
Rani sangat bingung melihat kejadian yang terjadi di depan matanya. Sebelumnya Fazran dan Wena mendatanginya dengan kemarahan yang menyala-nyala, kini keduanya pergi berselimutkan rasa takut. Semakin membingungkan Rani, kedua orang tua Quenzee yang memberikan uang damai, padahal dia mengusulkan agar Aridya membayar semua ganti rugi dan uang damai untuk Quenzee. Kepala Rani berdenyut memikirkan keadaan yang diluar batas pemahamannya, apalagi tadi Fazran menyebut nama CEO dari Edge Group. Tidak mudah menghubungi CEO muda itu, apalagi jika tersangkut masalah dengan CEO muda itu, sangat sulit untuk menegakkan perusahaan yang bermasalah dengan Fredy.
“Ada yang bisa jelaskan padaku? Kenapa Fazran membawa nama Fredy?” Rani terlihat begitu tertekan.
“Fazran ingin menekan Agung Jaya, dengan membawa semua sahamnya ke Edge Group,” sahut Ivan.
“Apa?!” Rani seketika berdiri dari posisinya. “Ini bukan masalah kecil, Ivan! Jika Agung Jaya kehilangan Rivalnya hanya karena masalah ini, maka perusahaan kita akan kacau! Dan ini sebab—” Mata Rani tertuju pada Diana.
“Mama …, tenang ma. Untuk urusan dengan Edge Group sudah selesai. Bahkan Edge Group berpihak pada kita. Ada seseorang yang membantu menyelesaikan masalah Agung Jaya dengan Edge Group. Jadi, ini bukan suatu ancaman lagi.”
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin, orang itu sangat hebat dan pemberani, dia bisa membuat seorang Fredy percaya padanya.”
“Maaf menyela, Tuan Ivan. Tapi aku menemui Fredy kemaren karena ada sedikit urusan dengan Tuan Fredy CEO Edge Group, aku tidak berbuat banyak, aku hanya membantu berbicara dengan orang-orang Edge Group.”
“Aku memang menemui Fredy, tapi aku hanya berbicara tentang kasus yang ada kaitannya dengan pengadilan, jadi aku tidak menyangka, kalau tindakanku menyelamatkan perusahaan Agung Jaya.”
Ivan memicingkan matanya memandangi Nizam, Ivan yakin bukan Nizam yang berhasil meyakinkan seorang Fredy. Dirinya hanya mengenal Fredy sebatas urusan bisnis, dalam segi hal yang lain dia dan Fredy sama-sama kritis dalam menyikapi suatu masalah, Fredy tidak mungkin melakukan hal besar hanya mendengar perkataan seorang pengacara hebat. Ada alasan kuat, kenapa Fredy mengabulkan permintaan pahlawan yang sebenarnya.
“Terima kasih nak Nizam, untuk kesekian kalinya Anda menolong kami, Anda telah menolong saya, dan sekarang Anda menolong perusahaan Agung Jaya, terima kasih.” Rani terharu, dia menatap Nizan dengan mata yang berbinar haru dan bahagia.
Diana tidak peduli dengan keadaan dan pembicaraan yang ada di depannya, dia tidak peduli dengan pengacara Nizam yang menjadi pahlawan diatas kerja keras yang dia lakukan. Yang mengoperasi Rani, dan meminta bantuan pada Edge Group adalah dirinya. Diana lebih fokus pada handphonenya, biarlah pengacara Nizam mengambil meritnya, Diana sedari tadi fokus mengirim banyak chat untuk professor Russel, dia masih penasaran siapa sosok yang berniat membunuhnya. Diantara deretan chat yang dia kirim pada professor Russel, tidak satupun ada balasan dari professor.
"Untuk sementara, urusan sudah selesai. Jadi saya pamit dulu," ucap Pengacara Nizam.
"Lebih baik di sini dulu, biar kita makan malam bersama," sela Rani.
"Terima kasih atas tawaranya, tapi saya harus undur diri," pamit pengacara Nizam.
****
Waktu terus berjalan, selama mereka berkumpul bersama, pandangan kakek Agung terus tertuju pada Diana. Satu per satu masalah yang terjadi berputar dalam pikirannya.
Setiap masalah yang ada, sangat jelas segala bukti. Bahkan bukti yang ada, dan kenyataan yang terjadi di depan matanya sangat menampar wajah kakek Agung begitu keras. Kakek Agung menoleh kearah Diana, hatinya terasa sesak, paru-parunya terasa menyempit. Dirinya merasa sangat bersalah. Selama masalah yang terjadi di sekitarnya, dia tidak pernah mendengarkan penjelasan dari Diana. Pandangan kakek Agung kemudian beralih pada kedua telapak tangan Diana. Hatinya kembali meringis, sampai detik ini dia tidak pernah menanyakan keadaan Diana, atau memperhatikan luka yang Diana derita, dirinya sibuk memikirkan bagaimana nasib perusahaannya. Padahal dia sudah berjanji pada Salima, akan menjaga cucunya dengan baik selama Diana bersamanya. Tapi, sejak kedatangan Diana ketempatnya, Diana hanya mendapat goresan di hatinya dan masalah yang tiada henti. Saat ini bukan hanya perasaan Diana yang terluka, tapi juga fisiknya.
