbahaya, dia tidak masalah dengan penolakanku, tapi dia tetap berambisi melindungiku."
"Hmmm." Ivan mengigit lembut daun telinga Diana.
Yang Diana tonton hanya bahasan masa lalu saat penyerangan terjadi di desa. "Katamu aku sendiri tidak tahu, masalah ini aku sangat tahu, kamu lupa kejadian saat aku membakar mayat? Kaitannya dengan yang mereka bahas ini."
"Sabar sebentar, nanti ada bahasan yang membuatmu terkejut." Ivan kembali menelusuri tiap lekukan leher Diana. Sepasang tangannya sudah lama bergerilya dibalik baju Diana.
***
__ADS_1
Di tempat lain.
Selama di Jerman, Hadhif selalu bersama Tony, semenjak bersamanya, Hadhif merasa ada kejanggalan, apalagi sejak Diana meminta mereka tidak perlu melacak kode regional itu, terlihat Tony sangat lega dan tenang, jauh saat sebelum mereka berdua masih bekerja untuk melacak si pengkhianat.
Hadhif melirik jam tangannya. "Sudah 3 jam Tony pergi."
"Jangan sampai otak kotorku menimbulkan fitnah dan kesalah fahaman." Hadhif mengambil laptopnya, dia menghack komputer Tony, hingga dia menemukan sebuah fakta yang mengejutkan.
"Ternyata memang dia."
Hadhif membuang napasnya begitu kasar, dia langsung menghubungi Diana.
***
Di kapal Ivan.
Mendengar handphone kembali berdering, hal ini Diana gunakan untuk menjauh dari Ivan, sedari tadi tubuhnya seakan senasib dengan adonan.
"Aku menerima panggilan dulu." Diana menjauh dari Ivan dan langsung menerima panggilan. Melihat Diana menjauh, Ivan menjeda videonya, agar Diana tidak melewatkan detik-detik terpenting.
"Ada apa Hadhif?"
"Ketua, aku menemukan fakta yang sangat sulit aku percaya," ucap Hadhif.
"Apa itu?"
"Ternyata pengkhianat di IMO adalah Tony."
"Jangan berargumen sembarangan, akan timbul bermacam masalah nantinya," ucap Diana.
"Awalnya hanya pikiranku saja, hingga ku memutuskan untuk menghack komputer Tony, dan banyak bukti di sana, kalau dia mata-mata ED Group."
"Simpan semua bukti, kita akan bertindak pada saat yang tepat, saat ini, berusaha terlihat tenang dan tidak tahu apa-apa," ucap Diana.
"Baik, Ketua."
Melihat Diana sudah selesai berbicara, Ivan mendekati Diana. "Ada apa?"
"Bukan apa-apa, hanya saja rekanku bertanya, hukuman apa yang pantas buat Tony."
__ADS_1
Ivan kembali memeluk Diana dan menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Diana. "Sudah menemukan hukuman apa yang tepat?"
"Belum." Diana berusaha menahan napasnya, sedari tadi Ivan terus berusaha menghilangkan kewarasannya.