Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 214 Masuk Tanpa Izin


__ADS_3

Mereka bertiga sudah berada di kapal, Ivan dan Diana saling tatap, keduanya masih tidak percaya kalau mereka telah mengikat janji suci.


"Liburan dulu, atau ...." Ivan mengusap lembut bibir Diana dengan jemarinya.


"Aku bukan tidak ingin menikmati indahnya St-peter ording, tapi ada pekerjaan yang menungguku."


"Bagaimana kalau kita kembali saja, selama kapal ini mengarungi lautan, kita mengarungi cinta kita sama-sama."


Diana memahami isyarat Ivan, dia mencium Ivan lebih dulu, Ivan membalas ciuman Diana, dia langsung menggendong Diana menuju kabinnya, tanpa melepaskan pangutan mereka.


Melihat pemandangan itu Dillah hanya bisa menjerit dalam hati, dia sangat tahu apa akhir dari ciuman sepasang pengantin baru, Dillah semakin tersiksa, dia sangat tahu bagaimana kehangatan dan kenikmatan cawan seorang wanita, karena dia pernah kehilangan akal karena lembah yang ada diantara dua paha Qiara.


Oh Tuhan ... kirimkan satu wanita untukku, yang memahami pekerjaanku, namun dia tulus mencintaiku, bukan seperti Qiara yang menjual tubuhnya hanya demi ambisinya, batin Dillah. Dillah segera menyeret kakinya menuju kabin.


Di kabin yang Ivan tempati.


Ivan melepaskan ciumanya, perlahan dia menurunkan Diana, dan merebahkan Diana di tempat tidur. Satu per satu kain yang menempel pada tubuh terlepas. Ivan sibuk menelusuri setiap centi tubuh Diana, rasanya dia tidak rela jika ada celah yang terlewat begitu saja dari sentuhannya.


Sehingga kegiatan Ivan terfokus pada satu tempat, lumayan lama Ivan tenggelam di sana, Ivan menyudahi kegiatan menulisnya pada bagian bawah Diana, dia merangkak diatas tubuh Diana. "Apakah ini mimpi?" Ivan memandangi wajah Diana dengan tatapan penuh damba.


"Aku juga berharap ini mimpi, aku tidak pernah tahu aku bisa sampai di titik ini," sahut Diana.


Ivan membelai lembut wajah Diana, perlahan dia mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka, saat di gereja Ivan hanya mencium sekilas. Kali ini Ivan tidak bisa lagi menahan dirinya.


Suasana semakin tidak terkendali, tidak ada alasan lagi bagi Ivan untuk menahan diri seperti sebelumnya. Kehausannya akan tubuh Diana seakan dia tumpahkan saat ini juga.


Ivan menyudahi pangutan mereka. "Diana, izinkan aku mencintaimu." Satu ciuman lembut mendarat di wajah Diana.

__ADS_1


Diana merasa kehilangan kemampuan untuk bicara, karena bermacam rasa yang dia rasakan saat Ivan menuliskan alphabet di bagian tubuh yang sensitif.


"Izinkan aku memilikimu selamanya, seperti janji kita di depan Tuhan, bahwa hanya kematian yang akan memisahkan kita," bisik Ivan.


Diana tidak menjawab dengan kata-kata, dia langsung menyambar bibir Ivan.


Ivan membiarkan pangutan mereka semakin dalam, sambil membimbing sesuatu menuju tempatnya. Hingga dirinya memasuki bagian tubuh Diana yang istimewa, ada perasaan aneh yang dia rasa. Cengkraman tangan Diana di pundaknya membuat Ivan menyudahi pangutannya. Dia memandangi wajah wanita yang berada di bawah kukungannya. "Sakit?"


Diana tidak menjawab, dia menarik Ivan kedalam pelukanya.


Ivan mendekatkan wajahnya di sisi telinga Diana. "Diana, kali ini aku bukan hanya meminta izinmu untuk memasuki hatimu, tapi aku telah memasuki dirimu."


Ivan tidak sangup berkata lebih banyak lagi, perlahan dia menggerakan sesuatu yang sedari tadi meringsek masuk tanpa permisi. Hingga keadaan semakin hening saat Ivan mulai mengatur ritmenya, hanya tarikan napas yang semakin tidak beraturan mengikuti ritme yang Ivan ciptakan.


Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, Ivan terus melabuhkan peternakan yang selama ini terkurung di tempatnya kedalam diri Diana.


***


"Kalau kalian sayang nyawa kalian, jangan berani-berani mengetuk pintu kabin Tuan Muda," kecam Dillah.


"Tapi kita sudah sampai, Tuan Dillah. Bagaimana kalau Tuan Ivan tidak tahu kalau kita sudah sampai?"


"Pelayaran kita memang selesai, tapi pelayaran cinta Tuan bersama Nona belum selesai, berani mengetuk, ku jamin Tuan Ivan akan mencincang siapa saja yang mengganggunya."


"Terus bagaimana kami mengantar ini?" Seorang pelayan memperlihatkan beberapa paper bag.


"Berikan padaku, biar ini jadi urusanku." Dillah memindahkan isi salas satu paper bag, dan memasukannya ke paper bag lain, dan isinya ternyata pakaian untuk Diana. Dillah menulis kata di paper bag kosong.

__ADS_1


'Jangan Ganggu, kalau masih sayang nyawamu'


Selesai menulis kata itu, Dillah berjalan menuju kabin Ivan, dia menaruh paper bag di depan pintu kabin, dan menggantung paper bag yang bertuliskan jangan ganggu di pintu kabin, selesai Dillah segera pergi dari sana.


Beberapa anak keamanan Ivan terlihat menaiki kapal, mereka membersihkan persenjataan mereka yang sebelumnya di gunakan, dan menyimpannya di tempat aman. Sedang Dillah bersantai di kursi malas sambil menikmati minuman dingin dan memandangi indahnya pemandangan laut.


"Kekasih Tuan Muda hanya seorang wanita manja yang tidak bisa menjaga diri."


"Benar sekali, yang dia tahu hanyalah main dan bersenang-senang," sahut yang lainnya.


"Yup, entah apa yang Tuan Muda lihat dari calon istrinya itu."


"Yup aku juga bingung, kekasih Tuan muda cantik memang, tapi kalau cantik, secara hampir semua wanita cantik yang berkeliaran di dekat Tuan muda sangat memuja Tuan muda."


Perbincangan keamanan Ivan itu mengusik kenyamanan Dillah, Dillah bangkit dan menghampiri mereka.


"Kalau Tuan Ivan mendengar ucapan kalian, aku yakin dia akan menembak mulut kalian! Kekasih Tuan Ivan sangat istimewa, dia terlihat biasa saja, tapi sesungguhnya dia permata yang sangat istimewa kalau kalian bisa melihatnya, sayangnya mulut sampah seperti kalian tidak mampu melihat kelebihan yang dimiliki Nona muda!"


Semua petugas keamanan itu bungkam mendengar ucapan Dillah.


"Maafkan kami, Tuan." ucap salah satunya.


"Satu lagi, Nona Diana bukan putri yang manja, dia adalah putri tangguh, 100 orang seperti kalian dia mampu mengalahkan hanya dengan tangan kosong!" maki Dillah.


Setelah Dillah kembali bersantai di kursi malas, mereka semua kembali melanjutkan pekerjaan mereka.


***

__ADS_1


Bersambung.


***


__ADS_2