Kakek Agung berusaha mengatur napasnya, merasa lebih baik dia memantapkan hatinya. “Diana.” Panggilnya.
Diana langsung memandang kearahnya.
“Minggu depan adalah ulang tahunku, aku sangat berharap kamu bisa datang. Nanti … aku juga memberikan sesuatu untukmu.” Senyuman menghiasi wajah kakek Agung, dia berharap ada balasan senyuman kecil dari Diana.
Diana tidak bereaksi apapun, dia hanya menganggukkan kepalanya, meng-iyakan permintaan kakek Agung padanya.
Nyuttt!
Sakit, tapi tidak berdarah. Kakek Agung hanya bisa meringis dalam hatinya. Diana yang bersamanya sangat berbeda dengan Diana yang bersama nenek Salima. Diana yang bersamanya terlihat dingin dan tidak bereaksi apapun, sedang Diana yang bersama neneknya, seorang Wanita yang sangat ceria. Kakek Agung merasa sesak dengan kenyataan ini, karena dirinya Diana kehilangan keceriannya.
“Ayah ….” Panggil Rani.
“Kita sudahi dulu ngobrolnya, itu bu Daima memberi kode kalau makan malam sudah siap. Nanti kita sambung lagi,” sela Sofian.
Selama makan malam, tidak ada pembicaraan, semuanya kompak membisu. Hanya terdengar suara sendok yang bergesekan dengan permukaan piring.
Setelah makan malam selesai, semua saling diam. Diana masih penasaran dengan pesan yang dia terima dari professor Russel. Diana mengetik kata di handphonenya.
__ADS_1
^^^Aku izin keluar sebentar untuk menghubungi seseorang. Apa boleh aku pergi?^^^
Diana memperlihatkan kata yang dia ketik.
“Menghubungi?!” Rani tersenyum sinis. “Hanya menghubungi dengan pesan saja kau banyak gaya!”
Diana tetap dengan raut wajah santainya.
^^^Bukan ingin bergaya, tapi jika aku fokus bermain handphone di hadapan kalian semua, rasanya ini sangat tidak sopan.^^^
“Bukannya kau selalu bermain dengan handphonemu di depan kami?” tantang Rani.
Diana mengetik kata baru.
"Katanya tidak sopan bermain handphone, itu kamu masih memainkannya, di depan kami!” ledek Rani.
Diana menaruh handphone, kemudian dia memakai Bahasa isyarat, dia izin undur diri untuk membahas tugas, apa di bolehkan.
Kakek Agung tersenyum. ”Tentu boleh Diana.”
Hanya kakek Agung yang memahami Bahasa isyarat Diana. Sedang yang lain diam.
“Kenapa bengong?” tanya kakek Agung pada Rani, Sofian, dan Ivan. “Diana sudah mempermudah komunikasinya dengan kita, yaitu dengan ketikan di handphone, agar kita semua faham apa jawaban dia. Mengetik dalam keadaan Diana seperti ini susah loh, lihat kedua tangan Diana yang terluka.”
Rani semakin geram dengan pembelaan mertuanya pada gadis bisu yang sangat dia benci.
“Silakan Diana. Jika kalian ingin pulang nanti, langsung saja, tidak perlu pamit pada kakek. Kakek ingin rehat di kamar.”
Diana mengisyaratkan terima kasih pada kakek Agung, dia pun undur diri mencari tempat yang dia rasa aman. Setelah Diana Pergi, kakek meminta Sofian untuk membantunya kembali ke kamar. Di meja makan, hanya ada Ivan dan ibunya hanya saling diam.
*
“Kakek bagaimana pa?”
“Yah begitulah kakek,” sahut Sofian.
“Papa, Ivan …, mama mau bicara penting,” sela Rani.
“Ya silakan ma,” sahut Ivan.
“PENTING.” Rani begitu menekankan kata ‘penting’.
“Ya sudah, kita bicara di ruang kerja papa saja,” usul Sofian.
Ayah, ibu, dan anak itu pun beranjak menuju ruangan yang dimaksud. Rani tetap berdiri, rasa sesak yang mengganjal di dadanya membuat perutnya sakit jika dia harus duduk. Sedang Ivan dan Ayahnya duduk berdampingan di sofa Panjang.
“Bagaimana pun caranya, Diana harus pergi dari sini dan pergi jauh dari lingkup keluarga kita! Diana adalah sumber segala masalah!”
“Sumber masalah bagaimana?”
“Lihat ini?!” Rani memperlihatkan tangannya yang dipasang Gips.
“Itu ulah Veronica! Semua masalah yang terjadi karena Veronica. Di mana mata mama?! Sehingga hanya Diana yang mama salahkan, dan mama malah membelai dan membela kepala ular yang sebenarnya. Semua kekacauan yang terjadi, jelas perbuatan Veronica,” jelas Sofian.
“CCTV yang asli juga membuktikan, yang mendorong mama adalah Lussy,” Ivan menambahi.
