Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 129 Minta Maaf!


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, mata kuliah lanjutan juga selesai. Profesor yang mengajar mata kuliah berikutnya tidak masuk.


"Jam kuliah kita kosong, bagaimana kalau kita ke kantin?" tawar Saras. "Ayolah Diana, kita cari minuman dingin di sana, aku sangat haus."


"Kamu saja, Saras. Saat ini kabar buruk tenntangku menyebar luas, aku malas mendengar bisik-bisik itu, aku takut aku tidak bisa menahan diriku."


"Kalau kamu tidak mau, ya sudah aku juga di sini bersamamu." Saras kembali duduk di kursinya.


"Katanya haus?"


"Ada air putih, tenang." Saras meraih botol minumnya dan mulai menegak isinya.


Diana tidak tega, hanya karena penolakannya Saras juga mengurung diri di kelas. "Tapi, aku juga haus, minuman dingin segar banget kayaknya."


"Ayok ke kantin!" Saras terlihat sangat bersemangat


Keduanya berjalan bersama menuju kantin lagi. Sesampai di kantin, keadaan outlet yang mereka tuju antriannya luar biasa panjang. Sepertinya cuaca panas tidak hanya membuat tenggorokkan Saras dan Diana kering, tapi juga dirasa oleh kebanyakan Mahasiswa. Saras dan Diana masih mengantri di outlet pilihan mereka. Setelah kesabaran panjang mereka berlalu, akhirnya giliran keduanya. Dua minuman dingin kekinian dan satu piring cemilan mereka dapatkan.


“Aku saja yang membawanya, Diana.” Saras langsung mengangkat nampan yang berisi dua gelas minuman mereka.


"Hati-hati, kamu itu orangnya ceroboh."


Diana membiarkan Saras membawa nampan yang berisi cemilan dan minuman mereka. Saras terlihat sangat semangat membawa nampan itu.


Brakkk!


Saras tersandung sesuatu, dan dia terjatuh.


"Aw ...." Saras menjerit.


"Saras, apa yang sakit?" Diana langsung membantu Saras.


"Minuman kita," jerit Saras. Saras mencari kemana nampan yang dia pegang sebelumnya.

__ADS_1


Saat melihat salah satu Mahasiswi dalam keadaan basah dan kotor karena tumpahan minuman dan cemilan yang dia bawa, Saras merasa sangat bersalah. Dia berlari mendekati mahasiswi itu sambil mengeluarkan tisu dari dalam tasnya.


“Mariana, maafkan aku.” Sesal Saras. Saras mencoba membantu membersihkan kotoran yang menempel pada anggota badan Mahasiswi itu.


Plak!


Tangan Saras di tepis begitu saja.


“Dasar murrahan! Tidak punya otak! Membawa minuman saja tidak becus!” makinya pada Saras.


Diana mendekati mahasiswi yang Bernama Mariana itu. “Saras terjatuh, dia tidak sengaja menumpahkan minuman itu padamu, dan dia juga meminta maaf padamu dengan tulus, tolong maafkan dia,” ucap Diana.


“Mahasiswi kayak kalian berdua itu emang gak punya mata! Karena mata kalian hanya bisa melihat isi ATM om-om kaya!”


“Otak kalian juga isinya hanya memikirkan bagaimana cara menjajakan tubuh kalian itu agar tetap laku dan menghasilkan uang! Bukan rahasia umum lagi kalau kalian berdua itu penghibur, bahkan profesor Russel dan cucu Universitas ini adalah langganan tetap kalian!”


Kemarahan Diana seketika berkobar mendengar nama Russel disebut, kedua tangan Diana mengepal, bersiap untuk dilayangkan pada wanita yang terus berkicau di depan matanya. Tapi Diana sebisanya menahan segala kemarahannya.


Diana memandang kearah Mariana. "Aku memang bukan wanita baik-baik, asalku juga dari desa dan latarku tidak jelas. Tapi tolong, jangan hina Profesor Russel dan Ivan," ucap Diana lembut.


"Aku kira gosip ini hanya gosip angin belaka, ternyata benar ya?"


