
Mendengar pendaftaran untuk pengobatan T779 gratis di buka sejak sekarang, sebagian besar masyarakat mulai mengantri untuk mendapatkan nomor antrian agar mendapat obat itu. Mereka mendatangi klinik kesehatan terdekat di tempat tinggal mereka. Setiap klinik pun diserang lapisan masyarakat.
Sejak berita itu diluncurkan, mereka sudah mendatangi klinik, petugas klinik pun kewalahan dengan membludaknya pengunjung. Mereka memberikan nomor antrian. Masyarakat hanya diminta kartu identitas diri mereka, lalu mereka akan diberi nomor antrian yang berisi tanggal kapan mereka akan mendapatkan obat T779.
Banyaknya antrian, di sana juga terlihat Agis, Aridya, dan Nazif. Saat ini ketiganya maju, karena saatnya giliran mereka. Aridya memberikan kartu identitas dirinya pada petugas. Petugas langsung memasukan data diri Aridya ke komputer.
Tetttttt!
Suara peringatan dari komputer membuat mereka terkejut. Sebelumnya mereka tidak menemukan masalah ini. Komputer yang lain juga mengeluarkan suara peringatan yang sama, saat petugas lain memasukan data diri Agis. Petugas mengira ini hanya eror. Petugas yang lain yang melayani Nazif juga mengalami hal yang sama.
Semua petugas kesehatan bingung. 5 kumputer yang mereka siapkan mulanya tidak ada masalah.
"Ada apa ini?" tanya pengawas.
"Datanya ditolak sistem, Pak." adu petugas.
"Coba daftarkan di komputer sana, sepertinya itu berjalan baik."
Mereka memasukan data diri Aridya dan kedua anaknya di komputer yang lain, namun sama saja data itu langsung ditolak sistem.
"Mungkin komputernya lelah, Pak." tebak Petugas.
"Coba masukan data diri warga yang lain," usul pengawas.
Mereka kembali meneruskan antrian, semua lancar seperti sedia kala. Mereka kembali memasukan data diri Aridya, namun malah mendapat penolakan dari sistem.
Pengawas merasa bingung dengan keadaan ini. "Mungkin karena kalian pendatang baru di sini, saya kedalam dulu menanyakan bagaimana pelayanan untuk kalian bertiga, untuk sementara, silakan menunggu."
Aridya dan kedua anaknya terpaksa menunggu, sedang para petugas pelayanan kesehatan, mereka kembali meneruskan antrian yang lain, dan semua kembali berjalan lancar.
__ADS_1
Pengawas melaporkan kejadian di luar sebelumnya pada kepala Klinik. Kepala Klinik pun menelepon pada dinas terkait. Mereka hanya mengatakan untuk meminta 3 data yang tertolak otomatis itu, dan mencatat data mereka.
"Tunggu sebentar ya Pak, kami akan melapor pada sistem, secepatnya kami akan memberi kabar."
*Di belahan lain
Archer melihat ada laporan pada laptopnya, saat membaca laporan itu, Archer langsung membalas, kalau tiga orang itu akan mendapatkan pelayanan khusus, karena mereka menderita penyakit lain. Archer meminta rahasiakan hal itu, hanya katakan kalau mereka bertiga akan medapatkan pengobatan di tempat khusus.
Salah satu petugas kesehatan keluar menemui Aridya, dan mengatakan pada Aridya, kalau mereka tidak bisa mendapatkan pengobatan di klinik mana pun, termasuk klinik ini, karena mereka akan mendapatkan pengobatan di tempat khusus. Aridya sangat bahagia, dia pulang bersama kedua anaknya dengan gaya sombong mereka.
Sepanjang perjalanan, wajah ketiganya sangat ceria.
"Sepertinya ED Group memberi kita tiket khusus mama," ucap Agis.
"Aku malah berpikir ini campur tangan om dari keluarga Brmantyo," sela Nazif.
"Kita lihat nanti, siapa yang kita lihat di tempat khsusus, artinya dia yang mengistimewakan kita." Aridya terus tersenyum bahagia.
Pabrik Tua.
Di dalam ruang kaca.
