Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 98 Uhukkk!


__ADS_3

Diana berhenti, dia melihat pergelangan tangannya di pegang seseorang. Perlahan Diana berbalik. Terlihat Ivan memegang kuat lengannya dan menatapnya dengan tatapan mata yang begitu teduh, Diana faham dirinya belum mendapat jawaban dari Ivan. “Apakah aku boleh pergi?”


Ivan tidak menjawab, dia menarik Diana menuju sofa dan menepuk sofa di sampingnya. Diana faham dengan isyarat mata Ivan, dia segera duduk di samping Ivan. Pandangan mata Ivan tertuju pada Veronica.


“Kalau ingin melanjutkan acaramu, lanjutkan saja. Aku ingin di sini dulu bersama Diana, maaf sebelumnya aku tidak bisa menemanimu meniup lilin dan memotong kue mu.”


Mendengar ucapan Ivan, Veronica semakin geram, dia mengepalkan kedua tangannya begitu kuat. Ivan memiringkan posisi duduknya kearah Diana, hingga matanya sangat jelas memandangi wanita yang ada di sampingnya.


“Selama aku pergi, apa saja yang kamu lakukan?” tanya Ivan. Nada suara Ivan sangat lembut.


“Kuliah, menggunakan kartumu untuk makan siang, dan bersenang-senang, banyak lagi, kalau kau kurang puas dengan jawabanku, silakan buka media sosial, di sana ada budaknya Veronica yang selalu memposting kegiatan kami dengan caption yang sangat manis.” sahut Diana.


"Aku akan periksa nanti." Ivan terus menatap wajah Diana.


Yudha berusaha bersikap bodoh melihat Ivan dan Diana begitu dekat, dia terus menikmati minumannya.


“Pertanyaanku sebelumnya belum kamu jawab, selama aku pergi, apakah kamu merindukanku?” tanya Ivan.


“Uhukkk!” Yudha tersedak mendengar pertanyaan Ivan.


Tapi hal itu sedikit pun tidak mengganggu fokus Ivan pada Diana.


Merasa Diana tidak akan menjawab pertanyaannya, Ivan menanyakan hal yang lain. “Kamu ingin pergi ke mana?”


“Pengacara Nizam akan melakukan operasi di luar negri, dan dia memberi tawaran padaku, apakah aku ingin ikut dengannya, lalu aku setujui,” jawab Diana.


Nizam lagi, Nizam lagi. Rasanya Ivan ingin memasang filter pada mulut Diana, agar Diana tidak bisa menyebut nama Nizam, atau memasang fiter di telinganya, supaya saat ada orang yang menyebut ‘Nizam’ filter itu otomatis membuat gendang telinganya tidak berfungsi saat ada nama itu terucap.


“Kenapa kamu ingin ikut Nizam keluar negri?” Ivan berusaha menyembunyikan kekecewaanya.


“Aku ingin jalan-jalan, gratis.” Sahut Diana santai.


“Kalau kamu ingin jalan-jalan keluar negri, aku akan membawamu.”


Diana menepuk lembut bahu Ivan. “Tidak perlu, kalau bersamamu, kamu yang bayar. Mending aku ambil yang gratis.” Diana tersenyum melihat raut kekecewaan di wajah Ivan. “Dia dokter hebat yang akan melakukan tugasnya di sana. Selain jalan-jalan gratis, aku ingin belajar ilmu medis padanya.”


Mendengar alasan itu, Ivan tidak bisa melarang Diana. Apalagi yang akan di-operasi Nizam adalah kakaknya.


Melihat adegan mesra yang ada di depan matanya, membuat jiwa jomblo Yudha semakin meronta. Yudha memainkan handphonenya untuk mengalihkan perhatiannya, agar tidak memperhatikan pasangan yang ada di depan matanya. Yudha melihat sebuah postingan yang menjadi trending topik di malam ini, dan itu adalah tayanga live dari akun Qiara beberapa jam lalu.


Yudha penasaran, hal apa yang Qiara siarkan hingga menjadi trending malam ini. Saat Yudha memainkan video itu, di sana ada Veronica, tante Wilda, dan Qiara. Mendengar suara percakapan dari handphone Yudha yang sangat familiar, hal itu menyita perhatian Ivan yang sedari tadi hanya tertuju pada Diana.


“Apa yang kamu tonton?” tanya Ivan.


“Lihat siaran langsung Qiara beberapa jam lalu.”


Shady, Yaqzhan, dan Ivan segera mencari hal Yudha maksud dengan handphone masing-masing. Mereka menyaksikan siaran Qiara, dan sangat jelas menyimak semua rencana tiga wanita yang ada di video itu.

__ADS_1


“Aku tidak terlibat!” jerit Veronica.


“Ini sangat jelas kamu, Veronica. Kamu ingin mengelak dengan cara apa?” cerca Yudha.


“Diam kau Yudha! Sedari tadi kamu hanya menyalahkan Veronica!” bentak Shady.


“Mereka selalu menyalahkanku, Shady ….” Veronica terisak, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Shady.


Shady berusaha menenangkan Veronica. “Semua orang yang ada di sini tidak percaya padamu, lebih baik kita pergi dari sini. Mereka tidak menghargaimu, Ve.”


"Hikssss!" Verinica terus tersedu.


"Silakan pergi, tapi aku akan tetap menuntut pertanggung jawabanmu atas semua ini!" ucapan Ivan begitu menekan.


"Ayo kita pergi dari sini," bujuk Shady. Shady memegang lengan Veronica dan menariknya untuk keluar dari sana,


“Aku tidak mau!” Veronica berontak dan berhasil melepaskan diri dari Shady.


“Dengan cara apalagi kamu mengelak Ve?” tanya Yudha. "Sekuat apapun kamu mengelak, kamu tidak akan bisa lari dari tanggung jawabmu!"


