Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 198 Kaget


__ADS_3

Melihat ibunya masuk ke ruang khusus keluarga. Angga segera menyusul. Saat Angga memasuki ruangan itu, terlihat ibunya terus mondar-mandir.


“Ada apa mama?”


“Apa wanita itu yang kamu bilang calon istrimu?” tanya Rani.


“Iya, dia Jennifer calon istriku. Saat makan malam nanti, aku akan sampaikan pada Papa dan Kakek, kalau aku dan Jennifer akan menikah tahun depan.”


“Apa?!” Rani terlihat syok.


“Memangnya, kenapa mama?”


“Apa kamu tidak bisa mendapatkan wanita yang tepat untuk jadi pendampingmu?” protes Rani.


“Aku sudah menemukan wanita yang tepat untukku, yaitu Jennifer.”


“Apa dia sepadan dengan kita? Sederajat dengan kita?!”


“Ya, untuk segalanya, dia sepadan dan sangat cocok untukku.” Angga malas berdebat dengan ibunya, dia tidak ingin memberitahu ibunya siapa Jennifer sesungguhnya, biar waktu yang memperlihatkan siapa Jennifer.


“Aku tidak enak meninggalkan Jenifer terlalu lama, aku duluan ya mama.”


"Angga! Mama belum selesai!" teriak Rani.


"Mama tidak berhak mengatur hidupku, selama ini aku sudah hidup mandiri tanpa campur tangan kalian, kenapa saat aku menentukan hidupku mama ikut campur?!" Angga terlihat marah, Angga berusaha menurunkan emosinya. Dia segera kembali menemui anggota keluarga yang lain.


"Nah itu Angga kembali," ucap Sofian.


Angga tersenyum dan dia berdiri di samping Jennifer. "Dia sangat menyenangkan, dia unik, menurutku, gadis tangguh dan Unik seperti Jennifer hanya ada satu di muka bumi ini," puji Angga.


Sepasang mata Jennifer berbinar bahagia, dengan mudahnya Angga memujinya di depan keluarganya.


"Di mana pertama kali kalian bertemu, dan apa sebabnya kalian jatuh cinta?" tany Sofian.


Angga dan Jennifer saling pandang, keduanya terlihat bingung untuk menceritakan momen pertemuan mereka.


"Pertemuan pertama kami, bukan suatu hal yang bisa kami banggakan, bolehkan itu menjadi rahasia kami berdua?" ucap Jennifer.


"Owh, tentu saja sayang, setiap orang berhak memiliki rahasia." Sofian mengedipkan sebelah matanya, pertanda dia tidak mempermasalahkan hal itu.

__ADS_1


“Kekasihmu ini sangat menyenangkan, Angga. Saat kalian libur nanti, sering-seringlah datang ke sini,” ucap Kakek Agung.


“Kak Angga mana ada waktu libur, Kakek. Dia di sini juga karena masa pemulihan.”


Semua mata langung menoleh kearah pintu, mereka semua mematung melihat dua orang yang datang bersama Ivan. Saat yang sama Rani juga sudah kembali, Rani tersenyum bahagia melihat Ivan sudah datang.


“Bagaimana perjalanan kalian? Apakah Ivan telat menjemput kalian?” tanya Rani.


Mulut Jenifer terbuka lebar mendengar Ivan menjemput dua wanita itu.


Bukankah itu Agis dan Aridya? Batin Jennifer.


“Perjalanan kami sangat lancar, tante. Ivan juga datang sangat awal,” sahut Agis.


“Maafkan kami ya, Gis. Karena undangan kami, pastinya kamu menolak job kamu yang sangat banyak itu,” ucap Rani.


"Tidak masalah tante, jangankan job, seluruh hidupku juga siap aku berikan pada Ivan kalau dia menginginkannya," ucap Agis.


Ingin rasanya Jennifer mengeluarkan isi perutnya mendengar jawaban Agis.


Jenifer memandangi Rani penuh selidik, dia tidak iri karena Agis dan ibunya di sambut, sedang dirinya tidak. Jennifer memahami sesuatu, Rani tidak menyukainya, juga tidak menyukai Diana.


“Dia Jennifer, calon istriku," ucap Angga dengan begitu bangga.


"Salam kenal Kakak Ipar," sapa Ivan.


Jenni tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Wah, Kakak iparku sangat manis, pantas saja kak Angga betah di Jerman, ternyata ada gadis semanis dia di sana," puji Ivan.


Agis sangat kesal mendengar pujian Ivan pada kekasih Angga, sedang dirinya tidak dipuji sedikitpun.


