
Di IMO, No Name memiliki seorang teman dekat, seseorang yang bekerja di IMO dan mempunyai jabatan tinggi di IMO, orang dekat No name tersebut sangat mengetahui tentang organisasi tersebut. Bukan hanya itu, dia juga selalu bekerja membantu No name bahkan dia memiliki kode dan program Regional No Name, dan No name membiarkan orang itu menyalinnya. Satu hal, orang itu tidak pernah tahu kalau No Name adalah Diana.
Diana sudah tahu siapa pengkhianat itu, dia segera menelepon balik nomor rahasia yang sebelumnya menghubunginya.
"Bagaimana, Ketua?" Tanya Tony.
"Aku belum tahu siapa dia." kilah Diana.
"Apa kami harus menggali informasi lebih gigih lagi, ketua?"
"Tidak perlu, lebih baik kalian fokus pekerjaan penting yang lain, untuk hal ini aku sendiri yang akan melanjutkannya."
"Butuh bantuan?" tawar Tony.
"Kalau aku perlu bantuan, aku akan menghubungi kalian, tahu sendiri aku tidak ahli masalah komputer."
"Baik ketua, kami siap membantu jika ketua membutuhkan kami."
"Untuk sementara kita lupakan dulu pekerjaan ini, jadi kalian istirahat dulu."
"Padahal langkah kita untuk mencaritahu siapa pengkhianat ini tinggal sedikit lagi, ketua. Hanya perlu tahu, kode itu milik siapa," ucap Tony.
"Ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan, Tony. Kamu dan Hadhif, fokus dulu dengan urusan berita hoax itu."
"Baik, Ketua."
Setelah selesai berbicara dengan Tonny, Diana merebahkan dirinya sejenak diatas tempat tidur.
"ED Group, kenapa kalian menginginkan obat itu menjadi ladang bisnis? Tidak bisakah mereka memanfaatkan kelebihan dan kecerdasan untuk menolong sesama?" Diana tidak habis pikir dengan kelicikan dan ambisi ED Group.
"Sepertinya aku harus mengirim obat yang sudah jadi, setidaknya andai mereka berhasil menerobos tempat ini, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka mau."
"Jika aku mengirim obat ini, siapa yang aku tugaskan?" Diana tiba-tiba teringat Nizam.
"Apa aku harus menyuruh Nizam?" Tidak ada pilihan, Diana segera menghubungi Nizam.
"Akhirnya kamu meneleponku juga!" ucap Nizam.
"Maaf, akhir-akhir ini aku sok sibuk."
"Diana, hampir sebulan aku menunggu kabar darimu, aku lega, karena sekarang kamu meneleponku juga."
"Maafkan aku, Nizam."
"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir padamu."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu harus menjaga dirimu dan bertemanlah dengan orang yang tepat, Diana. Tahu sendiri banyak orang yang ingin mencelakaimu."
"Iya, aku sadar itu. Terima kasih karena mengkhawatirkanku."
"Katakan di mana posisimu, aku akan menyusulmu."
"Maaf, aku tidak bisa mengatakan di mana aku."
"Siapa yang menjagamu di sana? Sekretaris Ivan yang lemah itu? Apa yang bisa dia lakukan jika bahaya mengintaimu?"
"Dengan siapa aku, pokoknya saat ini aku aman."
"Aku ingin marah pada Ivan, dari sekian banyak pengawal yang dia miliki, kenapa dia menitipkan Dillah padamu? Dillah bukan menjagamu, tapi kamu yang menjaga Dillah," omel Nizam.
"Tapi aku percaya Dillah, dan Ivan juga percaya. Rasa percaya itu penting, Nizam."
"Semoga kamu baik-baik saja Diana. Aku tidak tenang, karena aku tidak bisa menjagamu."
"Terima kasih karena selalu melindungiku, dan menolongku, tapi maafkan aku, Nizam. Aku hanya memanggilmu saat aku butuh pertolonganmu."
"Aku tidak masalah, Diana. Asal kamu bahagia, aku bahagia bisa membantumu."
__ADS_1
"Yah ... kadang aku merasa seperti kacang lupa kulitnya, saat terjepit atau apa, aku meminta pertolonganmu, tapi keinginanmu hanya ingin tahu di mana aku, aku tidak bisa mengatakan."
"Maafkan aku, aku tidak pernah bisa mengerti privasimu, kadang aku mengerti tapi keinginanku untuk melindungimu terlalu besar," ucap Nizam.
"Nizam, aku butuh bantuan."
"Katakan, apa yang bisa aku bantu."
"Kamu masih di Jerman?"
"Masih, karena aku harus menyelesaikan beberapa dokumen di sini, tapi ini terakhir, mungkin besok aku akan pulang."
"Baguslah, karena aku meminta bantuanmu, untuk berkelana ke negara lain."
"Katakan, apa tugasku, aku siap terbang kemana saja."
"Aku butuh bantuanmu, untuk mengantar obat T779 ke China."
"Apa? T779?"
"Iya, aku berhasil mengembangkannya, jumlahnya cukup banyak. Kau ingin membawanya kabur?"
"Sepertinya teman-temanmu berhasil mempengaruhimu," ucap Nizam.
"Pengaruh apa?"
"Mencurigaiku," ucap Nizam.
"Apa saat ini terasa kalau aku meragukanmu?" tanya Diana.
"Kapan kamu ingin mengirim obat itu?" Nizam berusaha merubah pembicaraan mereka.