Diana menyimak pembicaraan Fablo, Veronica, dan satu orang yang lain, Diana tidak bisa melihat keadaan di luar ruangan karena asap yang sangat pekat. Tapi apa yang mereka katakan, Diana sangat jelas mendengarnya dari speaker, apalagi mengenai asap beracun, namun saat ini Diana tidak merasakan apa-apa, walau terkurung di dalam ruangan yang penuh dengan asap tebal, Diana merasakan asap ini seperti asap dari jajanan Nitrogen. Sama sekali tidak membuat paru-parunya sesak.
Di luar ruangan Fablo memutuskan untuk mengambil keputusan yang di usulkan oleh penelitinya. Fablo menekan tombol lain, hingga kipas udara dalam ruangan kaca itu aktif dan menarik semua asap itu. Kini Fablo bisa melihat Diana dengan jelas.
Saat ruangan kembali bersih seperti semula, peneliti itu memberi isyarat pada Diana agar Diana berpura-pura sakit, namun Diana memberi isyarat kalau Veronica melihatnya.
“Fablo, sepertinya peneliti ini mengkhianatimu, tadi dia memberi isyarat pada Diana.” Veronica mengulangi Bahasa isyarat peneliti itu.
__ADS_1
Melihat Diana baik-baik saja, tuduhan Veronica benar adanya. Fablo sangat murka, tapi dia tidak langsung mengambil tindakan, mengingat hanya ada dua botol T779-20, Fablo mengeluarkan alat pendeteksi untuk memeriksa asap itu. Saat laporan mengatakan ruangan aman, dan menjelaskan apa saja zat dalam ruangan kaca, Fablo semakin marah, dia kini menyadari senjata beracunnya sudah dirubah, asap yang tadi keluar bukan asap beracun, tapi hanya asap biasa bahkan sama sekali tidak berbahaya.
Fablo kembali medekati Penelitinya, dia mencekik leher laki-laki itu. “Berani-beraninya kamu mengkhianatiku!”
“Bagaimana aku bisa diam saja saat seorang dewi ingin dihabisi karena berbuat baik!” peneliti itu sama sekali tidak merasa bersalah.
Fablo marah, dia mendorong laki-laki itu dinding kaca yang memisahkan antara mereka dengan Diana. Peneliti itu terbentur begitu keras, membuatnya langsung tidak sadarkan diri. Fablo tersenyum melihat laki-laki itu pingsan. Dia kembali mendekatkan mic ke mulutnya.
“Kamu beruntung Diana, karena ada yang menyelamatkan kamu kali ini,” ucap Fablo.
Fablo menitahkan semua anak buahnya agar memberikan bom asap beracun asli, yang sebelumnya mereka siapkan untuk membunuh Diana. Semua anak buah Fablo yang berseragam putih terlihat sangat sibuk mencari benda yang bos mereka minta. Mereka semua kesulitan membedakan mana bom asap beracun, dan mana yang bukan, karena pemimpin mereka membuat dua yang sama persis. Ketua mereka juga saat ini pingsan.
Keadaan terasa mencekam, Tiba-tiba sebuah motor masuk kedalam pabrik tua, hal itu menyita perhatian Fablo, melihat siapa yang datang Fablo meminta anak buahnya untuk menahan serangan saat laki-laki itu melepaskan helmnya.
“Apa aku ketinggalan pesta?” ucap Tony.
“Kamu bisa menemukan kami, apakah XD yang menyuruhmu?” tanya Fablo.
“Tidak ada yang menyuruhku, aku hanya melacak tempat ini dari pelacak yang aku selipkan di kartu Ketua,” ucap Tony.
“Kenapa dia memanggil Diana ketua?” tanya Veronica.
“Karena Diana ketua IMO, kamu tahu Organisasi IMO?” tanya Fablo.
Veronica tercengang mengetahui siapa Diana sesungguhnya.
“Lawanmu sangat hebat, makanya kamu tidak bisa menyingkirkan dia walau sejengkal! Selain dia si dokter misterius yang hebat, dia juga ketua IMO, bukan hanya itu, dia juga ilmuan yang diakui dunia.”
Jangan sampai tante Rani tahu hal ini, kalau dia tahu, dia akan memuja Diana, batin Veronica.
__ADS_1
Sedang di dalam ruangan kaca, Diana termenung, XD itu kode yang sangat familiar, saat Diana ingat siapa pemilik kode itu, Diana mengetahui siapa pengkhianat sesungguhnya dalam Organisasi IMO.