Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 226 Cincin


__ADS_3

Setelah petualangan panjang mereka, Diana terlelap di ruang pribadi itu. Sedang Ivan langsung menuju kamar mandi dan menygarkan tubuhnya, setelah mengenakan pakaian baru, Ivan kembali ke ruang kerjanya. Dia kembali melanjutkan memeriksa perusahaan Yama yang bekerja sama dengan Diana.


Ivan melihat langsung, Diana sangat berpengaruh di sana, walau Yama memberikan sebagian besar keuntungan perusahaan untuk kegiatan amal, tapi Diana lah kunci keberhasilan mereka. Ivan semakin memahami, mengapa Yama sangat takut pada Diana dan sangat menghormati Diana.


Di belahan lain.


Hadhif mulai melakukan pekerjaan yang selama ini dia rencanakan bersama Diana, jagat maya mulai dihebohkan dengan iklan dan berita yang menyudutkan perusahaan rival ED Group. Perusahaan yang merasa di rugikan tidak mau diam saja, mereka melakukan perlawanan, dan langsung menyerang ED Group dengan segala informasi yang mereka miliki.


Melihat keadaan dunia maya, Fablo, CEO ED Group saat ini terlihat sangat marah. Dia langsung menghubungi Tony. Dia merasa sangat ditipu, dalam rencana sebelumnya, Tony memberikan bukti alamat IP yang akan digunakan IMO, untuk menangkis berita hoax yang akan muncul, ternyata mereka memakai IP yang berbeda. Bahkan saat di lacak IP itu malah memang dari komputer salah satu perusahan mereka.


"Halo, Tuan." sapa Tony.


"Tony, kau menipuku!" maki Fablo.


"Menipu bagaimana Tuan?"


"Berita yang muncul, berbeda dengan berita yang kamu berikan, bagaimana kami menepis tuduhan itu dan membuktikan kalau itu ulah IMO bukan ED Group?!"


Di ujung sana Tony tidak percaya dengan ucapan Fablo, mengingat Fablo orang yang sangat licik, dia segera membuka laptopnya, dan memeriksa berita apa yang muncul. Benar saja, apa yang Fablo ucapkan benar adanya.


"Bagaimana bisa? Aku dan Hadhif mengerjakan berita yang aku kirim pada Tuan. Mengapa mereka menerbitkan berita ini?" Tony sangat syok.


"Bagaimana aku menepis berita hoax ini dan melemparkan tuduhan ini pada IMO?" Fablo terdengar sangat frustasi.


"IMO adalah organisasi besar, bahkan orang-orang kaya di dunia ini tidak berani mengusik IMO, bagaimana aku menyelamatkan perusahaanku dari perang dunia maya ini! Perangnya memang maya! Tapi dampaknya sangat nyata! Bahkan bisa menghancurkan perusahaanku!" Fablo terus berteriak.


"Aku akan mencari tahu ke markas, dan mencaritahu mengapa ada perubahan," ucap Tony.


***

__ADS_1


Bumi kini diselimuti kegelapan, matahari sudah menghilang. Hanya gemerlap bintang-bintang yang menghiasi gelapnya langit malam. Perlahan Diana membuka matanya, dia melihat baju yang sebelumnya teronggok di lantai kini sudah tergantung rapi di hanger. Diana mendekati bajunya dan menciumnya. Diana tersenyum, rupanya Ivan sudah melaundry bajunya. Diana segera menyegarkan tubuhnya, setelah selesai mandi, Diana segera mengenakan bajunya.


Perlahan Diana membuka pintu kamar pribadi itu, dia mengintip keadaan ruang kerja Ivan, terlihat sunyi, hanya ada sosok tampan yang sangat sibuk di depan laptopnya. Diana segera mendekat, dan memberi pijatan lembut di kedua bahu Ivan. Ivan sangat menikmati pijatan Diana.


"Sudah bangun permataku sayang?" basa-basi Ivan.


"Bagaimana pijatanku? Kamu suka?" Diana balik bertanya.


"Sangat suka." Ivan memejamkan kedua matanya, pijatan Diana benar-benar membuat saraf-sarafnya tenang.


"Masih sibuk?" tanya Diana.


"Hu'um, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."


"Apakah aku boleh pulang lebih dulu? Mungkin aku ingin kembali ke Asrama, besok pagi ada ujian, setelah ujian selesai, aku janji akan kembali ke sini."


"Sebenarnya aku tidak rela berpisah walau satu jam saja, apa daya, kesibukan kita selalu memisahkan kita."


"Tentu saja, tapi aku mau Dillah yang mengantarmu."


Diana keberatan, tapi dia tidak mau berdebat dengan Ivan, Diana menyetujui permintaan Ivan, beberapa menit kemudian, Diana pergi bersama Dillah. Sedang Ivan kembali melanjutkan pekerjaannya.


**


Malam semakin larut, keadaan Gedung Agung Jaya semakin sepi. Perlahan Ivan merapikan beberapa berkasnya. Setelah selesai, Ivan segera meninggalkan ruangannya. Ivan mengunci pintu ruang kerjanya, saat dia berbalik ingin melangkah, dia terkejut melihat keberadaan Yudha.


"Belum pulang Yud?"


"Ivan, maafkan aku. Bukan maksudku untuk mengganggu kalian," sesal Yudha.

__ADS_1


"Santai saja, itu bukan suatu masalah." Ivan menepuk punggung Yudha, dia berlalu begitu saja meninggalkan Yudha yang masih mematung.


Melihat Ivan biasa-biasa saja, Yudha merasa sangat lega, sebelumnya dia sangat takut Ivan akan marah, karena mengganggu privasinya. Yudha pun bisa pulang dengan perasaan tenang.


***


Di sisi lain.


Diana kembali ke asramanya, dia mengambil sesuatu dari dalam kopernya, dan segera berjalan menuju kamar Saras.


Tok! Tok! Tok!


Diana berulang kali mengetuk kamar Saras. Saat pintu itu terbuka, Diana memberikan senyuman manisnya. "Masih ingat aku?"


"Diana!!" Saras sangat histeris, dia langsung memeluk Diana.


"Ya Tuhan ... aku sangat merindukanmu, Diana."


Keduanya masih berpelukan, membuat beberapa mahasiswi yang melintas keheranan melihat keduanya.


Diana melepaskan pelukannya pada Saras. "Ke kamarku, apa ke kamarmu?"


"Kamarmu saja, di sana kamu sendiri, kita bebas melakukan apa saja." Saras langsung mengunci pintu kamarnya, dan meraih tangan Diana.


Saat tangannya memegang tangan Diana, dia merasa ada yang aneh. Saras melepaskan pegangannya, dan melibat tangan Diana dengan cermat, Saras menemukan cincin putih yang sangat indah melingkar di jari manis Diana. "Cincin apa ini?" Saras semakin mengamati cincin itu.


"Lebih penting cincin ini, apa melepas rindumu padaku?" goda Diana.


Saras menghempas kasar napasnya. "Sebenarnya aku sangat kepo tentang cincin ini, tapi aku juga sangat merindukanmu, lebih satu bulan kita tidak bertemu."

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita ke kamarku, dan lupakan kekepoanmu tentang cincin ini." Diana menggandeng Saras, dan berjalan bersama wanita itu menuju kamarnya.


__ADS_2