Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 40 Jangan Ganggu Dia


__ADS_3

Selama perjalanan Diana menyadarkan punggungnya di sandaran kursi, wajahnya memandang kearah kaca mobil yang ada di sampingnya, tidak ada yang dia pikirkan, selain ingin merehatkan tubuhnya. Ivan berusaha keras agar tidak terlihat khawatir, walau sesekali dia melirik kearah Diana.


Akhirnya tujuan mereka menuju kantor Agung Jaya berakhir. Diana, Barbara, dan Ivan berjalan beriringan memasuki Gedung Agung Jaya, mereka terus dengan tujuan mereka, mengabaikan pandangan mata-mata yang tertuju pada mereka. Hanya Barbara yang memberikan senyuman pada siapa saja yang berpapasan dengannya.


Sesampai di lantai 30. Barbara segera menuju ruangannya, sedang Amanda tercengang melihat Barbara datang bersama Ivan dan tunangannya. Setelah punggung Ivan dan Diana menghilang dibalik pintu ruang kerja Ivan, Amanda segera mengejar Barbara.


Sejak Barbara menjadi sekretaris kedua Ivan, Amanda ditugaskan di depan ruangan Ivan, mengatur pertemuan dan menyaring tamu yang ingin bertemu Ivan. Untuk pendamping rapat, dan kunjungan ke luar kantor, Ivan selalu mengajak Barbara.


Sedih, karena tidak bisa dekat dengan Ivan, namun gajih yang masih besar, membuat Amanda tidak mempermasalahkan hal itu.


“Babara!” panggil Amanda.


Langkah Barbara pun terhenti, dia batal masuk ke ruangannya. “Iya, ada apa Manda?”


“Kenapa kalian bisa datang bersama Diana?”


“Ya bisa, tadi Tuan Ivan menjemputnya ke Fakultas Bina Jaya, dan mengajaknya ke sini.”


“Siapa yang diajak Ivan ke sini?”


Wajah Amanda seketika panik, saat mengetahui Yudha mendengar pembicaraan mereka. “Aku permisi dulu ya Barbara, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan,” pamit Amanda.


Sedang Yudha mendekati Barbara. “Siapa yang diajak Ivan ke kantor ini?” Yudha mengulangi pertanyaannya pada Barbara.


“Nona Diana, selesai acara pertemuan di Perusahaan Rival yang lain, Tuan Ivan menjemput Nona Diana dan mengajaknya ke sini. Sebenarnya tadi Tuan Ivan hanya ingin menjemputnya, tapi melihat wajah Nona Diana yang terlihat tidak bersemangat. Tuan Ivan mengajaknya ke sini. Dari raut wajah Nona, sepertinya Nona kurang sehat, dia terlihat sangat pucat.”


Raut kecemasan terpampang jelas di wajah Yudha.


“Apakah ada lagi Tuan?” tanya Barbara.


“Tidak ada.” Yudha berusaha menyeimbangkan perasaannya yang kacau mendengar kabar Diana sakit, namun masuk ke ruangan Ivan dengan mimik cemas seperti ini Yudha juga tidak nyaman. Memangnya dirinya siapa Diana.


“Kalau begitu, saya pamit ke dalam Tuan. Banyak pekerjaan menunggu saya.”


Sepeninggal Barbara, Yudha langsung berjalan menuju Ruangan Ivan.


Ceklak!


Rasa panik yang menyelimuti hatinya membuat Yudha lupa mengetuk pintu. Di sofa empuk yang ada dalam ruangan Ivan, terlihat Ivan menundukan wajahnya melihat alat pengukur suhu tubuh yang dia pegang, sedang Diana duduk di dekat Ivan.


“Apa Diana sakit?” tanya Yudha.


Ivan memperlihatkan layar kecil yang ada pada termometer pada yudha. Yudha tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikannya saat melihat angka 38,7 pada termometer. Ivan dengan santai berjalan menuju lemari, di mana dia menyimpan P3K untuk di ruangannya, dengan teliti Ivan mencari obat penurun panas, setelah menemukannya, dia membawa obat itu dengan sebotol air mineral dan memberikannya pada Diana. “Minum obat dulu, semoga demam kamu cepat turun.”


Diana segera meraih obat yang Ivan berikan, sedang Ivan membukakan tutup botol air mineral dan memberikannya pada Diana, sejenak perhatian Ivan tertuju pada Yudha. Melihat Yudha memandang Diana dengan tatapan mata yang sulit diartikan, rasa panik dan cemas Ivan bercampur dengan rasa yang lain.


