
Diana tidak diizinkan pergi oleh staf Kantor Pantauan Lalu Lintas kota, Diana diminta duduk tenang di sana, menunggu pihak kepolisian menjemputnya. Diana terus mengetik pesan di handphonenya, merencanakan hal yang sudah dia susun sebelumnya.
Drittt …
Pintu utama terbuka, terlihat seorang wanita tua yang berjalan dipapah oleh anak petugas kebersihan yang sebelumnya menyerang Diana, diikuti oleh dua orang yang tidak asing bagi Diana, mereka adalah orang tua Queenzee, Wena dan Fazran.
"Lihat, wanita tua ini kehilangan anak yang sangat dia cinta, dan aku kehilangan sosok ibu," ucap Aidil.
Perlahan Aidil menghapus air matanya. "Apa tujuan kamu kuliah di Fakultas kedokteran? Sedang kamu tidak menolong orang yang dalam bahaya, sedang kamu melihatnya. Terlebih dia dalam bahaya karena perbuatanmu?" Air mata Aidil menetes lagi.
"Kalau kamu tidak sengaja menabrak anakku, aku memakluminya, tapi kamu sengaja meninggalkannya dan tidak menolongnya, ini yang tidak bisa aku maafkan!" Ucap wanita tua yang ada dalam dekapan Aidil.
"Untuk apa kamu menjadi dokter? Kalau jiwa kepedulian tidak ada dalam dirimu?!" Teriak Aidil.
"Kamu tidak pantas menjadi dokter!" Maki Wena pada Diana.
Suara isak tangis, makian dan hinaan terus terdengar, keadaan menjadi kacau. Staf yang bekerja langsung meminta mereka semua untuk tenang.
__ADS_1
"Kalau kalian semua tidak bisa tenang, lebih baik kalian semua pergi!" Tegur petugas.
"Kakak, sebaiknya kita pulang dan persiapkan pemakaman Nazta, wanita yang menabrak Nazta sudah mulai memanen karmanya, bahkan saat ini keluarga Agung Jaya sudah mengumumkan pemutusan pertunangan penerus mereka dengan Diana."
Kedua mata Diana membulat mendengar kabar kalau pertunangannya dengan Ivan sudah berakhir.
Ceklak!
Pintu utama kembali terbuka, terlihat sosok Aridya yang memasuki kantor pantauan Lalu Lintas kota. Aridya mengabaikan tatapan mata yang tertuju padanya, dia hanya fokus memandang kearah Diana. Wena langsung mendekati Aridya.
Plak!!
"Apa kamu tidak pernah mengajarkan sopan santun pada anak tirimu itu?! Perbuatannya kali ini mengakibatkan seseorang kehilangan nyawanya!" Maki Wena.
"Sebagai ibu tiri, tugas Anda mendidik dan mengajarkan anak tiri Anda!" Sambung Aidil.
"Kalau kalian semua tidak bisa tenang, lebih baik kalian semua pergi dari sini!" Usir petugas lagi. Petugas itu menoleh pada Aridya. "Apakah Anda keluarga Diana?"
__ADS_1
"Iya, saya ibu tirinya," sahut Aridya.
"Dalam hal kecelakaan, sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) yang mengakibatkan orang lain meninggal Dunia, maka bisa dipidana 6 tahun penjara, kalau dari kasus Diana, bisa-bisa dia akan dikurung 7 tahun penjara."
Aridya bingung harus berkomentar apa, dari segala berita yang timbul, Diana sangat jelas menabrak orang itu. "Bisa saya minta waktu untuk berbicara dengan anak tiri saya Pak?"
"Silakan ibu."
Petugas memberikan waktu pada Aridya untuk berbicara dengan Diana. Aridya duduk di kursi yang tidak jauh dari Diana, pikirannya terus melayang tak tentu arah. Aridya menduga Diana sengaja menabrak petugas kebersihan yang merupakan keluarga Quenzee, pikiran Aridya Diana sengaja melakukan hal ini untuk membalas dendam pada perawat itu.
"Kasus kamu ini sangat berat dan sangat serius, Diana! Cepat kamu hubungi pengacara Nizam untuk membantumu."
Diana hanya diam, dia menatap Aridya penuh selidik, entah kenapa wanita ini tiba-tiba berubah baik padanya.
Melihat Diana tidak mengindahkan ucapannya, membuat Aridya kesal. Kasus ini bukan hal main-main, tapi Diana seperti tidak peduli, dan tidak takut sedikitpun.
"Kalau kamu tidak mau meminta bantuan pengacara Nizam, maka aku akan meminta bantuan Fredy untuk menyelesaikan kasusmu! Kalau Fredy yang menolongmu, maka kamu harus bersamanya!"
__ADS_1
"Apa kami terlambat?"
Seketika perhatian Diana dan Aridya tertuju kearah pintu.