Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 138 Berkelahi


__ADS_3

Kegiatan kuliah Diana hari ini lumayan padat, tidak terasa hari semakin siang. Saras dan Diana berada di kantin tengah menikmati makan siang mereka. Terlihat Saras membersihkan sisi bibirnya dengan tisu.


“Kamu sudah kenyang, Diana?” tanya Saras.


“Andai ada menu yang menggoda, sepertinya dua piring lagi masih bisa masuk.” Diana tersenyum melihat expresi wajah Saras.


“Tubuhmu kecil, tapi selera makanmu gede juga,” ucap Saras.


“Tubuh Diana ini disebut dengan istilah ‘Body goals’ bukan kecil!”


Saras dan Diana kompak menoleh sumber suara itu. Terlihat Nicholas dan Malvin menarik kursi yang satu meja dengan Saras dan Diana.


“Bentuk tubuh seperti yang Diana miliki, adalah bentuk tubuh impian hampir semua wanita.” Malvin memandangi Diana. “Kamu pasti sangat rajin olah raga ya? Kamu nge-gym di mana?”


“Setahu aku Diana rajin makan, bukan rajin olah raga,” sela Saras.


Saras kembali fokus pada Diana. “Diana, ku dengar Profesor yang akan mengisi mata kuliah selanjutnya tidak masuk, dipastikan jadwal kita kosong sampai sore, bagaimana kalau kita ke Supermarket?”


“Harus?” tanya Diana.


“Stok cemilanku habis, otakku suka blank kalau tidak ada cemilan saat mengerjakan tugas,” rengek Saras.


"Hmmm, jadi otakmu tidak bisa bekerja kalau mulutmu tidak bekerja?" Diana tersenyum sendiri karena berhasil membuat Saras cemberut.


"Ada keirian dari mulutku kalau dia hanya diam dan terkatup rapat saat jemariku bekerja, otakku bekerja, mulutku iri kalau dia tidak bekerja, makanya ku beri mereka tugas masing-masing," bela Saras.


Diana menggelengkan kepalanya mendengar pembelaan Saras. “Ayo kita berangkat, stok cemilanku juga habis, tugas kuliah semakin banyak pula.”


“Kalian mau belanja?” tanya Malvin.


“Bukan, tapi mau berenang di sana,” ledek Diana.


“Kalau kalian mau belanja, kami ikut,” ucap Malvin.


Diana dan Saras tidak melarang, tapi juga tidak mengiyakan. Malvin dan Nicholas berjalan membuntuti Diana dan Saras menuju Supermarket terdekat.


Tidak lama mereka sampai di Supermarket, Diana hanya mengambil keranjang, sedang Saras mengambil troli. Mereka berempat menuju tujuan mereka masing-masing. Diana, Nicholas, dan Malvin sudah selesai belanja, sedang Saras masih mengitari pajangan-pajangan makanan ringan di sana. Diana merasa sangat bosan menunggu Saras yang berbelanja begitu lama, kesabaran Diana semakin diuji, karena Malvin terus berusaha mengajaknya bicara. Diana hanya menjawab sekenanya.


30 menit berlalu, Saras mendorong trolinya yang penuh menuju kasir. Senyuman sumringah menghiasi wajahnya.


“Sebaiknya kamu pulang naik taksi, tanganmu bisa putus karena menenteng belanjaan sebanyak itu,” usul Diana.


“Tidak perlu, ada dua cowok gagah yang kuat membawakan Sebagian belanjaanku." Saras mengisyarat pada Malvin dan Nicholas.


Malvin dan Nicholas saling pandang, kebahagiaan mereka bisa mendekati Diana seakan berubah petaka karena harus membawakan belanjaan Saras yang lumayan banyak.


Diana memahami kegundahan Malvin dan Nicholas. “Kenapa? Nggak kuat ya? Kalau nggak kuat nggak apa-apa, aku dan Saras mampu kok.”


“Bukan begitu Diana, tapi kami hanya bisa membawakanya sampai batas pintu gerbang asrama putri, tahu sendiri, Mahasiswa laki-laki tidak boleh memasuki area Asrama putri.”


