
Acher teringat, semua obat yang tersimpan di Laboraturium mereka memiliki kode khusus, dan salah satu kebiasaan buruK Tony adalah menuliskan namanya pada obat yang dia temukan.
"Bukankah obat yang Diana minta, adalah obat yang kamu dapatkan?" Wajah Archer terlihat panik.
"Yup, benar sekali, obat itu adalah hasil perjuanganku."
"Artinya ada namamu di obat itu?" Archer semakin panik.
"Ya ...." Tony menjawab sangat santai.
"Mampuss! Bagaimana kalau Agen kita menyerahkan obat itu pada Ivan?"
"Agen kita pasti akan melepas label namaku sebelum membawa obat itu keluar dari lab," sahut Tony.
Archer mengetik cepat menanyakan obat itu pada utusannya.
*Pak, apakah masih ada nama Tony di tabung obat yang Bapak bawa
Tink!
\=Saya lupa memeriksanya ketua.
Archer semakin panik, karena menurut laporan sebelumnya, Ivan yang menerima obat itu. Archer langsung menelepon Diana. Tidak menunggu lama, panggilannya diangkat Diana.
"Obat sudah kamu terima, Diana?"
"Sudah, Guru."
"Ada nama Tony di sana?"
"Sebentar aku cek."
Detak jantung Archer melambat menunggu jawaban Diana.
"Guru."
"Iya, bagaimana Diana?"
"Label pada tabung obat sudah dikoyak."
Archer sangat lega mendengar jawaban Diana. "Baguslah kalau begitu, obat itu keberhasilan Tony, biasanya ada nama Tony di setiap hal yang berhasil dia dapat."
"Ada masalah Guru?"
"Tidak ada, Diana. Fokuslah pada operasimu."
Setelah menyudahi sambungan teleponnya, Archer menghembuskan napas lega. Dia memandang kearah Tony.
“Tony, mulai sekarang sebaiknya kamu merubah kebiasaan burukmu yang selalu menempelkan namamu di setiap keberhasilanmu. Tidak semua prestasi yang digapai untuk dipamerkan, contohlah Diana, dia memiki banyak prestasi, tapi semua itu satu pun tidak dia pamerkan."
__ADS_1
"Aku bukan pamer, Ketua. Tapi ada semangat yang menyala melihat namaku di setiap bukti peejuanganku."
"Bukan aku mengganggu kesenanganmu, Tony. IMO hanyalah kumpulan manusia, bukan dewa. Kesalahan dan kecerobohan mungkin saja terjadi nanti, andai lab kita kecolongan, setidaknya identitas semua anggota tidak bocor,” usul Archer.
“Aku merasa puas jika menyematkan namaku pada obat sebagai kode kalau itu jerih payahku, karena aku yang mendapatkan obat itu, apa salah aku mengukir namaku di sana?”
“Tidak salah, Tony. Hanya saja berjaga-jaga itu penting. Sebaiknya kamu menggunakan kode khusus seperti Anggota yang lain."
Tony terlihat kesal karena Archer mengusulkan agar dia memakai kode lain, bukan namanya.
“Saat ini identitas Diana tidak aman, karena orang yang mencari IMO berhasil mendapatkan data dirimu, tolong Tony lebih berhati-hati demi keselamatan semua Anggota. IMO bukan gangster atau sebuah kelompok kriminal, tapi IMO oganinsasi yang sangat membuat orang penasaran.”
“Iya, semua ini salahku, lebih baik aku juga segera pergi dari sini sebelum kalian semua celaka karena kecerobohanku!” Tony masuk ke dalam kamar dan mulai membereskan barangnya.
“Setiap orang wajar melakukan kesalahan, Tony. Dan belajar dari kesalahan itu perlu, bukan marah, atau baper jika seseorang menunjukan kesalahanmu, tapi perbaiki dan benahi.”
“Maafkan aku Ketua, aku sangat tertekan dan merasa bersalah.”
Melihat Tony mulai tenang, Archer mengajaknya berdiskusi tentang tempat persembunyian berikutnya.
**
Flas Back di Rumah Sakit.
Ivan masih memandangi botol obat yang dia pegang.
“Obat apa itu?”
“Ini obat untuk Kakakku, jadi aku harus segera memberikannya pada perawat yang menangani kakakku.” Kilah Ivan.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Yudha.
Ivan memperlihatkan sekilas bagian botol obat itu. "Sudah ya, obat ini tengah di tunggu." Ivan berjalan sendirian menuju ruang perawat yang bertugas, bermacam pikiran terus berputar di kepalanya.
Siapa sesungguhnya kamu Diana? Kenapa kamu sangat mudah mendapatkan obat langka yang mengandung 779 kandungan inti dari berbagai bahan ini? Obat T779 ini belum rilis, obat ini adalah barang yang sangat berharga, hanya ada di pusat penelitian obat tertinggi di negara ini. Siapa sesungguhnya dirimu, Diana?
