
Dari atas Dillah tersenyum melihat indahnya pemandangan di bawah. Seorang wanita bersandar dengan nyamannya di dada seorang pria.
"Kalau melihat seperti itu, semua orang hanya tahu Nona Diana gadis lemah yang sangat manja, lihat raut wajahnya begitu ayu," ucap Farhan.
Dillah tidak merespon, dia terus tersenyum melihat kemesraan Tuan dan Nona Mudanya.
4 hellychopyer mendarat di pantai itu, melihat hellychopter tiba, Diana dan Ivan berjalan bersama menyambut semua anak buah mereka.
"Selamat datang di pulau pribadi Agung Jaya, lakukan apa saja yang kalian mau," ucap Ivan.
"Pulau ini sangat indah, ada apa saja di pulau ini Tuan?" tanya salah satu pegawai.
"Pulau ini berpenghuni, di sini sepi karena area pribadi, kalau kalian mau melilhat-lihat, tidak jauh dari sini ada pasar," jelas Ivan.
"Pasar? Aku ingin ke sana," ucap Diana.
"Ganti dulu bajumu, masa ke pasar pakai baju basah kuyup begitu." Ivan menoleh pada Dillah.
Dillah sangat faham apan maksud Ivan, dia segera memberikan tas jinjing yang berisi keperluan Ivan dan Diana.
Saat Ivan dan Diana keluar dari rumah itu dengan pakaian baru, mereka langsung pergi menuju pasar yang Ivan maksud. Setelah memasuki wilayah pasar itu, Diana sangat bahagia, sesekali dia beli jajanan yang di jual penduduk setempat. Diana dan Ivan berjalan bersama, sedang karyawan Agung Jaya yang lain berjalan dengan tujuan masing-masing.
"Selera makanmu tidak sesuai dengan bentuk tubuhmu," celoteh Ivan.
"Maksudmu?" Diana memicingkan kedua matanya.
"Badanmu kecil, tapi naffsu makanmu besar, entah berapa porsi makanan yang kamu habiskan, cumi, kepiting, udang, ya ampun ...."
"Mau?" Diana menawarkan cumi bakar yang dia nikmati. "Ini segar loh."
"Apa ini sehat?" Ivan merasa jijik dengan makanan yang Diana nikmati.
Diana mendekatkan ke mulut Ivan cumi bakar yang dia beli di pinggir jalan. "Cobalah, ini tidak kalah enak dengan seafood yang ada di Restoran."
Ivan menolak, tapi Diana tetap memaksa. "Selama kamu tidak mau mencoba kamu tidak akan pernah mengenal rasanya, sama seperti kamu yang dulu benci aku, sekarang kebalikannya."
Ivan memberanikan diri mencicipi makanan yang Diana nikmati. "Hmmm, enak! Manis dan ... hmmm." Ivan bingung mengibaratkan rasa yang dia nikmati. "Ini benar-benar cumi segar. Beda dengan yang biasa aku makan."
"Makanya coba dulu," ledek Diana.
__ADS_1
Merasa makanan Diana enak, Ivan ingin meminta lagi, tapi Diana tidak mau memberinya lagi.
"Aku mau lagi." Ivan berusaha merebut.
"Jangan, ini tidak terjamin kehigenisannya." Diana mempertahankan makanannya.
Dari kejauhan Anton tersenyum melihat tingkah Diana dan Ivan.
Brukkk!
Tidak jauh dari Diana ada seorang wanita yang pingsan. Orang-orang di sana pun segera menolong wanita itu. Diana mematung melihat hal itu, selain wanita yang pingsan, perhatian Diana tertuju pada seorang wanita yang memangku wanita pingsan itu. Baik wanita yang pingsan dan yang memangku, keduanya sama-sama dalam keadaan yang tidak baik.
Pingsannya seseorang, menarik semua perhatian, hingga mereka berkerumun untuk mencari tahu.
"Ada apa?"
Pertanyaan Ivan membuyarkan lamunan Diana.
"Ada yang pingsan." Pandangan Diana masih tertuju ke arah dua wanita itu.
"Kenapa diam saja, tugasmu menunggumu," ucap Ivan.
