Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 215 Pengalihan


__ADS_3

Diana masih betah memeluk Ivan. Rasanya tidak rela melepaskan pelukan mereka.


"Sepertinya kapal sudah bersandar di pelabuhan," ucap Ivan.


"Bagaimana aku keluar? Apa aku harus keluar mengenakan gaun pengantinku?"


"Tenang saja, aku sudah meminta pelayan untuk menyediakan baju untukmu, tunggu sebentar, aku akan cek di luar." Ivan segera meraih baju dan mengenakannya, saat Ivan membuka pintu, dia tersenyum melihat tulisan tangan Dillah.


Ivan segera kembali dan memberikan paper bag yang dia temukan di depan pintu pada Diana.


"Cepat sekali?"


"Semua ada di depan pintu, sepertinya mereka takut mengetuk." Ivan memperlihatkan tulisan tangan yang ada di paperbag.


"Kreatif sekali, itu pekerjaan Dillah?" Tebak Diana.


"Siapa lagi?" Ivan tersenyum, dia meletakan paper bag di tempat tidur dan dia langsung menggendong Diana.


"Hei, turunkan aku!"


"Aku hanya menolongmu, istriku. Kata orang setelah peperangan pertama kali, biasanya wanita merasa tersiksa karena meninggalkan rasa sakit di tempat yang dibongkar."


"Rasa sakit itu sangat sepadan dengan segala rasa yang kamu berikan, menahannya bukan hal berat bagiku, apalagi aku sering menerima rasa sakit yang lebih dahsyat dari ini, sakit karena hantaman rudal tumpulmu tidak sesakit saat kulitku terkena mata pedang."


Ivan mengingat bagaimana kerasnya kehidupan Diana, sejak kecil dia terbiasa menerima pukulan dan tendangan dari lawan berlatihnya.


"Ayo turunkan aku ...." rengek Diana.


"Tidak mau, sebelum berpisah, aku ingin mandi bersama denganmu."


Diana menuruti apa yang Ivan mau, hingga kejadian hangat dan menguras peluh dan tenaga terjadi di kamar mandi.


***


Diana keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan pakaiannya, rasanya sangat berat berpisah dengan Ivan.


Tiba-tiba sepasang lengan kokoh melingkar di perut Diana.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Aku hanya belum siap berpisah denganmu." Diana menatap kedepan, namun padangannya sangat kosong.


Ivan merubah posisi Diana, hingga mereka berdua berdiri berhadapan. "Aku juga tidak rela berpisah, namun jika semakin lama aku menahanmu, semakin lama pula aku akan tersiksa. Selesaikan pekerjaanmu permataku sayang …." Ivan meraih tengkuk Diana, perlahan dia menyatukan kembali bibir mereka.


Perlahan keduanya menyudahi kegilaan mereka.


"Kita keluar?" Tanya Ivan.


"Kalau kita keluar, artinya kita akan berpisah."


"Tapi aku yakin, kamu akan datang padaku saat semua pekerjaanmu selesai bukan?"


Diana menganggukan kepalanya menanggapi perkataan Ivan.


"Tunggu apalagi, selesaikan pekerjaanmu, biar kita bisa berbagi berita bahagia ini, pada kakekku, juga pada Nenekmu."


Mereka berdua segera meninggalkan kabin, saat melewati deck, Diana dan Ivan melihat Dillah tertidur di kursi malas.


"Dia tetap bersamaku?" Tanya Diana.

__ADS_1


"Dillah pulang bersamaku saja, sudah cukup kamu menjaganya."


Diana tertawa mendengar ucapan Ivan.


"Kamu kan yang menjaga dia, bukan dia yang menjagamu."


"Akhirnya kalian berdua keluar, nasibku hampir sama dengan ikan asin," sela Dillah.


Perhatian Diana dan Ivan tertuju pada Dillah, mereka terkejut melihat Dillah sudah bangun.


"Kenapa begitu?" tanya Ivan.


"Ya, karena menunggu kalian, aku berjemur sampai siang dibawah terik matahari," keluh Dillah.


"Siapa yang menyuruhmu berjemur? Kamu punya kabin yang sejuk, kamu bisa rehat di sana sambil menunggu kami," ucap Ivan.


"Kalau Tuan mencariku bagaimana?" ucap Dillah.


"Kamu hidup di jaman batu? Jika keluar dari kapal ini aku tidak menemukanmu, aku bisa menelponmu."


"Ya Tuhan …. Kenapa aku sekarang bodoh sekali!" Dillah menepuk jidatnya.


"Yang aku minta saat di st-peter ording, sudah kamu siapkan?" Tanya Ivan.


"Sudah Tuan." Dillah memberikan kotak kecil pada Ivan.


"Kamu sudah buatkan dua?" tanya Ivan lagi.


"Sudah, punya Tuan ada padaku."


"Baguslah, kalau begitu kamu duluan ke mobil hitam, aku mau bicara dengan Diana dulu."


Ivan memberikan kotak kecil pada Diana, kotak yang sebelumnya dia terima dari Dillah.


"Apa ini?" Diana memperhatikan kotak kecil itu.


"Buka saja nanti di rumah, kalau kau rindu aku, kamu bisa mengobatinya dengan itu."


Diana menyimpan kotak kecil itu ke tasnya. Berulang kali Diana menghela napasnya, rasanya banyak kata yang ingin dia ucapkan, namun dia tidak pandai berkata-kata.


"Aku pergi," ucap Diana, suaranya seakan tengelam oleh hembusan angin laut yang tidak pernah berhenti berhembus.


"Aku sudah menyiapkan mobil dan supir untukmu, dia akan mengantarmu ke konsorsium."


