Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 105 Permata Indah


__ADS_3

“Maaf Tuan besar, saya langsung mengajak mereka masuk, karena salah satunya tamu penting keluarga ini.”


“Tidak apa-apa Daima.” Kakek Agung tersenyum kepada tiga tamunya. “Abimayu, aku senang melihatmu.”


Pak Abimayu hanya tersenyum menanggapi sambutan kakek Agung.


“Kenapa hanya berdiri di sana? Ayo masuklah dan duduk di sini bergabung dengan kami,” sambut kakek Agung.


Pak Abimayu bersama tiga rekannya langsung berjalan mendekat kearah kakek Agung. “Maafkan kalau kedatangan kami mengganggu waktu Anda Tuan,” sesal Pak Abimayu.


“Tidak apa-apa, justru aku merasa senang melihatmu datang. Katakan padaku, ada berita apa di Universitas?”


"Keadaan Universitas saat ini baik-baik saja Tuan. Kami datang ke sini, karena ingin memberi konfirmasi berita yang menyeret Diana," ucap Abimayu.


"Diana?" Kakek Agung terlihat kebingungan.


"Saya datang bersama para saksi-saksi, dan apa yang akan kami katakan nanti bukan bualan semata." Abimayu mengisyarat tiga orang yang bediri di sisi kanan dan kirinya.


Pandangan kakek Agung tertuju pada tiga oang yang datang bersama Abimayu. “Sepertinya aku baru melihat mereka sekarang, apakah mereka para Profesor yang akan mengajar di Universitas Bina Jaya yang kamu khususkan untuk Diana?”


"Tidak Tuan, mereka tidak berkaitan dengan Universitas. Tapi, mereka berkaitan dengan video viral."


Kakek Agung terbayang video sadis yang diputarkan Wilda beberapa saat sebelumnya


"Sebelum kami bercerita, saya akan memperkenalkan mereka." Pak Abi tetap terlihat ramah. “Perkenalkan dia adalah Nyonya Gwen Tiffany, beliau adalah Wakil Direktur Departemen Kesehatan.” Pak Abi mengisyarat pada seorang perempuan yang berdiri di dekatnya.


Wanita yang Bernama Gwen Tiffany itu menyalami Kakek Agung. “Sebuah kehormatan bagi saya karena di beri kesempatan bertemu langsung dengan Tuan Agung Jaya.”


“Saya juga senang bisa bertemu dengan Anda,” sahut kakek Agung.

__ADS_1


Gwen menyalami satu per satu orang yang ada di ruangan itu.


“Kalau anak muda ini, namanya Derick Montinago.” Pak Abimayu mengisyarat pada seorang pemuda yang berdiri di samping Gwen. “Dia adalah Pelopor Universitas Centra Sirba.”


Kekek Agung sangat senang bertemu salah satu mahasiswa kebanggan dari Universitas lain. “Senang bertemu denganmu nak, aku pernah membaca berita tentangmu, tapi aku tidak tahu yang mana Monti itu.”


“Saya juga sangat senang,” sahut Monti.


“Dan yang ini, dia adalah Tuan Muda Austin Archer, CEO AA Group.” Pak Abimayu menunjuk kearah laki-laki yang berada di dekatnya.


Ivan menatap dalam laki-laki itu, dia sangat terkejut melihat Archer datang ke rumahnya hanya untuk menyelesaikan masalah Diana, Ivan lumayan mengenal sosok Tuan Muda dari kota lain itu.


“Mereka bertiga sangat ahli mengurus permasalahan darurat yang sangat berbahaya.” Pak Abi terus memperkenalkan siapa yang datang bersamanya.


Wilda ingin sekali menampar wajahnya sendiri, entah angin apa yang membuat beberapa orang penting ini bertamu ke rumah Ayahnya hanya untuk Diana.


