Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 37 Cek


__ADS_3

Semangkok bubur menemani sarapan pagi Ivan dan Diana. Diana terlihat cantik dalam balutan pakaian sehari-harinya dengan gaya kesederhanaanya, baju lengan panjang dan celana kain panjang, sedang Ivan sangat menawan dengan setelan jas lengkap yang menjadi seragam dinasnya bekerja setiap hari.


“Sudah minum obatmu?” tanya Ivan.


Diana menganggukan kepalanya, menjawab pertanyaan Ivan.


“Mau ku antar ke kampus?”


Diana mengetik jawaban untuk Ivan.


^^^Terima kasih, tapi aku sudah memesan taksi online.^^^


Keduanya pun segera berangkat, Ivan menuju kantornya, sedang Diana menuju kampusnya menaiki taksi online.


Sesampainya di kampus, seorang Wanita paruh baya berdiri di depan gerbang Universitas Bina Jaya. Kala dia melihat Diana turun dari taksi, dia tersenyum dan segera menghampiri Diana.


“Selamat pagi, Nona Diana. Apa Anda mengenali saya?”


Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia sangat mengenali Wanita itu. Dia adalah Kepala pelayan yang ada di rumah Kakek Agung.


Daima tersenyum. “Baguslah kalau Anda masih mengenali saya. Oh ya, saya di utus Nyonya Rani untuk menjemput Anda, beliau menunggu Anda di ruangan perawatannya.”


Diana membuang napasnya kasar, lagi-lagi dirinya harus ketinggalan kelas. Diana segera mengikuti Wanita itu masuk kedalam mobil, saat di dalam mobil, Diana meminta izin pada dosennya yang mengajar hari ini. Beruntung yang mengisi mata kuliah hari ini Profesor Russel, dia sangat memahami kesibukan Diana.


Sesampai Di depan ruang perawatan Rani, Daima tidak ikut masuk ke dalam, dia duduk di salah satu kursi yang berjejer di sisi pintu kamar. Sedang Diana diminta Daima untuk langsung masuk. Saat Diana memasuki ruang perawatan Rani, terlihat Rani menatapnya dengan sorot mata yang penuh kebencian, di samping Rani ada kakek Agung yang memandangnya dengan sorot mata yang penuh harap. Diana bingung dengan apa yang dia lihat saat ini.


“Cabut laporan kamu pada perawat itu dan pada Veronica!” Suara Rani menggema di ruangan itu.


Diana menundukan pandangannya, menatap kedua telapak tangannya yang dibalut perban. Jangankan menanyakan keadaannya, bahkan mereka mengabaikan luka yang disebabkan Quenzee dan Veronica. Bukan meminta belas kasihan Rani, tapi mengisyaratkan perbuatan dua orang itu sudah terlampau batas.


Rani tersenyum kecut melihat kedua telapak tangan Diana yang diperban. “Luka di tanganmu itu hanyalah luka kecil Diana! Lukamu itu tidak berarti apapun!”


Hinaan dan kata-kata pedas sudah biasa bagi Diana apalagi diabaikan seperti ini, dia tetap terlihat tegar menghadapi Rani.


Kakek Agung sedari tadi diam, terlihat dia berulang kali menghela napasnya begitu dalam. Bahkan setiap helaan napasnya terasa begitu berat.


“Diana, antara keluarga Agung Jaya dan keluarga Kesuma, juga keluarga Harisons sangat dekat. Bukan Cuma itu, bahkan hubungan perusahaan kami sangat erat. Keluarga Kesuma adalah keluarga Veronica. Keluarga Harisons adalah keluarga perawat itu, dan mereka juga salah satu mitra bisnis Agung Jaya. Kakek sangat berharap kamu mencabut tuntutan kamu pada Veronica dan Quenzee, Diana. Jangan sampai masalah yang timbul dari generasi muda seperti kalian mengakibatkan kerenggangan pada hubungan tiga keluarga ini. Yah ... kalian semua masih sangat muda, kakek memaklumi setiap gesekkan yang terjadi diantara kalian. Tapi kakek sangat berharap, jangan bawa masalah ini ke pengadilan. Pengaruhnya sangat buruk untuk kelangsungan kerjasama perusahaan kami, Diana.”