Kebanyakan Mahasiswa iri dengan pesona Diana. Seorang gadis desa yang tidak memiliki latar belakang yang jelas, tapi memiliki karunia Tuhan yang begitu istimewa, wajah yang cantik, bentuk tubuh yang menjadi impian semua orang, laki-laki incaran semua mahasiswi seperti profesor Russel, Thaby, dan Ivan malah bertekuk lutut pada Diana. Mereka tidak mampu menahan rasa iri mereka, sehingga jemari-jemari tangan yang nakal menyebarkan romur tentang Diana yang punya uang banyak karena menjual diri. Dugaan itu semakin menguat saat beberapa Mahasiswa melihat Diana datang ke kantor profesor Russel, dan Diana berada di sana sangat lama.


Saras menyadari saat ini Diana tersulut emosi, dia tidak ingin Diana kena masalah hanya karena ocehan para mahasiswi itu. Saras mendekati Diana dan mendaratkan tangannya di pundak Diana. “Jangan kotori tanganmu yang indah dengan menyentuh mereka,” ucap Saras. Saras mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Diana. “Di sini ada CCTV.”


Perlahan emosi Diana mereda, dia juga teringat akan janjinya pada Ivan, kalau tidak akan berkelahi di depan umum atau pada tempat yang ada CCTV-nya.


“Kita pergi dari sini,” ajak Saras.


Diana menyetujui ajakan Saras. Saat Saras berjalan melewati Mariana, tiba-tiba wanita itu melayangkan kepalan tangannya untuk meninju Saras. Pukulan Mariana terjeda di udara, karena ada satu tangan yang begitu kuat menahan pergerakkannya. Diana memelintir tangan Mariana hingga terdengar bunyi ‘Krek’ dan mengunci pergerakkan Mariana.


“Aaakk!” Mariana menjerit karena tangannya sangat sakit.

__ADS_1


“Saras sudah meminta maaf padamu, kamu malah menghina kami, menghina pengajar di sini, dan kau ingin memukul Saras!” Diana mengencangkan cengkramannya.


"Aw Sakit! Lepaskan aku pellacurr!" maki Mariana.


“Diana, lepaskan dia, jangan sampai dirimu kena kasus lagi, tempat ini ada CCTV, Diana!”


“Justru dia yang kena kasus! Karena berusaha menyerangmu.” Tatapan kemarahan Diana tertuju pada Mariana. “Minta maaf pada Saras!”


“Tidak sudi aku meminta maaf pada jallang seperti kalian! Dasar pellacurr!”


"Tidak ingin minta maaf?!" Diana semakin mengencangkan pegangangnya.


“Aaaaa!” Mariana menjerit begitu keras, hingga menyita semua perhatian Mahasiswa yang ada di kantin. “Lepaskan aku lonnte!” makinya.


Diana malah semakin menguatkan kunciannya. "Ingin lepas maka minta maaf pada kami!"


"Tidak sudi!" Mariana keras dengan pendiriannya.


"Minta maaf saja Mariana, toh kamu yang salah," usul Mahasiswi lain.


"Benar Mariana, daripada kedua tanganmu lepas dari tempatnya," usul yang lainnya.


“Minta maaf pada kami dengan benar!” maki Diana.


“Maafkan aku,” rengek Mariana.


Diana melepaskan kunciannya, dia mendorong Mariana, hingga dia tersungkur di lantai. “Minta maaf dengan benar! Atau ku patahkan tanganmu dan ku robek mulutmu!” maki Diana.


Mariana segera berlutut di depan Diana dan Saras, dia terus mengucapkan kata maaf berulang kali. Diana mengambil minuman Mariana dan menuangkannya di kepala Mariana, wanita itu hanya diam menahan dingin dan rasa sakit di bahunya.


“Masih ada lagi yang ingin mengatakan kami jallang?” Diana menatap bergantian semua mahasiswa yang berkerumun. “Kalau ada cepat maju! Aku pastikan mulut kalian robek! Dan tangan kalian patah! Karena menulis berita hoax!"


"Kalian hina aku sepuas hati kalian, aku tidak masalah! Tapi berita ini menyeret nama baik pengajar di sini! Apa ini cara kalian berterima kasih pada seseorang yang memberi ilmu pada kalian!"

__ADS_1


Semua mahasiwa diam. Diana menyeret Saras meninggalkan kantin, melihat Diana berjalan kearah mereka, semua Mahasiswa mundur dan membuka jalan untuk Diana dan Saras. Beberapa diantaranya perlahan menghapus komentar mereka yang mengucilkan Diana. Perbuatan Diana pada Mariana membuat nyali mereka seketika ciut.


__ADS_2