Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 90 Kejam


__ADS_3

Diana menatap Veronica dengan tatapan tajam dan sangat mengintimidasi, seperti tatapan singa yang bersiap menerkam mangsanya. Melihat tatapan mata Diana membuat Veronica tenggelam dalam lautan ketakutan, Veronica terpojok di dalam lift, menyadarkan punggungnya pada dinding lift, menjadi penahan tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak. Rasanya kedua kakinya tidak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.


“Apakah ada keluhan malam ini?”


“Walau lift yang beroperasi Cuma satu, tapi para pelanggan memaklumi gangguan teknis malam ini Pak.”


Obrolan beberapa orang yang ada di belakang Diana membuat Veronica lega, karena Diana tidak mungkin menyerangnya di depan banyak orang. Manager Restoran menghentikan langkahnya saat melihat Veronica dan Diana di depan matanya. Dia memahami dua orang yang ada di depannya memiliki masalah. Dia tidak mau ikut campur dengan urusan Diana dan Veronica.


“Owh iya, aku melupakan sesuatu, kalian semua temani aku ke ruangan VVIP yang ada di ujung sana.” Manager Restoran itu sengaja pergi dari sana mengajak semua pelayan yang bersamanya.


Baru beberapa detik Veronica bisa bernapas lega, sekarang dadanya kembali terasa terhimpit oleh rasa takut. Diana tersenyum sinis, karena di sini hanya ada mereka berdua.


"Kamu lagi, kamu lagi, apa kamu tidak bosan menggangguku Veronica?"


Jangankan menjawab pertanyaan Diana, saat ini bernapas pun sangat sulit bagi Veronica. Seakan dirinya tidak kebagian oksigen di tempat ini.


"Aku saja bosan berurusan denganmu! Aku melepaskanmu bukan karena aku tidak mampu memenjarakanmu! Tapi aku malas! Aku diam dan membiarkanmu bebas bukan aku takut padamu, tapi aku berharap kamu bosan menggangguku!"


"Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu Veronica!"


“Kalau kamu tidak mau menggunakan lift ini, sebaiknya biarkan aku pergi, aku tidak punya urusan denganmu, karena masalahmu hanya dengan Qiara, sumpah ... aku tidak terlibat dengan rencana Qiara,” ucap Veronica.


Diana melemparkan berkas ke wajah Veronica. Saat berkas itu mendarat di kaki Veronica terlihat logo Rumah Sakit Healthy And Spirit pada lembaran kertas itu. Veronica meraih berkas itu dan membacanya. Tertulis di sana Nazta meninggal karena alergi obat yang parah.


"Ada seorang dokter yang sengaja menyuntikkan jenis obat yang berbahaya pada korban, padahal di laporan medis Nazta jelas tertulis dia alergi berat pada obat jenis itu."


"Tapi dokter itu malah sengaja menyuntik obat itu pada dosis yang tinggi pada Nazta!" Tatapan Diana sangat menekan.


“A--a--ku tidak memberikan obat itu pada Nazta, kamu jangan coba-coba memfitnahku, Diana! Memang betul aku yang menanganinya, tapi aku tidak memberikan obat itu pada Nazta. Kau ingin menjebakku dengan tuduhan ini? karena kamu iri padaku bukan? Karena aku bisa kembali ke Rumah Sakit juga bisa kembali ke universitas.”


“Kapan aku menuduhmu kalau kamu yang memberikan obat itu pada pasien?" Senyuman Diana sangat mengintimidasi.


Veronica merasa terjebak dengan jawabannya, dia tidak tahu harus membela diri dengan cara apa lagi.


"Satu lagi, aku tidak iri padamu, kehidupanmu kosong! Tidak bewarna, dan aku tidak tertarik!" ledek Diana. "Kenapa kamu merasa aku menuduhmu Veronica?"


"Owh ... jangan-jangan kamu dokter bejatt itu?"

__ADS_1


"Bukan aku!" jerit Veronica.


"Kenapa kamu merasa dituduh? Padahal Aku hanya memberikan coppy laporan kalau pasien itu meninggal karena alergi obat yang parah."


Kedua bibir Veronica gemetar, sangat ingin mengatakan banyak hal, tapi dirinya tidak berdaya menghina Diana atau menuduhnya.


"Dokter yang sengaja menyuntik itu tidak pantas menjadi dokter, sudah tahu pasien alergi pada obat itu, dia malah sengaja memberikan obat yang sudah pasti berbahaya pada pasien.” Tatapan Diana begitu menekan.


“Bisakah kalian berdua berbicara di tempat lain? Malam ini lift yang berfungsi hanya ini. Sudah 30 menit aku menunggu di lantai atas untuk turun tapi lift masih stay di lantai ini.”


Ucapan seseorang yang berada di belakang Diana seperti angin segar bagi Veronica.


“Nicholas!” Veronica langsung berlari kearah Nicholas.


“Veronica, Diana?” Nicholas terkejut melihat Veronica dan Diana.


"Nicholas, tolong aku ...." rengek Veronica.


"Tolong Apa?"


