
Diana menarik tangannya yang dipegang pengacara Nizam. “Sebaiknya aku kembali lebih dulu, kita sudah terlalu lama pergi dari mereka.” Tanpa menunggu jawaban Nizam, Diana pergi begitu saja meninggalkan Nizam.
Nizam termenung, dia masih berpikir apa benar Diana menyetujui operasi untuk Angga hanya karena uang?
Nizam memilih duduk sejenak di kursi taman yang ada di dekatnya sambil mengulur waktu. Kalau dia kembali secepat ini, keluarga Agung malah akan menaruh curiga.
“Nah, Diana sudah kembali,” ucap Ivan.
Diana tidak mengerti maksud Ivan, dia menatap laki-laki itu untuk meminta jawaban.
“Aku sudah izin pada kakek, kalau kita akan pulang,” jelas Ivan.
Diana mengangguk, merespon ucapan Ivan. Mereka berdua pergi meninggalkan kediaman keluarga Agung. Hening … tidak ada suara apapun selama perjalanan, Diana hanya memandangi jalanan yang dilewati, sedang Ivan fokus dengan berkas pekerjaannya selama perjalanan mereka.
Tink!
Tink!
Notifikasi handphone Diana terus terdengar, Diana langsung mengambil benda pipih persegi Panjang itu, terlihat pengacara Nizam mengiriminya banyak pesan. Salah satunya, menanyakan keberadaan dirinya. Diana menaruh kembali handphonenya, dia mengabaikan begitu saja semua pesan dari pengacara Nizam. Hal itu sedikit menarik perhatian Ivan, setahu Ivan, Diana selalu suka memainkan handphonenya.
Mobil yang membawa Ivan akhirnya parkir di parkiran yang ada di Gedung Apartemen tempat tinggal Ivan. Diana keluar lebih dulu dari mobil, sedang Ivan masih di dalam mobil. Pandangan matanya tertuju pada paper bag yang dia rasa bukan miliknya.
“Ini punya siapa Pak?” tanya Ivan pada supir.
“Itu hadiah dari Tuan Besar buat Nona Diana.”
Ivan turun membawa paper bag itu bersamanya. Saat dia sampai di depan lift, hampir saja pintu lift itu tertutup, namun melihat sosok Ivan muncul, Diana menahan pintu lift.
Tangan Ivan menenteng beberapa paper bag, Diana segera membuka pintu Apartemen dengan kartu akses yang selalu dia bawa. Ivan hanya menatap Wanita itu. Keduanya segera masuk kedalam Apartemen.
“Diana, ini hadiah dari kakek untukmu.”
Diana berlalu begitu saja menuju kamarnya, dia tidak menerima hadiah pemberian kakek Agung.
“Aku tidak marah kamu tidak menerima hadiah dari kakek, tapi terima ini.” Ivan memberikan paper bag yang satunya pada Diana.
Diana berbalik dan menerima paper bag yang Ivan berikan padanya, saat Diana mengeluarkan isi paper bag itu, ternyata itu sebuah laptop keluaran terbaru.
“Terima itu, anggap itu dari kakekku.” Ivan pun berlalu begitu saja menuju kamarnya.
***
Diana baru keluar dari kamar mandi, setelah selesai mandi tubuhnya sangat segar, dia segera mengambil laptop miliknya, dia ingin melanjutkan risetnya tentang data-data calon pasiennya.
Tlink!
Suara notifikasi pesan dari handphone pribadinya membuyarkan konsentrasi Diana, dia segera memeriksa benda pipih persegi Panjang itu. Terlihat satu buah pesan yang Ivan kirim padanya.
*Apakah dokter hebat itu bisa melakukan operasi untuk kakakku?
__ADS_1
Diana yakin dengan kemampuannya, dia langsung membalas pesan dari Ivan.
\=Bisa.
Tidak ada lagi pesan balasan dari Ivan, Diana kembali melanjutkan pekerjaannya, dia mengamati perkembangan nenek Zunea dari video yang Yudha kirimkan padanya. Diana mengetik kata baru di handphonenya, setelah semua ketikkannya selesai, Diana mengamati semua tulisannya, memastikan tidak ada yang salah. Diana segera mengirim tulisannnya pada pengacara Nizam.
*Nizam, tolong kamu tulis ulang resep itu di buku resep, dan berikan pada keluarga nenek Zunea.
\=Diana, ini resep sangat legenda, kalau kamu memberikan resep ini, orang-orang akan menyadari kalau kehebatan seorang dokter Zelin muncul lagi.
\=Jangan terlalu mengekspos dirimu, kalau kamu masih ingin merahasiakan identitasmu.
*Aku tidak mengekspos diriku. Orang tahunya sang dokter adalah dirimu.
\=Tapi Diana, lama-lama orang-orang akan menyadarinya.
*Biar saja, katakan kalau kamu murid nenekku, orang akan memahami jika seorang murid mewarisi bakat gurunya.
Nizam pasrah, dia melakukan apa yang Diana pinta.
Tink!
Suara notifikasi pesan terbaru mengejutkan Diana.
*Setelah kakakku nanti menjalani operasi, dan menjalani perawatan pasca operasi, berapa persen peluangnya untuk sembuh?
