
Ivan lebih dulu masuk ke dalam ruangan, sedang Diana berjalan dengan jarak yang cukup jauh denganya. Wajah Ivan memang tampan, tapi saat ini wajah itu terlihat sangat menakutkan, auranya seperti seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya. Shady, Yaqzhan, dan Veronica hanya bisa menelan saliva mereka melihat aura menakutkan dari Ivan. Sedang Narendra sesekali mencuri pandang, memandangi tunangan bosnya. Ivan langsung duduk di salah satu sofa yang posisinya berseberangan dengan Veronica. Ivan duduk menyilangkan kakinya, namun sorot mata yang sangat menakutkan terus tertuju pada Veronica.
Melihat Ivan seperti ini, Veronica sadar kalau Ivan sudah mengetahui perbuatannya pada Diana. Dari kejauhan Yudha menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, dia penasaran Tindakan apa yang Ivan ambil untuk memberi Veronica pelajaran.
Plak!
Ivan melempar dokumen yang dia terima dari Diana keatas meja. Dokumen itu mendarat tepat di depan Veronica.
“Jelaskan padaku! Kenapa kamu senekat ini!” Suara makian Ivan memecah kesunyian yang terjalin.
"Jelaskan apa Ivan? Aku tidak mengerti," Veronica memasang wajah polos tak bersalah.
“Ivan, bisakah kamu tidak membahas urusan pekerjaan malam ini?” sela Shady. Dia mengira dokumen yang Ivan lempar adalah dokumen perusahaan.
“Iya, Van. Urusan pekerjaan bisa di bahas besok, saat ini kita pesta dulu.” Yaqzhan menambahi.
“Kalau kalian tidak mengerti apa yang aku bahas sebaiknya kalian diam!” maki Ivan pada dua temannya.
“Hiks!” Veronica terisak. “Ivan sahabat kita sudah tidak ada, yang sekarang hanya Ivan jasadnya saja.” Veronica terus terisak mendalami aktingnya. “Sejak kedatangan Diana, Ivan sudah berubah.”
"Aku hanya diam, tapi Diana selalu menghujatku, menyalahkanku, memfitnahku, hiksss!" Veronica terisak.
"Ver ...." Shady berusaha menenangkan Veronica.
“Kamu benar Ve, Ivan sahabat kita selama ini selalu lembut pada teman-temannya,” ucap Shady.
“Jangan salahkan Ivan, tapi wanita desa itu yang telah merubah Ivan,” ucap Veronica.
Yaqzhan menatap tajam sosok Diana yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Apa yang kamu lakukan pada sahabat kami? Sehingga dia berubah seperti ini?!”
“Hei Yaqzhan! Jaga bicaramu! Maki Ivan.
“Kamu berubah Van! Setelah bersama wanita desa ini kamu sangat kasar! Bahkan kamu berani mendorong Mona hanya karena wanita itu!” Shady ujung jari Shady menunjuk kearah Diana.
"Argggg!" Shady meringis, karena Yudha memerintil jarinya. "Yudha! Lepaskan jariku, itu sangat sakit!"
"Argggg!"
Tapi Yudha tetap memerintil begitu keras jari telunjuk Shady. "Jangan tidak sopan pada calon istri Ivan!" tegur Yudha.
Yudha melepaskan tangan Shady. “Shady! Ivan tidak pernah berubah! Semua masalah yang ada karena ular berbisa itu!” ujung jari telunjuk Yudha mengarah pada Veronica.
“Hiks!” Veronica semakin tersedu. “Bahkan Diana berhasil menjatuhkan namaku, menginjak harga diriku dengan semua fitnahnya. Hiksss!"
"Selamat bersenang-senang Diana, karena kamu berhasil membuat namaku hancur di depan sahabatku, teman-temankuku, bukan hanya itu bahkan kau telah menjatuhkan harga diriku di depan semua lapisan masyarakat.”
"Sekarang aku tidak akan membela diri atau melakukan apapun, terserah kalian bagaimana kalian ingin menilaiku, Hiks!" Veronica meraih tisu dan menghapus air matanya. "Aku tidak pernah mengganggu kamu Diana, aku tidak menyentilmu untuk urusan apapun! Apa yang kamu katakan pada Ivan aku juga pasrah, Tuhan tidak tidur Diana."
"Jangan bawa nama Tuhan untuk kejahatanmu Ver!" maki Ivan.
Veronica tersenyum masam, saat ini hanya ada tatapan kebencian dari sorot mata Ivan yang tertuju padanya. "Terserah! Aku saat ini tetap diam, aku lelah dengan tuduhan yang Diana tujukan padaku, Diana telah menginjak harga diriku! Tidak apa-apa, aku terima. Karena setiap perbuatan yang kalian lakukan, akan kembali kepada yang memperbuatnya."
__ADS_1
“Kamu punya masalah apa dengan Veronica?! Kamu selalu membuat dia dilihat buruk!” maki Yaqzhan.
