
Rasanya malam sangat cepat berlalu, Ivan masih ingin menghabiskan waktu bersama Diana, namun matahari sudah semakin meninggi. Terpaksa Ivan menyudahi pacuannya bersama Diana. Keduanya terlihat sangat rapi.
“Kita sarapan di mana?" tanya Diana.
“Sarapan di sini, berdua. Untuk Anton dia sudah ada yang menyiapkan.” Ivan terlihat sibuk menyiapkan dua mangkuk bubur.
Diana tidak bertanya lagi, dia segera menarik kursi dan duduk dengan nyaman di sana sambil menikmati semangkuk bubur.
“Kamu siap bertemu dengan kolega perusahaan Agung Jaya?” tanya Ivan.
“Jika kamu bersamaku, apapun yang akan kita lewati, kita akan sama-sama menghadapinya.”
"Hari ini ada rapat dengan Perusahaan SW Group, semoga SW Group menerima berkas kerjasama ini," ucap Ivan.
Setelah menghabiskan sarapan mereka, Ivan dan Diana langsung menuju Gedung Agung Jaya, bersiap menghadiri rapat besar hari ini. Dillah sangat senang melihat kehadiran Diana di perusahaan Agung Jaya.
“Dillah, sediakan kursi tambahan untuk permataku,” titah Ivan.
“Baik, Tuan.” Dillah langsung mengerjakan perintah Ivan.
Diana duduk di kursi yang ada di dekat Ivan. Dia mempelajari dokumen yang akan di bahas pada rapat hari ini. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Diana menyudahi penelitiannya, dia juga ikut berdiri di samping Ivan. Semua orang yang masuk ke ruangan rapat terlihat begitu menghormati Ivan, namun mereka seakan tidak melihat keberadaan Diana.
Melihat semua anggota rapat tidak memperdulikan Diana, Ivan sangat geram. “Kenapa kalian tidak menghormati tunanganku?”
“Kami bukan tidak menghormati, Tuan. Tapi Nona hanyalah wanita manja. Mana bisa dia memahami rapat kita,” ucap salah satu pegawai Ivan.
“Kehadiran Nona di ruangan ini tidak berpengaruh Tuan,” ucap yang lainnya.
“Benar, sebaiknya Nona menunggu di ruangan Tuan. Rapat kami sesuatu yang tidak Anda mengerti, Nona.”
__ADS_1
Diana menoleh pada Ivan. “Boleh aku lanjut mempelajari dokumen ini lagi?” tanya Diana.
“Lakukan apa saja yang membuatmu senang, sayang. Andai kamu ingin kepala mereka yang julid itu, dengan senang hati aku melibasnya,” ucap Ivan.
“Tidak perlu sayang, aku hanya ingin melihat dokumen ini.” Diana kembali memandnagi dokumen yang dia pegang.
“Hmm … aku memang tidak mengerti apa-apa, apalagi tentang laporan di dokumen ini. Bagaimana bisa biaya produksi lebih besar 200 juta dari hasilnya."
Semua orang dibuat terkejut dengan penuturan Diana.
"Anda jangan main-main, Nona. Jangan bermain-main dengan berkas."
"Dia siapa?" tanya Diana pada Ivan.
"Dia adalah Farham Abbas, dia pegawaiku yang mengurusi kerjasama dengan SW group," sahut Ivan.
"Kalau Anda tidak mengerti sebaiknya Nona simak dan diam," ucap Farhan.
"Anda jangan memperkeruh keadaan," tegur pegawai Ivan yang lain.
Diana tersenyum sinis, dia memandangi wajah-wajah pegawai Ivan yang ada di ruangan itu. "Kerugian dalam proyek ini mencapai 900 juta, apa kalian tidak menyadarinya?Jadi ... yang tidak memahami pekerjaan ini, aku apa kalian?" tantang Diana.
"Dillah, coba kamu hitung semu rincian dalam dokumen itu," perintah Ivan.
Dillah segera menghitung, di bantu oleh berapa staf lain. Saat mereka selesai berhitung, benar saja kerugian perusahaan mereka mencapai angka 900 juta.
"Nona benar Tuan, kerugian proyek ini jika memakai rincian di dokumen ini yang ada Agung Jaya bangkrut," ucap Dillah.
Ivan menoleh pada Diana. "Bisakah kamu membantuku dengan dokumen baru? ku mohon ...." ucap Ivan.
__ADS_1
"Apa sempat, Tuan? 20 menit lagi SW Group akan datang," ucap Dillah.
"Diana mampu memulihkan sistem seluruh perusahaan Agung Jaya dalam waktu 2 jam. So pasti dia bisa mengerjakan satu dokumen kecil ini dalam waktu 20 menit!" ucap Ivan.
Diana tersenyum melihat kepercayaan Ivan yang begitu besar padanya. "Aku akan berusaha untukmu."
"Bukan untukku, tapi untuk Perusahaan kita," ucap Ivan.
"Ehm! Nona mau pakai laptopku apa laptop Tuan?" sela Dillah.
"Laptop Ivan saja," sahut Diana.
Diana segera memulai tugasnya, Diana terus mengotak atik laptop Ivan, dalam waktu 10 menit semua selesai.
"Dillah, tolong print berkas yang aku kerjakan," pinta Diana.
Dillah langsung mengerjakan perintah Diana, saat semua selesai dia memberikan lembaran kertas itu pada Diana.
Diana memeriksa ulang, takut ada yang keliru, merasa semua benar, dia langsung memberikan laporan yang dia lihat pada Dillah.
"Luar biasa, laporan Nona sangat akurat," puji Dillah.
Semua peserta rapat tidak percaya, bergantian melihat dokumen Diana. Selain laporannya sangat rapi, detailnya juga sangat bagus. Mereka semua menunduk malu, karena menghina orang yang salah.
***
Bersambung.
***
__ADS_1