Gwen maju selangkah, dia memberikan dokumen pada Ivan, kakek Agung, Wilda, Rani, dan Sofian. Tanpa menunggu perkataan Gwen, mereka semua langsung membuka isi dokumen itu. Semua dokumen memuat bermacam data penelitian mereka satu tahun yang lalu.


"Kenapa bukan kepala suku di sana yang memimpin kremasi?" sela Wilda.


"Mereka mengagumi Diana yang tidak pernah lelah berjuang untuk mereka, sebab itu mereka meminta Diana memulai proses pembakaran mayat. Monti tolong kamu perlihatkan video lanjutannya."


Monti segera memperlihatkan Video lanjutan. Ivan sangat fokus memperhatikan video yang Monti putarkan, sama persis dengan video yang diberikan Narendra.


“Untuk urusan dunia maya, sudah ada pihak yang menanganinya, karena ini penelitian rahasia, sangat mudah bagi orang itu menghapus semua video yang beredar,” sambung Monti.


"Jika ada orang yang berani mempublikasikan video itu, maka dia akan berurusan dengan Instansi kami," sela Archer.


Wilda berusaha terlihat tenang dan terus memasang wajah angkuh, walau dalam dirinya dia sangat ketakutan.

__ADS_1


“Urusan dunia maya selesai, tapi permasalahan yang timbul pada keluarga baru Diana tidak semudah meluruskan permasalahan seperti di dunia maya jika tanpa bukti. Kami datang dan memberi klarifikasi dan bukti," ucap Archer.


“Diana adalah sosok yang sangat luar biasa, dengan kejeniusannya, korban yang masih bertahan bisa selamat,” tambah Gwen.


Semua keluarga Agung tidak mempercayai ucapan Gwen.


Gwen menoleh kearah Sofian. “Walau video ini sudah terlanjur tersebar, percayalah ini tidak akan berdampak apa pun pada perusahaan Agung Jaya. Mereka yang mengetahui kejadian ini hanya diam, karena Diana tidak ingin bakatnya dipublis.


“Apakah Diana sengat penting bagi Anda, Nyonya Gwen? Sehingga Anda repot-repot datang kemari untuk memberi klarifikasi," sela Wilda.


“Sangat penting, dia adalah permata terindah yang kami temukan di salah satu desa terpencil. Bakatnya, idenya, sangat luar biasa,” sahut Gwen.


Archer mendekati Ivan. “Entah apa kelebihanmu sehingga Nyonya Zelin mempercayakan permatanya padamu, yang jelas kamu adalah laki-laki yang sangat beruntung karena dipilihkan bidadari seperti Diana. Kamu sangat beruntung Ivan, karena Tuan Agung memilihkan permata terbaik yang ada di kota ini, untukmu.” Archer berulang kali menepuk bahu Ivan.


“Cucuku sudah tahu kalau Diana gadis yang istimewa, sejak Diana pertama kali menginjakkan kakinya ke rumah ini, Ivan terus berusaha mencari tahu tentang Diana. Sebab ini dia diam dan menerima perjodohan ini, karena dia sudah mengetahui betapa istimewanya Diana. Bahkan ku rasa cucuku sudah jatuh cinta pada permata terindah dari desa itu,” ucap kakek Agung.


Rani seketika kesulitan bernapas mendengar kalau putranya sudah jatuh cinta pada gadis kampungan itu.


 


*Ini tidak benar! Ayah hanya bercanda, tidak mungkin putraku sudah jatuh cinta pada si udik kampungan itu*!


 


Sofian merasa aneh dengan keadaan istrinya. “Mama, mama kenapa?”


“Tidak apa-apa, mama hanya haus.”


“Astaga, kenapa tamu kita tidak dijamu.” Kakek Agung menyadari pelayannya belum menyajikan minuman untuk tamu mereka. “Daima, siapkan minuman untuk tamu-tamuku,” titah kakek Agung.

__ADS_1


Begitu juga Wilda, sepasang matanya melotot memandang kearah Ayahnya, sangat ingin berteriak meminta Ayahnya tidak berkata seperti itu.


__ADS_2