"Dia siapa mu?" tanya Diana.
"Dia Kakakku."
"Tenang saja, Kakakmu akan baik-baik saja." Diana menoleh pada Ivan. "Apakah di sini ada klinik kesehatan?"
"Ada." Ivan menunjukan arah klinik yang ada di pulau itu.
"Kita bawa ke sana," ucap Diana.
Mereka semua membawa wanita pingsan itu ke klinik terdekat.
Diana mendekati adik dari wanita yang pingsan itu. "Kamu berbaring dulu di dekat Kakakmu, sambil menunggu dokter yang bertugas di sini," ucap Diana.
Adik wanita yang pingsan itu menurut, karena dia benar-benar lelah. Melihat dua wanita lemah yang terbaring, Diana segera keluar menemui Ivan dan yang lainnya.
"Bagaimana Diana?" tanya Ivan.
__ADS_1
"Keadaan dua wanita itu cukup parah, mereka harus segera di operasi."
"Bagaimana melakukan operasi di klinik yang tidak memiliki peralatan yang lengkap?" sela Anton.
"Apakah tidak bisa meninggalkan mereka di sini? Bukankah tugas kita sudah selesai membawanya ke sini?" sela pegawai Ivan.
"Iya, jangan rusak waktu liburan kita hanya demi orang asing," sela yang lain.
"Aku seorang dokter, bagaimana bisa aku meninggalkan dua orang yang sekarat demi senang-senangku?" Diana menoleh pada Ivan. "Bisa bantu aku membawa dua wanita itu ke Rumah Sakit pusat?"
"Kenapa harus ke Rumah Sakit? Bukankah di sini Anda bisa menolong mereka? Anda adalah dokter bedah yang sangat hebat, hanya dengan selongsong pena saja mampu menyelamatkan nyawa orang lain," ucap Farhan.
"Lebih aman jika aku melakukannya di Rumah Sakit Healty and Spirit!"
"Tapi Rumah Sakit bukan solusi yang baik, Nona. Bagaimana kalau dua orang ini adalah penjahat? Yang ada nama kita ikut tercemar karena menolong penjahat, kalau ingin menolong sebaiknya di sini saja," usul Farhan.
"Aku tidak mau mengambil reseko, aku melakukan pertolongan dengan benda seadanya karena saat itu benar-benar darurat, kalau saat ini Rumah Sakit dekat, akses ke Rumah Sakit juga mudah."
Ivan menangkap gelagat yang mencurigakan dari Farhan, diam-diam Ivan mengambil foto dua orang sakit itu, lalu dia kirim pada pengawalnya yang menjaga pulau ini. Ivan menanyakan dua wanita itu.
*Itu dua wisatawan yang baru datang, Tuan.
Pengawal memberikan data diri mereka yang terdaftar.
Mengetahui itu pelancong, bukan penduduk sekitar, Ivan semakin curiga. Ivan mengirim data-data dua wanita itu pada Narendra, Ivan meminta Narendra untuk mencaritahu tentang 2 wanita itu.
Seorang laki-laki mengenakan jas putih berjalan cepat kearah Ivan dan yang lain. Saat itu Diana masih memunggungi laki-laki berjas putih itu.
"Klinik kesehatan kami masih belum canggih, sedang dua wanita di dalam memiliki masalah serius dengan paru-parunya. Sebaiknya secepatnya bawa mereka ke Rumah Sakit besar, di sana tenaga medis banyak, peralatan juga canggih," ucapnya.
Diana berbalik. "Ini juga yang sedang kami bahas dok."
"Dokter Rahma? Mimpi apa aku bisa bertemu Anda di sini?"
Saat dokter itu ingin mendekati Diana, Ivan pasang badan menghalangi dokter itu. "Siapkan surat-surat dan hellychopter medis, nyawa dua orang itu dalam bahaya, bukan?"
"Baik, Tuan." Dokter itu menepiskan keinginanya untuk menjabat tangan dokter hebat yang sering menjadi pembahasan di kalangan pejuang medis.
Melihat dua wanita itu akan di bawa ke kota, Farhan sangat gelisah, apalagi saat ini Ivan memihak Diana.
__ADS_1