
Melihat Diana mulai tenang, Ivan memulai penjelasannya. “Aku tidak tahan melihat kebencian Lucas padamu, dia telah menyebar banyak hoax tentangmu, dan selalu menjelek-jelekan dirimu."
"Itu bukan hal baru dalam hidupku, setiap fase yang aku lewati tidak sunyi dari kebencian orang-orang padaku, hoax, dan fitnah," sela Diana.
"Iya, aku tahu. Bahkan aku salah satu orang yang pernah menghinamu."
Diana dan Ivan diam dan hanyut dengan peraduan tatap mata mereka.
"Aku tidak memaksa semua makhluk di bumi ini untuk menyukaimu, tapi aku tidak bisa menerima jika seseorang membenci tanpa alasan," ucap Ivan lembut.
Berulang kali Ivan mengatur napasnya. "Aku ingin tahu kesalahan apa yang kamu buat hingga Lucas sebenci itu padamu, hingga aku menemukan fakta, kalau kamu adalah pahlawan kehidupan Lucas, tidak adil bagi dirimu dan juga Lucas kalau kesalah fahaman Lucas terus berlanjut. Akhirnya aku mengajaknya bertemu tadi malam, dan memberikan semua bukti pertolonganmu padanya.”
“Kamu sudah tahu tentang masa lalu Lucas?”
“Iya, aku tahu,” sahut Ivan.
“Ku mohon, rahasiakan cerita masa lalu Lucas, jangan sampai cerita masa lalunya tersebar. Cerita kehidupan kecil Lucas bukan masa kecil yang indah."
Ivan sangat tidak mengerti tentang Diana. Tidak ada dendam sedikitpun yang tertuju pada Lucas. “Ternyata Lucas yang telah mengambil fotomu saat kamu dibius, dan dia juga yang menyebarkannya, kamu tidak ingin membalasnya?”
“Aku tahu kalau itu perbuatan lucas, selama dia puas. Maka aku biarkan saja.”
“Ini tidak adil untukmu Diana. Kamu memberinya cinta dan kasih sayang, sedang dia menghujanimu dengan kebencian.”
“Aku mau cuci tangan dulu, makanan mulai dingin.” Diana sengaja merubah pembicaraan mereka.
“Kenapa kamu terlalu baik Diana? Kamu selalu memikirkan orang lain, tapi melupakan dirimu sendiri,” ucap Ivan.
Diana masih mencuci tangannya dibawah guyuran air kran. “Berada dalam keterpurukan itu sakit, selama aku bisa membantu, aku ingin membantu siapa saja yang aku temui.”
Diana mengambil piring dan memindahkan makananya kedalam piring. Dengan santainya dia menikmati sarapan paginya tanpa memedulikan keberadaan Ivan.
Ivan berjalan mengambil piring untuknya dan mulai memindahkan makanannya. “Diana ada kegiatan hari ini?”
Diana menggelengkan kepalanya.
“Setelah sarapan, bersiaplah. Aku akan membawamu ke suatu tempat.”
**
__ADS_1
Setelah menghabiskan sarapan mereka, keduanya bersiap menuju tempat yang Ivan maksud. Mobil Ivan dikemudikan seorang supir, Ivan dan Diana duduk berdampingan di kursi belakang.
Kekesalan Diana pada Ivan belum hilang, dia malas menoleh pada Ivan. Lamanya perjalanan membuat Diana merasa ngantuk, akhirnya kedua matanya terpejam rapat.
“Diana.”
Panggilan lembut itu diiringi dengan tepukan pelan yang mendarat beberapa kali di pundak Diana. Akhirnya kedua mata Diana terbuka.
“Kita sudah sampai,” ucap Ivan.
Diana langsung melihat keadaan di sekitar. Sebuah Kastil yang dikelilingi padang rumput yang luas menyapa kedua matanya. Di kedua sisi kastil itu ada sebuah lapangan untuk berkuda. Melihat banyak kuda di sana, Diana sangat tertarik, dia segera keluar dari mobil dan berlari mendekati salah satu kuda. Diana mengusap lembut bagian leher kuda itu.
Ivan tersenyum melihat kebahagiaan dan semangat yang terpancar dari wajah Diana.
“Selamat datang Tuan.”
Sapaan itu membuyarkan perhatian Ivan yang tertuju pada Diana. Ivan segera berjabat tangan dengan seseorang yang menyapanya.
"Apa kabar Pak Jo?" tanya Ivan.
"Saya baik, Tuan."
Merasa dipanggil Ivan, Diana menyudahi kesenangannya. Dia segera melangkah kearah Ivan dan beberapa orang yang keluar dari kastil.