Diana mengangguk lemah, dia dan Ivan berjalan menuju mobil mereka masing-masing.


***


Mobil yang membawa Diana semakin menjauh meninggalkan Pelabuhan. Sedang mobil yang membawa Ivan dan Dillah langsung menuju bandara, Ivan bersiap meninggalkan Negara yang tanahnya dia pijak saat ini.


Di dalam jet pribadi Ivan.


Dillah menggunakan laptop Ivan untuk mengerjakan pekerjaannya selama perjalanan mereka. Melihat Ivan terus menerus melamun, membuat Dillah terpaksa menghentikan pekerjaannya.


“Ada apa Tuan?” tanya Dillah.


“Tidak apa-apa,” sahut Ivan dingin.


“Aku bukan teman berbagi yang enak untuk Tuan, tapi aku memahami perasaan Tuan saat ini, baru beberapa jam yang lalu Tuan mengikat janji suci bersama Nona, Anda sudah harus berpisah jarak dengan Nona.”

__ADS_1


“Untuk hal ini aku memahami Diana, sejauh apapun dia pergi, aku tidak takut lagi. Karena bukan hanya hati kami yang terikat, tapi kehidupan kami.”


“Terus hal apa yang mengganggu pikiran Tuan?”


“Selama ini aku selalu pura-pura tidak tahu siapa pencipta T779. Selain aku tidak mengenalnya, dia juga meminta identitasnya dirahasiakan.”


“Entah kenapa orang-orang hebat selalu menyembunyikan identitas mereka,” gerutu Dillah.


“Tentang pencipta T779, dia memberikan penemuan berharganya itu padaku, karena kebaikan Agung Jaya di masa lalu, dan juga karena kepercayaan Charlie Bramantyo pada Agung Jaya,” jelas Ivan.


“Charlie Bramantyo, kenapa aku sangat familiar dengan nama itu?” gumam Dillah.


“Dia adalah donator utama untuk produksi penawar saat kepemimpinan Ayahku, dan dia adalah Ayah Diana.”


Ivan kembali meneruskan ceritanya. “Karena kepercayaan Charlie pada Agung Jaya, si penemu ini mempercayakan T779 pada Agung Jaya, hingga Agung Jaya berhasil memproduksi obat itu, namun obat itu tidak kunjung bisa di kembangkan secara meluas, karena di rampok oleh IMO waktu itu. Kini T779 kembali pada Agung Jaya, mendengar hal ini, pencipta obat ini ingin bertemu denganku.”


“Itu kabar yang baik, Tuan.”


“Karena ini aku membawamu pulang bersamaku, karena aku butuh kamu untuk menyiapkan Apartemen untuk penemu T779 ini, beserta pelayan yang siap melayaninya 24 jam.”


“Baik, Tuan. Saat kita mendarat di tanah air, aku akan melakukan pekerjaanku.”


Perjalanan udara masih lama, Ivan pun berusaha merehatkan tubuhnya yang sebelumnya berjuang tanpa henti mencapai puncak kenikmatan saat bersama Diana.


**


Utusan Ivan mengantar Diana ke konsorsium. Setelah Diana turun, mobil itu melaju meninggalkan area konsorsium. Melihat hal ini, Diana segera memanggil supirnya, dan meminta supir itu mengantarnya ketempat Hadhif.


Mobil yang membawa Diana berhenti di depan akses markas rahasia IMO di negara itu. Diana meraih handphonenya, dan langsung menghubungi Hadhif.


“Ada apa ketua?”


“Tonny ada bersamamu?” tanya Diana.


“Dia pergi beberapa jam lalu, saat dia menerima telepon wajahnya terlihat begitu cemas. Sepertinya dia dipanggil oleh ED group.”


“Baguslah kalau dia tidak ada, aku akan segera masuk.”


Tanpa menunggu jawaban Hadhif, Diana segera turun dari mobil, dan meminta supirnya untuk menunggu di tempat lain.


Diana langsung masuk ke markas mereka.


“Sampai mana pekerjanmu untuk menciptakan berita hoax untuk menyerang ED Group?” tanya Diana pada Hadhif.


“Aku memulai semuanya dari awal ketua.”


“Bagus, serangan kita yang sesungguhnya jangan sampai Tony tahu, saat bekerja bersama Tony, kalian lakukan saja pekerjaan yang kalian kerjakan bersama sebelumnya.”


“Sampai kapan kita menahan diri kita ketua? Rasanya aku tidak kuat untuk memberi pelajaran pada pengkhianat itu!”


“Sabar, kita akan menyerang nanti, saat ini berusahalah bersikap seolah tidak tahu, kadang kita terlihat bego bukan karena kita bodoh, hanya saja ingin melihat lawan kita sejauh mana dia menipu dan membodohi kita.”


“Baik ketua.”


"Sini berikan pekerjaanmu, selama di sini, aku akan meneruskannya sendiri, kamu dan Tony lakukan yang sudah direncanakan, tapi pura-pura publis saja."


Selesai urusannya dengan Hadhif, Diana tidak kembali ke konsursium, tapi dia menginap di hotel terdekat dengan perusahaan ED Group yang ada di Jerman.


**

__ADS_1


Selama dua hari ini Diana meneruskan pekerjaan Hadhif, sedang Hadhif dan Tony melakukan pekerjaan pengalihan. Tony begitu semangat menyelipkan beberapa sumber, agar junjungannya bisa melacak berita hoak yang mereka sebarkan bisa di temukan. Melihat Tonny seperti itu, Hadhif ingin sekali menghajar patner kerjanya itu. Sebisanya dia terus menahan dirinya.


__ADS_2