
Kegiatan yang seakan tidak ada akhir itu selesai juga, Diana keluar dari kamar mandi Ivan mengenakan jubah mandi milik Ivan. Sedang Ivan masih bersandar di sandaran tempat tidur, sorot matanya terus tertuju pada Diana.
“Bagaimana lukamu kemaren?” tanya Ivan.
“Sudah sembuh, karena Lukaku di tangani oleh dokter specialisku,” sahut Diana.
“Bisa tunjukan padaku? Seorang dokter harus memeriksa secara langsung bukan?”
Diana menurunkan satu sisi jubah mandinya, dia memperlihatkan luka yang mulai mongering. Sudah percaya?”
“Iya, sudah. Sana kamu bersiap, aku mau mandi juga, kasian Anton menunggu kita terlalu lama.” Ivan beranjak dari tempat tidurnya. Terlalu semanagtnya Ivan, dia tidak sengaja menyenggol berkas yang dia taruh di nakas dekat tempat tidurnya.
Diana melirik kertas yang berserakan di lantai, dia merasa tidak asing dengan logo perusahaan yang ada pada kertas itu.
“Kamu bekerjasama dengan SW group?” tanya Diana.
“Kamu mengetahui perusahaan itu?” Ivan balik bertanya.
“Tidak terlalu, hanya saja sifat kritis presiden perusahaan itu sangat di kenal.”
“Ya, kamu benar, untuk bahasan Kerjasama saja dia sangat selektif, bayangkan sekelas Agung Jaya saja dia membebani anak buahku dengan persyaratan yang cukup berat. Untuk urusan dengan SW Group, aku mengutus orang kepercayaanku hanya untuk urusan ini," ucap Ivan.
"Yamaka Kaziwa, di Universitas namanya sangat di kenal, karena beberapa Universitas kedokteran berkaitan dengan Perusahaannya."
"Yup, kamu benar. Bahkan beberapa ilmuan negara dia yang memfasilitasi jika ada seminar dan semacamnya," sahut Ivan.
Diana menarik Ivan agar duduk di sisi tempat tidur bersamanya. “Aku ingin bicara hal serius.”
“Katakan, istriku sayang ….”
“Apa kamu butuh bantuanku untuk menangani SW group?” Diana merasa salah dengan ucapannya, dia lupa bagaimana kuatnya seorang Ivan. Ivan memiliki koleksi yang sangat luas. “Maafkan aku, seharusnya aku tidak menanyakan pertanyaan konyol ini, memangnya siapa aku.”
__ADS_1
“Kamu permataku, kamu istriku, kamu sangat berharga untukku. Untuk SW group, kalau kamu berkenan membantu Agung Jaya, aku sangat bahagia. Kini Agung Jaya bukan miliku saja, tapi milik kita.”
“Tapi kamu memiliki tim yang lebih handal dariku, lupakan tawaranku.”
“Aku memang memiliki banyak tim hebat di bidangnya, tapi … kamu adalah yang paling penting, sejak mengenalmu, aku bisa merubah sudut pandangku pada orang-orang. Aku mohon bantu perusahaan kita dengan idemu.”
Diana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Kalau begitu besok kamu harus ikut aku ke perusahaan.”
Diana kembali mengangguk.
“Ya sudah, bersiap sana. Aku mau mandi, selesai aku mandi kita menemui Anton lagi, sangat banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya, jujur aku belum puas dengan jawaban dia.”
“Jawaban apa?” tanya Diana.
“Anton bilang dia percaya pada Agung Jaya untuk mengembangkan harta karunnya, karena Agung Jaya pasti tidak akan membisniskan obat itu.”
“Kenyataannya memang itu, Anton pernah bilang padaku hal serupa, tapi dia tidak pernah mengatakan kalau dia memberikan pada Agung Jaya. Saat aku merampok Yudha dulu, aku kira kalian membeli obat itu.”
“Sudah aku katakan padamu bukan, kalau aku bukan orang baik.” Diana tersenyum dan pergi meninggalkan kamar Ivan.
***
Setelah selesai mengenakan pakaian mereka, Ivan dan Diana berjalan bergandengan menuju Apartemen yang di tempati Anton.
“Maaf kami terlambat,” ucap Ivan.
“Maaf juga, karena kami sudah makan lebih dulu,” sahut Dillah.
“Kalian sudah makan?” Ivan tidak percaya dengan jawaban Dillah.
__ADS_1
“Sudah Tuan, menunggu kalian kami hanya menyiksa diri.”
“Bagus kalau begitu, jangan sampai tamuku merasa tersiksa.” Ivan menarik salah satu kursi yang mengelilingi meja makan dan meminta Diana untuk duduk. “Kalau begitu kami makan dulu,” ucap Ivan.
Ivan dan Diana memulai makan malam mereka, melihat Diana makan begitu lahap, Anton tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Mereka makan seperti habis maraton keliling dunia saja," gumam Dillah. Beruntung tidak ada yang mendengar kata-katanya.
Dillah kembali mengajak Anton berbincang mengenai masalah yang lain. Di tengah-tengah obrolan mereka Diana dan Ivan juga ikut bergabung.
"Kamu ingat Diana, sanagt sulit bagiku memutuskan memberi T779 pada siapa, lalu aku menemukan kliping surat kabar lama, di sana aku membaca berita Agung Jaya. Saat itu juga aku yakin untuk memberikan formula T779 pada seseorang Agung Jaya," ucap Anton.
"Keputusanmu sangat brilian, namun Agung Jaya terlalu lembut, mendengar berita CEO ED Group sekarat, mereka langsung ingin membawa semua obat itu, hingga mereka hampir kehilangan obat itu."
"Terima kasih karena telah menjaga penemuan berharga ini," ucap Ivan
"Itu sudah tugasku," sahut Diana.
"Diana kembali menoleh pada Anton. "Aku merasa bumi ini sangat sempit, kita pergi ke berbagai negara, eh kita bertemu lagi di suatu tempat yang sama. Seperti halnya T779, demi menyelamatkannya dari tangan hitam, T779 berpindah ke Ivan, ke lembaga penelitian obat, lalu ke Ivan lagi."
"Aku juga turut bahagia saat aku mendapat kabar T779 telah kembali pada Agung Jaya."
Malam itu mereka terus berbicara banyak hal. Sehingga cinta Ivan semakin besar, mendengar cerita Anton tentang pertolongan Diana pada perjuangannya. Hari semakin malam, kelopak mata pun semakin berat.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan obrolan lain waktu lagi?" usul Ivan.
"Aku setuju, aku juga saat ini mengantuk," sahut Anton.
Mereka pun membubarkan diri, Dillah segera kembali ke apartemennya, Ivan dan Diana juga. Saat Ivan dan Diana memasuki Apartemen mereka, Ivan sengaja menahan Diana di sisi pintu.
"Ada apa?" tanya Diana.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku merasa sangat bangga karena memiliki istri sepertimu."
Suasana seketika hening, hanya suara decakan yang memecah kesunyian.