Ivan tenggelam dalam semua pemikirannya, hingga dia sampai di ruang perawat. Ivan meminta perawat itu memberikan obat yang dia berikan pada Diana.
"Jika Diana bertanya siapa yang memberikan obat ini, katakan seorang laki-laki tua, jangan katakan kalau aku, karena aku menerimanya di depan dari seorang laki-laki tua," pesan Ivab pada perawat yang menerima obat itu.
Setelah memberikan obat itu, Ivan segera bergabung kembali dengan yang lainnya.
“Obat lagi obat lagi, apa kejadian sebelumnya tidak membuatmu jera Van? Kita semua berada di sini karena obat dari Diana, dan sekarang kamu mempercayainya lagi,” gerutu Nicholas.
“Aku masih penasaran dengan obat tadi Van,” sela Yudha.
“Akal-akalan Diana, Ivan masih saja percaya,” dumel Nicholas.
“Diam kau Nicholas! Sedari tadi mulutmu terus menyalahkan Diana! Asal kamu tahu obat yang berhasil Diana dapatkan bukan obat sembarangan, obat itu adalah hasil dari penelitian dari Laboraturium penelitian obat tertinggi di Negara ini, jika Kakakku mengkonsumsi obat itu maka dia merasakan sendiri keajaiban obat itu!”
__ADS_1
“Halah, itu hanya bualan Diana saja, supaya kamu percaya,” gerutu Nicholas.
Ivan mencengkram krah baju Nicholas. “Kalau boleh aku katakan, obat yang barusan ku dapat lebih berharga dari nyawamu!”
Ngekkk!
Nicholas menelan salivanya, sorot mata Ivan sangat menakutkan, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
“Obat yang barusan ku terima, 100 kali lipat lebih mahal dari obat termahal yang keluar dari perusahaanku!”
“Obat T779?” sela Yudha. Yudha tahu jenis obat itu yang sangat mahal.
Ivan melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh Nicholas agar menjauh darinya.
“Iya, obat T779,” sahut Ivan.
“Bukankah itu obat sangat langka? Bagaimana Diana mendapatkannya?” tanya Yudha.
“Aku tidak tahu, dan aku tidak mau mencari tahu, yang aku mau saat ini Kakakku selamat.” Ivan memandangi pintu ruangan operasi.
Menit demi menit berlalu tidak terasa jarum jam menunjukan pukul 5 pagi. Rasa Lelah dan letih menunggu di luar ruangan operasi tidak terasa lagi, perasaan dan pikiran Ivan hanya tertuju pada Diana dan Angga.
“Ivan, lampu ruangan operasi sudah dipadamkan,” ucap Yudha.
Mereka semua berjalan mendekati pintu ruang operasi, tidak berselang lama dua orang dokter dan dua perawat keluar dari pintu itu sambil mendorong ranjang yang ditempati Angga.
Ivan dan yang lain ingin mengikuti mereka membawa Angga ke ruangan lain. Tapi di tahan oleh salah satu dokter.
“Untuk sementara anggota keluarga atau teman dilarang menemani pasien, biarkan pasien beristirahat sementara waktu.”
Setelah berkata demikian, dokter itu kembali melanjutkan langkahnya mengantar Angga ke ruangan lain. Saat yang sama, Diana keluar dari ruangan operasi dengan beberapa perawat.
“Setelah keluarga Pasien ada di ruang perawatan Angga nanti, tolong kalian jelaskan apa saja yang harus diperhatikan mereka, jelaskan secara rinci,” pinta Diana pada dua perawat yang ada bersamanya.
“Baik dok,” sahut keduanya.
“Keluarga pasien ada di sini, kenapa tidak kamu katakan langsung padaku?” ucap Ivan.
Diana memberi isyarat pada dua perawat yang bersamanya agar melakukan tugas mereka, setelah perawat itu pergi, Diana mendekati Ivan.
“Aku bukan tenaga ahli, aku tidak bisa menjelaskan dengan Bahasa medis yang benar, sebab itu aku berpesan pada dua perawat, ku rasa nanti ayah dan ibumu yang menjaga Angga sebab itu mereka yang harus memperhatikan keadaan kak Angga nanti. Mereka tidak akan mendengar kata-kata yang aku ucapkan, tapi kedua orang tuamu akan mendengarkan jika perawat itu yang mengatakan.”
“Apa tadi Angga baik-baik saja?” sela Nicholas.
“Operasi berhasil dan keadaan Kak Angga mulai membaik,” sahut Diana.
“Aku meragukan hal itu,” ledek Nicholas.
“Hanya orang yang tidak punya otak yang meragukan kemampuan Diana!” ucap Ivan tegas.
__ADS_1
Ivan mengabaikan Nicholas, dia kembali menoleh pada Diana. “Berjam-jam kamu berjuang menyelamatkan Kakakku di ruang operasi itu, ayo ikut aku.” Ivan meraih tangan Diana dan membawanya pergi dari sana.