"Nah, ini sudah kumpul semua kan? Aku ingin memberi kabar bahagia," ucap Angga.


"Apa Kakak ipar hamil?" goda Ivan.


"Ngaco kamu Van!" bentak Angga.


Ivan tertawa lepas melihat kekesalan Angga.

__ADS_1


"Aku dan Jennifer, sudah mantap untuk menikah tahun depan, dan aku meminta restu kalian semua, semoga niat kami bisa terlaksana dengan lancar," ucap Angga.


"Kalau kamu, apa sudah ada perencanaan untuk menikah?" tanya Agis pada Ivan.


Semua seketika diam, Agis pura-pura memasang wajah bersalah karena mengucapkan kalimat barusan. "Maafkan aku, Ivan. Aku lupa kalau pertunanganmu sudah lama putus," ucap Agis dengan nada penyesalan.


Kakek Agung dan Sofian menatap tidak suka pada Agis, mereka berdua sama-sama tidak menyukai profesi Agis, tapi keduanya berusaha memberikan senyum ramah mereka. Kakek Agung perlahan mendekati Aridya.


“Selamat datang di rumah kecil kami, Nyonya Aridya,” sapa Kakek Agung.


“Terima kasih atas undangan makan malamnya,” ucap Aridya. "Akhirnya aku bisa datang di saat yang tepat dan saat momen bahagia."


“Rasanya, ucapan terima kasih saja yang ku ucapkan padamu tidak cukup, Aridya. Karena kamu telah membesarkan seorang putri yang sangat baik, dan sikapnya sangat dermawan."


Aridya sangat kesal, dia tahu kalau yang Kakek Agung maksud adalah Diana. “Tapi aku punya putri yang jauh lebih baik dari yang Anda maksud itu.” Aridya menarik Agis ke sisinya, mengisyarat putri terbaiknya adalah Agis.


“Yang satu ini membuat orang merasa bahagia dengan membuat mereka menangis karena kehebatan aktingnya, dan kadang membuat orang terpukau dengan memperlihatkan keindahan tubuh yang dia miliki, sedang putrimu yang satunya, dia meluluhkan hatiku dan hati banyak orang dengan budi luhurnya, dia mengusap air mata orang lain dan membuat mereka tersenyum bahagia, semua yang mengenal dia dengan baik, sangat terpukau atas segala kebaikannya. Bahkan dia berbuat baik pada siapa saja yang dia temui.” Kakek Agung tersenyum dan dia berjalan meninggalkan Aridya.


Sial! Kenapa si tua bangka ini masih memuji Diana, bukankah pertunangan Diana dan Ivan sudah resmi putus? batin Aridya.


“Kenapa berdiri saja di sana? Ayo kita menuju meja makan, ucap Kakek Agung.


Rani dan Aridya sangat jelas terlihat kesal.


Sial! Tua bangka itu selalu berhasil menjatuhkan apa yang telah aku bangun, batin Aridya.


Kenapa aku sangat bodoh! Ivan, kakeknya dan Ayahnya sama-sama mencintai Diana, harusnya aku sadar! Sejak awal mereka mengizinkanku mengundang Agis untuk memperlihatkan padaku kalau Diana lebih baik dari wanita manapun. Rani terus mengutuki dirinya sendiri.


Ivan tersenyum bahagia, rencana kakeknya untuk menyadarkan ibunya sangat sempurna, saat ini ibunya tidak bisa menunjukan sebaik apa wanita yang dia pilih. Namun kesenangan Ivan terganggu saat suara handphonenya terdengar. Ivan segera mengambil handphonenya, melihat nama Diana yang menelepon, Ivan sangat bahagia.


“Iya, Diana.” Ivan langsung pergi dari sana, dia mencari tempat aman untuk berbicara dengan Diana.


Mendengar Ivan menyebut nama Diana, semua orang memandang padanya, termasuk Jennifer.


Apa? Diana? Berarti Ivan dan Diana masih berhubungan baik? Batin Agis.


Bicara saja dengan Diana semanis yang kamu bisa, Diana masih belum tahu apa yang kamu lakukan di sini, batin Jenifer.


Aridya memandang tajam pada Ivan yang berlalu begitu saja meninggalkan mereka, hanya demi menerima telepon Diana.

__ADS_1


Anak dan ibu sama saja! Ibunya menghancurkan mimpiku, dan anaknya menghancurkan mimpi anakku! Kenapa harus Ivan! Apakah kamu tidak bisa mencari pemuda lain selain laki-laki impian putriku! Harusnya kamu menikah dengan Fredy saja! Batin Aridya.


__ADS_2