
Yudha memungut tablet yang mendarat di rerumputan, dia memutar ulang video yang dia lihat sekilas tadi, Video itu berdurasi 5 menit. Dalam video itu:
Dari latar keadaan di sana, sangat jelas Diana berada di pegunungan. Diana menyiramkan cairan yang dia ambil dalam sebuah tong yang ada di dekatnya. Cairan dari tong itu terus Diana siramkan pada tumpukkan mayat yang bergelimpangan di tanah. Tiba-tiba datang seseorang memberikan pematik api padanya. Diana menyalakan pematik tersebut dan melemparkan pematik yang menyala pada tumpukan mayat. Seketika api langsung berkobar membakar semua mayat yang ada di depan mata Diana.
Yudha rasanya tidak ingin mempercayai kalau wanita yang ada dalam foto itu adalah Diana, wanita dalam video itu seperti seorang pembunuh berdarah dingin, tidak ada reaksi apapun pada wajah wanita yang ada dalam video. Yudha sangat syok menonton Video barusan, kakinya seketika gemetaran, dia segera duduk di kursi, dan meletakan tablet Ivan diatas meja.
Ivan masih santai menghisap rokok yang ada di sela jemarinya. “Video itu asli, tanpa rekayasa, tanpa potongan apapun.”
Wajah Yudha terlihat sangat pucat, lidahnya juga seketika kelu, Yudha tidak mampu menggerakkan lidahnya.
"Entah apa yang dijanjikan tante Wilda pada Dillah, sehingga Dillah memberikan video itu." Ivan menatap kosong pemandangan yang ada di depan matanya.
"Kini sebagian dari video itu telah beredar di dunia maya. Entah siapa yang pertama kali mempostingnya."
Mendengar perkataan Ivan, Yudha mengambil handohonenya, dan berusaha mencari video viral yang Ivan maksud. Sangat mudah menemukan potongan Video yang berdurasi 50 detik, di sana hanya bagian saat Diana membakar semua mayat itu.
“Video itu yang membuatku menahan diri agar tidak memberi perhitungan langsung dengan tante Wilda. Inilah yang aku maksud video rahasia yang telah diberikan Dillah pada orang lain.”
“A-aku—” Yudha masih belum sanggup berkata.
“Jika memang kamu menganggap Diana adikmu, aku beri kamu kesempatan untuk menyelesaikan masalah ini,” ucap Ivan.
“Bagaimana jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini?"
"Kamu pasti bisa," sahut Ivan
"Masalah ini terlihat sulit, Van. Aku tidak yakin mampu mencari jalan keluar untuk menyelesaikan semuanya,” sahut Yudha. Yudha menatap Ivan begitu serius. “Mengingat siapa Diana, dia mampu mengalahkan 100 orang dalam waktu singkat, mayat-mayat itu.” Yudha mengisyarat pada kejadian yang terekam dalam video yang dia tonton sebelumnya. “Dengan semua kejadian yang telah terjadi, aku tidak yakin bisa melindungi Diana, mungkin jika nanti aku terjun, malah Diana yang akan melindungiku.”
Ivan kesal dengan jawaban Yudha. “Kalau begitu, pergi kau dari sini!” maki Ivan.
“Baiklah aku pergi. Tapi aku akan memulai tugasku, pertama aku akan cari tahu siapa yang menyebarkan video ini ke internet.”
“Permisi Tuan Ivan, Tuan Yudha.” Tiba-tiba Narendra ada di dekat mereka, laki-laki itu terlihat bermandikan keringat. “Ini Tuan.” Narendra memberikannya handphonenya pada Ivan. “Itu video yang sama dengan yang saya berikan pada Tuan sebelumnya, hanya saja saya baru mendapatkannya video versi lengkapnya beberapa menit yang lalu."
Video yang baru saja Narenda berikan pada Ivan, memiliki durasi lebih 50 detik dari Video sebelumnya. Isi video itu:
Setelah Diana melemparkan pematik yang menyala pada tumpukan mayat, hal yang serupa juga di lakukan semua orang yang ada dalam Video itu, setelah Diana melempar pematiknya, semua orang juga melemparkan pematik yang menyala yang mereka pegang pada tumpukkan mayat. Api berkobar membakar semua mayat yang ada.
Hanya ada wajah arogan semua orang, tidak ada sedikitpun raut kesedihan atau penyesalan di wajah-wajah yang ada dalam video itu, padahal mereka tengah membakar tumpukkan mayat.
