
Ivan tersenyum mendengar penawaran Diana, nyawanya atau hartanya.
"Bisa kita bicara dengan tenang?" tanya Ivan.
Diana masih terlihat begitu dingin.
"Duduk dulu, kita bicarakan baik-baik," bujuk Ivan.
Perlahan Diana kembali ke tempat duduknya. "Katakan apa yang kamu inginkan."
"Aku hanya meminta hal yang tidak aku miliki, dan tidak bisa kuputuskan sendiri."
“Hartamu? Untuk apa aku menginginkan hartamu. Aku punya harta walau tidak sebanyak milikmu, tapi apa yang aku punya lebih dari cukup."
"Kau menginginkan nyawaku? Mau mengambilnya dengan cara apa?" tawar Diana.
Ivan memandang Diana dengan tatapan yang tenang. "Nyawamu?"
Ivan terkekeh mendapat penawaran ini "Aku pencintamu, bukan pembenci atau musuhmu yang menginginkan nyawamu. Bagiku, kamu lebih berharga saat hidup, jadi ... untuk apa nyawamu?"
Diana membuang kasar napasnya mendengar jawaban Ivan. “Terus apa yang kamu inginkan?”
"Kau pura-pura bodoh atau untuk urusan hati kamu memang bodoh?" tanya Ivan.
"Aku ini laki-laki normal yang sehat, masa kamu tidak bisa menebak apa yang aku mau?"
"Aku tidak menyimpan dendam lagi saat aku tahu ketua IMO dirimu, karena aku mengenal pribadimu yang suka menolong, aku yakin ada alasan mulia dibalik tragedi itu."
"Ya, terus kamu mau apa? Apa bahasaku terlalu sulit untuk kamu mengerti? Pertanyaanku hanya 1, apa yang kamu inginkan dariku, bukan ceramahmu!" Diana semakin terlihat gusar.
"Yang aku inginkan sangat mudah."
"Katakan!" ucap Diana dingin.
"Aku hanya ingin dirimu."
Ivan menatap Diana dengan tatapan yang begitu teduh. "Dengan selalu bersamamu, bersamamu dan terus bersamamu, jika aku bisa mendapatkan hal itu aku sangat bahagia. Permintaanku sangat mudah bukan? Aku hanya ingin selalu bersamamu.”
"Kurasa keinginanmu yang sesungguhnya tidak semudah itu, jangan sungkan katakan saja dengan jujur," tantang Diana.
“Hanya itu yang aku inginkan, Diana. Aku hanya ingin selalu di sisimu, bahkan saat kamu pulang ke desa nanti aku tetap bersamamu, jadi bawa aku juga bersamamu."
"Bagaimana, apa kamu mau membawaku ke desamu untuk menemui Nenekmu?" tanya Ivan.
Diana diam, dia tidak menolak juga tidak menyetujui.
__ADS_1
"Keinginanku ini sudah sangat mudahkan? Hanya bawa aku saat kamu kembali nanti. Apakah hal ini begitu sulit untukmu? Apakah suatu aib jika membawaku bersamamu saat kamu kembali ke rumah Nenekmu?"
“Setelah mengetahui semua Rahasiaku kau kira kau mudah mengaturku?!” ucap Diana penuh penekanan.
"Aku tidak mengaturmu, Diana. Aku hanya ingin ikut denganmu, berpisah denganmu sesuatu yang sangat menyakitkan bagiku."
"Sejak tinggal satu atap denganmu, aku merasa kamu adalah bagian dari hidupku, aku sangat tersiksa kalau kita jauh. Izinkan aku ikut denganmu."
Diana tetap bungkam.
"Yudha saja kamu izinkan mengikutimu, kenapa aku tidak boleh?"
"Aku ingin pulang dengan siapa, itu hak ku!"
"Iya itu hak mu, ku rasa pertukaran yang sepadan. Kamu bawa aku bersamamu, dan aku merahasiakan semua rahasiamu," ucap Ivan.
"Kalau aku tidak mau kamu mengancamku?" Diana berdecih. "Jangan pernah mengancamku hanya karena kamu tahu rahasiaku! Aku memang punya banyak rahasia tentang latar belakangku dan siapa diriku. Tapi yang punya rahasia di muka bumi ini bukan cuma aku saja!"
"Aku juga memegang rahasiamu, Tuan Ivan!” ucap Diana. Sorot mata Diana yang tertuju pada Ivan seakan penuh peringatan.
“Rahasiaku?” Ivan tidak mengerti maksud Diana.