“Nicholas, Diana ingin menjebakku ..., aku tau aku banyak salah pada Diana sebelumnya, dan Diana tidak mau memaafkanku, dia begitu dendam padaku, dia ingin menyeretku dalam masalah yang tidak aku lakukan.” Veronica menangis mendalami aktingnya.


Nicholas mempercayai apa kata Veronica “Diana, sebanyak apapun orang-orang yang kamu seret ke dalam masalahmu, semua itu tidak akan mengurangi kesalahanmu sedikitpun!”


“Siapa yang menyeret?!” bentak Diana.


Nicholas sangat terkejut mengetahui Diana bukan gadis bisu.


“Tuhan memberimu dua mata dan dua telinga, gunakan matamu untuk melihat dua sudut dan gunakan telingamu untuk mendengar dua arah!” Diana begitu marah pada Nicholas, karena Nicholas salah satu kaki tangan Veronica.


“Ups, ternyata aku masih bodoh, orang seperti kalian mana bisa menggunakan indera kalian dengan baik, karena yang kalian lihat, yang kalian dengar, yang kalian pikirkan hanya diri kalian sendiri, sedikitpun tidak ada tempat untuk orang lain di hati kalian!”


Diana menatap tajam pada dua orang itu, otaknya terus bekerja, dengan cara apa dia membalas perbuatan Veronica. Cara yang halus, tapi memberi efek yang luar biasa. Memukuli Verinica tanpa ampun bukan jalan keluar, malah akan membuat Veronica melambung tinggi ke atas menjadi korbannya. Diana masuk  ke dalam lift dan menutup pintu lift, tatapan matanya terus menatap tajam pada dua orang itu, hingga pintu lift tertutup, barulah Diana maengalihkan padangannya.


Nicholas masih bungkam, dia sangat syok mendengar Diana bisa bicara, dia baru menyadari selama ini Diana hanya pura-pura bisu.


"Selama ini kita ditipu, ternyata dia bisa bicara," gumam Nicholas.

__ADS_1


"Aku juga sangat terkejut," sahut Veronica.


Sesampainya di tempat parkir Diana bertemu dengan Nizam. Laki-laki itu berdiri di dekat mobilnya. Nizam tersenyum melihat Diana, akhirnya orang yang dia tunggu-tunggu menampakkan wajahnya juga. Diana melangkah mendekati Nizam, dan duduk di depan mobil Nizam. “Aku membuka rahasiaku, kalau aku tidak bisu.”


“Sudah saatnya kamu menampakkan dirimu Diana, tidak selamanya kamu bisa bersembunyi di balik penyamaranmu.”


“Aku sudah sering memaafkan Veronica dan melepaskannya, kali ini nyawa orang lain melayang karena egonya, dan aku pasti akan memberi perhintungan denganya.” Diana menatap Nizam dengan tatapan yang begitu dalam. “Aku tidak akan melepaskannya.”


“Kamu ingin ku antar dengan motor apa mobil?” tawar Nizam.


“Kamu bawa motor?”


“Iya, itu motorku, kuncinya juga masih di sana.” Nizam menunjuk kearah motor yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


Diana dan Nizam merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan Veronica. Juga merencanakan keberangkatan mereka dini hari untuk ke luar Negri.


"Persiapan kamu semua sudah aku urus, nanti dini hari kita langsung berangkat," ucap Nizam.


"Terima kasih, karena selalu membantuku di segala kesulitanku."


"Mau ku jemput di mana?"


"Tidak perlu, nanti aku datang sendiri ke Bandara," jawab Diana.


Obrolan mereka terusik karena handphone Diana terus berdering. Diana segera membuka handphonenya, terlihat banyak pesan dari group yang beranggotakan 8 orang. Terlihat di sana beberapa anggota berkumpul di Clubhose mewah yang sebelumnya mereka tempati.


Obrolan dalam group membahas tentang Diana yang terbukti tidak melakukan kasus tabrak lari yang dituduhkan padanya.


^^^Group ini di buat oleh Nicholas untuk menjebakku, pastinya Nicholas melakukan ini karena hasutan Veronica, dan ini sebagian rencana Veronica. Baiklah Veronica, aku akan membawamu masuk kedalam perangkapmu sendiri, yang tadinya kamu sediakan untukku.


“Rencana mana yang kamu ambil untuk membalas Veronica? Sebelum kita berangkat semoga semua kasusmu selesai.”


Pertanyaan Nizam membuat Diana tersadar dari lamunannya yang memikirkan rencana membalas perbuatan Veronica.


“Tidak ada, aku hanya menggunakan rencana yang Veronica tujukan padaku, biar dia tenggelam dalam sumur galiannya sendiri."


Nizam memikirkan segala rencana Veronica yang masih sekedar rencana untuk menjebak Diana. “Kamu kejam!” ucap Nizam.

__ADS_1


“Aku memang kejam.” Diana berjalan kearah motor Nizam, dan pergi mengendarai motor Nizam seorang diri.


Nizam hanya menggelengkan kepalanya melihat Diana meninggalkan dirinya begitu saja.


__ADS_2