“Anda datang bersama tunangan Anda rupanya,” ucap Pak Jo, dia memandang kearah wanita yang berjalan kearah mereka.
“Ada apa?” tanya Diana.
“Diana, perkenalkan, dia adalah Pak Joyga, dia adalah kepala pelayan di kastil ini.” Ivan memperkenalkan laki-laki tua yang berdiri di dekatnya.
Diana tersenyum menyapa laki-laki itu.
“Kalau yang dua ini, aku tidak perlu memperkenalkannya, ku rasa kamu masih ingat,” gerutu Ivan.
“Kenapa ada Nicholas dan Yudha? Kalian mengenal Nicholas?” sela Diana.
“Nicholas adalah sepupu Shady, dia menitipkan Nicholas padaku,” sahut Yudha.
“Shadynya kemana?” tanya Diana lagi.
__ADS_1
“Owh, Shady dia kembali ke luar negri untuk menenangkan diri, dia ada sedikit masalah dengan Veronica,” terang Nicholas.
Ivan sangat tidak suka melihat Diana seramah itu pada laki-laki lain. “Pak Jo, apa kuda kesayanganku sudah siap?” Ivan sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
“Tentu saja Tuan, semua sudah saya siapkan sesuai titah yang Tuan minta.” Pak Jo langsung bersiul, sesaat kemudian beberapa orang keluar membawa dua ekor kuda, dan salah satu kuda adalah kuda kesayangan Ivan.
“Nama kuda itu Scout, dia tidak mau ditunggangi siapapun selain Tuannya.” Pak Jo mengisyarat salah satu kuda.
Ivan tersenyum dan mengelus kudanya. Diana juga mengelus kuda yang satunya.
Ntin! Ntin!
Suara klakson mobil yang terdengar menyita perhatian Ivan, saat dia menoleh kearah mobil yang datang, senyuman bahagia kembali menghiasi wajah Ivan.
“Kak Angga!” Ivan melepaskan kudanya dan berlari kearah kakaknya yang datang bersama seseorang.
Diana tersenyum melihat Angga sudah kembali. Perhatian Diana tertuju pada kuda kesayangan Ivan, dia mengelus lembut kuda itu, perlahan dia menaikinya, dan kuda itu patuh pada Diana. Tidak ada yang menyadari kalau Diana menaiki kuda Ivan dan menjelajah lapangan hijau bersama. Perhatian semua orang tertuju pada Ivan dan Angga yang masih saling berpelukan.
“Seingatku, kamu dan Diana kuliah di Universitas yang sama bukan?” tanya Yudha pada Nicholas. Tapi pandangan mata mereka masih tertuju kearah Angga.
“Iya, kami kuliah di Universitas yang sama, dan Diana adalah Mahasiswi popoler di kampus.”
“Oh ya?” Yudha sangat terkejut mengetahui hal itu.
“Tapi banyak orang tidak berani berbicara dengan Diana, Diana memang cantik, tapi kadang dia seperti singa.”
Yudha tertawa mendengar cerita Nicholas. “Itu lebih untung, aku saat pertama kali bertemu dengannya aku jualan kacang.” Tawa Yudha lepas teringat momen itu. “Sekuat apapun aku mengajaknya bicara, Diana seolah tidak melihatku.”
“Dia unik, tapi aneh," gerutu Nicholas.
"Seseorang yang istimewa, saat keistimewaannya masih tersembunyi, orang itu selalu dipandang aneh," sahut Yudha.
"Kamu yakin Diana istimewa? Memangnya darimana dia berasal?” tanya Nicholas.
“Dia dari desa,” sahut Yudha.
“Owh … dari desa?” nada ucapan Nicholas sangat mengejek. “Strategi Diana menjadi tunangan Ivan sangat bagus, dengan menempel pada Ivan, maka ketenaran mudah dia dapatkan. Tidak menutup kemungkinan, dia bisa masuk Universitas Bina Jaya karena bantuan keluarga Agung Jaya.”
Yudha sangat kesal mendengar penilaian Nicholas terhadap Diana. “Kamu salah besar, Diana bisa masuk Universitas Bina Jaya karena usaha dan kemampuannya sendiri. Nilai matematika Diana mendekati sempurna, bahkan Diana bisa mengerjakan laporan keuangan perusahaan Ivan dalam waktu 30 menit!”
__ADS_1
Nicholas sangat terkejut mendengar cerita Yudha. Pak Jo juga terlihat syok, dia tidak menyangka Ivan melibatkan Diana sedalam itu dalam bisnis keluarga Agung Jaya.