**
Di Universitas Bina Jaya.
Febrian merasa kesal, karena Diana tetap saja tidak masuk pada kelasnya, padahal ujian semakin dekat. Febrian memandang kearah Saras. "Saras, mana temanmu Diana?"
"Saya tidak tahu Pak, sejak kemaren saya belum bertemu dengan Diana."
__ADS_1
Febrian kembali ke mejanya, tiba-tiba suara deringan handphone membuyarkan konsentrasinya. melihat nama identitas pemanggil, dia segera menerima panggilan dari Pak Abimayu.
"Halo Pak Abi."
"Febrian, kamu bisa menghadapku sekarang?"
"Saya tengah mengisi mata kuliah Pak."
"Setelah mata kuliahmu selesai, kamu temui aku."
"Baik Pak."
Febrian bingung, dia tidak melakukan kesalahan, tapi Pak Abi juga memanggilnya, Febrian melanjutkan kelasnya.
***
Setelah mata kuliahnya selesai, Febrian segera menemui Pak Abi ke ruangan beliau.
Tok! Tok!
Febrian mengetukkan punggung telapak tangannya pada pintu coklat itu.
"Masuk!"
Mendengar izin dari dalam perlahan Febrian membuka pintu itu. “Maaf saya terlambat, Pak.” Sesal Febrian.
Febrian memasuki ruangan Pak Abi.
“Silakan duduk, Rian.” Ucap Pak Abi.
Febrian segera menarik salah satu kursi dan duduk. “Pak Abi, apa saya melakukan kesalahan?”
“Tidak. Kamu tidak melakukan kesalahan.”
“Ada hal apa, sehingga Bapak memanggil saya.”
“Tentang Diana."
“Ada masalah apa ya Pak?”
“Tidak ada masalah pada Diana, tapi aku minta kamu memberinya izin untuk beberapa hari.”
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Bapak, saya tidak bisa memberi izin pada Diana."
"Kenapa?"
"Maaf Pak, sekalipun dia meminta bantuan Tuan Agung Jaya, saya tidak akan memberinya izin. karena mahasiswi yang satu ini sudah terlalu sering tidak masuk. Banyak mata kuliah yang tidak dia ikuti, beberapa ujian juga dia tidak ikut.”
__ADS_1
Pak Abi berusaha memahami kedisiplinan Febrian. “Kali ini, aku yang memintakan izin untuknya, atas namaku tolong beri Diana Izin untuk libur beberapa hari.”
Febrian terdiam, mendengar Pak Abi menjaminkan namanya untuk seorang Diana.
"Diana melakukan hal yang sangat penting, aku tidak bisa mengatakan padamu hal penting apa yang Diana lakukan."
Febrian masih diam.
"Aku menjaminkan namaku, karena aku tahu apa yang Diana lakukan jika dia tidak masuk kelas." Pak Abi terus membujuk Febrian agar memberi izin pada Diana.
Febrian merasa serba salah, hingga dia menyerah. "Baiklah, saya akan memberinya izin karena Bapak."
“Terima kasih, Febrian.”
“Tapi … apa saya boleh bicara sesuatu?” tanya Febrian.
“Tentang apa?”
“Apa Anda mengenal dekat mahasiswi bernama Diana ini?”
Pak Abi bingung harus menjawab apa.
Febrian mengambil handphonenya, dia mencari video viral tentang Diana yang berdurasi 50 detik. “Saya tidak marah Pak Abi menjaminkan nama Bapak untuk Diana, tapi jangan sampai nama Bapak rusak karena perbuatan Diana.” Febrian memutarkan video yang viral itu pada Pak Abi. “Saat ini orang-orang memnbicarakan tentang Video ini.
Mata Pak Abi di sambut judul dengan font besar yang bertuliskan: Doctor or cold blooded killer?
Pak Abi terdiam setelah menonton video pendek itu.
Sepertinya kamu tidak bisa lagi menyembunyikan identitasmu Diana, semua ini tidak bisa lagi kamu tutupi. Batin Pak Abi.
***
Bersambung
***
Pengumuman.
Kalau setelah bab ini tidak ada up lagi, karena saya tidak menerima kerangka bab lanjutan dari cerita ini.
Saya juga tidak tahu, apakah harus menunggu bab dari editor atau melanjutkan dengan versi saya.
Jadi kenapa nanti gak ada update? Saya juga masih menunggu kabar dari Editor.
Makasih.
__ADS_1