Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 124 Bermalam


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Diana mengikuti profesor Russel ke laboraturium pribadinya, Profesor Russel melanjutkan penyelidikannya untuk mencari tahu siapa dalang ledakkan itu, sedang Diana terlihat sangat sibuk, jemarinya terus menari diatas keayboard laptop. Dia berusaha menyimpan ulang semua data yang tersimpan pada laptopnya yang ikut terbakar di kamar asramanya. Mereka menghabiskan banyak waktu di sana. Setelah semua selesai, Diana izin pergi dari laboraturium pribadi profesor Russel. Saat dia berjalan di lorong, dia berpapasan dengan Pak Abimayu.


“Diana, bagaimana keadaanmu? Ku dengar kamarmu ikut terbakar.”


“Aku baik-baik saja Pak, saat kejadian, aku masih berada di luar kamar.”


“Bagaimana dengan naskah pidato yang aku minta? Maaf Diana, bukan aku tidak memahami keadaanmu, tapi acara juga sangat dekat. Ini sudah malam pula.” Pak Abimayu terlihat putus asa.


“Saya akan mengetiknya di lab komputer Pak. Bagaimana pun saya sudah menerima tugas itu.”


“Tidak perlu kesana, kamu ikut ke ruanganku, kamu ketik saja di laptopku.”


Diana berjalan bersama Pak Abimayu menuju ruangan Pak Abi. Sesampai di sana, Diana diberikan Pak Abi laptop, dia segera memulai tugasnya. Pak Abi menyediakan cemilan dan minuman untuk Diana, menemani Diana untuk melakukan tugasnya.


Diana merasa kesulitan, karena dia memerlukan beberapa hal untuk menuliskan naskah pidato perwakilan dokter hebat. Diana menghentikan kegiatannya.


"Pak, saya harus ke perpustakaan sebentar."


"Silakan Diana."


“Apa dalam laptop Bapak ada file penting?”


“Tidak ada, aku tidak menyimpan apapun di sana.”


“Boleh saya bawa ke perpustakaan? Saya butuh beberapa refrensi untuk naskah pidato ini.”


“Tentu saja,” jawab Pak Abi.


Diana segera pergi meninggalkan ruangan Pak Abi, dengan membawa laptop Pak Abi. Saat melewati beberapa ruangan di depan sana, terlibat sosok Ivan yang berlari kearahnya.


“Bagaimana keadaanmu?” wajah Ivan terlihat sangat panik.


“Lihat, aku baik-baik saja.” Diana tersenyum, berusaha meyakinkan Ivan kalau dia baik-baik saja.


“Diana, ini minumanmu ketinggalan, barangkali di perpustakaan kamu butuh ini.” Pak Abi merasa tidak enak karena baru menyadari ada Ivan di sana. "Selamat malam Nak Ivan."


"Selamat malam Pak Abi," sahut Ivan.


Diana menerima minuman yang Pak Abi berikan padanya. “Terima kasih Pak Abi, maaf saya malah merepotkan.”


“Tidak sama sekali, saat ini kamarmu dan semua barang-baranmu pastinya ikut terbakar, sedang kamu saya beri tugas.”


“Apa? kamar Diana terbakar?” sela Ivan.


“Iya, kamar Diana berada dekat dengan Gedung yang meledak, untuk laporan detaillnya, sedang di selidiki oleh pihak berwenang,” terang Pak Abi.


“Saya tunggu itu,” sahut Ivan.


“Saya pamit Pak, saya ingin menyelesaikan tugas,” sela Diana.

__ADS_1


Pak Abi hanya menganggukkan kepalanya, dan dia meninggalkan Diana dan Ivan.


“Kamarmu dan semua barangmu terbakar, kamu mau tidur di mana malam ini?”


“Kamu ke sini pakai apa?” tanya Diana.


“Mobilku sendiri.”


"Setelah aku selesai di perpustakaan, mau mengantarku ke suatu tempat?"


"Tentu saja."


“Antar aku ke alamat ini.” Diana memperlihatkan alamat pada handphonenya.


“Kenapa tidak pulang saja?”


“Aku ada tugas pagi-pagi, jadi alamat itu lebih dekat ke kampus ini.”


Ivan mengalah, dia mengikuti Diana ke perpustakaan, setelah Diana menyelesaikan tugasnya, dia mengajak Ivan untuk pergi. Ivan segera mengantar Diana menuju alamat yang dia minta, hingga mereka sampai di sebuah perumahan mewah.


“Rumah siapa ini?” tanya Ivan.


“Nanti kamu juga tahu.”


