
Flash Back Dillah.
Narendra benar-benar melempar Dillah kedalam kotak kayu, Dillah tidak bisa melihat keadaan sekitar, karena kedua tangan dan matanya diikat. Semakin lama, Dillah semakin kesulitan bernapas, saat Dillah benar-benar pasrah untuk menanti kematian, tiba-tiba diantara celah hidungnya dia merasakan cahaya.
Brak!
Brak!
Seketika paru-paru Dillah merasa lega, udaranya tidak sesak lagi.
Shap!
Penutup mata Dillah dibuka, Dillah berusaha menyesuaikan cahaya yang dia lihat, dia perlahan melihat keadaan sekitar, terlihat beberapa orang bertubuh kekar dan bermandikan keringat mengelilinya.
"Tuan Ivan memaafkanku?" jerit Dillah.
Tapi, orang-orang itu tidak ramah sama sekali, wajah mereka terlihat begitu sangar.
"Hubungi kekasihmu!" Salah satunya memberikan Dillah Handphone.
"Boleh aku pakai handphoneku saja?" tanya Diah.
"Handphonemu di buang oleh Narendra ke lautan, cepat kamu hubungi kekasihmu, minta dia menjemputmu ke tengah lautan sana! Minta juga agar dia berhenti menganggu Nona Diana, maka kami akan melepaskan kalian selamanya!" Perintah yang lainnya.
Ivan pasti ingin menguji ketulusan cinta Qiara padaku.
Dillah sangat semangat, dia mengambil handphone itu, dan di sana sudah ada nama Qiara, dia segera menelepon Qiara.
"Halo."
"Baby, ini aku."
"Dillah?"
"Iya." Dillah sangat bahagia.
"Kenapa kamu sangat sulit dihubungi Bagaimana keadaanmu?" tanya Qiara.
"Rumit, tapi intinya kita diberi Ivan kesempatan."
"Kesempatan?" Qiara terdengar bingung.
"Qiara, Ivan memaafkanku, dan dia minta agar kamu tidak mengganggu Diana lagi, ayolah Qiara mari kita hidup tenang sayang, kita lupakan masalahmu dengan Diana, jemput aku, dan kita mulai hidup baru kita."
"Jemput?"
"Ivan membuangku ke salah satu pulau entah pulau apa ini, jemput aku sayang, aku akan kirim lokasinya padamu."
"Ayahku di tangkap polisi, ibuku juga tidak tau kemana, aku tidak punya uang untuk mengurusmu."
"Tidak apa-apa, kamu masuk ke Apartemenku, nanti aku kasih tau kode akses Apartemenku, sekaligus kode brangkasku, aku punya uang cukup, bekerja pada sepupumu, gaji sebulan cukup untuk hidup 6 bulan." Dillah sangat semangat memberi tahu Qiara.
"Baiklah, aku akan menjemputmu baby."
Telepon berakhir, Dillah sangat bahagia, akhirnya dia bisa bersama cintanya. Dillah memberikan handohonenya pada mereka yang telah menyelamatkannya.
"Mari ikut kami, kalau Nona itu datang ke pulau itu untuk menjemputmu, berbahagialah kalian, bos kami tentunya merestui."
Dillah semakin bahagia mendengar hal itu.
"Tapi kalau dia tidak datang, setidaknya Anda dapat pengalaman berharga."
"Qiara pasti akan datang menjemputku," ucap Dillah.
"Jangan berkhayal terlalu tinggi anak muda, kalau khayalmu terlalu tinggi, maka kamu akan sangat sakit saat dihempaskan oleh kenyataan."
Dillah dibawa oleh tim penyelamatnya ke suatu tempat, dia menunggu kabar dari tim yang tinggal di pulau yang Dillah maksud.
***
Satu malam berlalu, Qiara belum juga ada kabar. Firasat Dillah sangat tidak enak.
"Apakah kekasihku sudah datang ke pulau itu?" tanya Dillah.
"Belum."
__ADS_1
"Apakah dia kesulitan membuka brangkasku?" gerutu Dillah.
"Kamu bisa mengakses CCTV di Apartemen kamu bukan?" Dia memberikan Dillah laptop.
Dillah segera mengakses CCTV Apartemennya, terlihat Qiara datang mengambil semua isi brangkasnya, jam nya tidak berbeda jauh setelah Dillah menelepon sebelumnya.
"Dia mengambil semua uangku, dan aset-asetku, tapi dia tidak datang menjemputku." Dillah sangat sedih melihat kenyataan yang ada.