“Nggak apa-apa, kalian mau membawakannya sampai kampus aku sudah senang.” Saras memberikan tas belanjanya pada Nicholas dan Malvin.


**


Di salah satu taman yang tidak jauh dari Kawasan Universitas Bina Jaya, di sana terlihat seorang pemuda tampan duduk di salah satu kursi taman yang ada di bawah pohon yang begitu Rindang.

__ADS_1


“Lucas! Apa maksudmu menyebar berita hoax kalau Diana perempuan tidak benar?”


Fokus Lucas yang tadi hanya tertuju pada bukunya teralih karena ucapan seseorang, dia menoleh kearah suara itu.


“Owh, Thaby, premannya Universitas Bina Jaya.” Senyuman masam menghiasi wajah Lucas saat dia menyadari yang menghampirinya adalah Thaby.


"Aku tidak melakukan apa-apa, tapi pada dasarnya, Bangkai tidak akan selamanya bisa bersembunyi, bau busuknya akan keluar dengan sendirinya."


"Yang busuk itu kamu!" maki Thaby.


“Diana itu perempuan hebat yang aku kenal, dia Permata yang begitu indah, sekeras apapun kamu menenggelamkan permata itu ke kotoran fitnah, dia tetap berharga!” wajah Thaby memerah menahan kemarahannya.


"Ya, kalau kamu tidak melihat betapa murrahannya dia, kamu terus menganggap dia permata, tapi di mataku, dia hanyalah kupu-kupu malam."


"Jaga ucapanmu Lucas!" Thaby semakin marah. “Apa salah Diana padamu sehingga kamu sangat membencinya?”


“Kamu tidak perlu tahu masalah diantara kami!” ucap Lucas dengan nada yang tegas.


“Dasar aneh! Sesekali kamu baik pada Diana, tapi di saat tertentu kamu juga menikamnya.”


Lucas tersenyum sinis. “Jangan ikut campur masalahku, Thaby.”


“Aku akan ikut campur terus jika kamu masih mengganggu Diana!”


“Pukulanku kemaren masih kurang ya?” Lucas melempar bukunya ke sembarang arah.


"Justru sekarang kau akan kubuat menderita!" maki Thaby.


"Jangan banyak bacot! Buktinya kamu yang kuantar sampai Rumah Sakit," ucap Lucas begitu bangga.


Bouuggt!


Satu pukulan telak mendarat di pipi kanan Lucas. “Berhenti mengganggu Diana, makhluk Aneh!” maki Thaby.


Boughht!


Kepalan tangan Thaby kembali mendarat sempurna di pipi kiri Lucas. Lucas menyeka darah yang keluar dari sisi bibirnya.


“Kamu melakukan kesalahan besar, Thaby.” Lucas menatap Thaby seperti seekor singa kelaparan yang bersiap menerkam mangsanya. Dia melepaskan cengkraman Thaby.


Bougght! Bougt! Bougt!


Pukulan balasan dari Lucas. Lucas berulang kali meninju Thaby, tidak hanya layangan bogem mentah, Lucas juga menendang Thaby begitu keras. Thaby bangkit dan kembali menyerang Lucas, dia tidak memberi Lucas kesempatan untuk balas memukulnya.


“Kemaren aku mengalah! Karena dilingkup kampus Ayahku! Kali ini aku akan mengajarimu bagaimana pertarungan sesungguhnya!” Thaby terus memukuli Lucas.


Argg!


Lucas menjerit, kali ini dia tidak mampu memimpin pertarungangan.


Thaby menelungkupkan Lucas ke tanah, dan menekan kuat bagian lehernya, membuat Lucas kesulitan bernapas. “Berjanji untuk tidak mengganggu Diana!”


Lucas tidak menjawab. “Uhuk! Uhuk!” Lucas terbatuk karena debu yang terhirup.


“Aku tidak segan untuk membunuhmu kalau kamu tidak mau berjanji padaku!” ucap Thaby penuh penekanan.

__ADS_1


“Aku berjanji tidak akan mengganggunya!” ucap Lucas.


“Berusaha untuk bersikap baik pada Diana!” tekan Thaby lagi.


