
Mereka semua terdiam mengingat kejadian masa lalu yang hanya mereka ketahui sebagiannya saja.
"Lalu apa kaitannya mamaku, dengan Charlie?" tanya Ivan.
"Tidak ada, hanya saja kami bisa memburu Charlie, berkat laporan dari Rani," sahut Danu.
Danu berulang kali menarik napasnya, mempersiapkan untuk melanjutkan cerita. "Kami terus melakukan pengejaran, karena kami tidak tahu kemana Charlie, jadi kami berpencar, hingga kejadian nahas itu terjadi. Saat di pertigaan, mobil Charlie, dan mobil rekan kami yang lain bertabrakan, keduanya meninggal di tempat kejadian. Secara tidak langsung, Charlie kecelakaan karena perburuan ED Group. Apakah aku pantas mendapat maafmu, Diana. Karena aku terlibat dalam pemaksaan racun itu?"
"Keberanian Anda mengakui keterlibatan Anda, bagiku itu sudah cukup. Untuk hal yang lain, aku tidak bisa menghakimi Anda. Aku memang kehilangan kedua orang tuaku karena masalah ini, tapi setidaknya apa yang Papaku impikan sudah terwujud berkat Agung Jaya," ucap Diana.
"Permataku tidak menghukum Anda, bagaimana aku bisa menghukum Anda?" Ivan terlihat sangat bingung. "Aku akan memberi Anda pekerjaan, jika kedepannya Anda mengkhianati Agung Jaya lagi, bukan pekerjaan Anda yang hilang, tapi Nyawa Anda juga! Ingat Tuhan tidak pernah tidur, dia akan memberi ganjaran pada orang-orang jahat!"
Mendengar Ivan akan memberi pekerjaan padanya, Danu pun pergi meninggalkan Ruangan Ivan. Sepanjang kakinya melangkah, Danu terus terngiang ucapan Ivan, kalau orang jahat akan mendapat balasan, dan apa yang telah terjadi padanya, ini bukti nyata karma baginya dan keluarganya.
"Tuhan berbaik hati dan masih memberi kesempatan padaku, aku berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menata hidupku agar lebih baik, tidak selicik dulu lagi."
Setelah kepergian Danu, Ivan, Diana, dan Angga masih larut dalam lamunan mereka.
"Van, tindakan apa yang harus kita ambil untuk menghukum mama?" tanya Angga.
"Aku belum tahu Kak, melihat wajah mama saja saat ini aku belum siap, mengingat kata-kata yang aku baca, bagaimana pun bakti seorang anak, tidak akan mampu menebus satu napas seorang ibu saat melahirkan anaknya. Sejahat apapun mama kita, dia tetap mama kita."
"Kejahatan ibu kalian, dia hanya ingin uang dalam bisnis, seperti perselisihanku dengan Fablo dulu, dia ingin uang, sedang aku ingin membantu orang, akhirnya kami mengambil jalan masing-masing, begitu juga mama kalian, dia hanya ingin uang, tapi keluarga besar kalian mengutamakan bantuan," ucap Diana.
"Lalu apa tindakan kita pada mama?" tanya Angga.
__ADS_1
"Cukup kita buka matanya, hidup di dunia ini memang butuh uang, tapi kita bisa mengecap keindahan lain walau mengabaikan uang," ucap Diana.
"Dengan cara apa?" tanya Angga.
"Serahkan padanya, Kak." Ivan mengisyarat pada Diana. "Dia selalu punya kejutan untuk masalahnya."
***
Di sisi lain, mendengar suaminya akan pulang, Arli melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dia ingin tiba lebih dulu di rumah sebelum Archer datang. Sesampai di rumah, Arli berusaha terlihat santai. 10 menit berlalu, samar terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah, Arli yakin itu Archer. Dia segera kedepan menyambut suaminya.
"Akhirnya kamu pulang, aku sangat merindukanmu." Arli langsung menyambut Archer dengan pelukan.
Archer melepaskan pelukan mereka. "Ayo kita masuk."
"Mau makan, mau minum, atau mau aku?" tanya Arli.
"Owh, karena kamu sudah mendapatkan tiga hal itu dari Diana, bukan?" Wajah Arli seketika memerah.
"Kenapa membahas Diana?" tanya Archer.
"Karena hanya dia yang penting bagimu! Apakah ada hal yang penting selain Diana bagimu!?"
"Apa bukti kalau aku mementingkan Diana?"
"Banyak! Salah satunya kamu hanya menerima Diana sebagi muridmu, kamu menunjuk Diana sebagai ketua IMO, itu karena Diana sangat penting bagimu!"
__ADS_1
"Kamu salah! Arli! Aku memilih Diana karena dia pantas!"
"Pantas? Pantas apa Pantas? Kalian baru saja menginap di hotel yang sama, aku tahu kalau sejak dulu kamu dan Diana memiliki hubungan khusus, sebab itu kamu hanya memilih Diana sebagai muridmu dan penerus jabatanmu! Padahal ada yang membutuhkan bimbinganmu dari kalangan keluargamu sendiri yang juga bagian dari IMO, Rativa, dia keponakanmu."
"Aku tidak memilih Rativa, karena dia seorang pengkhianat! Persis seperti tantenya!"
Arli seketika bungkam menyadari kalau Archer sudah tahu siapa pengkhianat IMO.
"Kenapa kaget?" tanya Archer.
"Kamu pasti kena racun Diana, kamu menuduh istrimu sendiri sebagai pengkhianat, kamu tahu? Saat ini tim tengah mencari Tony. Tony pengkhianat itu!"
"Pengkhianat di IMO punya kuasa yang lebih tinggi dari Tony, dan itu dirimu!"
"Berhenti menyalahkan Diana! Kamu tahu, kamu itu tidak pantas bekerja di IMO, dulu aku yang melindungimu, saat aku pensiun, Diana yang melindungimu, karena dia tahu kelemahanmu, dan memandangmu sebagai istri gurunya, kamu malah membayar semua kasih sayang dan perlindungan IMO dengan sebuah pengkhiantan."
"Aku sangat malu mempunyai istri sepertimu! Mulai sekarang aku akan mengurus perceraian kita!"
"Setelah hubunganmu dengan Diana mengalami kemajuan, kamu ingin membuangku?"
"Aku tau kamu menguntitku 2 hari ini, aku akui aku memang menginap di hotel yang sama dengan Diana, tapi Diana di sana bersama tunangannya!" Archer sangat jijik dengan istrinya yang di selimuti rasa iri pada Diana.
Dia segera ke kamar mereka, memasukan semua barang yang penting kedalam tas besar. Tanpa bicara apa-apa, Archer terus menggeret koper besarnya. Saat dia sampai di depan pintu, dia menghentikan langkahnya. "Mulai sekarang, kamu dan keponakanmu bukan bagian dari IMO!"
"Lakukan apa saja yang kamu mau, Archer! Aku juga akan melakukan apa yang aku mau! Aku memang lemah! Tidak cerdas seperti Diana, juga tidak sehebat dia dalam bela diri, tapi aku akan buka identitas Diana, biar dunia tahu siapa Diana!" ancam Arli.
__ADS_1
"Lakukan apa saja yang kamu mau, setiap perbuatan ada akibatnya!" Archer pergi meninggalkan rumah istrinya.
"Arggggg!" Arli sangat geram, ancamannya pada suaminya tidak mampu menahan kepergian Archer.