“Ya rahasia keluargamu, tepatnya tentang Angga. Aku tahu siapa penyebab Angga cacat seperti itu, dan tersangka utama dari tragedy yang menyebabkan kaki Angga cedera adalah adalah ibumu.”
Mulut Ivan terbuka lebar mengetahui Diana tahu rahasia yang tertutup rapat di kalangan keluarganya.
Ivan bingung harus berkata apa lagi, hingga keduanya saling diam.
"Maafkan aku, Diana. Bukan maksudku untuk mengancam atau memberi pilihan padamu, aku hanya ingin ikut denganmu, ku rasa ini penawaran yang sepadan."
Tiba-tiba deringan handphone memecah kebisuan mereka. Melihat di layar handphonenya nomor pemanggil adalah Tony, Diana segera menerima panggilan itu di depan Ivan. Karena Ivan sudah tahu semua tentangnya.
“Iya Tony.”
“Bagaimana keadaan Anda Ketua?” tanya Tony.
“Aku tidak tahu, ku bilang buruk tapi aku baik-baik saja, ku bilang baik tapi rasannya buruk.”
“Kenapa ketua?” Tony bingung dengan jawaban Diana.
Bukan jawaban yang Tony dapat, telinganya malah mendengar suara tawa Diana.
“Aku sudah membuka identitasku, Tony.” Ucap Diana sambil tertawa.
Tony menganggap Diana hanya bercanda dengannya.
__ADS_1
"Bercanda Anda, keasinan, ketua."
Suara tawa Diana seketika hilang.
“Tony, aku memberimu kesempatan terakhir, ambilkan aku barang yang sangat berharga itu. Aku beri kamu waktu 20 jam untuk membawa barang itu padaku.”
Antara sadar dan tidak, Tony hanya bisa menyetujui permintaan Diana.
Ivan terus memandangi Diana, sangat jelas Diana begitu bahagia dengan lawan bicaranya.
Tony? Bukankan itu wakil ketua IMO?
Perasaan Ivan seketika kacau. Dia teringat akan kabar yang berhembus. Kalau ketua IMO dan wakil ketua IMO adalah pasangan suami istri.
Apa benar Diana dan Tony sudah menikah?
Apa kabar pemutusan perrtunangan kami hanya sebagai pengalihan karena misi Diana?
Tidak mungkin! Nenek Zelin tidak mungkin membohongi kakek
Bagaimana kalau Kakek juga ikut membantu rencana mereka?
Bagaimana jika memang kabar ini benar?
Bermacam pemikiran buruk terus berputar di kepala Ivan. Saat ini dia sangat mencintai Diana, tapi keadaan seakan mulai ingin memisahkan mereka. Ivan meraih kotak rokok dan mengambil sebatang rokok dari sana. Rasa tertekannya membuat Ivan tidak memperhatikan Diana lagi, sedang di sana Diana sudah menyudahi panggilan teleponnya.
“Kalau kau ingin berumur Panjang, sebaiknya kurangi merokok, demi Kesehatan jantung dan paru-parumu, kalau sulit bagimu untuk berhenti, setidaknya kurangi merokokmu, Van.”
Mengingat siapa yang berbicara, Ivan langsung memasukan kembali batang rokok yang dia keluarkan dan melempar semuanya kedalam tong sampah.
“Aku sudah kenyang, apa aku boleh kembali ke Apartemen?" tanya Diana.
Ivan masih membisu.
"Aku lelah, dan aku sangat mengantuk," ucap Diana lagi.
Melihat Ivan bungkam, Diana merasa salah dengan ucapannya. Saat ini Ivan tidak hanya tahu kalau dokter itu dirinya, tapi Ivan juga sudah tahu, kalau ketua IMO adalah dirinya. "Maafkan aku, sudahlah lupakan kata-kataku."
Diana mulai membereskan barang-barangnya, sedang Ivan masih melamun memandanginya.
"Jangan sungkan Van, seharusnya aku sadar diri. Wajar kalau kamu keberatan aku kembali ke Apartemenmu, apalagi setelah kamu tahu siapa aku."
Diana selesai membereskan barangnya. "Apa kamu tidak keberatan kalau aku tinggal di Apartemen Nizam? Kalau boleh ... Aku akan kembali ke Apartemen Nizam saja," ucap Diana.
Ivan terus memadangi Diana tanpa berkedip.
__ADS_1
Apakah semua yang aku lakukan akhir-akhir ini tidak bisa kamu Rasakan Diana?
Keinginanku cukup mudah, tapi kamu tidak menjawabnya. Apakah terlalu sulit membawaku pulang bersamamu?