Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 190 Gunung Rindu


__ADS_3

Dillah kembali datang ke rumah tua itu dengan membawa satu nampan yang berisi penuh makanan. Dillah memandangi keadaan rumah itu dari luar, seketika bulu kuduknya beediri.


"Ada apa di sini? Kenapa Nona sangat betah mengurung diri di sini?"


Dillah mencoba mengusir rasa takutnya, dan berdiri tegak di depan pintu besar yang dihiasi ukiran-ukiran kuno. Baru saja Dillah menarik napas untuk bersiap memanggil Diana, namun suaranya tertahan karena deringan handphonenya.


"Pasti hantu tampan yang menelepon ini," tebak Dillah.


"Sejak kemaren dia terus menerorku."


Dillah berusaha menahah nampan dengan sebelah tangannya, sedang tangan yang satunya sibuk dengan benda pipih persegi Panjang itu. Saat melihat nama Ivan di layar handphonenya, Dillah membuang kasar napasnya.


“Iya Tuan?”


“Sudah 24 jam aku tidak menerima kabar Diana. Sejak kemaren kau selalu bilang dia sibuk!"


"Nona Diana memang sibuk, Tuan."


"Sibuk apa? Kalian bekerjasama ya?"


"Aku harus bagaimana? Ini aku sedang berdiri di depan pintu kamarnya membawa makanan, karena Nona tidak keluar kamar sejak kemaren sore."


"Apa dia baik-baik saja?" Ivan cemas.


"Nona Diana bukan anak mami yang kena sedikit air hujan langsung flu."


"Ya sudah, cepat panggil dia!"


"Sebentar ...." Dillah mencoba menahan handphone antara pundak dan sisi telinganya.


"Mana dia?” Ivan sangat kesal.


"Tuan, aku belum mengayunkan tanganku untuk mengetuk pintu."


"Eh tunggu, Diana tidak keluar kamar sejak kemaren sore?"


“Iya, kata pelayan Nona tengah mengerjakan sesuatu, Tuan mau aku menerobos kamarnya atau memintaku menunggu Nona membukakan pintu untukku? Ya ketukanku ini pun pasti sangat mengganggunya.”

__ADS_1


“Jangan! Jangan ganggu dia, ketuk 3 kali, kalau dia tidak membukakan pintu, tinggalkan saja."


"Baik, Tuan." Dillah mulai mengetuk pintu sambil memanggil nama Diana.


"Tidak ada respon, Tuan."


"Ya sudah, kamu jangan ganggu dia lagi, aku akan menahan rinduku, biarkan saja dia melakukan pekerjaannya, dia jauh-jauh ke Negara orang karena ada tugas.”


“Baik, Tuan. Jika Nona sudah keluar, aku akan menghubungi Anda.”


"Ingatkan dia, agar makan dan tidur dengan teratur. Dia kalau sudah bekerja suka lupa waktu."


"Aku hanya bisa mengingatkan Tuan, tidak punya kuasa untuk memaksa."


Tidak ada sahutan lagi dari ujung telepon sana. Dillah kembali menyimpan handphonenya, saat dia bersiap ingin mengetuk pintu rumah tua itu, tiba-tiba terdengar suara di balik pintu rumah itu, pintu perlahan terbuka dan nampaklah sosok Diana.


“Dillah?” Diana terkejut melihat Dillah di wilayah terlarang.


“Maaf Nona, aku melanggar janjiku, bagaimana aku bisa duduk manis di bangunan utama, sedan Nona sejak sore sebelumnya tidak keluar, kemaren pagi aku menunggu di sini, Nona juga tidak keluar. 28 jam Nona betah mengurung diri di dalam sana, memangnya di sana ada apa? Apa Nona dapat makan dari para mahluk goib?”


“Tidak.” Tapi Dillah tidak bisa menyembunyikan raut kepenasaraannya.


“Kalau penasaran masuklah, taruh makanan itu di meja yang ada di dalam.” Diana kembali masuk kedalam rumah.


Saat Dillah memasuki rumah itu, pemandangan di sana sangat di luar batas pikirannya. Dalam rumah itu sangat banyak spesimen manusia. Dillah masih memandangi keadaan rumah terlarang itu. Hingga perhatiannya tersita pada salah satu alat.


Bukankah alat itu hanya ada dua di dunia? 1 milik sebuah Organisasi penelitian dan pengembangan obat, dan satu milik Perusahaan ED Group yang di curi.


“Apa Ivan menanyakanku?” tanya Diana.


Dillah berusaha mengembalikan kesadarannya yang terburai karena pemandangan yang dia lihat. “Sejak kemaren Tuan selalu meneleponku dan menanyakan Anda, baru saja dia habis menelepon menanyakan Anda lagi. Anda mau menerima telepon Tuan?”


“Sebentar, aku makan dulu.” Diana terus menikmati makanan yang Dillah bawakan. Sedang Dillah mulai mengambil beberapa foto dengan kamera handphonneya.


“Telepon saja Ivan, nanti dia terus mengganggumu kalau dia belum bicara denganku,” ucap Diana.


Dillah menyudahi kegiatannya, dia segera menghubungi Ivan, saat telepon itu tersambung, Dillah memberikan handphonenya pada Diana, dan langsung keluar dari sana.

__ADS_1


“Kenapa kamu keluar Dillah? Apa kamu takut berada di sini?” tanya Diana.


“Aku tidak takut dengan semua yang ada di ruangan itu, hanya saja aku tidak kuat jika mendengar rayuan Anda pada Tuan Ivan.”


Diana tersenyum mendengar jawaban Dillah.


“Sudah puas berbicara dengan Dillah? Di sini aku sejak kemaren merindukanmu,” ucap Ivan.


“Oh ya?” sahut Diana.


“Jarak ke Jerman tidak terlalu jauh, apa kamu tidak merasakan gelombang rinduku?” rayu Ivan.


“Kamu sekarang di mana?” tanya Diana.


“Di kantor.”


“Saat kamu menuju kantormu, apa kamu melihat bagaimana keadaan halaman kantormu,” ucap Diana.


“Tunggu!” Ivan sangat bersemangat, dia berpikir Diana sudah pulang dan saat ini berada di depan kantornya.


Diana bingung karena hanya ada suara napas yang menggebu di ujung telepon sana.


"Ivan ...." Diana bingung karena Ivan hanya diam.


Di sisi lain.


Saat keluar dari lift, Ivan berlari menuju pintu utama kantornya. Melihat tidak ada apa-apa di halaman kantornya, Ivan merasa bingung. “Memangnya ada apa di halaman kantorku?”


“Kamu tidak melihat ada gunung di sana?” ucap Diana.


“Gunung?” Ivan semakin tidak mengerti.


“Jangan melihat dengan mata zahirmu, tapi lihat dengan mata hati dan perasaanmu, di depan kantormu saat ini ada gunung yang sangat besar dan tinggi, gunung itu bisa kamu lihat dengan hatimu, dan gunung itu adalah perwujudan dari rasa rinduku padamu.”


Serrrr!


Rasanya kedua lutut Ivan lemas seketika, semangatnya berlari dari lantai 30 ke lantai utama dengan harapan melihat Diana, seketika hancur. Ingin marah pada Diana yang membuatnya berpikir kalau Diana pulang, tapi dia juga bahagia dengan rayuan Diana.

__ADS_1


__ADS_2