“Ivan ….” Veronica berjalan mendekati Ivan. “Tolong sekali saja percaya padaku.”


Ivan menatap Veronica dengan tatapan yang begitu tajam. “Kamu sangat mengenal diriku, bukan? Aku orang yang sangat logis, dan hanya percaya dengan semua bukti yang ada!”


“Ivan ….”


“Kamu kejam Van! Kamu tidak pernah menghargai perasaan seseorang yang mencintaimu!”


Ivan tetap memandangi Diana, tidak peduli dengan teriakkan Veronica.


“Kamu dan kita semua dibohongi Diana, dan kamu masih memuja Diana?” ucap Veronica lagi.


"Kamu juga membohongi kami dengan air matamu Ver." Pandangan Ivan tetap tertuju pada Diana.


Ivan membelai lembut helaian rambut Diana, dia sengaja bertindak demikian agar Veronica semakin tersiksa berada di tempat ini. “Diana hanya menyembunyikan suaranya dari kalian semua, aku sudah lama mengetahui Diana bisa bicara, dan aku merasa istimewa, karena hanya orang-orang beruntung yang bisa mendengar suaranya, dan salah satunya aku.” Ivan mencium ujung rambut Diana.


Veronica semakin terluka melihat tingkah Ivan, tapi dia tidak mampu lagi untuk menjerit menumpahkan rasa sakitnya.


“Untuk apa kamu mencintai wanita yang sama sekali tidak mencintaimu, Van?” ucap Veronica. “Dia terlalu banyak menipumu, dan kau masih mencintainya?”


“Veronica benar Ivan, yang banyak menipu di sini adalah Diana ” ucap Shady


Pandangan mata Ivan tertuju pada Shady. "Kamu yang paling banyak dutipu Veronica, dan kau masih saja menjadi kacungnya."


Ivan mengubah arah pandangannya keara Veronica. “Aku mencintai siapa itu hak ku dan urusanku, Diana mencintaiku atau tidak masa bodoh, dan itu hak Diana. Yang jelas aku sangat mencintainya.” Ivan menahan tengkuk Diana, dan sengaja mencium Diana di depan semua teman-temannya.


“Hhhh!” Veronica kesulitan bernapas melihat hal itu, dia seketika pingsan dan ambruk ke pelukan Shady.

__ADS_1


Shady refleks manahan Veronica, dia segera menggendong Veronica dan membawanya Veronica pergi dari ruangan itu. Melihat Shady pergi, Yaqzhan langsung mengejar temannya.


Yudha bertepuk tangan, karena Ivan berhasil memberi rasa sakit yang diluar dugaan pada Veronica, hingga membuat wanita itu pingsan. Tepukkan tangan Yudha membuat Ivan harus meng-akhiri pangutannya.


“Luar biasa!" Yudha masih bertepuk tangan. "Kalau nanti kamu membutuhkan peran pengganti untuk melakukan itu, aku dengan senang hati menggantikanmu, Van.”


Ivan kesal, lalu melemparkan berkas yang ada di dekatnya pada Yudha. Tapi Yudha berhasil menghindar. Ivan teringat pada Diana. Dia menoleh pada wanita itu.


“Kapan penerbanganmu dengan Nizam?” tanya Ivan.


“Beberapa jam lagi,” sahut Diana.


“Yudha, Dillah mana?” tanya Ivan.


Mereka baru menyadari Dillah tidak ada diantara mereka.


“Mungkin di luar melihat keramaian, di sini kan hanya ada drama ku menagis by Veronica,” ledek Yudha.


"Dillah sudah lama pergi, saat Nona Diana masuk ke ruangan ini, melihat Nona Diana, Dillah ketakutan seperti melihat hantu, dan dia pergi begitu saja." sela Narendra.


“Kenapa mencari Dillah?” Diana sengaja mengalihkan fokus Ivan, agar Ivan tidak bertanya pada laki-laki itu kenapa Dillah takut melihatnya.


“Aku ingin Dillah mengantarmu ke Bandara.”


“Tidak usah, aku bisa sendiri, semua sudah di persiapkan Nizam.”


Ivan membuang napasnya begitu kasar, Nizam lagi Nizam lagi. Nama Nizam bagaikan benda tajam yang menusuk jantung Ivan kalau Diana menyebut nama itu.


Ivan berusaha mengontrol perasaannya yang seketika memburuk karena Diana menyebut Nizam. “Apakah kamu bisa pulang saat akhir pekan?” tanya Ivan.


“Akan aku usahakan,” jawab Diana.


“Baiklah, kau boleh pergi, lakukan apa saja yang kamu mau, tapi jangan lupa minum obatmu tepat waktu,” ucap Ivan.


“Obat?” Yudha bingung mengetahu Diana mengkonsumsi obat. “Obat apa yang rutin Diana minum?”


“Hanya Vitamin, untuk memperkuat daya tahan tubuh, karena kegiatan kuliah Diana begitu padat.” Kilah Ivan.


“Aku tidak terlalu mengenal calon kakak ipar, bolehkah aku mengenalnya lebih jauh?” tanya Narendra.


"Diana juga belum mengenalmu! Jangan membuat Diana bingung karena memanggilnya kakak ipar!” tegur Ivan.


“Bagaimana kakak ipar bisa mengenalku, selama ini Tuan memberiku tugas di belakang layar," protes Narendra


"Diana, perkenalkan, dia Narendra, dia pengganti Dillah," ucap Ivan.


Diana menatap Ivan dengan tatapan yang penuh tanya.

__ADS_1


"Dillah akan aku pindah, dia bukan Asisten prbadiku lagi. Sekarang Narendra yang akan menggantikan semua tugasnya."


__ADS_2