
Karena keadaan Diana yang mengkhawatirkan, seharian ini Ivan berpindah tugas, dia menjalankan semua pekerjaannya di Apartemen bersama Barbara dan Yudha. Sedang Diana menghabiskan waktunya di dalam kamarnya.
Matahari kini sudah tenggelam, kemerlipan bintang terlihat menghiasi langit malam.
Tok! Tok! Tok!
Ivan mengetuk pintu kamar Diana. Perlahan daun pintu itu bergerak, dan tampaklah Diana dengan raut wajah lelahnya.
"Aku ingin ke Rumah Sakit, aku ingin melihat keadaan ibu, juga menjenguk nenek Zunea. Lebih baik kau ikut, biar sekalian mengganti perbanmu."
Diana menyetujui usul Ivan, keduanya pun pergi menuju Rumah Sakit Healthy And Spirit. Mobil Ivan berhenti di basement Rumah Sakit.
Diana dengan cepat mengetik kata pada handphonenya.
^^^Lebih baik Anda langsung menemui Nyonya Rani atau nenek Zunea, aku bisa melakukan sendiri keperluanku.^^^
"Kamu yakin?" Ivan memastikan.
Diana menganggukkan kepalanya.
Keduanya berpisah, karena tujuan mereka berbeda. Diana akan mengganti perbannya, sedang Ivan segera menuju ruangan nenek Zunea, di sana hanya ada ibu Yudha.
"Keadaan nenek semakin membaik, Van."
"Baguslah tante, kalau begitu saya langsung ke ruangan ibu saya," pamit Ivan.
Sesampai di ruang perawatan ibunya. Terlihat dua orang yang berbicara dengan ibunya. Ivan dengan santai masuk keruangan ibunya dan mendengarkan pembicaraan mereka. Ivan mengenali laki-laki yang datang bersama istrinya. Mereka adalah keluarga Harisons, mereka memiliki Afiliasi dengan perusahaan Ivan.
"Selamat malam Tuan, Ivan." Laki-laki itu menyalami Ivan.
"Selamat malam, Tuan Fazran." Ivan menyambut uluran tangan mitra bisnisnya itu.
"Maaf Tuan Ivan, saya datang ke sini karena urusan pribadi."
Ivan memberi isyarat, kalau dia memahami maksud Fazran.
"Kami orang tua Quenzee. Anak kami salah satu perawat di Rumah Sakit ini, dan putri kami Quenzee adalah korban kekerasan Diana."
Mengetahui kedatangan dua orang yang ada di ruangan ini karena Diana, membuat emosi Rani meledak. "Diana lagi! Diana lagi! Kenapa anak itu sangat suka menimbulkan masalah!"
"Entahlah Nyonya, saat ini anak kami terluka parah." Istri Fazran mulai menceritakan kejadian yang meninpa putrinya Quenzee, walau sangat dia lebih-lebihkan.
Rani sangat geram mendengar cerita penyerangan yang dilakukan oleh Diana.
"Tapi, Diana juga terluka. Kini kedua telapak tangannya terluka karena ulah putri kalian," bela Ivan.
__ADS_1
"Luka yang dialami Diana masih tidak sebanding dengan cedera yang dialami anak kami!" sela Fazran.
"Anak kami harus dirawat intensif di Rumah Sakit ini, sedang Diana? Dia masih bisa berkeliaran bebas ke sana-kemari!" sambung istrinya.
"Tapi, penyerangan ini terjadi karena putri kalian yang menyerang Diana lebih dulu," bela Ivan lagi.
"Tapi, serangan yang Diana lakukan sangat brutal! Tuan."
Fazran berusaha meminta istrinya untuk lebih mengendalikan dirinya. "Kami ke sini hanya untuk meminta keadilan untuk putri kami, pada Tuan Ivan dari sisi keluarga Agung Jaya. Andai tidak memandang nama baik Tuan Ivan, kasus ini sudah saya bawa ke ranah hukum saat itu juga."
Istri Fazran tidak bisa menahan dirinya, apalagi melihat reaksi Ivan yang sangat santai. "Diana adalah orang yang sangat membahayakan! Berhenti melindungi penjahat! Atau kalian semua akan terseret lebih jauh nantinya."
"Mereka benar Ivan, Diana sudah terlalu sering berulah! Cepat cari dia, seret dia ke sini, dan suruh dia minta maaf pada keluarga Quenzee, kalau kasus ini sampai ke meja hijau, ini akan sangat memalukan, Ivan!"
Ivan hanya diam, dia berjalan kearah wastafel, mencuci kedua tangan di sana, dan berjalan kembali mendekati ibunya. Tangannya meraih satu buah apel dan pisau buah yang ada di meja. Perlahan Ivan mengupas apel tersebut.
"Sejak dia datang ke rumah kita, hanya masalah, masalah, masalah, dan masalah! Sudah cukup masalah yang dia bawa, Ivan! Kali ini kamu harus bertindak!"