\=99%
Melanjutkan kembali meneliti semua Riwayat penyakit pasien, semua pekerjaannya dia jalani sangat serius. hingga dia menghabiskan banyak waktu menatap layar laptopnya. Diana merasa tenggorokkannya kering, dia menoleh tempat minumnya, ternyata isi gelasnya juga kosong. Dia segera melangkah membawa gelas menuju dapur, setelah sampai di sana, perhatian Diana tertuju pada lemari es. Rasa haus yang teramat membuat Diana membayangkan segarnya air es untuk memadamkan dahaganya, Diana melangkah mendekati lemari es.
“Sedang apa kau?”
Mendengar suara Ivan, Diana langsung menegakkan tubuhnya, dan memperlihatkan gelas yang beruap karena menampung air es. Memberi isyarat kalau dia ingin minum.
Ivan meraih gelas kosong, lalu mengisinya separu dengan air panas, lalu memenuhinya dengan air putih biasa, lalu berjalan mendekati Diana. Ivan mengambil gelas Diana yang berisi air es dan menukarnya dengan gelas yang berisi air hangat. “Tidak baik malam-malam begini minum air es, minum air hangat saja.”
Diana berjalan menuju kamarnya membawa gelas yang berisi air hangat yang Ivan berikan padanya.
**
Diana dan Saras duduk berdekatan di perpustakaan, mereka berdua sibuk mencari materi untuk tugas mereka.
Tink!
Handphone Diana dan Saras sama-sama berdering, keduanya pun segera mengecek pesan tersebut, karena itu notifikasi dari group kelas mereka.
“Ada titipan di bagian penerimaan barang untuk Nona Diana Rahma.” Tertulis jelas kelas dan jurusan yang Diana ambil saat ini.
“Itu titipan untukmu,” ucap Saras. Sekilas Saras melihat tumpukan buku yang ada di depan Diana, dia memahami temannya tidak ingin beranjak dari posisinya saat ini. “Ya sudah, biar aku saja yang mengambilkan titipan untukmu."
__ADS_1
Diana menyetujuinya, dia memberikan kartu miliknya agar Saras bisa mengambil titipan itu.
Saras sampai di tempat penitipan juga penerimaan barang untuk para Mahasiswa. Di depan meja petugas, ada salah satu Mahasiwa lain juga mengambil barang titipan untuknya. Setelah laki-laki itu selesai, Saras mendekati meja petugas.
“Selamat pagi miss, saya diminta teman saya untuk mengambil paket titipan untuknya.”
“Atas Nama?”
“Diana.” Saras memberikan kartu milik Diana.
“Oh oke, tunggu sebentar.”
Saras tidak menyadari dua orang yang ada di dekatnya langsung menatapnya, ketika dia menyebut nama 'Diana.' Hanya menunggu beberapa menit, paket untuk Diana pun Saras terima, dia tercengang dengan paket yang ternyata sebuah parcel yang berisi banyak coklat.
“Silakan tanda tangan di sini ya.”
Ucapan petugas menyadarkan Saras, dia segera membubuhkan tanda tangannya, dan segera pergi dari sana.
Setelah Saras pergi, salah seorang yang ada di dekat Saras tadi mendekati petugas. “Paket tadi untuk mahasiswi yang Bernama Diana?” tanyanya.
“Iya benar sekali Nona Amanda.”
“Apa boleh saya tahu, siapa pengirim paket tersebut?”
“Tentu boleh Nona Amanda.” Petugas sangat mengenal siapa Amanda, dia pun segera memutar ulang cctv dan memperlihatkan sosok yang mengirim parcel coklat untuk Diana.
Amanda tertawa dalam hati, dia sangat bahagia mengetahui siapa pengirim paket tersebut.
Owh, Tuan Fredy ..., batinnya.
“Miss, boleh salinkan rekaman itu? Saya harus buat laporan pada Tuan Ivan, karena Diana adalah salah satu kerabat Agung Jaya.”
“Maaf menyela Nona, Siapa yang Anda sebut barusan? Yang Anda sebut salah satu kerabat Agung Jaya.”
Amanda menoleh kearah laki-laki yang bertanya padanya. “Diana,” sahutnya.
“Kenapa Anda menginginkan rekaman cctv yang berkaitan dengan Diana?”
Amanda mendekatkan wajahnya ke sisi telinga laki-laki itu, dam berbisik. “Aku sedang menyelidiki tentang gadis misterius itu.”
“Owh ….” Laki-laki itu tersenyum, dia menaruh tas ranselnya diatas meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar foto dan memberikannya pada Amanda. “Ini, barangkali bisa membantu penyelidikan Anda.”
Amanda terpana melihat semua foto-foto yang diberikan laki-laki asing itu padanya. Entah keberuntungan apa yang memihaknya saat ini, hingga dia bisa menemukan foto-foto itu, dan mendapatkan rekaman cctv yang merekam Fredy memberikan coklat untuk Diana.
“Terima kasih,” ucap Amanda, matanya terlihat begitu berbinar.
“Sama-sama, maaf saya tinggal, saya harus masuk kelas, karena ada ujian.”
“Amanda.” Dia mengulurkan tangannya pada laki-laki itu.
__ADS_1
“Lucas.” Laki-laki itu menjabat tangan Amanda, dan segera pergi dari sana.
Melihat semua foto-foto yang Lucas berikan padanya, ingin rasanya Amanda melompat-lompat di sana. Setelah pekerjaannya di Univeristas selesai, Amanda pun segera kembali ke Perusahaan Agung Jaya.