
Tim dokter tidak bisa berbuat banyak, dokter yang dikenal hebat saja dia hanya diam, dan pergi dari ruangan itu.
“Seperti kata dokter Rahma, Nyonya Rani hanya perlu waktu untuk bisa bicara lagi.”
Setelah memastikan keadaan Rani baik-baik saja, semua tim meninggalkan ruangan itu. Sedang Ivan, Kakek Agung, dan Sofian hanya bisa diam melihat Rani terus tenggelam dalam isak tangisnya.
“Mama ada yang ingin mama katakan? Kalau ada, mama ketik di handphone mama,” ucap Ivan.
Rani terbanyang saat dirinya memaki Diana yang berkomunikasi dengan text yang ada di layar handohonenya. Tangisnya semakin pecah.
Aaa ... aku tidak mau seperti ini, hiks!
"Mama, jangan terus menangis, kami tidak bisa berbuat apa-apa jika mama tidak bilang pada kami," ucap Ivan.
Perlahan Rani meraih handphonenya dan mengetikan kata.
*Kamu kenal banyak orang hebat selain Diana, apakah kamu akan membiarkan begini saja mama seperti ini?
“Aku bukan membiarkan mama, hanya saja aku percaya pada Diana. Tapi … jika mama tetap ingin berobat menjelajahi berbagai Negara, aku juga siap bantu mama, dengan menyiapkan apa yang mama perlukan.”
*Setelah keluar dari Rumah Sakit ini, mama ingin pergi keluar Negri melakukan pengobatan.
“Jika itu mau mama, aku mendukung penuh,” sahut Ivan.
Meminta Rani mempercayai ucapan Diana, sangat sulit saat ini. Karena api kebencian itu masih terlihat menyala. Keinginan Rani berobat keluar Negri segera Sofian urus. Sedang Ivan izin undur diri untuk menyusul Diana.
**
Sesampainya di ruangan Diana, Ivan langsung masuk ke ruangan itu. Di sana terlihat Diana sangat sibuk dengan 2 handphonenya.
“Ada apa?” tanya Ivan.
“Tidak ada apa-apa.” Diana langsung menyimpan kedua handphonenya. “Bagaimana ibumu?” tanya Diana.
“Buruk, dia tidak bisa terima keadaan, dia bersikeras ingin melakukan pengobatan ke luar Negri.”
“Baguslah, semangat beliau sangat besar,” sahut Diana.
“Bagus apanya, seharusnya dia mendengarkan dokter yang diperebutkan beberapa Negara ini.” Ivan mengisyarat pada Diana.
“Tidak sempurna dokter yang hebat dan obat paten untuk pasien, jika pasien itu ragu. Keberhasilan berobat selain tenaga ahli dan obat yang tepat, dibutuhkan kepercayaan dan keyakinan yang kuat dari pasien, di dalam keyakinan sugestinya sangat berdampak. Bahkan aku membaca kutipan dari agama lain yang berbunyi, ‘Yakinlah, karena yakin itu bisa menampakan sesuatu yang goib. Pasien-pasienku bisa sembuh, selain tim medis, penanganan yang tepat, juga atas kuasa Tuhan, mereka meraih kesembuhan juga karena kepercayaan dan keyakinan mereka pada tenaga medis yang mereka tunjuk.”
“Dan mamaku pasti tidak memiliki perasaan itu,” ucap Ivan.
“Makanya aku jawab, mamamu butuh waktu.”
"Saat mamaku percaya padamu, apakah kamu akan menolongnya?" tanya Ivan.
"Pertanyaan bodoh apa ini?"
"Mengingat bagaimana sikap buruk Mamaku selama ini, aku sangat faham jika kamu tidak ingin mengobati mamaku."
__ADS_1
"Aku bukan tidak mau, hanya saja jika mengambil tindakan sekarang, percuma!"
"Iya, aku faham itu."
Diana kesal dengan pertanyaan Ivan, dia segera bangkit dan menyambar tasnya.
"Mau kemana sayang?" tanya Ivan.
"Pulang, aku ingin merehatkan tubuhku dan memejamkan kedua mataku."
"Iya, hari ini kita sangat lelah, sebaiknya kita pulang dan rehat."
***
Sepanjang perjalanan pulang, Diana terlihat terus berusahan menelpon seseorang.
"Siapa yang berusaha kamu hubungi?" tanya Ivan.
"Saras. Sepertinya dia kecewa padaku."
"Tidak ada yang kecewa, dia hanya insecure. Beri dia waktu."