"Besok."
"Baiklah. Aku siap membantumu, Diana."
"Maafkan aku Nizam, lagi dan lagi aku merepotkanmu.
"Aku akan mengabarimu nanti."
Setelah selesai bicara dengan Nizam, Diana mengetik pesan, dan dia kirim ke nomor rahasia yang lain.
*T779 yang aku kembangkan berhasil, saat ini aku sedang mengemasnya, mempersiapkan untuk mengirim obat itu. Kalian punya ide, biar obat itu sampai pada tujuan?
Tink!
Pesan baru masuk.
\=Negara mana yang pertama kali mendapatkan T779?
*China. Aku mengutus temanku ke sana.
\=Kamu butuh bantuan? Tim kita beberapa masih di China.
*Tentu saja, aku akan kirimkan identitas temanku yang mengantar obat itu, usahakan selalu ikuti dia.
\=Siap, Diana. Kamu butuh hal lain?
*Untuk saat ini hanya ini, nanti aku akan menghubungi lagi.
Diana kembali ke lab, dan menyelesaikan obat terakhir yang belum selesai dia produksi.
***
Di tanah air.
Saras terlihat muram, setiap hari dia melewati kamar Diana, tapi kamar itu selalu tertutup.
"Diana masih mengurus keluarganya, jika urusannya selesai, dia pasti kembali."
__ADS_1
Ucapan itu menyadarkan Saras dari lamunannya. "Lucas, kenapa kamu bisa ada di sini?"
"Aku bisa kemana saja aku mau." Lucas berlalu begitu saja melewati Saras.
Saras memandangi Lucas yang masih menggunakan tongkat. Dia sangat bahagia Lucas mau bicara dengannya.
***
Jam menunjukan pukul 9 pagi, tapi gadis cantik itu masih terlelap di tempat tidurnya.
"Agis bangun! Sejak tadi pagi handphonemu terus berteriak!" maki Aridya.
"Aku masih mengantuk mama, lagian hari ini aku tidak ada syuting atau pemotretan." Agis kembali menyelimuti dirinya.
"Ada pekerjaan atau tidak, biasakan bangun pagi Agis!"
"Mama bawel!" Agis terpaksa bangun, dan segera meraih handphonenya.
"Tumben sekali Rebecca meneleponku di saat tidak ada pekerjaan," gumam Agis. Dia segera menerima panggilan telepon tersebut.
"Halo Rebecca."
"Agis, kamu punya masalah dengan putri CEO Widori Group?"
"Masalah? Bertemu dengannya saja aku tidak pernah, bukankah dia tinggal di luar Negri?"
"Aku tidak tahu, kata Sekretaris Pak Dofin, Anak Pak Dofin memanggilmu. Aku tidak mau tau Agis, kamu harus ke Widori Group sekarang! Kalau kamu tidak datang, maka pekerjaan orang-orang yang berjasa dalam karirmu akan terancam."
"Jam berapa aku diminta menghadap Putri CEO Widori Group?" tanya Agis.
"Jam 10."
"Baiklah, Aku bersiap dulu." Agis menyudahi panggilan mereka, dia segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Apa pemanggilan dirimu berkaitan dengan si gembel tadi malam?" tanya Aridya.
"Gembel?" Agis tidak mengerti.
"Calon istri Angga!"
"Mama jangan ngaco, dia mana punya koneksi ke Perusahaan besar seperti Widori Group."
"Bukankan itu ancaman si gembel tadi malam?" Aridya terlihat panik.
"Semua yang tahu siapa Agis, tentu mereka mengetahui Widori Group, setelah ED Group, perusahaan itu yang melambungkan namaku."
Agis langsung menuju kamar mandi.
***
Dengan percaya dirinya, Agis melenggang begitu saja memasuki Perusahaan Widori Group, dia juga langsung menuju lantai tertinggi di gedung itu.
"Selamat pagi Nona Agis, Nona Muda menunggu Anda sejak tadi." Seorang wanita muda menyambut Agis. Dia langsung mengantar Agis menuju salah satu ruangan.
Saat pintu ruangan terbuka, kedua bola mata Agis seakan melompat melihat sosok yang ada di depan matanya. "Hei Gembel! Kenapa kamu ada di sini!" maki Agis.
Jennifer tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya. "Kini kalian tahu, kenapa saya ingin mengeluarkan dia dari Managemen kita?"
Agis baru menyadari kalau ada banyak orang dalam ruangan itu, wajah mereka terlihat sangat terkejut.
Seseorang berjalan mendekati Agis. "Kenapa kamu tidak sopan padanya?"
"Buat apa sopan pada gembel seperti dia!" ucap Agis begitu ketus.
"Yang akan menjadi gembel itu, Anda Nona Wagiswari Wulandari!" ucap Jennifer.
Wanita yang berdiri di samping Agis langsung mendekati wanita yang terlihat disegani banyak orang. "Nona Jennifer, mohon maafkan Agis."
"Tidak usah mengemis pada gembel itu, Rebecca!" maki Agis.
__ADS_1
Jennifer tidak menghiraukan Agis, dia langsung berbalik kearah para mitra kerja perusahaan Ayahnya yang ada di ruangan itu. "Jika Perusahaan kalian mendukung apa saja yang berkaitan dengan wanita ini." Ujung jari telunjuk Jennifer mengarah pada Agis. "Maka Kalian bukan mitra Widori Group lagi!"