Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 210


__ADS_3

Lima orang dari pihak penyerang, langsung kembali ke markas. Sesampai di markas, mereka semua menghadap atasan mereka, dan menceritakan yang terjadi saat penyergapan.


Brakkk!


Semua benda yang ada di atas meja beterbangan ke berbagai arah, karena sapuan kasar seorang laki-laki yang dibakar kemarahan. Mereka semua terperanjat mendengar amukan atasan mereka, walau takut, mereka semua tetap berusaha berdiri tegap.


"Kenapa rencana ini gagal!? Bukankah sebelum menyerang kalian sudah memastikan target?!"


"Benar adanya Target sepert yang kami laporkan, tapi--"


"Aku tidak mau mendengar tapi!"


Plak!


Tamparan keras mendarat di wajah anak buahnya yang gagal.


Sakit, panas, perih. Namun laki-laki itu tetap berusaha tegar. "Kami hampir memenangkan pertarungan, Tuan. Tapi tiba-tiba datang kapal besar dengan persenjataan lengkap, kami tidak mampu melawan, bahkan ketua sampai sekarang masih mereka tawan."


"Sepertinya ada campur tangan No name di sini!" Laki-laki itu menggebrakan tangannya diatas meja, menumpahkan emosinya.


Rahang laki-laki itu mengeras menahan luapan kemarahannya.


"Kami tidak tahu siapa yang menolong mereka, Tuan."


"Jika ketua kalian masih mereka tahan, kalian pilih ketua yang baru, dan aku tidak mau tau, seminggu lagi kalian harus membawa wanita itu ke hadapanku, beserta T779 yang sudah dia produksi!"


"Wanita itu, merupakan ancaman besar bagi bisnisku, apakah itu keberadaannya mau pun apa yang ada padanya, apalagi kejeniusannya yang luar biasa, ini hal yang sangat menghambat bisnisku." CEO ED Group memandang kosong kearah depan.


"Kalian semua boleh pergi, silakan atur rencana untuk membawa Diana ke hadapanku!"


Semua orang yang ada di ruangan itu membubarkan diri. Tinggal CEO ED Group seorang diri. Dia langsung menelepon nomor seseorang.

__ADS_1


"Halo Tuan," sapaan di ujung telepon.


"Penyergapan ku gagal, apakah No Name turun tangan untuk membantu Diana?"


"Aku akan cek Tuan, tapi setahuku saat ini No Name belum melakukan pekerjaan apapun."


"Bagaimana perkembangan obat T779 di tangan Diana?"


"Sepertinya berjalan mulus."


"Aku ingin obat itu, dan aku ingin Diana mati, aku tidak mau bernasib buruk seperti rival-rival perusahaan ED Group sebelumnya, di mana mereka mengalami kerugian besar hanya karena kedermawanan Perusahaan Agung Jaya."


"Aku mengerti kekhawatiran Anda, Tuan. Aku akan terus berusaha mendekati Diana, agar aku selalu tahu apa yang dia lakukan, semenjak dia tahu ada pengkhianat di IMO, dia semakin waspada, bahkan sejak kami sampai di jerman, aku belum bertemu dengannya, kami bekerja di tempat yang berbeda. Baru beberapa jam lalu aku mendapatkan lokasi Diana, dan aku kirimkan pada Anda."


"Ya, aku mengutus anak buahku untuk menghabisi mereka semua, tapi gagal karena bantuan datang."


Merasa tidak ada jawaban di ujung telepon sana, CEO ED Group menyudahi panggilan mereka.


Kapal Ivan


Setelah mendengar jawaban Ivan, Dillah segera kembali ke kabinnya. Sedang Ivan duduk di sisi Diana dan memeluknya.


"Sejak kapan kamu tahu kalau aku ingin sekali ke St Peter-Ording?"


"Kamu lupa, kalau aku selalu berusaha mencari tahu tentang dirimu, aku sangat mencintaimu, Diana. Aku kepo bukan apa-apa, aku hanya takut kalau ada perbuatan atau kelakuanku yang tidak menyenangkan bagimu, kalau aku tidak tahu apa-apa tentangmu."


"Sudah ku katakan, tidak ada yang menarik tentang masa laluku."


"Aku tidak tertarik tentang masa lalumu, aku hanya ingin mengenalmu lebih dalam."


"Bagaimana kalau kamu menemukan fakta pahit tentangku?" tanya Diana.

__ADS_1


"Aku tidak peduli, aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku tidak peduli siapa diriku, yang aku peduli hanya kamu, dan aku ingin selalu bersamamu, seperti ini."


"Apa yang membuatmu sangat ingin ke St Peter-Ording?" tanya Ivan.


"St Peter-Ording, adalah sebuah resor spa, yang terkenal dengan mata air belerangnya yang bersifat memulihkan  dan menyembuhkan. Selain bisa menikmati indahnya pemandangan di sana, kita juga bisa spa di sana."


Ivan merasa ada benda yang bergetar di bawah pantatnya, Ivan segera bangkit, ternyata dia tak sengaja menduduki handphone Diana. Ivan langsung memungut beda itu dan mengusapnya di bagian depan dadanya.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja mendudukinya."


Diana tersenyum melihat rasa bersalah tersirat di wajah Ivan. "Tidak masalah, handphoneku sangat kuat, kamu lempar ke porselen, bukan handphoneku yang pecah, tapi porselennya."


"Rakitan Profesor Russel?"


"Kamu tahu keahlian Russel?" Tanya Diana.


"Dia salah satu Profesor di Universitas milik Kakekku, tentu saja aku tahu. Sebelum memintanya mengajar, aku sudah mencari tahu tentangnya."


"Sebab itu Pak Abimayu melakukan bermacam cara agar Russel mau mengajar di sana?" tebak Diana.


"Kenapa kamu tahu, kalau Pak Abi yang bekerja keras membujuk Russel agar mau mengajar di Bina Jaya?" tanya Ivan.


"Kau lupa siapa aku?"


"Mana mungkin aku lupa tentangmu, kamu adalah permata hatiku, permata hidupku."


"Maksudku, kamu lupa, kalau aku dan Russel pernah kuliah di tempat yang sama?"


"Kenapa aku lupa? Padahal kamu pernah bilang, kalau kamu adik tingkat Russel."


Panggilan kedua dari nomor yang sama kembali terdengar. Ivan melirik layar handphone Diana, dia merasa familiar dengan nomor yang tengah menghubungi Diana saat ini. "Ini, wakil ketua IMO meneleponmu." Ivan menyerahkan handphone itu pada Diana.

__ADS_1


Diana menautkan kedua alisnya, nomor Tony tersimpan tanpa nama di handphonenya. "Bagaimana kamu tahu kalau nomor ini milik Tony?"


__ADS_2