Sesampai di Apartemen Ivan, keduanya tidak banyak bicara, setelah membersihka diri, mereka segera merebahkan tubuh mereka di kasur empuk.
Seminggu berlalu.
Setelah melewati serangkaian tes, dokteri di Rumah Sakit Healthy and Spirit menyerah, mereka memperbolehkan Rani pulang, untuk menyiapkan diri berobat keluar Negri.
"Tidak ke kampus?"
"Malas, banyak orang yang pastinya berwajah manis dan berusaha sok dekat."
"Tidak ingin kemana-mana?"
Diana menggelengkan kepalanya.
"Sudah seminggu kamu mengurung diri, sebaiknya kamu keluar jalan-jalan dulu, atau ikut aku ke Kantor?"
Diana malah menaikan selimutnya.
"Hei, 3 hari lagi kita ke desa kamu, apa kamu tidak ingin berpamitan pada teman-temanmu?"
"Temanku yang baik malah menjauhiku, mereka yang ingin ku jauhi malah sok dekat, aku malas."
"Ya sudah, lakukan apa yang kamu mau permataku." Ivan mendaratkan ciumannya di sisi kepala Diana. "Aku pergi kerja dulu."
Sesaat Diana mengingat hadhif. Diana langsung bangun. "Sepertinya hari ini aku akan mengunjungi kantor IMO."
"Mau ku antar?"
"Tidak usah, kamu langsung bekerja saja."
__ADS_1
Hari itu akhirnya Diana keluar kamar, dia menuju kantor IMO diantar supir Ivan. Setelah orang tahu siapa dirinya, akan sulit untuk membaur dengan masyarakat sekitar.
Sesampai di kantor IMO, Diana langsung ke ruangan Hadhif. Mata Diana di sambut dengan pemandangan yang tidak biasa.
"Kenapa banyak dus di sini?" tanya Diana.
"Besok aku akan mengikuti pelatihan, aku akhirnya bisa menjadi anggota tetap IMO." Hadhif terlihat sangat bersemangat.
"Selamat untukmu," ucap Diana.
Di sana Diana membantu Hadhif mengemasi barang-barangnya.
Di kantor Ivan.
Ivan terus terbayang wajah Diana yang sangat sedih karena memikirkan Saras. Suara ketukan yang terdengar mmbuat lamunan Ivan buyar, saat pintu perlahan terbuka, muncul sosok Dillah.
"Ada apa Dillah?"
"Hanya mengantarkan dokumen untuk Anda periksa." Dillah memberikan dokumen yang dia bawa pada Ivan.
"Dillah, Diana sedih karena teman baiknya menjauhinya. Mau menemui Saras, dan meluruskan masalah mereka?"
"Baik Tuan, saya akan ke Universitas untuk berbicara dengan teman Nona."
***
Selesai dengan pekerjaannya, Dillah segera menuju Universitas Bina Jaya. Saat Dillah melewati taman, dia merasa mengenal sosok wanita yang menyendiri di bawah pohon. Dillah segera mendekati wanita itu.
"Untuk apa kamu menghindarinya, jika kamu merindukannya."
Wanita itu langsung menoleh pada Dillah.
"Diana yang mengutusmu?"
"Bukan, tapi suaminya. Tuan Ivan sangat sedih melihat istrinya sedih kehilangan teman baiknya." Dillah mengamati perubahan wajah Saras. "Kenapa menjauhi Nona Diana?"
"Aku merasa tidak pantas menjadi temannya."
"Pertemanan bukan diukur dengan derajat, kedudukan, gelar, dan apapun itu, tapi pengertian dan rasa nyaman."
"Maafkan Nona Diana, dia tidak bermaksud menipumu. Dia menyembunyikan identitasnya karena hanya ingin dekat dengan orang-orang tulus yang tidak memandang siapa dirinya."
"Aku hanya takut dikira orang numpang tenar pada nama Diana."
"Untuk apa kamu memikirkan penilaian orang? Orang saja tidak mikirin kamu." Dillah duduk di samping Saras. "Jalani hidupmu dengan bahagia, jangan pedulikan hujatan orang-orang. Fokus dengan hidupmu, asal tidak menyakiti orang lain. Hidupmu akan bahagia."
"Ehh, aku lupa, kamu sudah menyakiti orang lain, ehh orang baik pula."
"Siapa?"
"Dengan menjauhi Diana dan tidak mau menerima teleponnya, kamu telah menyakitinya."
__ADS_1
"Diana tulus berteman denganmu, kamu akan menyesal selamanya jika menjauhi Diana." Dillah segera bangkit dan meninggalkan tempat itu.