“Aku tidak melakukan apa-apa pada Veronica,” sahut Diana. "Aku setuju dengan ucapan Veronica, intinya apa yang seseorang tanam, maka dia akan menuai hasil seperti apa yang telah dia perbuat, semoga secepatnya kamu memanen semua yang kau tanam Ver!" Diana tersenyum sinis pada Veronica. "Aku sangat tidak sabar menanti hal itu."
"Karma itu ada, jika kamu beruntung, kamu bisa melihat langsung bagaimana Tuhan membayar semuanya." Tatapan mata Diana sangat tajam tertuju pada Veronica. "Aku harap, aku salah seorang yang beruntung, sat Tuhan membayar semua perbuatanmu padaku, dan semua korbanmu!"
Duugggg!
Shady, Yaqzhan, dan Yudha terkejut mengetahui Diana bisa bicara. Sedang Narendra memperhatikan semakin serius.
"Ingat qoute yang viral di sebuah aplikasi?" Diana memandangi Veronica, Shady, dan Yaqzhan bergantian. “Buah yang sudah busuk, tidak perlu kamu usik, tidak perlu kamu ganggu, tidak usah kamu teriaki orang-orang dengan mengatakan buah itu busuk, tidak usah menasehati orang-orang agar menjauhi buah itu. Karena suatu yang busuk dia akan mengatakan sendiri kalau dirinya busuk, memperlihatkan kebusukannya sendiri, karena buah busuk akan jatuh dengan sendirinya.” Diana menatap tajam pada Veronica. "Aku tidak perlu mengatakan segala keburukan Veronica pada semua orang, perilaku dirinya sendiri sangat jelas menjelaskan, dan memperlihatkan pada semua orang bagaimana busuknya dirinya."
Diana berdiri tegap di depan Veronica. “Buah busuk itu sekarang sudah jatuh dan menampakkan diri kalau dia busuk!”
"Qoute ini viral di mana-mana," ucap Diana.
“Berani-beraninya kamu mengumpamakan Veronica seperti buah busuk!” Shady berjalan mendekati Diana, dia ingin memberi pelajaran pada Diana.
Pyar!!
Satu botol champange mendarat tepat di depan kaki Shady. “Berani menyentuh permata terindah itu, kepalamu yang akan menjadi bantalan lemparan botol selanjutnya!” maki Yudha.
“Tipu daya Veronica ini sangat murah! Saat kejahatannya terbuka di depan masyarakat, dia selalu mengatakan dirinya korban, sambil menangis tersedu, membawa nama Tuhan, berusaha mengelak dari semua kesalahan, menyalahakan setiap orang yang berseberangan dengannya, mencari rasa iba dengan menjual air matanya, dan mengatakan kalau dirinya difitnah, korban kejahatan." Diana memandangi Veronica dengan tatapan yang begitu tajam.
Tatapan mata Diana kini tertuju pada Yaqzhan dan Shady. "Kalian tahu? Dia sendiri yang merupakan sumber fitnah dan kejahatan! Kalian berdua masih termakan dengan air matanya dan kata-kata kalau dia adalah korban?” ledek Diana. “Sepertinya titel yang kalian dapat bukan karena kecerdasan kalian tapi karena uang! Tipuan murahhan dari air mata Veronica saja kalian tertipu. Sikap kalian sangat jelas menampakkan kalau kalian seperti orang yang tidak punya otak!” maki Diana pada Yaqzhan dan Shady. "Orang yang jelas-jelas berbuat jahat, kalian masih setia melayaninya. Ck! Ck! Ck!"
"Aku heran, kenapa semua teman-temannya betah berada di dekatnya." Diana mengisyarat pada Veronica. "Aku melihatnya saja malas, apalagi sampai berurusan dengannya."
Veronica mengusap air matanya. "Hina aku sepuas hatimu Diana, aku tetap diam. Aku tahu kamu orang baik, dan aku tidak akan melawan apapun, karena aku lelah."
Ivan hanya diam menyimak kejadian ini, ada rasa bahagia yang menyeruak mendengar Diana banyak bicara.
“Shady. Sadar! Kamu selama ini hanya dimanfaatkan Veronica,” ucap Yudha.
“Yaqzhan, kamu orang baik, sebelum berbicara pertimbangkan dulu apa yang ingin kamu katakan,” nasihat Ivan.
“Kemarahan Ivan pada Veronica bukan tanpa sebab, kejahatannya sudah terlewat batas, dan kalian berdua ingin menjadi tameng pelindung seorang penjahat?”
"Membela penjahat, melindungi penjahat, maka itu cukup membuktikan kalau kalian sama jahatnya!" ucap Yudha.
Ivan memberikan dokumennya pada Shady dan Yaqzhan. Keduanya membaca isi dokumen itu bersama. Sangat banyak bukti kejahatan Veronica dalam dokumen itu.