Diana dan Ivan berjalan bersama menuju pintu utama.


Ting! Tong!


“Diana, sedari tadi aku mencoba menghubungimu, aku panik mendengar berita ledakkan itu.”


“Tenang Nizam, aku baik-baik saja, apa kami boleh masuk?”


“Owh tentu.” Nizam mempersilakan Ivan dan Diana masuk.


Setelah masuk kedalam rumah Nizam, keduanya dijamu oleh pelayan Nizam. Diana dan Nizam terus membahas beberapa hal, sedang Ivan sibuk mengetik pesan di handphonenya dan dia kirim pada Dillah.


“Boleh aku menginap di sini? Kamar asramaku ikut terbakar.”


“Tentu saja Diana.” Nizam memerintahkan pelayannya mempersiapkan kamar tamu untuk Diana.


“Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat saja Diana,” usul Nizam.


Saat pelayan mengantar Diana menuju kamar tamu, Ivan mengikuti mereka.


“Kenapa kamu ikut?” tanya Diana.


“Hanya memastikan tempatmu nyaman dan aman,” sahut Ivan.


Diana membiarkan Ivan mengikutinya ke kamar yang akan dia tempati. Setelah mengantar dua tamu bosnya, pelayan segara pergi meninggalkan Diana dan Ivan.

__ADS_1


“Bagaimana keadanmu?” Tanya Ivan.


“Aku baik-baik saja.”


“Tapi perasaanku mengatakan kamu tidak baik-baik saja.” Ivan menatap Diana dengan tatapan kecemasan.


Diana menghempas napasnya begitu kasar, entah kenapa sangat sulit meyakinkan Ivan kalau dirinya baik-baik saja. Diana berbalik kearah dinding, perlahan dia melepas baju atasannya. Kedua mata Ivan di suguhan pemandangan yang sangat indah. Ivan terpana.


“Hanya sedikit nyeri pada bagian pundak kananku, lihatlah, ini luka yang parah bukan?”


Ivan tidak fokus pada memar Diana, tapi tubuh yang seksi itu mengambil semua kewarasan dan kesadarannya. Diana kembali mengenakan atasannya, sekejap hal itu mengembalikan kesadaran Ivan.


“Aku mau mandi dulu.” Diana berjalan kearah kamar mandi, dan dia menghilang dibalik pintu.


Saat Diana di dalam kamar mandi, Ivan segera keluar dari sana, dan dia menemui Nizam.


“Aku ikut menginap di sini. Aku hanya ingin menjaga Diana.”


“Owh.” Nizam segera meminta pelayan untuk menyiapkan satu kamar lagi dekat kamar yang Diana tempati.


Tetttt!


Suara telepon yang menempel di dinding memecahkan ketegangan yang ada. Nizam segera berjalan mendekati telepon itu, dan mendekatkannya ke sisi telinganya.


“Iya Pak.”


“Tuan, ada seseorang yang menitipkan dua koper, namanya Dillah, katanya koper ini milik dua tamu Tuan yang Bernama Ivan dan Diana.”


“Terima saja kopernya,” sahut Nizam.


Beberapa menit kemudian, Keamanan yang berjaga di luar mengantarkan dua koper itu kedalam rumah, setelah menerima dua koper yang diantar Dillah, Ivan segera menyeret koper itu menuju kamar Diana.


“Ingat, kamarmu di sana,” ucap Nizam.


“Iya, aku tahu.” Tapi tetap saja Ivan masuk ke dalam kamar yang Diana tempati.


Ivan berbaring di tempat tidur, menunggu Diana keluar dari kamar mandi. 2 jam berlalu, Ivan mulai suntuk,


Ceklak!


Mendengar bunyi pintu yang terbuka, Ivan refleks bangun. Lagi-lagi pemandangan yang ada membuat jantungnya tidak bisa bekerja dengan normal, saat melihat Diana hanya mengenakan handuk kimono.


“Kenapa kamu masih di sini?” Pandangan mata Diana kemudian tertuju pada dua koper yang ada di sisi ruangan. “Kenapa ada dua koper di sana?”


“Satunya kopermu, satunya koperku,” sahut Ivan.


“Kenapa kamu juga bawa koper ke sini?”


“Aku putuskan untuk menginap di sini."

__ADS_1


"Kenapa tidak pulang saja?"


"Aku tidak bisa pulang, menurut ramalan cuaca, malam ini  akan turun hujan lebat, daripada aku bermalam di tepi jalan karena tidak bisa menerobos derasnya hujan, lebih baik aku di sini untuk menemanimu dan menjagamu.”


__ADS_2