"Wanita itu telah membodohimu atas nama cinta, sekarang dia membodohimu lagi." Beberapa orang yang menjaga Dillah menertawakan kebodohan Dillah.
Flash Back Off.
Dubai.
Diana mengambil lagi barang yang dia titipkan pada Nizam. Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju pintu keluar Bandara, di luar sudah ada utusan Profesor Hadju yang menanti mereka. Diana sekilas melirik Nizam, laki-laki itu terlihat begitu sibuk dengan handphonenya.
“Wajahmu sangat serius, apa ada masalah di negara kita?” tanya Diana.
“Selama hidup mana lepas dari masalah Diana. Apalagi 18 jam penerbangan yang kita lalui, tentunya sangat banyak kejadian yang terjadi.” Nizam sengaja tidak menyebut masalah video viral, karena semua sudah di hapus. Apalagi saat ini keadaan dunia maya juga sudah tenang.
Sesampainya di luar, sebuah mobil mewah menjemput Diana dan Nizam, mereka segera masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun melaju memuju hotel yang sudah dipersiapkan untuk Diana dan Nizam.
**
Di Universitas Bina Jaya.
Syila hanya bisa menenggelamkan diri dalam lautan penyesalannya. Tidak punya teman, bahkan dia tidak berani hadir di depan umum. Kemana saja dirinya melangkah, yang ada hanya hujatan dari orang-orang yang merasa ditipu oleh Qiara. Setelah mata kuliah berakhir, Syila langsung berlari menuju kamarnya. Perjalananya dari kamar menuju kelas juga sangat berat, setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya, selalu memakinya, menghujatnya, menghinanya atas tindakannya dan Qiara yang menjebak Diana dengan Video editan.
“Baiklah anak-anak, sampai jumpa di mata kuliah akan datang, untuk hari ini cukup sampai di sini.”
Setelah dosen pergi, Syila langsung berlari menuju pintu, dia tidak sanggup dengan hinaan teman sekelasnya. Tapi, kali ini dia tidak bisa pergi, di pintu keluar dijaga oleh mahasiwa yang lain. Semua mahasiwa menatap Syila dengan tatapan kemaarahan, hanya Saras yang tidak memperdulikan dirinya.
“Saras tolong aku ….” Rengek Syila.
Saras hanya berlalu begitu saja, seolah dia tidak mendengar dan tidak melihat Syila.
**
Dillah tidak sanggup lagi berdiam diri, dia minta diantar ke hotel yang Qiara tempati, berkat bantuan orang-orang yang menyelamatkannya, Dillah bisa masuk ke hotel tersebut. Dia langsung menuju kamar Qiara. Dillah menutup lubang yang ada di pintu, agar Qiara tidak bisa mengintip.
Tok! Tok! Tok!
Dillah langsung masuk, dia menatap Qiara dengan tatapan kebencian. "Aku benar-benar memujamu demi cinta, aku rela mati karena mendapatkan cintamu, ternyata kamu hanya menipuku!"
"Baby ...." Qiara berusaha membujuk Dillah, namun sentuhannya ditepis Dillah.
"Jangan sentuh aku! Oh iya, semua asetku yang kamu ambil di brangkasku, anggap semua itu harga untukmu karena telah memuaskan diriku!" Dillah mendorong kasar Qiara keatas tempat tidur, dan pergi begitu saja.
Qiara hanya menangis, entah kenapa sangat sakit, saat Dillah melihatnya seperti seorang pellacurr.
Qiara terus menangis, saat ini ibunya tidak bisa di hubungi, sedang Ayahnya terjerat kasus, pengacara yang dia percaya untuk menangani kasus Ayahnya juga menipunya, pengacara itu mengambil uang yang Qiara dapat dari Dillah, tapi pengacara itu tidak melakukan pekerjaannya.
Qiara menjerit, dia tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi.
**
Di Gedung Agung Jaya grop.
Yudha berusaha memahami kejadian aneh ini, sebelumnya video Diana membakar mayat sangat viral, saat ini tidak ada satu pun lagi, yang ada hanya pengumuman kalau video itu adalah editan.
“Van.”
“Hmm.” Mata Ivan tetap fokus pada layar laptopnya.
“Bukankah katamu kemaren video Diana membakar mayat itu video asli, tanpa rekayasa dan tanpa potongan. Kenapa Video itu sekarang dikatakan rekayasa? Video itu juga menghilang begitu saja dari jagat maya.”