“Iya … aku ber—janj—ji!”


Thaby puas, dia segera melepaskan Lucas. “Awas saja jika kamu masih mengganggu Diana.”


Bouggt!


Tendangan Thaby mengenai bagian perut Lucas. Lucas hanya bisa meringkuk menahan rasa sakit di bagian perutnya. Thaby meninggalkan Lucas yang masih tersungkur di tanah.


**


Dari kejauhan Diana melihat Thaby yang terlihat aneh, bajunya kotor dan acak-acakkan, saat semakin dekat, sangat jelas Diana melihat sisi bibir Thaby berdarah. Saat tatapan mereka bertemu, Diana semakin yakin kalau Thaby habis berkelahi.


“Wah, preman kita habis syuting di mana?” tanya Nicholas.


Thaby tidak menjawab, dia berlalu begitu saja dari hadapan Diana dan ketiga temannya. Diana menoleh kearah teman-temannya.


“Kalian kembali ke kampus lebih dulu ya, ada yang lupa aku beli,” kilah Diana.


“Aku temani, Diana,” sela Saras.


“Terus belanjaanmu bagaimana? Kasiah tangan Malvin dan Nicolas bisa putus kelamaan bawa belanjaan kamu.”


Saras memikirkan ucapan Diana, dia menoleh ke kantong belanjaan yang dia bawa, juga kantong belanjanya yang ditenteng Nicholas dan Malvin. “Ya sudah kami duluan ya.”


Setelah Saras, Malvin, dan Nicholas pergi, Diana memasuki area taman, dia berusaha mencari tahu siapa lawan duel Thaby. Dari kejauhan Diana melihat sosok laki-laki yang terluka, terlihat dia berusaha keras mencapai kursi taman yang tidak jauh darinya. Diana berlari mendekati laki-laki itu, dan berusaha membantunya duduk di kursi taman.


“Sudah ku duga kalau kamu yang dipukuli Thaby,” ucap Diana.


Lucas ingin menepis bantuan Diana, tapi saat ini dirinya benar-benar tidak berdaya. Setelah membantu Lucas duduk, Diana juga duduk di samping Lucas. Dia membukakan sebotol air mineral dari tas belanjaannya dan memberikannya pada Lucas.


“Terima kasih,” ucap Lucas.


Diana hanya diam, dia menatap kosong pemandangan yang ada di depannya.


“Diana, kenapa kamu memilih kuliah di Universitas ini? Yah … memang ini Universitas terbaik di Negara kita, tapi mengingat keahlian dan kemampuanmu, kamu lebih pantas kuliah di Universitas yang lebih hebat lagi.”


“Apa hak mu bicara seperti itu?” ucap Diana.


Lucas sangat kesal, dia hanya ingin Diana menjadi dokter hebat seperti Nizam, tapi dibalas dengan kata-kata sinis.


Lucas teringat janjinya pada Thaby, dia berusaha menepis kekesalannya. “Seharusnya kamu bisa lebih hebat dari Nizam, kemampuan Nizam tergolong standart sebagai dokter bedah, dan kita belajar pada guru yang sama. Nizam saja bisa menjadi dokter hebat, ku rasa kalau kamu kuliah dengan benar, kamu bisa lebih hebat dari Nizam. Apalagi Profesor Hadju lebih memperhatikan kamu dari murid yang lain, pastinya kamu dapat bimbingan khusus dari beliau.”


“Berani sekali kamu bicara begitu,” ucap Diana.


Lucas terdiam.


Diana menyenggol pelan pergelangan tangan Lucas. “Jangan diambil hati, aku Cuma bercanda.”


“Aku tidak mengambil hati, memang kenyataanya begitu, kamu sangat disayangi Profesor Hadju.”


“Sudah jangan memikikan hidupku, kamu kuliah yang benar, jangan berkelahi dengan siapa pun, apalagi dengan Thaby,” ucap Diana.

__ADS_1


Diana berdiri dari posisinya. “Urus dirimu baik-baik.” Diana segera pergi dari sana meninggalkan Lucas sendirian.


__ADS_2