__ADS_1
“Kalian semua menjadi korban Diana, rupanya dia berhasil menghasut kalian, sebab itu dia hanya mengincarku, karena hanya aku yang tidak termakan hasutannya.” Rani semakin geram.
“Behenti mama. Semulia apa sih Veronica di mata mama? Dia penjahat yang sebenanya malah mama terus mengasihi dan membelanya.”
“Veronica korban Diana! Lussy adalah orang suruhan Diana!” ucap Rani lantang.
“Mama, kekurangan Diana hanya tidak bisa bicara. Selebihnya, dia tidak pernah menyentuh siapapun. Jika Diana melawan, berarti orang itu berusaha menyakitinya.” bela Sofian.
“Berhenti membenci Diana, mama.” Bujuk Sofian.
Rani meninggalkan ruang kerja suaminya dengan segala kemarahan yang menggerogoti jiwanya. Dia langsung pergi menuju kamarnya. Saat ini anak dan suaminya sudah berada di sisi Diana.
*
Diana terus berusaha menelepon professor Russel, tetap saja tidak ada jawaban. Perasaan Diana mulai tidak enak, tapi dia tetap berusaha santai. Diana segera kembali ke dalam rumah. Saat Diana sampai di ruang tamu, dia melihat Ivan dan Ayahnya keluar dari ruangan lain.
“Sudah selesai?” tanya Ivan.
Diana menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, kalau begitu kalian pulang saja. Sudah malam, lebih baik istirahat dulu.” usul Sofian.
Ivan dan Diana pun segera kembali menuju Apartemen mereka.
****
Aridya dan Nizam malam ini mengenakan baju terbaik mereka. Mendapat undangan makan malam di sebuah Restoran mewah, membuat Aridiya kesulitan menahan senyuman kebahagiaannya. Undangan itu dari orang penting, dari Danu Kesuma. Seperti mimpi dirinya dan putranya makan malam bersama pengusaha ternama. Sebisanya dia terus memasang wajah dingin dan angkuhnya. Aridya dan putranya Nazif memasuki ruangan VIP di Restoran itu, terlihat pengusaha ternama di kota ini menyambut mereka.
“Terima kasih Nyonya Aridya, karena bersedia memenuhi undangan dari saya.” Danu menyalami Aridya dan putranya.
“Sama-sama.” Sahut Aridya datar, sambil menyambut jabatan tangan Danu.
“Ayo kita makan malam dulu." Danu mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang tersedia.
Masih memasang wajah datar, dingin tanpa expresi, dengan santai Aridya menikmati hidangan yang dia pilih, hingga makan malam mereka pun selesai.
“Ada yang ingin saya bicarakan dengan Nyonya Aridya, dan ini sangat penting.” Danu memulai pembicaraannya.
“Tuan Danu Kesuma orang penting, pastinya setiap urusan yang berkaitan dengan Anda hal itu sangat penting,” sela Aridya.
“Baiklah, saya langsung pada intinya saja. Saya ingin kalian membujuk Diana, agar dia tidak meneruskan laporannya.”
“Wow, ini bukan hal mudah, apalagi Diana sangat keras kepala,” sahut Aridya.
“Jika kalian berhasil membujuk Diana supaya dia menarik gugatannya, saya akan melakukan apa saja yang kalian inginkan, APA SAJA.” Danu berrusaha membuat lawan bicaranya tergoda dengan hal yang dia janjikan.
“Seperti yang ku katakan sebelumnya, Diana sangat keras kepala, aku tidak bisa membujuknya.”
“Kalau kalian berhasil membuat Diana menarik semua tuntutannya. Sebagai balas budiku atas bantuan kalian, jika suatu saat nanti kalian ada masalah, kalian hubungi aku, dan aku akan berusaha untuk membantu kalian.”
“Entahlah, aku akan berusaha, tapi aku tidak bisa menjanjikan kalau aku bisa membujuknya. Tapi, segala keputusan tetap Diana yang menentukan, aku hanya berusaha berbicara dari hati ke hati dengannya.”
Danu merasa tidak mendapatkan titik terang untuk masalah putrinya, dia pun pergi lebih dulu dari Restoran, dengan alasan ada urusan lain.
Nazif sedari tadi berusaha diam, karena perintah ibunya dia tidak boleh bicara jika tidak diminta, merasa Tuan Danu Kesuma sudah pergi, Nazif tidak betah lagi dengan mode bisunya. “Mama! Kenapa mama tidak langsung menyetujuinya?! Apa mama tidak yakin bisa membujuk Diana?”
__ADS_1
“Sabar sedikit anakku. Dengan bersabar hal yang kecil akan berubah jadi besar.” Senyuman kemenangan akhirnya menghiasi wajah Aridya. “Ternyata si bisu itu sangat berguna untuk segala urusan di depan nanti.” Rasanya Aridya ingin melepas tawa jahatnya, namun dia teringat saat ini dia seorang Nyonya yang Anggun, Aridya menahan dirinya. “Habiskan makanan penutupmu, kita pulang dan atur rencana.”