__ADS_1


Diana mulai mengetik jawabannya.


^^^Tanpa mengurangi homatku pada kakek, maaf kek, aku tidak akan mencabut tuntutanku. Selama ini aku diam, aku harap Veronica bosan mencari gara-gara denganku karena aku tidak melawannya. Dia selalu bebas dari tuntutanku bukan karena dia tidak bersalah, hanya saja aku berharap dia sadar, kalau dia mengganggu orang yang salah. Tapi dia tidak pernah menyadari, bahkan dia tidak pernah berhenti menggangguku. Semakin aku diam, dia semakin gencar menggangguku. Kali ini aku tidak bisa diam lagi dan aku akan tetap melanjutkan kasus ini.^^^


Rani turun dari tempat tidurnya. "Apa yang kamu cari dengan bersikeras membawa kejadian ini ke ranah hukum?!"


Rani teringat sesuatu yang dia sediakan sebelumnya, Rani mendekati Diana. Dia memberikan cek dengan nominal yang sangat besar ke tangan Diana. "Ini 'kan yang kamu cari?"


"Ambil ini! dan segera cabut tuntutanmu!”


Diana tersenyum dingin melihat Rani memberikan cek padanya. Dengan santai Diana merobek kertas cek yang Rani berikan padanya. Diana melempar sobekkan kertas cek itu ke udara, sobekkan kertas itu melayang di udara hingga sobekkan cek itu mendarat berserakan di lantai. Diana mengambil sesuatu dari tasnya, ternyata itu buku cek. Diana menulis nominal 10 kali lebih besar daripada nominal yang tertera dalam lembaran cek Rani. Diana menandatangani ceknya, perlahan melepaskan lembaran cek itu dan memberikannya pada Rani. Senyuman dingin masih menghiasi wajah Diana, setelah memberikan ceknya pada Rani, Diana segera pergi dari ruangan Rani.


Mata Rani membulat sempurna saat melihat Nominal yang tertera pada cek yang Diana berikan padanya, yang 10 kali lebih besar dari lembaran cek yang disobek Diana. “Argggggtttt!” Rani sangat kesal dengan balasan Diana. Dia sangat ingin meluapkan kemarahannya pada mertuanya. Tapi tidak tahu harus protes dari mana.


****


Di sisi lain ….


Fazran dan Wena baru keluar dari kantor kepolisian, mereka berdua memenuhi panggilan penyidik tentang kasus yang menyeret putri mereka. Saat sampai di parkiran, mereka bertemu Veronica bersama seorang Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Tapi kecantikannya seakan lenyap oleh kobaran api emosi yang menyala yang jelas terlihat di wajahnya. Wena tidak peduli tatapan wanita yang bersama Veronica, dia tetap menghampiri Veronica.


“Gara-gara kamu mengganggu anak kami, dan memintanya melakukan perbuatan kriminal, kini anak kami harus menanggung segalanya, dia terkapar tak berdaya, kehilangan pekerjaan, dan sebentar lagi namanya akan tercoreng!”


Entah percaya akan pembelaan Wanita itu, atau malas berdebat. Wena dan Suaminya memilih pergi dari sana.


“Mama ….” Rengek Veronica begitu manja.


Wanita itu mendengus kesal, perbuatan Veronica kali ini sangat berat, hingga dirinya tidak mampu menangani sendiri kasus yang menjerat putrinya. “Pakai otakmu dengan benar Ver! Bukan emosimu! Kini mama harus meminta bantuan papamu untuk menyelamatkan kamu dari kasus ini. Saat ini mama hanya bisa menjamin kebebasan sementara untukmu. Semoga papamu bisa menerima panggilan, saat ini dia sibuk rapat di luar negri.” Terlihat ibu Veronica menekan panggilan ke sebuah nomor.