“Yudha.”


“I—iya” Yudha terbata, menyahut panggilan Ivan, rasanya tidak rela mengalihkan pandangan matanya yang sedari tadi tertuju pada Diana.


“Untuk rapat nanti, kamu saja yang mewakili Agung Jaya, kamu ajak Barbara bersamamu.”


Yudha bingung, pandangan matanya tertuju pada Diana lagi, dia ingin menemani Diana saat ini, namun kenyataan kembali menyadarkannya, ‘Siapa Dia?’

__ADS_1


“Yudha!"


Kesadaran Yudha kembali, dia balas menatap Ivan.


"Rapatnya 10 menit lagi.” Ivan memperlihatkan jam tangannya pada Yudha, memperingatkan kalau waktunya mepet.


“Baiklah, aku yang akan memimpin rapat hari ini."


Yudha kembali menoleh pada Diana. “Cepat sembuh,” ucapnya.


Tapi Diana hanya diam, menoleh padanya pun tidak.


*


Di ruangan Ivan, hanya ada Ivan dan Diana.


Tink!


Sebuah pesan masuk ke handphone Diana.


...Ada kelas jam 4 sore nanti....


Sekilas Ivan membaca isi pesan yang masuk.


“Kamu sakit, Na. lebih baik kamu izin tidak masuk dulu,” ucap Ivan.


Diana diam.


“Lebih baik kamu istirahat dulu kamu terlalu lelah, pulihkan tenagamu, apalagi malam ini kita akan ke rumah kakek, kalau kamu masuk kampus, nanti kamu keteteran, dan kelelahan.”


“Kamu istirahat dulu Na, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.”


Diana merebahkan tubuhnya di sofa Panjang. Entah kenapa kali ini tubuhnya terasa sangat letih dan tidak bisa diajak berdamai, belum lagi kedua kelopak matanya seakan menahan beban ribuan ton, hingga Diana tidak bisa lagi menahan kelopak matanya agar selalu terbuka.


Ivan sibuk mengerjakan bermacam pekerjaanya, sesekali dia menoleh kearah Diana. Melihat Diana tertidur, rasa cemasnya berkurang walau hanya sedikit.


40 menit berlalu, perlahan Diana mengerjapkan matanya, merasa dirinya di tempat asing, Diana langsung membuka sempurna kedua matanya, pandangan Diana tertuju kearah meja kerja Ivan, terlihat laki-laki itu sibuk dengan bermacam berkas, pandangan Diana sedikit terusik, karena indera penciumannya mencium bau makanan, Diana menajamkan penciumannya, saat dia merubah arah pandangannya kearah meja, terlihat semangkok bubur yang masih mengepulkan sedikit asap di sana. Diana menelan salivanya, melihat tampilan bubur yang sangat menggugah seleranya.


“Kamu belum makan kan dari tadi? Selagi masih hangat, makan dulu,” ucap Ivan.


Diana segera meraih sendok dan perlahan menikmati bubur itu. Melihat Diana mulai menyantap bubur yang dia sediakan, Ivan melepaskan pekerjaannya, dan duduk di sofa tunggal yang berserangan dengan Diana.


“Bagaimana keadaanmu?”


Diana memberikan senyuman kecilnya pada Ivan, isyarat kalau dirinya baik-baik saja. Ivan terpana melihat senyuman itu, sumpah … itu senyuman yang sangat indah dan sangat meneduhkan. Diana melepaskan sendok buburnya, dia meraih handphone dan menuliskan kata—


^^^Terima kasih.^^^


Ivan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Ceklak!


Pintu kembali terbuka.

__ADS_1


Melihat sosok yang muncul membuat kebahagiaan yang Ivan rasa tadi seketika buyar. Sosok itu tersenyum memandang kearah Diana.


“Bagaimana keadaan kamu Diana?” tanya Yudha.


Diana tetap fokus pada mangkok buburnya. Yudha memahami Diana yang tidak merespon pertanyaannya, karena jemari yang biasa digunakan Diana untuk menjawab pertanyaan, tengah sibuk dengan tugas yang lain. Begitu santai Yudha duduk di samping Diana, mengabaikan sorot mata Ivan yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan peringatan.


Mangkok yang ada di depan Diana sudah kosong, melihat ada sisa bubur di sisi bibir Diana, Yudha menarik selembar tisu, tangannya sedikit lagi sampai menyapukan tisu pada sisi bibir Diana.