“Aku sangat sedih jika kedua temanku sama lemahnya dengan hukum di negara ini. Kalian tahu? Bahkan sampai sekarang aparat hukum tidak punya nyali untuk memenjarakan buah busuk itu!” tatapan kemarahan Ivan tertuju pada Veronica.
Veronica mematung di tempatnya, dia hanya bisa menumpahkan air matanya, sakit, marah, malu, semua jadi satu.
Ivan berdiri mendekati Diana, dia mengambil ransel Diana yang menggantung di bahu indah wanita itu, lalu meletakkannya di meja yang tak jauh darinya. “Kenapa berdiri saja sayang? Ayo duduk bersamaku,” ucap Ivan sangat lembut. Ivan menarik Diana dan mereka duduk berdekatan.
Sayang? Ivan memanggil Diana dengan panggilan sayang?
Tidak ada peribaratan kata yang mewakili hancurnya perasaan Veronica saat ini.
__ADS_1
"Kamu mau ini?" Ivan menawarkan minuman dan cemilan yang ada diatas meja pada Diana.
Veronica mengepalkan kedua tangannya melihat Ivan begitu memperhatikan Diana. “Apa ini kejutan ulang tahun yang kalian renacanakan untukku?” jerit Veronica.
“Ini hari bahagiaku, kalian malah membuatku sesakit ini.”
"Tidak bisa kah kalian menghargai perasaanku, walau sedikit saja? Hiks!" Veronica meraih tisu dan mengusap air matanya.
Diana geram melihat drama Veronica, dia beranjak dari posisinya dan berjalan mendekati Veronica. “Veronica! Berhenti menarik perhatian semua orang dengan kesedihanmu!” maki Diana.
“Aku tidak pernah memanfaatkan kesedihanku, Diana!”
Diana ingin memaki Verionica lagi, namun ucapannya tertahan, kala ada sebuah tangan yang mendarat lembut di bahunya. Saat Diana menoleh pada pemilik tangan itu, ternyata itu tangan Ivan. “Jangan hiraukan dia, biarkan dia menangis sekuat yang dia mampu, sekali pun air matanya membanjiri seluruh kota ini,” ucap Ivan.
“Ya sudah, aku serahkan semua perkara ini padamu. Dalam dokumen itu sudah lengkap semua bukti.”
Ivan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Untuk kasus Veronica, terserah kamu. Mau kamu apakan dia, aku malas berurusan dengannya.”
“Aku akan pikirkan hal itu nanti,” sahut Ivan.
“Aku ke sini selain memberi bukti itu, aku juga ingin minta izin padamu,” ucap Diana.
Yudha, Yaqzhan, dan Shady terpaku melihat dua orang yang berbicara di depan mata mereka, baru kali ini melihat seorang Ivan memandang seorang wanita dengan tatapan mata yang begitu lembut. Sedang Narendra sangat sulit mempercayai yang terjadi di depan matanya, seorang gadis pembantai bersikap begitu sopan, lembut, dan halus.
“Izin apa?” tanya Ivan.
“Aku ingin pergi untuk beberapa waktu.”
Ivan terdiam mendengar Diana ingin pergi.
Apa kamu tidak merindukanku Diana? Aku baru datang, kamu malah ingin pergi. Melihatmu semalaman suntuk saja masih belum cukup untuk membayar rasa rinduku karena berpisah denganmu beberapa hari, sekarang kamu malah ingin pergi.
Ivan menegakkan wajahnya memandangi Diana, keduanya saling beradu tatap. Melihat keadaan itu membuat jiwa Yudha, Yaqzhan, dan Shady semakin meronta. Mereka juga ingin memandang seorang gadis dengan tatapan penuh cinta seperti saat ini Ivan memandangi Diana.
Ribuan anak panah yang mendarat di hati Veronica melihat Ivan dan Diana sedekat itu.
Arggggg! Veronica hanya bisa menjerit di dalam hati.
Rasanya Ivan ingin membekukan waktu, agar waktu berhenti di detik ini, agar dia bisa memandangi Diana lebih lama lagi.
"Boleh aku pergi?" tanya Diana.
Kamu tidak boleh pergi, kamu hanya boleh berada dalam pelukanku.
Ingin sekali Ivan mengatakan kalimat itu, tapi keberaniannya tidak sebesar itu. Ivan hanya memandangi wajah Diana.
“Diana, maafkan aku.” Veronica sengaja berkata demikian agar keromantisan yang terjalin buyar karenanya. Dia tidak kuat melihat Diana dan Ivan saling pandang seperti itu.
Diana menoleh kearah Veronica. “Terlambat!” Diana tersenyum dan kembali menoleh pada Ivan. “Aku pergi. Sampai jumpa lagi.” Diana langsung melangkah meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Shap!
Tiba-tiba ada sesuatu yang membuat Diana menghentikan langkahnya.