
Setelah mendapatkan kabar dari Nizam, kalau Diana setuju dengan persyaratan dari Profesor Hadju, Pak Abi langsung membuat pengumuman. Dia hanya menuliskan pengumuman kalau Diana akan membuka kelas dengan jumlah Mahasiswi terbatas, hanya mereka yang beruntung, dan ada kejutan lainnya setelah kelas selesai, beliau tidak menyebutkan apa kejutan itu, agar mudah melihat mana Mahasiswa yang menginginkan ilmu atau hanya sekedar ingin masuk ke kelas Diana untuk sekedar eksis.
Selesai dengan pengumumannya, beliau segera membagikannya ke group besar Universitasnya. Saat pengumuman itu masuk ke handphone tiap Mahasiswa, seketika keadaan hening, mereka semua fokus membaca pengumuman itu.
“Wah, dokter hebat itu akan membuka kelas di sini!” seru salah satu Mahasiswa.
“Bagaimana pun caranya, aku harus ikut kelas Diana!”
Sangat banyak orang yang sangat antusias dengan pengumuman itu. Mereka sangat berharap bisa mengikuti kelas yang Diana buka sementara waktu itu. Sedang di sebuah bangku taman yang ada di bawah pohon, Saras melamun memandangi layar handphonenya. Dia tidak seantusias Mahasiswa lain, karena dia sadar akan kemampuannya, dirinya merasa tidak bisa lolos mengikuti kelas Diana, saingannya semua Mahasiswa cerdas dengan prestasi yang terbaik.
Mood Saras semakin memburuk, saat ini dia sangat merindukan Diana, namun untuk menelepon atau mengirim pesan, dia tidak tahu harus memulai dari mana.
“Ada kabar membahagiakan bagi semua orang, kamu malah murung sendiri di sini.”
Saras menoleh kearah suara itu, terlihat Lucas langsung duduk di sampingnya.
“Ini memang kabar yang sangat membahagiakan, tapi semangatku hilang. Saat ini aku sangat merindukan Diana dan ingin memeluknya, itu saja.” Saras memadang kosong kedepan.
“Berusahalah agar bisa mengikuti kelas yang Diana buka, agar kamu bisa melihatnya lagi,” ucap Lucas.
“Entahlah, pertama aku sadar sampai batas mana kemampuanku, jadi aku tidak yakin bisa lolos.” Saras mengambil barang-barangnya dan pergi dari sana.
Saras bingung dengan dirinya sendiri, sebelumnya dia sangat menginginkan bisa berbicara dengan Lucas, saat ini Lucas mengajaknya bicara, hal itu terasa hambar. Rasa cintanya pada Diana dan kekagumannya pada Diana, melunturkan segala rasa cinta untuk hal lain. Dalam hatinya, dia ingin seperti Diana, bisa bermanfaat untuk benyak orang, dan ingin menolong orang sebanyak yang dia mampu.
Lucas memandangi Saras yang semakin menjauh dari pandangan matanya, seketika sebuah ide melintas di benaknya, dia segera menghubungi Diana.
“Halo, ada apa Lucas?” sapaan di ujung telepon sana.
“Diana, kamu sudah ke desa?”
“Sejak kemaren aku sudah sampai, kamu sendiri kapan pulang?”
“Secepatnya, ada tugasku yang belum selesai.”
__ADS_1
“Selesaikan sana semua tugasmu, kamu malah meneleponku.”
“Diana, aku ingin membicarakan tentang Saras.”
“Ada apa dengan Saras?” Nada suara Diana terdengar khawatir.
“Dia sangat merindukanmu, aku minta dia berusaha agar bisa masuk dalam kelasmu, kata dia, dia sadar sebatas mana kemampuannya.”
“Lalu, apa kamu ingin aku memesan kouta khusus untuknya?”
“Idemu bagus, tapi ideku bukan itu.” Lucas berulang kali mengatur napasnya mempersiapkan mental untuk mengatakan yang dia mau. “Aku ingin membawa Saras ke desa Nenek bersamaku nanti.”
“Aku sangat suka idemu, tapi awas saja jika kamu membawanya lewat jalur hutan!”
“Hehe ….” Lucas menggaruk kepalanya. “Tadinya aku begitu.”
“Sudah ku duga, apa kau menyukai Saras?”
“Tidak, aku hanya terbayang dirimu, melihat dia sangat merindukanmu, pasti kamu juga kan?” kilah Lucas.
