
Melihat keadaan aman, Kakek Hong keluar dari persembunyiannya.
“Siapa kalian?” tanya Kakek Hong.
Belum terjawab pertanyaan Kakek Hong, semua orang yang mengenakan seragam yang sama itu terlihat langsung membuat barisan. Kakek Hong merasa ada yang aneh, dia langsung berbalik. Kedua mata Kakek Hong membulat sempurna saat melihat siapa sosok yang sangat di hormati kumpulan laki-laki berseragam itu, dan juga sang penyelamat mereka.
“Apa ada yang terluka?”
Suara khas yang sangat tidak asing itu menyita perhatian Diana, Diana langsung memeriksa keadaan di luar, seketika Diana mematung melihat sosok yang berdiri di dekat Kakek Hong.
“Ivan?” gumam Diana.
Mendengar Ivan, Dillah langsung keluar dari persembunyiannya.
"Ya Tuhan, apakah aku bermimpi?" Dillah mengucek kedua matanya, dia sangat tidak percaya melihat Ivan ada di kapal Kakek Hong.
Dillah langsung menghampiri Ivan. "Ini sangat ajaib Tuan. Anda datang di saat yang sangat tepat! Tadinya aku berpikir aku akan mati bersama Nona di sini." Dillah begitu bahagia melihat Ivan.
"Mana Diana?" tanya Ivan.
"Aku di sini." Diana keluar dari persembunyiannya bersama bibi Zicca.
Melihat sosok Diana, Ivan sangat lega, dia langsung berlari kearah Diana dan memeluknya.
"Aku hampir mati saat mendengar tembakan di kapal ini, sedang aku tahu kamu sedang berada di sini. Paniknya aku, aku menabrakan kapal yang membawaku." Ivan semakin mengencangkan pelukannya.
"Pantas saja getarannya sampai ke hatiku, ternyata kamu yang menabrak." rayu Diana.
Setelah sekian lama tidak melihat Diana, Ivan tidak bisa berkata, dia hanya ingin memeluk wanita itu.
Semua personel berseragam itu terlihat sibuk menjatuhkan mayat-mayat ke lautan. Kakek Hong dan bibi Zicca membantu personel itu untuk membereskan semua mayat.
Dillah merasa pemandangan itu sangat mengerikan, dia membuang pandangannya kearah lain. Saat dia menoleh kearah Ivan dan Diana yang masih berpelukan, perhatian Dillah tertuju pada warna merah yang ada di bahu kanan Diana. “Astaga, Nona terluka!” jerit Dillah.
Mendengar Diana terluka, Ivan langsung melepaskan pelukan mereka. Melihat Diana terluka kebahagiaan yang tadi menghiasi wajah Ivan seketika berganti dengan raut kemarahan.
__ADS_1
"Bunuh mereka yang tersisa! Jangan biarkan mereka semua hidup!" titah Ivan.
Keamanan berseragam mulai mengarahkan ujung senjata laras panjang mereka kearah para penyerang yang tersisa.
"Jangan! Jangan bunuh mereka, yang masih hidup berarti untukku, informasi mereka sangat penting," ucap Diana.
Ivan masih terlihat sangat marah. "Tahan mereka semua, jangan sampai ada yang kabur," ucap Ivan.
Kemarahan Ivan masih berkobar. "Berani-beraninya mereka melukai permataku, bunuh mereka yang tersisa!"
Diana mengusap kedua pipi Ivan sangat lembut. “Tenanglah, aku baik-baik saja, ini hanya terserempet peluru."
“Terserempet mobil, terserempet peluru, hal ini tidak ada yang baik Diana!”
"Ada kok terserempet yang sangat indah dan sangat aku sukai, dan aku rela diserempet hal itu tiap detik," ucap Diana.
"Apa itu?" tanya Ivan.
"Terserempet cintamu."
Ivan langsung mendekap Diana. Saat genting seperti ini Diana masih berusaha membuatnya tenang.
"Amin." ucap Bibi Zicca.
***
Diana perlahan melepaskan pelukan mereka. "Kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?"
"Saat selesai mengantar ibumu dan Kakakmu, aku mendapat laporan kalau di IMO ada pengkhianat, mengingat pengkhianat itu juga ada di negara ini, dan mungkin berada dekat denganmu, bagaimana aku bisa tenang di sana?" Ivan mengusap kepala Diana dengan penuh cinta.
"Setelah membaca laporan itu, aku langsung pergi dengan jet pribadiku. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika kamu kenapa-napa, Diana."
Ivan ingin menarik Diana kedalan pelukannya lagi, namun Diana tolak. "Kasian yang menonton," ucapnya.
Ivan memasang wajah dinginnya, dia mendekati anak buahnya. “Kalian semua urus sisanya, Aku ingin mengobati Diana dulu, dia terluka.” Ivan membawa Diana bersamanya menuju kapalnya.
__ADS_1
***
Flash Back Ivan.
Ivan fokus pada jalanan yang dia lewati.
"Kapan Nak Ivan mengenal Agis?" Aridya berusaha basa-basi.
"Aku tahu Agis sudah lama, bahkan jauh sebelum aku mengenal Diana. Aku sering melihatnya di berbagai pesta."
Agis tersenyum mendengar jawaban Ivan. "Aku kira kamu tidak pernah melihatku, Van." ucap Agis.
"Sebelum aku mengenal Diana, walau melihat orang, dan sering bertemu, aku menganggap tak melihat mereka. Saat mengenal Diana, aku bisa membuka diriku untuk orang-orang di sekitarku. Ah sudahlah kalau aku menceritakan tentang Diana, tidak ada habisnya. Aku berusaha menjalin hubungan kekeluargaan dengan kalian juga semata demi Diana."
"Agis jauh lebih baik dari Diana!" ucap Aridya.
"Ya, dia lebih baik, lebih menarik, lebih cantik, tapi hanya Diana yang membuatku nyaman. Kenyamanan hati itu melebihi apapun."
Aridya ingin berkata lagi, namun tertahan, karena Agis mengisyarat agar tetap diam. Aridya terpaksa diam.
Perlahan Ivan menurunkan kecepatan mobilnya saat mendekati rumah Aridya. Setelah mobil terparkir sempurna, mereka semua keluar dari mobil.
"Nak Ivan mau mampir dulu?" tawar Aridya.
Tink!
Sebuah notif pesan membuat Ivan harus fokus pada benda pipih persegi panjang itu. "Sebentar Nyonya." Ivan langsung memeriksa layar handphonenya.
*Tuan, yang menjual informasi pada Tuan bagian IMO sendiri, ada pengkhianat dalam IMO. Ini nomor telepon pengkhianat itu. Setelah aku lacak, dia orang terdekat Diana. Lebih parah lagi, saat ini dia berada di Jerman.
Pengkhianat IMO ada di dekat Diana? Siall!! Apa Diana menyadari siapa pengkhianat itu! Kalau tidak menyadari, maka Diana dalam bahaya.
Agis bingung melihat Ivan cemas seperti itu. "Ivan, apa ada sesuatu?"
Kesadaran Ivan kembali, dia menoleh pada Agis. "Tidak ada apa-apa, hanya saja aku harus pergi, ada meeting di luar Negri."
__ADS_1
"Tidak masuk dulu?" tanya Aridya.
"Lain kali, aku harus pergi dulu." Ivan langsung masuk kedalam mobilnya.