Tuttttt!


“Ada apa Mayesta? Kenapa kamu meneleponku? Kau tahu sendiri ini jadwalku rapat.”


“Papa, Veronica tersandung hukum lagi,” adunya.


“Berulah lagi anak itu! Ck!”


“Ini sangat serius papa, mama tidak bisa menanganinya sendiri. Cepat pulang ya pah ….”

__ADS_1


Ibu Veronica menyimpan kembali handphonennya.


“Bagaimana ma?” Veronica sangat ketakutan.


“Tenang sayang, papa akan pulang secepatnya dan membereskan semua masalah.”


***


Wena dan Fazran sampai di ruang perawatan putri mereka, melihat keadaan Quenzee yang sangat memprihatinkan membuat darah Wena kembali mendidih. Wena menarik suaminya agar keluar dari ruangan putrinya.


“Kita harus membalasnya pah!” ucap Wena lantang.


“Membalas dengan apa?” Fazran bingung.


“Papa adalah pemegang perusahaan terbesar di Agung Jaya. Kita temui Fredy, CEO Edge Group, kita bawa proyek dan semua saham kita ke perusahaan mereka, dan tinggalkan Agung Jaya, karena mereka tidak mau diajak berdamai!”


"Agung Jaya akan hancur karena kehilangan pendukungnya," ucap Wena bangga.


"Tapi membawa saham ke perusahaan lain juga ada prosedur."


"Bagaimanapun caranya, papa harus tinggalkan Agung Jaya! Biar mereka semua jera, papa."


***


Dari belahan kota yang lain ….


Aridya dan Nazif ingin makan siang bersama di sebuah Restoran mewah. Terlihat beberapa mobil melaju pelan, karena banyak tamu yang ingin turun atau ingin pergi karena selesai makan dari Restoran itu. Sehingga tepat di depan pintu utama Restoran tampak terlihat sibuk.


"Nazif, kita langsung ke parkiran saja, tidak perlu menurunkan mama di depan pintu utama," ucap Aridya.


Nazif pun mencari parkiran kosong yang tidak jauh dari pintu utama. Mobil yang Nazif kendarai berhenti sempurna di sebuah parkiran, namun keduanya masih berdiam dalam mobil, Aridya terlihat membenahi dandanannya. Dia ingin terlihat sempurna, karena tamu restoran itu biasa di datangi oleh tamu-tamu dari kalangan elit semua.


Keadaan di depan Restoran mulai lengang, beberapa tamu yang ada di depan mereka sebelumnya sudah masuk kedalam Restoran. Hingga pandangan Aridya sangat jelas melihat keadaan di depan pintu utama Restoran. Seketika pandangan Aridya tertuju pada seorang laki-laki yang mempunyai pangkat khusus di kotanya, dia adalah Abimayu, seorang Rektor dan kepala Rumah Sakit Healty and Spirite.


Tidak lama, sebuah taksi berhenti di dekatnya, Abimayu terlihat begitu bahagia, dan menyambut orang itu dengan santun, juga terlihat begitu menghormati sosok yang turun dari taksi. Aridya semakin dibuat penasaran dengan sosok wanita yang baru turun dari taksi itu. Wanita seperti apa yang membuat orang besar seperti laki-laki yang berdiri di sana. Laki-laki itu terlihat seperti punya kekuasaan dan pangkat, tapi laki-laki itu sangat menghormati wanita yang baru turun dari taksi.


Saat taksi itu melaju, Aridya dengan jelas melihat sosok yang di sambut seorang tokoh yang seperti orang besar. Dia ingin sekali menganggap apa yang dilihatnya hanya sebuah mimpi, bahkan sangat mustahil jika ini mimpi, karena terlalu 'Wah!'

__ADS_1


Kenapa orang besar itu menyambut Diana? Apakah Diana seistimewa itu? Gerutu hatinya.


Walau Aridya belum mengenal siapa laki-laki itu, tapi dari penampilannya sangat jelas laki-laki itu bukan orang sembarangan.


__ADS_2