“Tuan Yudha! Jaga jarak Anda dengan Nona Diana!” tegur Ivan.


Diana menoleh kearah Yudha, melihat tangan Yudha memegang selembar tisu dan jaraknya yang sangat dekat dengan wajahnya, membuat Diana tersadar kalau Yudha ingin membersihkan bibirnya. Diana langsung meraih tisu dan melap sendiri sisi mulutnya.


Yudha menatap Ivan dengan tatapan kesal. “Ck! Ck! Ck!”


Yudha mengabaikan Ivan, perhatiannya kembali terfokus pada Diana. “Oh ya, Diana. Aku baru tau cerita dari kakek Agung, kalau kamu cucu nenek Zelin. Nenekmu dan nenekku sejak dulu bersahabat, sebentar lagi nenekku boleh pulang, kapan kamu mau main ke rumahku sekalian menjenguk nenekku?”


“Saat nenekku sadar nanti, aku akan cerita kalau ada cucu dari nenek Zelin di kota ini, beliau pasti sangat bahagia, dan pastinya nenek sangat ingin bertemu denganmu.”


Ivan berusaha keras memendam kemarahannya melihat Yudha berbicara sedekat itu dengan Diana. Ivan melirik jam tangannya. “Sudah sore,” gerutunya. Tapi, Yudha tidak mendengari isyarat darinya, dia masih sibuk memandangi Diana. Ivan kesal dengan keadaan ini. “Yudha! Bagaimana rapat tadi?”


“Semua berjalan lancar, hasil laporan rapat nanti Barbara berikan padamu.” Sedikitpun Yudha tidak merubah arah pandangannya.


“Apa masih ada pekerjaaan KANTOR?” Ivan sengaja begitu menekankan kata ‘Kantor’ karena Yudha sibuk dengan pekerjaannya memandangi Diana. “Kalau pekerjaan kantor sudah selesai, lebih baik kamu pulang, Yudha!”


“Owh, kantor?” Imajinasi dan kekaguman Yudha tentang Diana buyar karena celoteh sahabatnya itu. Yudha mulai mengerti Ivan ingin mengusirnya, mana pernah Ivan pulang se-awal ini. “Aku belum bisa pulang, masih ada sedikit pekerjaan yang belum ku selesaikan.” Yudha kembali menoleh kearah Diana, sengaja mengabaikan Ivan yang mulai terlihat kesal padanya. Tapi Wanita yang Yudha pandangi malah asyik memandangi layar handphonenya.


“Ada tugas kuliah, Diana?” Yudha berusaha meminta sedikit perhatian Diana.


“Jangan ganggu dia!”


Bukan mendapat jawaban dari Diana, dirinya malah mendapatkan celoteh Ivan. Yudha memandang malas kearah Ivan, berharap sepupunya itu mengerti, untuk memberinya lebih banyak waktu lagi untuk sedekat ini dengan Diana. Sangat jarang ada kesempatan bisa berdekatan dengan Diana.


Ivan membalas tatapan mata Yudha yang terus tertuju padanya. “Kamu tidak bisa pulang cepat?” Ivan bangkit dari posisinya, dan melangkah menuju meja kerjanya.


"Iya, tidak bisa. Ada sedikit pekerjaan."


"Owh, ya sudah." Tangan Ivan mulai membereskan beberapa berkas kedalam tas kerjanya. “Semangat melanjutkan pekerjaanmu Yud, aku dan Diana harus pulang sekarang, kakek menunggu kedatangan kami di rumah."


"Pulang?"


"Iya, tadinya aku mau ajak kamu pulang bareng.:


Yudha merasa kalah telak karena menjawab 'tidak bisa pulang karena ada pekerjaan' andai dirinya jujur, dia masih bisa satu atap mobil bersama Diana.


Pandangan mata Ivan tertuju pada Diana. “Diana.” Panggilnya.


Diana pun menegakkan wajahnya dan menoleh kearah Ivan.


“Bereskan barangmu, kita pulang sekarang.”


Diana pun segera meraih tasnya, dan beranjak dari posisinya.


Ivan menoleh lagi pada Yudha. “Yud, kami pulang duluan ya, titip kantor."

__ADS_1


Ivan dan Diana berjalan bersamaan meninggalkan Yudha seorang diri di ruangan Ivan.


Yudha geram dengan dirinya sendiri. “Makanya jujur Yud! Kejujuran itu berkah!” makinya pada dirinya sendiri.


__ADS_2