Lucas sangat bahagia mendapat izin dari Diana. Dia segera berlari menyusul Saras. Di depan sana terlihat Saras hampir sampai di gerbang Asrama putri.
“Saras!”
Panggilan Lucas berhasil menarik perhatian Saras, dia berhenti dan berbalik menoleh pada Lucas. Saras segera mendekati Lucas.
“Ada apa?” tanyanya.
“Saat ini Diana berada di desa Neneknya, apa kamu mau ikut aku menyusul Diana ke sana?”
“Jauh?”
“Tentu jauh, mau tidak?”
__ADS_1
Saras ragu, namun rasa rindunya pada Diana mengalahkan segalanya. “Kapan?”
“Secepatnya, nanti aku kabari lagi.”
Saras termenung, berusaha mengembalikan akal sehatnya yang larut karena perasaan rindunya pada Diana. “Hei, kenapa kamu tau Diana ada di desa Neneknya, dan atas jaminan apa aku percaya padamu, kalau kamu akan membawaku menemui Diana?”
Lucas mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Saras. “Aku sepupu Diana.”
“Apa?! Terus kenapa selama ini kamu jahat padanya?!”
“Minta Diana jelaskan itu nanti, agar kalian punya bahan untuk bicara.” Lucas langsung pergi dari sana.
***
Luar Negri.
Rani baru selesai pemeriksaan lanjutan di sebuah Rumah Sakit besar di sana, wajahnya malah semakin kesal saat mendengar semua penjelasan dokter, kalau dokter itu tidak bisa membantunya, dia malah merekomendasikan dokter lain, dokter itu menyebutkan nama dokter Rahma Bramantyo. Mendengar nama itu Rani langsung meninggalkan ruangan dokter itu, dia terus berjalan cepat menuju hotelnya.
Sofian baru sampai ke kamar hotel mereka, dia harus berusaha menahan tawanya, ribuan mil mereka terbang, namun yang mampu menyembuhkan Rani hanya Diana, karena Diana pernah mengalami hal serupa, bedanya Diana tidak bisa bicara karena penyiksaan dari keluarga Ayahnya.
“Bagaimana ma, apa mama tetap ingin ke Negara lain dan bersiap menerima jawaban yang sama, atau kita kembali dan minta Diana mengobati mama?” tanya Sofian.
Rani mengambil handphonenya dan mulai mengetik.
*Aku tidak mau dihina wanita itu! Dia tidak akan mau mengobati mama, pasti dia akan menertawakan mama, andai dia mau pun, paling dia malah membunuh mama!
Sofian tertawa membaca jawaban Rani. “Pantas saja Diana tidak menawarkan diri untuk mengobati mama, dia sudah tahu pikiran busuk mama.” Sofian menggelengkan kepalanya.
Sofian mendekati Rani, menggenggam kedua tangan istrinya itu. “Ma, Diana itu wanita yang terbaik, sebesar apapun kejahatan seseorang padanya, dia tidak pernah dendam."
Rani hanya bisa menatap Sofian, dia tidak bisa menyela ucapan suaminya.
"Mama ingat Aridya? Dia terbukti ikut menyiksa Diana saat kecil, bahkan dia selalu menyusahkan Diana saat Diana dewasa, tapi Diana malah memberikan kehidupan mewah untuk Aridya. Lihat ini.” Sofian memberikan handphonenya pada Rani.
__ADS_1
Rani mematung membaca berita, kalau Diana memberikan satu perusahaan Farmasi miliknya yang dia dapat dari keluarga Bramantyo untuk Aridya, bahkan Diana memberi mereka rumah mewah dan mobil mewah. Di sana jelas tertulis Diana memberikan hal itu, agar adiknya Nazif bisa kuliah dengan benar. Diana juga membantu karir Agis, kini gadis itu sudah aktif kembali di industri hiburan. Yang membuat Rani semakin bungkam, Diana memberikan pekerjaan untuk sepupu-sepupunya, anak dari keluarga Bramantyo yang jahat padanya, di mana kehidupan para sepupunya kacau karena Ayah mereka dihukum mati karena aksi terorisme mereka.
“Jika mama bisa percaya pada Diana, dan mau menerima bantuannya, Diana pasti bersedia mengobati mama. Sebelum mama minta maaf padanya, papa yakin dia sudah lama memaafkan mama.”