“Ada kesalah fahaman dalam video itu, kamu tahu sendiri kalau video itu dari si pengkhianat Dillah.”
Yudha berusaha mempercayai perkataan Ivan.
“Jangan bahas video itu lagi!” pinta Ivan.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruangan Ivan diketuk, tidak lama muncul sosok Narendra diantara pintu. “Tuan ada berita buruk.”
__ADS_1
Ivan menyudahi pekerjaannya. “Berita buruk apa?”
“Nona Qiara sepertinya mengalami gangguan jiwa.”
Narendra memberikan video Qiara mengamuk di hotelnya. Qiara terus menjerit memanggil ibu dan Ayahnya, sesekali wanita itu tertawa, sedetik kemudian menangis. Hal ini terus terjadi berulang kali.
“Kamu utus orang lain untuk menangani Qiara, kirim dia ke Rumah Sakit Jiwa,” titah Ivan.
“Baik Tuan.” Narendra segera melakukan tugasnya.
**
Matahari semakin tergelincir kearah barat, Yudha bersiap meninggalkan Gedung Agung Jaya, sebelum dia pergi, dia mampir di ruangan Ivan.
“Van ada perlu?”
“Tidak ada,” sahut Ivan. Ivan juga sibuk membereskan berkas pekerjaannya.
“Kalau begitu, aku pulang duluan,” ucap Yudha.
Ivan hanya menganggukkan kepalanya. Ivan selesai membereskan semua berkas penting, dia segera berjalan menuju pintu, tiba-tiba handphonenya berdering, terlihat nama Shady di layar hanphonneya. Ivan langsung menerima panggilan Shady.
“Iya Shady, ada apa?”
“Ivan, tolong aku.”
Ivan menautkan kedua alisnya mendengar suara Shady begitu panik. “Ada apa Shady?”
“Veronica saat ini berdiri di atap Gedung yang berlantai 30, dia mau bunuh diri Ivan,” ucap Shady.
“Terus?”
“Aku sudah mencoba membujuknya, tapi dia tidak mau mendengarkanku. Tolong kamu ke sini Van, barangkali, kalau kamu yang membujuk Veronica mau mendengarkanmu.”
“Coba kamu sebut ABC,” pinta Ivan.
“ABC.”
“Nah sama saja ABC darimu, juga ABC dari mulutku."
"Ivan ...." Shady terdengar sangat putus asa.
"Maaf, Veronica bukan urusanku, aku tidak peduli padanya, apapun yang dia lakukan, masa bodoh!"
"Tapi--"
"Kamu bujuk saja dia sendiri, kalau dia tidak mau mendengarkanmu, sebentar.” Ivan mulai mengetik pesan dan dia kirimkan pada Shady. “Aku baru saja mengirim nomor telepon dokter, nomor telepon supir ambulan, dan tim penyelamat. Kamu telepon mereka ya.” Ivan langsung memutuskan panggilan mereka secara sepihak.
**
Saat menelepon Ivan, Shady membuka loudspeakernya, semua pembicaraannya dengan Ivan, di dengar langsung oleh Veronica. Mendengar bagaimana jawaban Ivan hati Veronica semakin hancur, khayalannya Ivan akan datang dan membujuknya, tapi semua khayalannya berbeda jauh dengan hasil.
“Hiks!” Veronica menangis, rencana yang dia susun begitu sempurna malah gagal sebelum di mulai.
“Ver, jangan sedih, Ivan pasti bercanda.”
Veronica terus menangis, dia mendorong Shady agar keluar dari kamarnya, dia mengunci pintu kamar setelah mengeluarkan Shady.
“Veronica ….” Shady berusaha menghibur Veronica.
“Pergi dari sini, aku ingin sendiri!”
Shady hanya menatap nanar pintu kamar Veronica, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia segera pergi dari rumah Veronica.
**
Dubai.
Diana masih dalam perjalanan menuju hotel, dia menonton video terbaru Angga, dia mencermati keadaan Angga saat ini. Diana merasa heran karena Angga hanya sendiri. “Kenapa tidak ada pihak keluarga di samping Angga? Aku pikir yang pulang hanya Ivan.”
Nizam bingung menjawab apa.
Diana menepuk lembut bahu supir. “Pak, langsung ke Rumah Sakit Profesor Hadju.”
“Baik Nona.”
__ADS_1
“Cepat Pak.”
Mobil melaju cepat menuju Rumah Sakit Profesor Hadju.