Kulit apel itu sudah terlepas dari daging buahnya, kini daging buah pun sudah terpotong menjadi beberapa bagian. Dengan santai Ivan meletakkan kembali pisau buahnya. "Iya, ibu. Aku mengerti." Senyuman manis menghiasi wajah tampannya.
Potongan buah itu perlahan masuk ke mulut Ivan, hingga semua potongan itu berpindah kedalam perut Ivan, Ivan pun undur diri dari ruangan ibunya. Sepasang mata Rani terus menyorot punggung puteranya, entah kenapa hatinya mengatakan Ivan tidak akan menindak Diana.
"Daima!" Panggilnya. Rani memanggil kepala pelayan yang ditugaskan menjaganya. Dia teringat sempat mengutus orangnya untuk membuntuti wanita yang datang dan mengaku sebagi besannya.
"Kamu jemput ibu Diana, bawa dia ke sini, ini alamat rumahnya," titah Rani.
"Baik Nyonya."
****
Di Kediaman keluarga Bramantyo.
Mendengar utusan dari keluarga Agung Jaya mencarinya, Aridya dengan senang hati menyambut mereka.
"Selamat datang, dikediaman sederhana kami," sambut Aridya.
"Maaf, Nyonya. Saya langsung saja mengatakan apa maksud kedatangan saya."
"Putri Anda, Diana. Dia menyerang seorang perawat yang bekerka di Rumah Sakit Healthy And Spirit, dan kini perawat itu terbaring tidak berdaya di Rumah Sakit, karena perbuatan Diana. Nyonya Rani sangat berharap, Anda membantu keluarga Agung Jaya, untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul karena perbuatan Diana."
Siall, aku harus menyelesaikan ulah Diana, kalau dia terseret masalah ini lebih dalam, yang ada keluarga Agung membuang dia. Batin Aridya.
Tapi, satu sisi Aridya bahagia, karena keluarga Agung menganggap dirinya bagian dari keluarga mereka.
Tanpa bertanya apapun, Aridya mengikuti Daima, utusan keluarga Agung yang menjemputnya. Hingga mereka sampai di Rumah Sakit Healthy And Spirit.
__ADS_1
Aridya melintas di depan UGD, namun langkah kakinya dihentikan oleh 2 orang. Dua orang itu mengenali wanita yang berjalan bersama Aridya.
"Apa dia ibu dari Diana?"
"Iya, benar sekali, Nyonya Wena, Tuan Fazran. Beliau adalah Nyonya Aridya ibu Diana, silakan selesaikan urusan kalian." Kepala pelayan itu meninggalkan Aridya bersama keluarga Harisons.
"Kami ingin Anda bertanggung jawab penuh atas penderitaan putri kami, dan kami menuntut ganti rugi!" Gertak Wena.
Aridya kesal, dia pikir dia hanya perlu meminta maaf atas nama Diana pada keluarga korban, urusan yang lain ditanggung oleh keluarga Agung Jaya.
"Bukan cuma itu! Anda harus bawa putri Anda kehadapan kami! Untuk meminta maaf pada putri kami Quenzee, dan kami menunggu itikad baik putri Anda!"
"Aku hanyalah ibu tirinya! Di mana Diana saja aku tidak tahu." Aridya berusaha menghindar.
Tangan kokoh itu menahan pergerakan Aridya.
"Ibu sambung atau ibu kandung, sama saja. Anda adalah orang tua Diana, dan Anda harus bertanggung jawab penuh atas perbuatan Diana!" ucap Wena.
"Nona Diana Rahma!"
Samar Aridya mendengar seseorang memanggil nama Diana. Aridya menatap lekat dua orang yang berada di depannya.
"Kalian ingin aku membawa dia ke hadapan kalian bukan?" Tantang Aridya.
"Ikuti aku, kalian akan bertemu dengan Diana!"
Di sebuah ruangan yang lain ….
Keadaan ruangan yang sepi, membuat Quenzee Ingin menghubungi seseorang. Dengan susah payah dia berusaha mencari kontak seseorang, seringai kecil menghiasi wajahnya kala kontak yang dia maksud dia temukan, Quenzee langsung menghubunginya.
Tuttttt!
"Ada apa?"
Suara di ujung telepon terdengar sangat malas.
"Halo, Veronica!"
"Iya …."
"Aku tidak mau tau Ver, kamu harus membayarku lebih mahal dari kesepakatan awal kita. Karena melakukan tugas darimu, aku kehilangan pekerjaanku, dan aku dirawat di Rumah Sakit karena serangan balik targetmu!"
"Baiklah ..., secepatnya aku kirim. Walau kerjaan kamu tidak berhasil!"
Setelah panggilan terputus, handphone Quenzee Menerima notif pesan, terlihat jumlah uang yang Veronica kirimkan padanya jumlahnya sangat fantastis, Quenzee Tersenyum bahagia.
__ADS_1